
MANULU API MANJALO SIPU-SIPU
Saut Poltak Tambunan,
Ompu Danica, Pande Gurit
DAHULU pada suasana pedesaan di kawasan Danau Toba, orang gunakan kayu bakar untuk nyalakan api di tungku. Sungguh korek apI tidak mahal, namun tak di semua dapur tersedia korek api. Macis pemantik api tak dipakai di dapur, itu untuk orang tua perokok.
Padahal, memasak untuk keluarga bisa tiga kali sehari. Pagi memasak sarapan, sekalian menggodok makanan untuk ternak peliharaan. Untuk makan siang memasak lagi, begitu pun untuk makan malam. Sekali masak, dimakan habis. Kecuali kalau kebetulan lauknya sedap. Menyembelih ayam, misalnya. Dihemat-hemat, kuahnya diperbanyak. Disisihkan untuk makan malam, bahkan kadangkala untuk besok juga. Tak ada kulkas. Sebagian orang membungkus makanan dengan selimut supaya tidak membeku karena cuaca dingin.
Nah, topik kita bukan makanan, tetapi tentang kayu bakar dan korek api. Murah harganya, tetapi entah kenapa – selalu saja banyak orang segan menyediakannya. Sebab, ada kebiasaan yang menjadi tradisi, yaitu minta api. Dalam Bahasa Batak mangido api, manulu api, manang majalo sipu-sipu. Minta api bisa dengan cara menyulut api dengan bahan yang mudah terbakar, lalu secepatnya berlari pulang. Kadangkala api sudah padam sebelum sampai ke dapurnya. Terpaksa balik ulang. Cara lain adalah manjalo sipu-sipu, meminta bara api atau kayu bakar yang masih menyala.
Hingga tiba masanya kompor minyak masuk dapur pada dekade 1960-an, kebiasaan minta api atau menyulut api dari tungku tetangga masih berlaku. Pemilik dapur pun tak perlu merasa risih ketika tetangga selalu datang minta api.
Terlepas dari pelitnya menyediakan korek api di dapur, tradisi minta api ternyata sangat indah. Bisa menjadi indikator betapa indahnya pertalian sosial dengan tetangga. Sebab, tak ke semua tetangga kita bebas minta api, meskipun keluarga dekat. Tak semua orang bisa membiarkan tetangga mengintip panci di atas tungku kita, ingin tahu hari ini masak apa.
Sekarang kayu makin bakar sulit diperoleh. Kompor masak menganggur karena tak ada lagi minyak tanah. Lalu kompor gas elpiji menyusup hingga pelosok desa. Penyuntik apinya sudah ada. Ditambah dengan rice cooker, kayu bakar semakin tertinggal. Tradisi minta api, manulu api dohot mangido sipu-sipu ke tetangga, hilang dari pergaulan sehari-hari.
Begitulah tradisi minta api ini menginspirasi penulisan dan penerbitan buku ini. Bahasa daerah harus dilestarikan, bahkan dikembangkan. Bukan saja lisan, tetapi menulis dalam bahasa daerah adalah keniscayaan. Kami sudah nyalakan api literasi di tungku berbahasa Batak. Sejak 2012. Mari baca buku ini. Mari nyalakan api literasi bahasa daerahmu. Molo ndang hita – ise be? Kalau bukan kita, siapa lagi?
Terutama generasi muda versi Gen Zi, Alpha dan Beta, datanglah minta api, ambil sipu-sipu bara api untuk nyalakan tungku di dapur kalian. Menulislah dalam bahasa daerah, bukukan. Itu keniscayaan, jika tak ingin bahasa warisan ini hilang ditelan gempita modernisasi.
Torsa Siringkot-ringkot, tradisi lisan dalam budaya Batak. Jenaka dan sangat menghibur. Mengelitik gelak tawa di tengah reriuh keluh dan peluh mencari sesuap hidup. Siringkot-ringkot, seolah antara penting tak penting. Namun sarat makna, pesan dan nasehat yang pantas direnungkan. Kita diajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Menertawakan kepahitan hidup sepahit empedu, yang ternyata berubah lucu ketika semuanya sudah kita lalui. []
Jakarta, 07 10 2025
