
Cerita tentang ketokohan dalam masyarakat tradisi, ditulis oleh seorang pendeta pensiun. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesama manusia.
Ketika belajar membaca di Sekolah Rakyat di kawasan Danau Toba pada dekade 1950 dan 1960, buku pelajaran membaca adalah buku berbahasa Batak. Dari cerita dalam buku-buku itu, tak lekang dari ingatan bahwa Guru dan Pendeta, adalah pemimpin sosial. Pemimpin bagi masyarakat sekitarnya. Berwibawa, penuh karishma, tempat bertanya bahkan tempat mengadu. Jangan berpikir bahwa hanya persoalan pelajaran, agama dan kepercayaan yang dibawa kepada mereka, melainkan semua persoalan hidup. Termasuk di dalamnya sengketa tanah dan adat, musim tanam dan panen, hama tikus, gotong royong, pohon besar rubuh ke jalan, banjir, kerbau hilang, anak sakit mendadak, perselisihan bertetangga dan lain sebagainya. Mereka dianggap tahu segala. Dan, orang-orang pun percaya pada pengajaran dan patuh pada nasehat Guru dan Pendeta.
Begitulah Guru Hermanus Domitian dan kawan-kawannya dalam cerita ini. Ada guru dan pendeta yang seringkali menjadi inspirator bagi banyak orang. Sama seperti guru dan pendeta panutan yang dihadirkan dalam buku pelajaran membaca Sekolah Rakyat dahulu. Bukan hanya pengajar pendidik, juga pemimpin sosial yang hadir dalam penyelesaian masalah. Mereka juga menjadi inspirator, motivator.
Cerita-rerita yang realistis, terlebih karena ditulis oleh seorang pendeta emeritus (pensiun) dan sekaligus pernah berpengalaman sebagai guru. Kita berharap, di masa kini masih ada guru dan pendeta seperti dalam cerita itu.
Buku ini perlu dibaca dan penting untuk dimiliki. Sebab ditulis buku dalam bahasa Batak, mengisi kelangkaan akan buku berbahasa daerah pada umumnya. Sekaligus mengabadikan kearifan lokal melalui tulisan.
Saut Poltak Tambunan, Pande Gurit
Editor
