BOAN AHU MULAK – Novel/Torsa-torsa Hata Batak (Karya : Saut Poltak Tambunan)

Posted: November 4, 2022 in Uncategorized

Novel, Torsa-torsa Hata Batak

BOAN AHU MULAK

Saut Poltak Tambunan

DEDE, begitulah Donda Dumora dipanggil teman-temannya. Gadis ini sudah menari Jaipongan dan tari Topeng di Cirebon.  Tari Jawa di Semarang. Di Medan belajar tari Melayu dan Tortor. Ia suka tari. Sangat.  Jangankan fisiknya, darahnya pun menari.

Tari Bali mengenalkannya pada Kompyang, guru tari. Ia bertumbuh dewasa di sanggar yang menjadi rumah keduanya. Ada cinta bersemai diam-diam. Mereka menyadari cinta yang bertumbuh diam-diam itu, justru ketika berada di Cape Point Afrika Selatan – Tanjung Harapan. Ketika berhadapan dengan laut pertemuan arus panas Agulhas Samudra Hindia dengan arus dingin Bungela Samudra Atlantik.

Cinta, yang mereka sadari akan terbentur pada kenyataan pahit. Pada perbedaan di belakang Donda dan Kompyang dan berpotensi menciptakan badai besar seperti yang dihadapi kapal Bartolomeuz Diaz dan Vasco da Gama di abad ke-15. Lalu sepakat untuk ‘hanya untuk di sini, hanya sampai di sini’.  Berat nian, tapi harus.

Ada Maru di kampus. Si Maruahal ‘doli-doli Batak’ yang malu dan berusaha ingkar pada kebatakannya. Ia suka Donda, tapi Donda sebaliknya. Muak. Maru bukan hanya ‘kampungan’, tapi juga licik. Inangnya sudah tua di kampung dan berharap bisa melihat Maru menikah, anak lelaki satu-satunya. Setidaknya, melihat dan mengenal pacarnya, ‘binsan mangolu ahu’ dan ‘andorang so mate ahu’Selagi saya masih hidup.  

Maru bohongi inangnya dengan enteng, menyebut nama Donda sebagai pacarnya. Dia pikir inang akan puas, lalu diam dalam tenang. Ternyata tidak sesederhana itu. Inang justru berkeras datang ke Bali untuk melihat dan mengenalnya sendiri. Lagi-lagi dengan dalih ‘binsan mangolu ahu’ dan ‘andorang so mate ahu’. Bahkan untuk itu, inang membongkar perkakas tenun dari gudang dan menenun sendiri ulos dengan bertuliskan nama Donda. 

Dede, Donda Dumora, gadis Batak yang menari Bali. Dengan tari ia dibawa Kompyang melanglang buana. Tetapi seayun langkah keliru mengubah semuanya. Ia hamil sebelum menikah, justru oleh Doli, ‘anak tulang’-nya yang adalah kebanggaan seluruh keluarga besar.  Anak dan cucu ‘panggoaran’, sijungjung baringin yang punya pekerjaan bagus dan magister lulusan negeri. 

Itu musibah. Pantang besar dalam kekerabatan Batak. Mereka diusir.  Terpaksa menikah diam-diam hanya agar anak itu kelak lahir dari ayah-ibu yang punya surat nikah.

Hidup dan mati adalah misteri. Masalah pun tak pernah datang sendirian. Selalu membawa saudara, teman, paman, ompungnya dan lain-lain. Donda seakan hidup di bawah bayang-bayang kutuk dan sumpah serapah. Pernah mau digugurkan, tetapi janin dalam kandungan itu ‘melawan’. Justru Doli – sang ayah yang meninggal dalam tugas pekerjaannya.

Terlalu pahit. Sumpah serapah masih membekas dalam di hati. Donda putuskan untuk menghilang, bersembunyi di belantara Jakarta. Anaknya Marlyn lahir cacat ganda. Tak bisa bicara. Tetapi itulah rahasia Tuhan yang tak terjangkau oleh ilmu pengetahuan. Secara bathin anak itu sesekali berkomunikasi dengan Donda ibunya. Selalu ada suara misterius yang muncul dalam benak Donda.

Perempuan hidup sendirian di tengah belantara Jakarta. Kesulitan, godaan dan ancaman pada kehormatannya datang silih ganti. Kelemahan dan ketidak-berdayaan seringkali justru mengundang niat orang lain untuk memaksakan hasrat brutalnya.

Tetapi Tuhan ada di mana-mana. Segala sesuatu Tuhan jadikan indah pada waktu-NYA.  Pertolongan-NYA tak pernah terlambat meski terasa berlambat-lambat. Maru yang sungguh mencintai dan sudah lama mencari-cari, muncul menjemputnya. Bahkan datang bersama dengan Benny – adik Bang Doli yang anak tulangnya itu. Benny setuju dan mendukung niat Maru menikahi Donda.  Maru akan membawa Donda pulang bersama anaknya, Linda.

“Boan ahu mulak,” suara itu berulang terngiang di benak Donda. Itu suara Marlyn, putrinya.

*

Jakarta, November 2022

Comments
  1. nekson simanjuntak's avatar nekson simanjuntak says:

    Sukses amang..luar biasa produktif terus menulis

    Sent from Yahoo Mail on Android

Leave a reply to Saut Poltak Tambunan Cancel reply