
ULA-ULA NA MATOLPANG
HOTMA DI HITA LUMBAN TOBING bukan orang baru dalam kepenulisan berbahasa Batak. Tulisannya banyak beredar di majalah Kristiani yang diterbitkan oleh gereja HKBP. Misalnya majalah Surat Parsaoran Immanuel dan majalah Suara HKBP. Namun untuk terbitan dalam bentuk buku berbahasa Batak, inilah yang pertama.
Buku kumpulan cerpen Ula-ula Na Matolpang ini sebagian besar ditulis dari pengalaman sendiri, atau didengar dan disaksikan sendiri. Meski demikian, semuanya dituturkan secara fiksi.
Salah satu di antaranya, Ula-ula Na Matolpang, diangkat dari pengalaman sendiri. Serangan stroke membuatnya merasa tersisihkan, meski dengan segala doa dan upaya sudah dilakukan agar kelemahan tubuhnya tidak sampai menghalangi aktifitas sehari-hari, terlebih dalam tugas pelayanannya sebagai Sintua di gereja. Ibarat sebuah ula-ula na matolpang, semacam pahat yang patah, ia berharap justru bisa lebih tajam dari sebelumnya.
Akhirnya ia menyadari, Tuhan yang menetapkan langkah-langkah setiap orang. Saat mengakhiri masa pelayanan dan akan pensiun, dia mendapat kesempatan istimewa dalam pelayanan.
‘Surat Marsilangkop’ sarat dengan pesan moral tentang bagaimana cinta dan benci mengombang-ambingkan perjalanan hidup. Orang yang paling mudah berkhianat adalah orang yang paling kita percaya.
‘Ndang Tarpasiding Ari Mago’ cerpen yang menegaskan pesan bahwa Serahkan segalanya pada Tuhan. IA yang memelihara hidupmu, bagai menating langkahmu di telapak ntangan-Nya.
Buku ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali bahasa Batak dalam komunikasi keseharian. Lebih dari itu, cerita dalam buku ini mengingatkan bahwa ada banyak hal dan persitiwa penting yang akan hilang dari ingatan jika hanya dituturkan secara lisan. Peribahasa Latin scripta manent, verba volant, yang berarti bahwa cerita dan kesaksian hidup akan hilang seperti tertiup angin, jika hanya dituturkan lisan. Tulislah, itu akan menjadi warisan sangat berharga bagi anak cucu. []
Komunitas Tortor Sangombas,
Jakarta, 13 April 2026