Posts Tagged ‘personal’



MAMANUT RERE

Torsa-torsa Sijahaon Sangombas

RERE,  itu nama yang digunakan untuk tikar usang yang sudah rapuh, robek dan bolong di sana-sini. Jika masih akan dipakai,  harus ditambal menggunakan panut, alat penganyam yang dibuat dari sisik bambu, serta baion, sejenis pandan yang biasa untuk menganyam tikar dan tandok

Judul ini diangkat dari pemikiran bahwa jika bahasa Batak tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari, nasibnya akan sama seperti rere. Jika rere akan dipakai lagi, harus ditambal dengan bahan yang sama dengan tikar, baion. Itulah arti Mamanut Rere secara harfiah, menambal tikar usang.  Jangan ditambal dengan plastik, kain atau lainnya.  Demikian pula Bahasa Batak yang bolong-bolong karena banyak kata asli tak lagi dipakai, tak elok ditambal dengan kosakata asing.

MAMANUT RERE,Torsa-torsa Sijahaon Sangombas, kumpulan cerpen untuk bacaan sewaktu. Ada tigabelas certa pendek pilihan dengan beragam thema, terutama dari penulis yang lebih muda.  Ada thema yang diangkat dari kehidupan generasi kekinian, dengan tujuan untuk menggaet minat anak-anak muda untuk kembali berbahasa daerah. 

Bahasa Batak sama dengan kondisi bahasa daerah lainnya, ada benarnya jika dianalogikan dengan rere, tikar usang. Bolong dan robek karena sering kali menggunakan kata dari kosakata asing. Seperti kata yang hilang dari bahasa Batak, Purik, hurhur, manghariar, mangariri, siudut hosa, bahkan lasiak pun hilang karena diganti cabe. Apalagi lasinga. Begitu pun nama penyakit, tungkolon, arunon, amborion, ngenge, baro imbulu, dan riap. Sebaiknya, banyak kata-kata baru yang memperluas bidang rere itu. Seperti kata pulsa, SMS, WA, miskoling, viral, imel, konten, status, yutub, transfer, rekening dan lainnya. Orang-orang tua di pelosok pun faham artinya.

Kita berharap,bahasa Batak tidak akan dibiarkan menjadi rere, tikar usang. Kita bersama-sama akan mamanut, menambal dengan sungguh-sungguh. Jika kita biasakan kembali berbahasa Batak, akan semakin tampak kembali kebaruannya. Sangat indah. 

Melalui buku ini, para penulis turut menghimbau agar kita semakin giat menggunakan bahasa Batak, warisan leluhur kita. Mari kita biasakan berbahasa Batak di rumah sendiri. Nanti, bahasa Batak sendiri yang akan mengajarkan kepada anak cucu kita, bagaimana kearifan lokal Batak, adat istiadat dan agama, menghomati yang lebih tua, mengasihi sesama dan merawat lingkungan hidup. Dengan demikian, anak cucu kita akan tegar menyebut: Halak Batak do ahu!   []

TORTOR SANGOMBAS

Komunitas sastra Etnik