MANULU API MANJALO SIPU-SIPU

Saut Poltak Tambunan,

Ompu Danica, Pande Gurit

DAHULU pada suasana pedesaan di kawasan Danau Toba, orang gunakan kayu bakar untuk nyalakan api di tungku. Sungguh korek apI tidak mahal, namun tak di semua dapur tersedia korek api.  Macis pemantik api tak dipakai di dapur, itu untuk orang tua perokok. 

Padahal, memasak untuk keluarga bisa tiga kali sehari. Pagi memasak sarapan, sekalian menggodok makanan untuk ternak peliharaan. Untuk makan siang memasak lagi, begitu pun untuk makan malam. Sekali masak, dimakan habis. Kecuali kalau kebetulan lauknya sedap. Menyembelih ayam, misalnya. Dihemat-hemat, kuahnya diperbanyak. Disisihkan untuk makan malam, bahkan kadangkala untuk besok juga. Tak ada kulkas. Sebagian orang membungkus makanan dengan selimut supaya tidak membeku karena cuaca dingin.

Nah, topik kita bukan makanan, tetapi tentang kayu bakar dan korek api. Murah harganya, tetapi entah kenapa –  selalu saja banyak orang segan menyediakannya. Sebab, ada kebiasaan yang menjadi tradisi, yaitu minta api. Dalam Bahasa Batak  mangido api, manulu api, manang majalo sipu-sipu. Minta api bisa dengan cara menyulut api dengan bahan yang mudah terbakar, lalu secepatnya berlari pulang. Kadangkala api sudah padam sebelum sampai ke dapurnya. Terpaksa balik ulang. Cara lain adalah manjalo sipu-sipu, meminta bara api atau kayu bakar yang masih menyala.

Hingga tiba masanya kompor minyak masuk dapur pada dekade 1960-an, kebiasaan minta api atau menyulut api dari tungku tetangga masih berlaku. Pemilik dapur pun tak perlu merasa risih ketika tetangga selalu datang minta api.

Terlepas dari pelitnya menyediakan korek api di dapur, tradisi minta api ternyata sangat indah. Bisa menjadi indikator betapa indahnya pertalian sosial dengan tetangga. Sebab, tak ke semua tetangga kita bebas minta api, meskipun keluarga dekat. Tak semua orang bisa membiarkan tetangga mengintip panci di atas tungku kita, ingin tahu hari ini masak apa.    

Sekarang kayu makin bakar sulit diperoleh. Kompor masak menganggur karena tak ada lagi minyak tanah. Lalu kompor gas elpiji menyusup hingga pelosok desa. Penyuntik apinya sudah ada. Ditambah dengan rice cooker, kayu bakar semakin tertinggal. Tradisi minta api, manulu api dohot mangido sipu-sipu ke tetangga, hilang dari pergaulan sehari-hari.

Begitulah tradisi minta api ini menginspirasi penulisan dan penerbitan buku ini. Bahasa daerah harus dilestarikan, bahkan dikembangkan. Bukan saja lisan, tetapi menulis dalam bahasa daerah adalah keniscayaan. Kami sudah nyalakan api literasi di tungku berbahasa Batak. Sejak 2012. Mari baca buku ini. Mari nyalakan api literasi bahasa daerahmu. Molo ndang hita – ise be? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Terutama generasi muda versi Gen Zi, Alpha dan Beta, datanglah minta api, ambil sipu-sipu bara api untuk nyalakan tungku di dapur kalian. Menulislah dalam bahasa daerah, bukukan. Itu keniscayaan, jika tak ingin bahasa warisan ini hilang ditelan gempita modernisasi.

Torsa Siringkot-ringkot, tradisi lisan dalam budaya Batak. Jenaka dan sangat menghibur. Mengelitik gelak tawa di tengah reriuh keluh dan peluh mencari sesuap hidup.  Siringkot-ringkot, seolah antara penting tak penting. Namun sarat makna, pesan dan nasehat yang pantas direnungkan. Kita diajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Menertawakan kepahitan hidup sepahit empedu, yang ternyata berubah lucu ketika semuanya sudah kita lalui.  []

Jakarta, 07 10 2025

Synopsis Novel Berbahasa Batak

MARGULUT tu TANO DELI

: Sio Hong Wai

Novel ini ditulis dalam Bahasa Batak yang apik oleh Sio Hong Wai, seorang ‘Cina Tarutung’, mengambarkan situasi di tanah Batak hingga tanah Melayu Deli pada era 1925-1935.  Berikut tantangan dan peluang yang ada pada masa itu.

Tiga anak muda bersaudara sepupu, Jonas darj Sibolga, Johan dan Saul dari Tarutung. Setelah menyelesaikan sekolah Volgschool dan Vervolgschool, mereka ingin mulai bekerja.   Johan menjadi guru di Humbang. Sementara Jonas dan Saul  merantau ke Tanah Deli, merebut masa depan di daerah yang sudah lebih maju karena perkebunan  karet, kelapa, sawit dan komoditas ekpor lainnya. 

Mereka berhasil mendapat pekerjaan sebagai kerani di kantor maskapai perkebunan karet milik Belanda. Gaji mereka seharusnya cukup untuk membantu orang tua di kampung.  Tetapi Jonas berfoya-foya dengan kehidupan kelam, hingga mendapat penyakit kotor dan diberhentikan dari pekerjaannya. Akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung.

Berbeda dengan Saul tekun bekerja, karena sadar bahwa hanya pekerjaan itu yang dapat mengubah masa depannya. 

Ada cinta, antara saul dengan Sara, gadis Manado putri pensiunan staff Perusahaan. Bahkan juga dengan Sari, saudara kembar  identik Sara.  Tapi Saul lebih tertarik dengan Suster Siti, putri ketiga dari pernikahan Sersan KNIL Adolf anak Mantri Mora dari Angkola,  dengan Suster Jane gadis Belanda.

Pertengkaran Sersan Adolf dengan Suster Jane, membuat istrinya itu pulang ke Belanda, membawa dua putrinya.  Meninggalkan Siti putri ke-tiga dalam asuhan kakeknya Ompu Mora, setelah ayahnya Adolf meninggal.

Kehadiran  Sara menjadi membuat hubungan Saul dan Suster Siti sempat terputus.

Berakhir bahagia, Saul dan Suster Siti menikah,  Tuan Besar Kebun  atasan Saul, serta dokter Diel atasan Suster Siti di rumah  sakit, memberi hadiah  bulan madu ke Belanda, sekalian bertemu dengan Suster Jane, ibunya Siti, serta dua kakaknya,  Brenda dan Elisabet. []

SPT, 19 Agustus 2025



MAMANUT RERE

Torsa-torsa Sijahaon Sangombas

RERE,  itu nama yang digunakan untuk tikar usang yang sudah rapuh, robek dan bolong di sana-sini. Jika masih akan dipakai,  harus ditambal menggunakan panut, alat penganyam yang dibuat dari sisik bambu, serta baion, sejenis pandan yang biasa untuk menganyam tikar dan tandok

Judul ini diangkat dari pemikiran bahwa jika bahasa Batak tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari, nasibnya akan sama seperti rere. Jika rere akan dipakai lagi, harus ditambal dengan bahan yang sama dengan tikar, baion. Itulah arti Mamanut Rere secara harfiah, menambal tikar usang.  Jangan ditambal dengan plastik, kain atau lainnya.  Demikian pula Bahasa Batak yang bolong-bolong karena banyak kata asli tak lagi dipakai, tak elok ditambal dengan kosakata asing.

MAMANUT RERE,Torsa-torsa Sijahaon Sangombas, kumpulan cerpen untuk bacaan sewaktu. Ada tigabelas certa pendek pilihan dengan beragam thema, terutama dari penulis yang lebih muda.  Ada thema yang diangkat dari kehidupan generasi kekinian, dengan tujuan untuk menggaet minat anak-anak muda untuk kembali berbahasa daerah. 

Bahasa Batak sama dengan kondisi bahasa daerah lainnya, ada benarnya jika dianalogikan dengan rere, tikar usang. Bolong dan robek karena sering kali menggunakan kata dari kosakata asing. Seperti kata yang hilang dari bahasa Batak, Purik, hurhur, manghariar, mangariri, siudut hosa, bahkan lasiak pun hilang karena diganti cabe. Apalagi lasinga. Begitu pun nama penyakit, tungkolon, arunon, amborion, ngenge, baro imbulu, dan riap. Sebaiknya, banyak kata-kata baru yang memperluas bidang rere itu. Seperti kata pulsa, SMS, WA, miskoling, viral, imel, konten, status, yutub, transfer, rekening dan lainnya. Orang-orang tua di pelosok pun faham artinya.

Kita berharap,bahasa Batak tidak akan dibiarkan menjadi rere, tikar usang. Kita bersama-sama akan mamanut, menambal dengan sungguh-sungguh. Jika kita biasakan kembali berbahasa Batak, akan semakin tampak kembali kebaruannya. Sangat indah. 

Melalui buku ini, para penulis turut menghimbau agar kita semakin giat menggunakan bahasa Batak, warisan leluhur kita. Mari kita biasakan berbahasa Batak di rumah sendiri. Nanti, bahasa Batak sendiri yang akan mengajarkan kepada anak cucu kita, bagaimana kearifan lokal Batak, adat istiadat dan agama, menghomati yang lebih tua, mengasihi sesama dan merawat lingkungan hidup. Dengan demikian, anak cucu kita akan tegar menyebut: Halak Batak do ahu!   []

TORTOR SANGOMBAS

Komunitas sastra Etnik

SOEKIRMAN

 Bocah Kampung Jawa Deli Menapak Ragam Budaya

Soekirman masih berumur tiga tahun bersama dua adiknya, ketika ayah mereka meninggal. Selanjutnya mereka bertiga terpisah, diasuh oleh sanak keluarga yang lain. Soekirman keturunan orang Jawa Deli, bertumbuh menjadi bocah kampung Pagar Jati.  Beragam suku ada di kampung itu dengan budaya dan kearifan lokal masing-masing. Soekirman belajar budaya dari teman bermain yang beragam suku. Melayu, Jawa, Batak, Minang, Banjar dan lainnya.

Pahit-getir sudah dilewatinya. Kerja keras dan tetap bersekolah, membuat mimpinya menjadi kenyataan. Limabelas tahun memimpin Kabupaten Serdang Bedagai sebagai Wakil Bupati dan Bupati.

Soekirman menyelesaikan kuliah di Fakultas  Pertanian USU dengan tetap bekerja ‘memburuh’ serabutan.  Ia mengaku sebagai Mabete alias Mahasiswa Banting Tulang, serta tempat tinggal yang tak tetap membuatnya menjadi GelanterGelandangan Terhormat.

Ketika ia sudah menjadi Bupati Serdang Bedagai, masih sempat menuliskan pengalamannya ‘bersahabat’ dengan lembunya si Kliwon, berpedati keliling desa. Pengalamannya ditulis dalam bentuk cerita pendek Bahasa Batak dengan judul ‘Parlombu-lombu’. Cerpen ini berhasil mendapat hadiah penghargaan khusus sastra daerah Rancage 2017, sebagai seseorang yang menulis cerita pendek dalam Bahasa daerah yang bukan Bahasa ibunya.

Sebagai pribadi yang lahir dan dibesarkan di tanah Deli Sumatera Utara, sangat risau karena Indeks Desa Membangun-nya berada di peringkat 29 Nasional. Angka itu dirilis resmi oleh Kementerian Desa di tahun 2022. Untuk propinsi di pulau Sumatera hanya Sumatera Barat yang lumayan baik,  berada di peringkat ke-lima nasional. Jika dipikir lebih mendalam, Sumatera Barat adalah propinsi yang sangat erat memegang adat istiadat. Sampai ada istilah ‘tak lekang dipanas, dan tak lapuk dihujan’. Musyawarah dan mufakat, tigo tungku sajarangan merupakan pilar yang menjadi acuan kehidupan urang minang. Niniek mamak, Cadiak pandai, dan Alim ulama menjadi simpul musyawarah. Partisipasi pembangunan selalu mengedepankan pola adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah.

Soekirman terdorong untuk menghimpun catatan dan kenangan selama hidup. Budaya adalah kebiasaan sehari-hari masyarakat. Dari budaya pula dapat diketahui bagaimana manusia hidup di suatu tempat. Petilasan budaya itu ada yang berupa adat istiadat, artefak, situs, bahasa, seni, pengetahuan tradisional, olah raga tradisional, tradisi lisan dan sebagainya. Melalui buku ini diharapkan obyek kebudayaan tersebut dapat diketahui dan mungkin perlu di-review oleh generasi mendatang.

Hidup penulis di masa kecil banyak dihabiskan di wilayah Deli (Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, oleh karena itu membuat dalam judul buku ini tercantum Jawa Deli. Tanah Deli merupakan wilayah yang dikuasai kesultanan Deli. Tanah yang kemudian menjadi terkenal setelah menghasilkan Tembakau Deli di awal abad duapuluh. Banyak tempat yang ada kata ‘Deli’ seperti Labuhan Deli, Delitua, Delimuda, Timbang Deli, Deli Serdang, Deli Spoor Maschapai, dan lain sebagainya.

Orang Jawa Deli pernah disingkat Jadel, adalah keturunan suku Jawa yang datang ke tanah Deli. Mereka bekerja ada sebagai tenaga kerja perkebunan, dan ada juga yang datang sendiri sejak berakhirnya perang Diponegoro di Jawa pada tahun 1830. Sebagian dari kejayaan Tanah Deli dan kearifan lokal inilah yang disaksikan penulis dan disajikan pada buku ini, yang diperankan oleh masyarakat baik penduduk asli maupun pendatang

Selasar Pena Talenta

Februari 2025

Cerita tentang ketokohan dalam masyarakat tradisi, ditulis oleh seorang pendeta pensiun.  Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesama manusia.

Ketika belajar membaca di Sekolah Rakyat di kawasan Danau Toba pada dekade 1950 dan 1960, buku pelajaran membaca adalah buku berbahasa Batak. Dari cerita dalam buku-buku itu, tak lekang dari ingatan bahwa Guru dan Pendeta, adalah pemimpin sosial. Pemimpin bagi masyarakat sekitarnya. Berwibawa,  penuh karishma,  tempat bertanya bahkan tempat mengadu. Jangan berpikir bahwa hanya persoalan pelajaran, agama dan kepercayaan yang dibawa kepada mereka, melainkan semua persoalan hidup. Termasuk di dalamnya sengketa tanah dan adat, musim tanam dan panen, hama tikus, gotong royong, pohon besar rubuh ke jalan, banjir, kerbau hilang, anak sakit mendadak, perselisihan bertetangga dan lain sebagainya.  Mereka dianggap tahu segala. Dan, orang-orang pun percaya pada pengajaran dan patuh pada nasehat Guru dan Pendeta.

Begitulah Guru Hermanus Domitian dan kawan-kawannya dalam cerita ini.  Ada guru dan pendeta yang seringkali menjadi inspirator bagi banyak orang. Sama seperti guru dan pendeta panutan yang dihadirkan dalam buku pelajaran membaca Sekolah Rakyat dahulu. Bukan hanya pengajar pendidik, juga pemimpin sosial yang hadir dalam penyelesaian masalah.  Mereka juga menjadi inspirator, motivator. 

Cerita-rerita yang realistis, terlebih karena ditulis oleh seorang pendeta emeritus (pensiun) dan sekaligus pernah berpengalaman sebagai guru.  Kita berharap, di masa kini masih ada guru dan pendeta seperti dalam cerita itu. 

Buku ini perlu dibaca dan penting untuk dimiliki.  Sebab ditulis buku dalam bahasa Batak, mengisi kelangkaan akan buku berbahasa daerah pada umumnya. Sekaligus mengabadikan kearifan lokal melalui tulisan.

Saut Poltak Tambunan, Pande Gurit

Editor

SEBERAPA BATAK-KAH KITA?

SEPERTI yang sering saya utarakan dalam buku-buku saya, tak bosan saya mengingatkan sinyalemen Kementerian Pendidikan RI di taon 2011, bahwa bahasa daerah terancam punah. Diperkirakan akan punah 90% dari bahasa daerah yang masih ada (746 bahasa). Bagaimana bahasa Batak? Bukankah kita lebih suka berbahasa Indonesia bahkan kepada anak-anak kita?

Melalui buku kumpulan cerpen berbahasa Batak ini, PARUMAEN di DAINANG, kembali kita digugah oleh pertanyaan: Seberapa Batak-kah kita? Akankah kita biarkan bahasa Batak hilang dari peradaban kita? Bahasa yang diwariskan para leluhjur kita?

Buku berisi cerita yang diangkat dari realitas kekinian pada masayarakat Batak. Hilangnya bahasa Batak dari pergaulan sehari-hari turut menjadi penyebab utama pudarnya kearifan lokal. Sebab bahasa daerah adalah pintu masuk ke ranah kearifan lokal. Tanpa bahasa daerah, kearifan lokal itu pun akan segera lenyap.

 Banyak sesama kita yang gelisah dan cemas akan kehilangan bahasa daerah. Tetapi hanya sebatas kuatir.  Kata orang bijak,  jolo binarbar do sumban asa binarbar pandingdingan, jolo ginarar do utang asa tinunggu parsingiran.  Seharusnya membayar hutang dulu sebelum menagih hutang. Kita akan sangat menyesal jika bahasa daerah hilang, anak-anak kita pun kita biarkan bertumbuh tanpa bahasa daerah. Lalu jika bukan kita sendiri, siapa lagi yang kita tunggu untuk melestarikan bahasa daerah?

Dalam kenyataan, pembacalah yang menciptakan penulis. Tanpa pembaca, tak akan ada penulis.  Bahkan,penulis itupun lahir dari kalangan pembaca. Tutu situtu, hamu panjaha i do patindangkon jala patimbulhon panggurit.  Jala sian panjaha do timbul panggurit.  Antong, jaha hamu ma.

Tupa metmet do simanjojakta, jempek nang pangalangkanta.  Alai tapasada ma i jala rampak ma hita mangalangkahonsa.

Horas ma di hita saluhutna.

 Jakarta,  Agustus 2024

 Saut Poltak Tambunan

Pande Gurit

Hata Panungkolion

Saut Poltak Tambunan, Pande Gurit

Dungkon haruar buku rongkoman puisi hata Batak Bangso na Jugul do Hami di taon 2017, sahat ma muse tuhita buku na paduahon sian amanta Panusunan Simanjuntak. Parhutahuta do Hami, i ma judul ni buku on.   Mansai las roha manjangkon haroro ni buku on, lumobi nunga pitu taon lelengna pinaima dungkon buku na parjolo taon 2017.

Di buku na parjolo, dipahimpu disi 75 gurit-gurit, puisi manang situriak. Hatiha i dirongkom marhadomuan tu ari hatutubu pa-75-hon. Di buku na imbaru on, di umurna 82 taon, dipahimpu ma 122 gurit-gurit puisi. Sian taon 2012 ma 1 puisi, 4 puisi sian taon 2013, 8 puisi sian taon 2014, 5 puisi sian taon 2015, 1 puisi sian taon 2016, 8 puisi sian taon 2017, 26 puisi sian taon 2018, 21 puisi sian taon 2019, 9 puisi sian taon 2020, 8 puisi sian taon 2021, 19 puisi sian 2022, 7 sian 2023, 5 puisi sian 2024.

Di bindu pamuhai sian angka puisi di buku on, dituntun do pajolohon puisi sian taon 2024 na dipaojak gabe judul ni buku on, Parhutahuta do Hami. Tingkos ma antong judul on marhadomuan tu parngoluanna. Ai tubu di Huta Huraba do panggurit on di taon 1942, di luat Sarulla, Pahae Jae – Tapanuli Utara. Tammat sian Sekolah Rakyat, SR, Negeri Sarulla 1956. Tammat sian Sekolah Guru Bawah, SGB  Negeri Sarulla 1959. Tammat sian Sekolah Guru Atas, SGA  Negeri Medan 1962. Sambolus jinaha, adong ma antong serep ni roha ni panggurit mamparhatutu jala mangondolhon, ia hami apala parhuta-huta do, parhuta-huta hian tahe. Di masa ni hamajuon saonari pe antong mansai maol dope luluan huta Huraba on agia marhite internet Google.

Alai molo nirimangan puisi na pamuhai i, suhar do tu pingkiran. Paradoks, kontradiktif.   Dipaboa disi naung marpulu taon mian di luar negeri – di tano sileban, nunga diebati lobi sian 30 negara. Tontu nunga somal marsaor dohot sude bangso dohot loloan saportibi, masayarakat sedunia (puisi nomor 122). Jala marhata sileban ma ganup ari. Anak sasada dohot duansa pahompu nasida pe laos maringanan di luar negeri muse, London.

Tontu nunga mansai bahat cultural shock diadopi nasida, manang budaya dohot angka hasomalan na suhar maralo jala na so hea masa di angka parhuta-huta. Godang parungkilan. Alai nunga salpu be i dibolus nasida. Hinorhon ni i – aut sugari didok, ‘sudah tak tahu aku marhata Batak’, tarjalo roha do. Hape – sahat tu hatuaonna ndada holan marsihohot marhata Batak, dilehon dope tingki dohot pingkiranna manggurit puisi hata Batak.  Asa unang punu hata Batak. Di umur 75 taon, mandapot penghargaan Rancage dope sian lembaga setara Nasional, i ma buku puisi Bangso na Jugul do Hami.

Mauliate di Tuhan, nunga be mulak ogung tu sangkena, mulak tangke tarrungrung tumopot songkirna. Sian hita laho di hita do buku on, anggiat ma sahat manghorhon tu hadengganon di habatakonta.

Horas jala gabe.

TORTOR SANGOMBAS, Jakarta,

1 Agustus 2024

SANG JUARA

Posted: July 23, 2023 in Novel

Berangkat dari kemiskinan dan penghinaan turun temurun,  Jumono merebut kesempatan untuk merealisasikan mimpinya: Meraih bintang untuk dipersembahkan pada Ibunya, Mas Jumadi –abangnya yang cacat, Mbak Surti, Mbak Juminten dan   Asmirah yang dicintainya.

Ia tundukkan Jakarta dan siap menantang juara dunia tinju profesional!  Ia kanvaskan belasan petinju untuk bisa pulang seperti ini: Dielu-elukan!  Tetapi apa yang ditemukannya?  Tanah sepetak milik keluarganya dirampas Kirom – preman kota yang masih sepupunya.  Rumah tua dan seisinya digotong paksa ke pinggir jurang.  Asmirah diteror habis hingga ‘kupu-kupu tercantik’ di kaki bukit itu terpaksa menerima lamaran Kirom.  Kakaknya Juminten pun kadung menjadi pelacur.

Iri dan dengki membakar  si preman kampung Kirom. Ia minta teman-temannya mengeroyok Jumono hingga cacat. Jumono bangki membalas. Jangan salahkan kesabaran, ia tak bertepi.

“Jum, aku menunggumu …!” bisik Asmirah, di pintu penjara.

(Rp. 60.000)

 

Quo Vadis Permainan Tradisional Anak-anak Batak?

Saut Poltak Tambunan

Masa kecil kurang bahagia? Olok-olok ini berlaku  untuk seseorang yang masih gemar bermain seperti anak kecil. Terkesan sepele, tetapi sesungguhnya permainan semasa kecil adalah elemen dasar dari pendidikan berpikir dan bersikap, juga menjadi akar dari keterampilan yang kita miliki.  Karena itu kerinduan akan permainan masa kecil bisa menghampiri  siapa saja.

Awal tahun 90-an saya diminta membuat peragaan permainan tradisional Batak  di Jakarta Convention Hall.  Saya kumpulkan anak-anak ‘Batak’ di sekitar tempat tinggal saya, kawasan timur Jakarta. Ternyata mereka sangat bergairah menikmati beberapa permainan yang saya suguhkan, padahal mereka adalah anak-anak dari generasi baru yang kesehariannya diisi dengan games elektronik buatan pabrik.  

Permainan anak-anak tradisonal Batak erat hubungannya dengan lingkungan alam sekitar. Batu, sungai, lumpur, kayu, biji-bijian,  tempurung kelapa, bambu dan lain serupa itu adalah bagian dari alat permainan. Sejak dini semua permainan tradisional itu menjalankan perannya dengan baik sebagai alat pendidikan untuk meningkatkan sportifitas, kecerdasan, ketangkasan dan kesehatan.

Fairness

Tedak songon indahan di balanga (terbuka seperti nasi di atas belanga).  Begitulah orang Batak suka keterbukaan. Kejujuran dan keterbukaan sudah dibiasakan sejak dini melalui permainan masa kanak-kanak.

Kejujuran dimulai dari persiapan permainan perseorangan. Hampir semua permainan diawali dengan undian ‘mar-pis’ dengan jari telunjuk (orang), jempol (gajah) dan kelingking (semut). Untuk permainan kolektif undian dilakukan undian ‘mar-wang’ (telapak tangan tertutup dan ditumpuk) sambil bernyanyi “ise na dohot ro ma tuson, ise na so dohot laho sian on, sibuat na godang/otik sude” (siapa yang mau ikut silakan kemari, yang tidak mau ikut, jangan di sini).  Nanti seorang di antaranya memberi aba-aba untuk mengurai tumpukan tangan, lalu menghitung yang terbanyak  atau tersedikit – apakah yang tetap telungkup atau terbuka. 

Untuk permainan beregu,  dua pemimpin mar-pis untuk menentukan ‘si kalah dan si menang’.  Setiap dua peserta  dipasangkan dengan kualifikasi seimbang. Setiap pasangan ‘mar-pis’,  si menang ikut pemimpin yang menang mar-pis, si kalah ikut pemimpin yang kalah.

Cara lain, kedua pemimpin ‘mar-pis’ duluan. Pemimpin yang menang dan yang kalah akan bergantian memilih anggotanya satu persatu. Tentu saja  pemimpin yang menang  mar-pis  mendapat hak untuk memilih duluan.

‘Mar-sanding’ dan ‘mar-tumbuk’

Bukan hanya dalam permainan, bermusuhan pun anak-anak Batak sangat fair. Ketika ‘mar-sanding’ atau bermusuhan,  seseorang akan mendapat malu sebagai pecundang jika sengaja atau tidak – menyebut nama musuhnya,  menyapa musuhnya, atau menyentuh barang milik musuhnya.

Selain itu disepakati pula batas-batas permusuhan, misalnya hanya sekedar tidak berteguran, atau boleh menjitak kepala, menjambak rambut, meninju punggung, bahkan menerjang dengan kaki. Semua serangan itu hanya boleh dilakukan diam-diam dari belakang jika lawannya lengah. Oleh karena itu setiap yang punya ‘sanding’ harus selalu waspada.

Untuk berbaikan kembali, harus ada mediasi pihak ketika. Sebelumnya harus jelas pihak mana yang punya inisiatif lebih dulu untuk berdamai. Perdamaian boleh dengan cara saling menyebut nama di tempat berbeda, atau bertemu di depan teman yang jadi mediator dan serempak menyebut nama musuh. Atau mengaitkan jari kelingking (‘sise’). Biasanya setelah berbaikan, keakraban mereka akan lebih dari sebelum bermusuhan.

‘Martumbuk’ adalah berkelahi. Dahulu anak Batak tidak ada perkelahian spontan. Semua melalui kesepakatan. Anak-anak yang berselisih dan ingin menyelesaikan dengan perkelahian, memberitahukan teman-teman. Lewat bisik-bisik ‘undangan nonton tinju’ ini beredar, jangan sampai guru tahu. Nanti  sepulang sekolah di lapangan atau di tempat lain yang  memang biasa digunakan untuk ‘berkelahi’, mereka berkumpul.

Perkelahian disepakati lebih dulu, mengenai : Satu lawan satu atau satu lawan dua, boleh atau tidak memukul dari belakang (biasanya tidak boleh),  dengan tangan terkepal atau boleh terbuka, boleh pakai sikut, boleh pakai kaki, boleh merangkul/gulat, atau bebas (disebut ‘cucam’ dan ini jarang disepakati).

Saya pernah berkelahi satu lawan satu, pernah juga satu lawan dua.  Kebetulan lawan saya kalah semua. Perkelahian berakhir dengan sportif, yang kalah menjulurkan tangan dan menyatakan : “Saya kalah.” Setelah itu kami bersahabat sangat akrab.

Polarisasi Musim Bermain

Semua permainan bersifat musiman (satu musim kira-kira 1-2 bulan). Tidak jelas siapa yang punya otoritas menentukan musim permainan, misalnya berurutan musim kelereng, sibahe, kemiri, dst. Musim layang-layang selalu bertepatan dengan panen, sehingga sawah kering bisa digunakan untuk main layangan.

Urutan musim permainan biasanya mulai dari kota besar, mengalir ke kota kecil hingga kampung. Hingga musim permainan itu sama di hampir semua kampung.

Hal lain, juga tidak jelas siapa yang menentukan aturan permainan. Contoh, dalam permainan ‘mar-sigaret’ (bekas bungkus rokok), berlaku hukum ekonomi ‘scarcity’.  Semakin langka  suatu jenis bungkus rokok, nilai tukarnya terhadap  bungkus rokok lain  semakin tinggi. Misalnya 1 Commodore = 2 Kresta atau 10 Union. Lain lagi nilai barternya dengan rokok Kansas, Escord dan lain-lain.  Anehnya, bungkus rokok Minak Jinggo tidak berharga sama sekali, walaupun jarang. Rokok 555, Kartika (rokok khusus Angkatan Darat) dan rokok-rokok impor nilainya sangat tinggi. Dan, nilai tukar ini berlaku di semua kota dan kampung.  Anak-anak biasa berkeliling trotoar dan mengorek tempat sampah  di depan kedai kopi hanya untuk mencari bungkus rokok.

Dahulu pasca pemberontakan PRRI, di asrama milik ‘ompung’ saya tentara bermarkas dan mereka dapat jatah rokok ‘Kartika’. Saya bebas masuk asrama dan mengorek-ngorek tempat sampah mereka, sehingga tentu saja saya ‘kaya’ dengan bungkus rokok langka dan bernilai tinggi itu.  

Cyber Games/Online vs Permainan Tradisional

Jangan heran ketika anak-anak berteriak menirukan suara jagoannya menghabisi lawannya hingga remuk, berdarah-darah. Itu yang dia temukan  dalam games populer elektronik dan online lewat internet.

Membandingkan permainan tradisional dengan permainan elektronik dan cyber games online, tentu kita akan berdebat panjang dengan anak-anak yang tumbuh dalam generasi mozaik dan kaleidoskop (1982-2002, 2002 – …). Generasi ini sangat cerdas dan terampil memanfaatkan IT. Kecepatan berfikir dan keberanian mengambil keputusan seketika, disertai dengan ambisi menang mutlak, tentu berbeda dengan permainan tradisional yang ‘based on’ kejujuran, membangun akhlak mulia dan berbudi pekerti.

Beberapa Permainan Tradisional yang sempat masuk dalam catatan saya, meliputi permainan indoor dan outdoor,  perorangan dan beregu, kelompok anak perempuan dan laki-laki. Antara lain  Marangkat suhi, Marangkat Lombang, Margaja Dompak, Datu Husip,  Marsitengka, mar-Cabur, mar-Gala, mar-Sampele-sampele, Datu Angka, Mar-Tulbe, Mar-Raja, Margasing,  Marsibahe, Margambiri, Margoba (Kemiri atau kelereng), Marbiung-biung biji enau atau tutup botol yang dipipihkan, Marsungkil (nyaris sama dengan patok lele di Jawa) , Marsigaret (bekas bungkus rokok).

Bagaimana nasib permainan tradisonal ini? Setiap tahun hampir setiap komunitas marga  Batak menyelenggarakan Pesta Bona Taon yang acaranya adalah lelang cari dana, tortor dengan gerak seada-adanya, diselingi dengan vocal grup.

Acara Pesta Bona Taon ini semakin tidak menarik bagi sebagian besar generasi muda. Barangkali perlu dipikirkan membuat eksibisi permainan tradisional untuk melengkapi suka cita Pesta Bona Taon. Tim kreatif bisa mengemasnya lebih ‘matching’ dengan situasi sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda, sekaligus menjadi upaya melestarikannya. 

Semoga saja.

***

Buku dapat dibeli di :
https://www.tokopedia.com/selasarpenatalenta/permainan-anak-danau-toba?extParam=whid%3D1346454

QUO VADIS BAHASA BATAK?

Posted: June 30, 2023 in Uncategorized

QUO VADIS BAHASA BATAK?

Saut Poltak Tambunan

BAHWA bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional, itu telah disepakati dan sukses sebagai bahasa pemersatu, Tetapi sesungguhnya tidak harus melemahkan atau mematikan bahasa daerah. Bahasa Nasional tidak boleh dibiarkan menjadi predator atas bahasa daerah. Nyatanya pada banyak daerah, bahasa Indonesia dengan aksentuasi setempat telah menggantikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Kemendiknas pada tahun 2011 mengeluarkan sinyalemen bahwa dari 746 bahasa daerah yang masih ada, sebagian besar akan punah dan hanya akan bersisa 10% (75 bahasa) pada akhir abad ini. Quo vadis Bahasa Batak? Apakah Bahasa Batak masih ada pada saat itu?  National Geographic Indonesia pada Juni 2015 merilis hasil penelitian tim ahli Komisi III DPD RI tentang hanya 13 bahasa daerah yang penuturnya lebih dari satu juta orang. Ketiga belas itu adalah Aceh, Batak, Minangkabau, Rejang, Lampung, Sunda, Melayu, Jawa, Madura, Bali, Sasak, Makassar, dan Bugis.

Sedemikian (makin) pentingnya daerah sebagai bahasa ibu sehingga UNESCO – Badan PBB yang mengurusi dunia pendidikan memandang perlu menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Nyatanya di Indonesia nyaris tak ada gaungnya dan tampaknya bukan sesuatu yang penting.

 Padahal Pemerintah Indonesia juga menetapkan regulasi untuk  mengawal bahasa dan sastra daerah melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang  Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, (Pasal 37 ayat 2, Pasal 38 ayat 2, Pasal 39 ayat 2, dan Pasal 41 ayat 1). Berdasarkan undang-undang ini, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota harus berperan aktif dan bertanggung jawab dalam pelestarian bahasa daerah. Dipertegas lagi dengan Undang-undang No 5 tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

Beberapa provinsi di Indonesia sudah menerbitkan Pergub dan Perda untuk mengawal pelestarian bahasa daerah. Sayang tidak diikuti oleh daerah lain. Bahasa Batak misalnya, memerlukan Pergub dan Perda untuk menetapkan Hari Bahasa Batak, setidaknya di kabupaten yang berbasis bahasa daerah Batak. Misalnya, setiap hari tertentu sekali seminggu, sebulan, atau bertepatan dengan ulang tahun Pemkab, tahun baru pada kalender Batak, atau pada Hari Ulos tanggal 17 Oktober. Berdasar Perda ini diharapkan Permerintah Kabupaten dapat mewajibkan pemakaian bahasa Batak di sekolah dan kantor di lingkungan Pemkab. 

Pada Kongres Bahasa Daerah Nusantara di Bandung tanggal 2-4 Agustus 2016 lalu, mengemuka keluhan bahwa bahasa daerah sebagai bahasa ibu maupun bahasa pergaulan semakin ditinggalkan oleh penuturnya. Dalam dunia pendidikan pun bahasa daerah semakin terpinggirkan. Diperparah dengan teknologi modern yang dengan rakus melahap eksistensi bahasa daerah. 

Banyak orang merasa malu menunjukkan identitas primordialnya Mereka merasa bahasa daerah itu anakronis, ketinggalan zaman dan tak ada manfaatnya untuk meraih masa depan. Seseorang malah sering dianggap hebat jika sudah tak tampak ciri dan karakter keaslian sukunya. Terlebih jika sudah (berlagak) tak tahu bahasa daerah asalnya. Kondisi ini mendorong banyak orang untuk berusaha menyembunyikan ciri-ciri primordialisme-nya. 

Perubahan gaya hidup dalam modernisasi mempercepat hilangnya banyak kata dalam kosakata bahasa daerah. Dalam bahasa Batak misalnya, ada kegiatan mardahan (menanak nasi). Untuk mardahan  diperlukan soban (kayu bakar), manulu api (menyulut api), siudut hosa (tabung bambu kecil untuk meniup bara api agar tak padam), hudon (periuk)dan sonduk dasar (centong batok kelapa).Lalu dalam prosesnya perlu anduri (tampi) untuk mamiari (menampi beras), mansege (menggoyang tampi untuk mencari gabah). Sonduk dasar  digunakan untuk mangariri menyisihkan sebagian purik (mengurangi sebagian air tajin, sering kali air tajin menjadi pengganti susu untuk anak-anak). Ada kegiatan manghariar (mengaduk nasi dengan tangkai sonduk dasar). Jika kurang pandai manghariar akan menghasilkan banyak hurhur (kerak). Sekarang semua kosakata itu lenyap dengan munculnya fasilitas hidup bernama rice cooker.

Bahasa daerah semakin termarginalkan. Ditambah lagi dengan hidup sehari-hari yang modern dan bahasa teknis yang serba Inggris.  Tak ada pelajaran yang diantarkan dengan bahasa daerah. Terlebih kepandaian berbahasa daerah tidak ikut menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Anak-anak di pelosok kampung Batak sudah bercakap Indonesia ‘tempatan’ dengan sesama bahkan dengan orang tua, kakek dan nenek. 

Jangankan bahasa daerah, bahasa Indonesia pun pada situasi tertentu mulai ditinggalkan. Di daerah Serpong – Tangerang misalnya,  ada kawasan hunian termasuk mall besar yang sangat pelit berbahasa Indonesia dalam menuliskan papan iklan, nama jalan atau nama toko, restoran dan lain-lain. Serasa bukan di NKRI.

Bahasa harus hidup dan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan penuturnya. Dalam Kongres Kebudayaan Batak bulan Oktober 2022 mendatang kiranya perlu diusulkan pembentukan lembaga, Majelis atau Dewan Bahasa Daerah (Batak)  untuk menetapkan kata-kata serapan dari bahasa teknis modern, membuat acuan baru dalam tata cara penulisan dan pengucapan bahasa daerah. Termasuk mengupayakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah, setidaknya untuk pelajaran tertentu. *

Juli 2022

Saut Poltak Tambunan,

Pande Gurit,

Sastrawan berbahasa Batak

https://id.wikipedia.org/wiki/Saut_Poltak_Tambunan

http://www.gobatak.com/saut-poltak-tambunan/