Kumpulan cerpen kearifan lokal Batak dalam bahasa              Batak,     pertama dalam sejarah sastra Batak (Toba)

Rp. 40.000.

Synopsis: TEMPIAS DI BERANDA

Posted: November 9, 2011 in Novel

Sayang Niken meninggal ketika melahirkan Bimo, anak pertama mereka.  Niken dan Weni – adiknya berbeda seperti air dan api. Niken santun religius, sebaliknya Weni bergaul sangat terbuka. Weni tahu benar menikmati kecantikan dan kemudaannya.

Mertua Indra ingin Weni ‘naik ranjang’ menggantikan Niken jadi isteri Indra. Bagi Weni itu kuno dan merampas haknya untuk memilih jalan hidup sendiri. Ia ingin mewarnai dunianya sendiri dan tidak mau mewarisi jalan pilihan Niken.

“Aku tak bisa menggantikan Mbak Niken. Dia itu malaikat. Aku bukan,” tegas Weni.

Weni mengajak Indra bergabung dengan teman-temannya ‘dugem’ di club. Weni pamerkan kebebasannya, menari-nari mengumbar sensasinya.  Sengaja, agar  Indra berpikir berkali-kali sebelum meneruskan perjodohan itu. Sebaliknya darah muda Indra justru bergolak: Salahkah aku jika cemburu?

Sejak itu Indra selalu mencuri-curi memperhatikan Weni. Konyolnya, Weni justru sengaja memamerkan kemesraannya dengan pacar-pacarnya. Indra merasa jadi ilalang kering yang dibiarkan terbakar sendiri.

Tiba-tiba Indra yang dosen, terpikat  Helen – mahasiswinya dan mengajaknya menikah. Mertua Indra terpaksa setuju, karena  Weni sudah tegas menolak ‘naik ranjang’.

Ternyata Bimo anak autis – hyperaktif. Keras kepala dan tidak terkendali. Anak 4 tahun itu selalu menjadi sumber pertengkaran antara Helen dan Indra. Puncak pertengkaran, Helen pulang ke orang tuanya.

Indra terpuruk ditinggal Helen. Weni muncul ke rumahnya dengan masalah lain: Ia hamil. Bahkan tidak tahu lelaki mana yang harus bertanggung jawab!

Indra yang sedang depresi, dihadapkan pada gadis yang selama ini hadir dalam fantasinya. Gadis yang  selama ini menyulutkan api lalu membiarkannya terbakar sendiri bagai ilalang gurun.

*

Saut Poltak Tambunan (SPT), seorang penulis senior yang tetap eksis hampir empat dekade (sejak tahun 1970-an). Pengarang ini dikenal dengan karya-karya dramatik dan sangat kontekstual. Ia merekam situasi di sekitarnya dengan baik lalu mengemasnya menjadi cerita yang sangat dekat dengan pembacanya. Benny Arnas yang menulis prolog dalam buku ini sampai-sampai memberi judul prolog ‘Belajar Membumikan Cerita dari Saut Poltak Tambunan’.

Cerpen-cerpen SPT begitu dekatnya dengan kenyataan, sehingga Benny Arnas, pengarang muda yang namanya sedang mencuat bahkan ‘menuduh’ SPT sendiri adalah tokoh-tokoh utama dalam cerpennya ‘Kampung Tamim, Tas Untuk Pak Bakri, Meja Makan, Si Nur, Berdamai Sesore itu, Mutasi,  dan Aku Punya Papa.

Khrisna Pabichara, cerpenis yang juga sedang naik daun, dalam epilog-nya menyatakan bahwa SPT telah menunjukkan profesionalitas, cinta dan gairahnya untuk mengarang, lewat keseriusan dan ketekunannya.  Seolah tak hendak berhenti, cerita terus mengalir tanpa mengenal kata usai atau tetapi. Bahkan, hingga kini, usia tak bisa menahan ambisi dan laju kreatifnya.

Dalam acara launching di Taman Kuliner – Kalimalang Jakarta Timur, Sabtu 2 April 2011, SPT meluncurkan launching karya terbarunya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Sengkarut MEJA MAKAN.  Pembacaan ringkasan cerpen, puisi/musikalisasi, monolog dan petikan sasando Jitron Pah (finalis IGT) ikut meramaikan launching ini.

Mengapa memilih judul ini, SPT menjelaskan dalam pengantar : “MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar,  merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut. Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja.” (SPT)

Saut Poltak Tambunan – seorang novelis yang setia pada dunia penulisan, begitu komentar Ashadi Siregar (novelis, dosen pada UGM) pada novel SPT yang lain. Beberapa komentar tentang kepengarangan SPT menunjukkan pengalaman  menjadi pengarang  dengan thema yang kuat dan beragam.

SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa.

Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya.” (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

Buku kumpulan cerpen Sengkarut MEJA MAKAN berisi 15 cerita pendek dengan tema yang beragam.

”Tema-temanya unik dan seringkali tidak terduga. Sepertinya sederhana tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil ‘Meja Makan’ misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.  Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki. Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti ‘kemajuan’ yang selalu diagung-agungkan. Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas.” (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)

Momentum launching ini selain meluncurkan Kumpulan Cerpen Sengkarut MEJA MAKAN, juga sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisasi dan penyerahan Talking Book ”KIAT SUKSES MENULIS NOVEL” kepada Himpunan Wanita Penyandang Cacad Indonesia (HWPCI). Yayasan Mitra Netra merekam suara Nuning Purnamaningsih (Penyiar Radio DFM) untuk talking book dari buku ditulis oleh SPT berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengarang. Talking Book (buku  ’Kiat Sukses Menulis Novel’ versi audio digital) ini dipersembahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra) namun memiliki kemauan dan potensi yang besar untuk menjadi seorang penulis.

Dengan adanya talking book ini, Yayasan Mitra Netra dan SPT akan memberikan horison pengharapan baru bahwa keterbatasan penglihatan pun tidak akan dapat membelenggu potensi dan impian seseorang dalam menetaskan karya-karya yang kreatif, khususnya di bidang tulis-menulis.

Jakarta,  2 April 2011

Sebastiane Wardono

PR Selasar Pena Talenta

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan

Penulis : Saut Poltak Tambunan

Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur

Cetakan : I, Maret 2011

Harga : Rp. 45.000, 00

ISBN : 978-602-97300-1-2

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca mampu masuk ataupun dimasuki atas ruh sebuah karya. Diksi dan pelbaagai “hiasan” bahasa kemudian menjadi luruh manakala yang kita pahami hanya serentetan kata yang membentuk kalimat-kalimat menjadi paragraph-paragraf tanpa makna. Kalau bisa dipermisalkan, hal ini semacam banyak harta, tetapi banyak hutang. (He..he..he)

Lepas dari bagaimana teori menilai atau mengklasifikasikan suatu karya ke dalam satu golongan tertentu, tak perlu kiranya hal tersebut diperdebatkan. Bagaimana pembaca “menuduh” penulis masuk atau menganut/mendukung manisterm tertentu atau tidak, karya akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan, beberapa penulis kemudian_tanpa disadari_ “belajar” lebih arif memaknai hidupnya justru dari karya yang dibuatnya sendiri. Hal ini tentunya membawa pengaruh positif bagi kebaikan, termasuk pada pembacanya.

Jika Kahlil Gibran menyampaikan karyanya dalam bentuk sebuah narasi surat puisi, Imam Budi santosa yang mematahkan “penilaian” masyarakat dengan “gugatan”nya terhadap mitos Jawa, Pringadi Abdi Surya dengan “ketakwarasan”nya, dan Bamby Cahyadi dengan “kelembutan”nya, maka Saut Poltak Tambunan memiliki keunikan dengan “kesederhanaan”nya yang meng”kamera” ironisme kehidupan dengan renyah. Di mana di dalamnya terangkum manis, asam, asin, pahit, dan getirnya “nasib” manusia dalam kisah laku hidup yang beragam.  Kejadian-kejadian yang kerap kita abaikan dari “penglihatan” (entah sengaja atau tidak). Dan ini dipoles sedemikian hingga ada kenikmatan tersendiri di dalamnya. SPT berhasil mengunggah kesempurnaan dari kesederhanaan yang dimilikinya.

“ Setiap hari deru mesin traktor menggaruk-garuk keperkasaannya di tanah sekeliling. Puluhan traktor dan ratusa truk pengangkut tanah menyulap seketika dan meratakan tanah berbukit-bukit….” ( hal 38)

“ Menurut Kiman, dokumen-dokumen temuannya itu membuat anak-anaknya makan bagai berpesta. Bu Kiman mengolah kertas sertifikat jadi bubur. Naskah kontrak bisnis dibuat bakso. Nota-nota rahasia dirajang jadi pecel. Menurut Kirman, nota pinjaman luar negri lebih nikmat dari dokumen-dokumen lainnya” (hal 76).

SPT dengan detil dan cekatan membuka luka-luka dengan birahi yang manis. Sesekali dentuman dan ledakan dicetuskan di beberapa bagian kisah. Pembaca seperti diajak untuk “bertengkar” atau “menciptakan pertengkaran” dengan diri sendiri. Sebuah kontradiksi yang berdiri di atas impian, harapan, keinginan, kesadaran, kekecewaan, juga penderitaan. Yang kesemuanya adalah segmen-segmen yang ada dalam luka-luka yang entah bisa sembuh ataukah tidak.  Hal yang paling dekat dilakukan untuk memaknai hakekat hidup dan “eksistensi” diri dan ke”diri”an dalam kehidupan.

on Friday, April 15, 2011 at 3:25pm

Maret 2011

…disepenggal malam di SENGKARUT MEJA MAKAN…..

by Nuning Purnamaningsih on Saturday, April 9, 2011 at 3:50pm

SPT ? siapa yang tak kenal Saut Poltak tambunan ? Lelaki Tapanuli yang sangat pandai mempermainkan perasaan orang dengan tak tanggung tanggung. Kadang ia menampar kita dengan keras, Tak jarang ia mengiris dan menyayat hati kita melebihi sayatan sembilu. Kadang ia menggedor gedor pintu… kesadaran kita dan membanting nya dengan fakta fakta. Dengan lugas ia beberkan keserakahan dan ketamakan kita, kecurangan dan kemunafikan kita. Itulah SPT, seenaknya saja dia kacaukan perasaan orang melalui goresan penanya. Ia rangkai butiran kata menjadi kalimat kalimat yang kadang mengusap menyejukkan hati, namun tak jarang mendera dengan kesadaran yang menghentak

Tulisan SPT seolah bernyawa, dibalik tuturannya kita jumpai pribadi yang hidup. Ada kehangatan, ada kepedulian, ada kemesraan , dibalik tulisannya, orang menangkap kejujuran, meski ada juga kejahilan yang menyegarkan.

Sebenarnya menulis adalah proses mental, yang dilakukan pada level kesadaran. Saat SPT memilih kosa kata, mensortirnya dari kamus mental, ia tahu persis,apakah harus mengambil dari kamus mental emosional, spiritual atau kamus mental intelektual. Gaya bahasanya kaya kiasan dan ungkapan, penuh metafora, pilihan frasanya asyik, SPT suka bermain majas, ia gulirkan tulisan bernafaskan ironi, sarkasme atau sinisme yang menggigit. Seolah hypnosis, orang membaca dengan focus pada ceritanya dan terpukau pada pilihan kosa katanya. Tulisannya membuat kita merasa, mendengar, melihat dan berpikir melalui sudut pandangnya ! Ini sangat mempesona bukan ?

Entah, sudah berapa kali saya jatuh cinta secara imaji pada SPT. Tiap kali cerpen/novelnya bicara tentang kasih/cinta, tanpa permisi ia merebut seluruh elemen cinta yang saya miliki.

spt meramu rasa, mengaduk emosi kita lewat 15 cerpennya yang terhidang dimeja makan, anda boleh pilih yang mana yg akan dijadikan makanan pembuka, Seperti apakah gerangan proses kreatifnya, seperti hidangan,sebelum disuguhkan dimeja makan, perlu proses penyiangan,pencucian,pengirisa

n pengulekan, kemudian ditumis direbus dan dibumbui. Nah hidangan 15 varian di meja makan SPT ada yang manis, gurih, pedas, asin, asam, bahkan pahit, tapi kesemuanya melalui proses masak yang higienis tanpa mengurangi kadar vitamin dan mineralnya.

SPT, yang meretas angan jadi ingin, bukan sekedar menjadi angin semata,malam ini telah mengisi tabung jiwa kita lewat sengkarut meja makan, yg dlm kata pengantarnya merupakan perangkat yg diatasnya kita melangitkan doa, merajut kasih, berbagi ajar,mengasah aji, menggelar gelak canda bahkan mengumbar marah silang sengkarut. Diarea meja makan pula kita menenun cerita dan puisi menggagas hari esok, bermazmur syukur memintal sesal, bahkan menghitung uang belanja. Sebenarnya Ini sebuah perenungan dalam Pertanyaannya adalah, masih bisakah kita berkumpul dimeja makan kita ? Karena, dijaman yg serba gadget ini, meja makan menjadi hiasan, dia kesepian dan merana dalam kebisuan, fungsinya beralih hanya sebagai pelengkap pajangan. Tak pernah lagi sang meja atau kursi makan tersenyum simpul menyaksikan kemesraan , celoteh anak anak, laporan kejadian hangat seharian, Meja makan masa kini hanya menyaksikan wajah hambar bibik yang menarik kembali sajian makan malam untuk disimpan dilemari es, atau membuangnya ke bak sampah karena tuan dan nyonya tak bersedia menyantap makanan tunda. Ah , masing masing penghuni rumahnya hoby benar bergegas lekas, maunya seba cepat kilat, sekalinya bersama dimeja makan, masing-2 sibuk dg BB dan HP,

Disuatu kesempatan dikomunitas kedailalang…SPT menulis …ilalang duri memberitahumu jalan mana yang harus kau tempuh, lebah berbisa memberitahumu dimana bunga merekah kemekaran. SPT memberitahu kita untuk hidupkan kembali RUH MEJA MAKAN, jadikan Meja makan perekat cinta

Hmmm…yang dirajutkan menjadi jejak jejak indah kelak.

Suhunan Situmorang

SPT memang penulis andal, kaya ide, dan produktif. Saya kagum dng vitalitas san daya tahannya menulis, proses kreatifnya seperti tarikan nafas yg tak butuh jeda. Sjk SMA sdh saya nikmati karya-karyanya yg saat itu merajai majalah wanita ber…oplag terbesar, KARTINI, yg dilanggani kakak-kakak saya. Cerber dan novelnya pun banyak yg saya tonton setelah dipindahkan ke layar seluloid. Hrs diakui, SPT termasuk pengarang yg punya banyak penggemar, terutama kaum perempuan, yg sedikit saja di antara penulis cerita di negeri ini bisa dapatkan. Saya tak peduli apakah karya-2 SPT dikategorikan sastra atau tdk, sama pentingnya bagi saya membaca karyanya dng karya Budi Dharma, NH Dini, AA Navis, Mangunwijaya, Putu Wijaya, Umar Kayam, dll. Bagi saya, membaca karya SPT sama menariknya dng membaca karya Harris E. Tahar, cerpenis dari Padang yg tak ada karyanya saya lewatkan. Kesederhanaan tema yg diangkat SPT itu yg saya kira daya penariknya, diramu dng bahasa yg mudah dimengerti, tanpa mengabaikan pesan cerita. Tapi memang dari semua karya SPT yg pernah saya baca, cerpen-cerpen dng setting, tokoh, dan tema lokal Batak yg paling saya suka. Bisa jadi krn dia tdk sekadar menulis manusia Batak dng mendeskripsikan permukaan, tetapi masuk ke dalam sbg bagian dari dirinya dan pergumulannya.

April 9 at 9:24pm

SAUT Poltak Tambunan (SPT), seorang penulis senior yang tetap eksis hampir empat dekade (sejak tahun 1970-an). Pengarang ini dikenal dengan karya-karya dramatik dan sangat kontekstual.

Ia merekam situasi di sekitarnya dengan baik lalu mengemasnya menjadi cerita yang sangat dekat dengan pembacanya. Benny Arnas yang menulis prolog dalam buku ini sampai-sampai memberi judul prolog Belajar Membumikan Cerita dari Saut Poltak Tambunan.

Cerpen-cerpen SPT begitu dekatnya dengan kenyataan, sehingga Benny Arnas, pengarang muda yang namanya sedang mencuat bahkan menuduh SPT sendiri adalah tokoh-tokoh utama dalam cerpennya Kampung Tamim, Tas Untuk Pak Bakri, Meja Makan, Si Nur, Berdamai Sesore itu, Mutasi, dan Aku Punya Papa. Khrisna Pabichara, cerpenis yang juga sedang naik daun, dalam epilog-nya menyatakan bahwa SPT telah menunjukkan profesionalitas, cinta dan gairahnya untuk mengarang, lewat keseriusan dan ketekunannya.

Seolah tak hendak berhenti, cerita terus mengalir tanpa mengenal kata usai atau tetapi. Bahkan, hingga kini, usia tak bisa menahan ambisi dan laju kreatifnya.

Dalam acara launching di Taman Kuliner Kalimalang, Jakarta Timur, belum lama ini. SPT meluncurkan karya terbarunya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Sengkarut Meja Makan.

Pembacaan ringkasan cerpen, puisi/musikalisasi, monolog, dan petikan sasando Jitron Pah (finalis IGT) ikut meramaikan launching ini.

Mengapa memilih judul itu? SPT menjelaskan dalam kata pengantar : “MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar, merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut.

Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja.”

Saut Poltak Tambunan seorang novelis yang setia pada dunia penulisan, begitu komentar Ashadi Siregar (novelis, dosen pada UGM) pada novel SPT yang lain. Beberapa komentar tentang kepengarangan SPT menunjukkan pengalaman menjadi pengarang dengan thema yang kuat dan beragam.

“SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa.

Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya.” (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

Buku kumpulan cerpen Sengkarut Meja Makan berisi 15 cerita pendek dengan tema yang beragam.

“Tema-temanya unik dan sering kali tidak terduga. Sepertinya sederhana. Tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil Meja Makan misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.

Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki.

Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti “kemajuan” yang selalu diagung-agungkan.

Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas.” (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)

Momentum launching ini selain meluncurkan kumpulan cerpen Sengkarut Meja Makan, juga sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisasi dan penyerahan talking book “Kiat Sukses Menulis Novel” kepada Himpunan Wanita Penyandang Cacad Indonesia (HWPCI). Yayasan Mitra Netra merekam suara Nuning Purnamaningsih (Penyiar Radio DFM) untuk talking book dari buku ditulis oleh SPT berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengarang. Talking Book (buku Kiat Sukses Menulis Novel versi audio digital) ini dipersembahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra), namun memiliki kemauan dan potensi yang besar untuk menjadi seorang penulis.

Dengan adanya talking book ini, Yayasan Mitra Netra dan SPT akan memberikan horison pengharapan baru bahwa keterbatasan penglihatan pun tidak akan dapat membelenggu potensi dan impian seseorang dalam menetaskan karya-karya yang kreatif, khususnya di bidang tulis-menulis.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 4 Juni 2011

Posted by Udo Z Karzi at 12:09 AM

 


Judul : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Tebal : 240 halaman
Penerbit : Selasar Pena Talenta, Pondok Kelapa Jakarta Timur
Ukuran Buku : 14 x 19 Cm
Cetakan : I, Maret 2011 Jakarta
ISBN : 978-602-97300-1-2

Sebuah cerita pendek terkadang menyisakan sebuah misteri yang kuat. Kadar keingintahuan terus akan menyeruak, bahkan ketika kisah itu selesai dibaca. Jalinan kisah semacam meninggalkan gurat di kepala, membentangkan pelbagai pengetahuan silam yang pernah terekam di ingatan kita dan menebalkan pelbagai kemungkinan. Jika kehidupan memang banyak ragam, tersembunyi-menghadiahkan perenungan, sebuah intisari yang membuat kita arif memaknainya.

Ketika sebuah peristiwa turut hadir menelingkupinya, maka perahan-perahan cerita seakan kembali “hidup”. Cerita itu makin menegaskan jika lama kita abai untuk sekadar merekamnya. Jalinan peristiwa kerap menelusup, memberikan corak tersendiri-dan tentunya memberi kekayaan makna yang baru bagi kehidupan itu sendiri. Membaca cerita pendek seperti upaya untuk membongkar baris-baris kejenuhan yang bersisian dengan kita. Dia semacam jeda, yang mungkin terlalu pendek – tetapi dapat mengabarkan hal-hal yang luas bagi keseharian.

Justru di balik kesederhanannya tersimpan berbagai cakupan luas lainnya. Dia seperti ingin mengembangkan temali cerita, dengan ironi-ironi, membuka sisi kelam masyarakat, yang banyak dilupakn sebagian besar orang.

Pelbagai kisah itu turut hadir, menelusup, membalut, mencampuri peristiwa-bahkan ada pula yang sekadar men-copy paste peristiwa itu, hingga menjelma jadi kisah yang mencengangkan. Jalinan kisah seperti tertumbuk dalam temuan-temuan pahit yang menjerit. Sesekali ketika membacanya ada rasa sakit yang teriris, bahkan ketika berhadapan dengan sejumlah paragraf atau dialog yang dibangun pengarangnya.

Saut Poltak Tambunan, seseorang yang memilih jalan kepenulisan kreatif sejak dekade 1970-an, begitu rekat mengambil fragmen-fragmen dalam kehidupan ini. Dalam kumpulan cerita pendeknya ini, dia seperti menjelma jadi “tukang rekat” yang menempelkan banyak peristiwa (luka) dalam ceritanya. Dia menulis dengan asik, penuh dengan kalimat keseharian yang ringan. Suatu hal yang mengingatkan saya pada cerita yang ditulis oleh Sori Siregar, Hamsad Rangkuti, Arie P. Tamba, Putu Wijaya, atau Ratna Indraswara Ibrahim. Ceritanya memang mengalir dengan tenang, tetapi dapat segera menyentak hingga ke akhir.

Demkianlah, berhadapan dengan lima belas cerita pendek dalam kumpulan ini, saya terpukau jika masih banyak hal-hal sederhana yang layak dijadikan kisah. Tokoh-tokoh yang dibangunnya pun seperti sering kita temui di keseharian. Sejumlah kegetiran yang menyeruak di sana, semacam ingin menegaskan jika kita tak boleh cengeng menghadapi kehidupan ini.

Dalam cerita pembuka “Sebentar Lagi 2011!” Saut seperti ingin memerah berbagai fragmen, yang disulapnya jadi rangkaian utuh menarik. Pelbagai potongan kisah itu, tanpa disadari terangkai dengan sendirinya, sehingga menebalkan garis yang nyata. Bebarapa harapan yang muncul, meskipun saling-silang dengan sejumlah ketakutan untuk menghadapi tahun yang baru.

Di sini, cerita seperti memecah “kesunyian” kita, menghidupi dengan keyakinan yang baru untuk terus berjuang menghadapi kehidupan itu sendiri. Sebuah cerita yang baik memang tersusun untuk itu. Dari situ ia menyentil semua sisi kehidupan. Dia mengoyak semacam ketabuan dari lingkaran tradisi, juga (seperti) berupaya mengembalikan tradisi itu agar tak pincang.

Pun dalam “Primadona”-potret terkini masyarakat kita juga turut terekam, bagaimana dunia panggung hiburan dangdut, yang ternyata menyisakan kegetiran tersendiri. Sebuah pentas yang berisi dari persaingan dengan goyang yang lebih “aduhai” sesama artis panggung agar menjadi primadona. Meskipun sang tokoh sendiri meyakini, bahwa apa yang dilakukannya, katakanlah dengan berbagai cara untuk menjadi primadona bertentangan dengan nurani dirinya.

Kebanyakan cerita-cerita Saut, sebagaimana yang diakuinya dalam situs jejaring sosial dicuplik dari peristiwa nyata. Dia seperti tergoda untuk terus mengabadikannya dalam cerita. Simak juga catatan dalam buku ini yang kebanyakan diakuinya sebagai kisah pribadi. Semacam dalam “Si Nur” atau “Lelaki di atas Ferry”. Kisah-kisah tersebut terasa hidup, agaknya pengarang ini memang peka untuk mengumpulkan/merekam setiap kejadian/fragmen yang melingkupi dirinya. Agaknya tidak salah Subagio Sastrowardoyo menulis, jika makna kerja sastra adalah suatu jalan untuk tinggal setia pada dirinya sendiri, yang raut jiwanya dibentuk oleh situasi pribadinya di tengah lingkungan masyarakat zamannya. Dalam hal itu dia terus-menerus menjenguk dan menggali ke dalam ruang batinnya untuk menjumpai bayangan dirinya yang paling cerah dan murni. (“Dongeng Buat yang Dewasa”, Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan, hal. 128).

Di dalam pergulatannya dengan fragmen-fragmen kehidupan itu, Saut seperti hendak mengatakan kepada kisah itu sendiri. Kegetiran-kegetiran yang tertinggal dalam kisah-kisahnya semacam sebuah corak, yang mengandung amanat tersendiri. Jika di kehidupan yang keras ini, kita mesti berhati-hati. Segenap kekayaan yang tersimpan dalam kehidupan itu seperti sebuah tapak/penanda agar kita tak tersesat.

Bahkan untuk benda meja makan sendiri, Saut seakan menegaskan tentang kultur adat Batak yang makin tergerus oleh zamannya. Kehidupan yang serba instan membuat kita lupa, apa yang pernah diajarkan oleh leluhur. Pun untuk kebiasaan-kebiasaan yang “diwariskan” adat, seperti telah terkubur. Idiom-idiom lokalitas, terasa makin tipis, sehingga kita melulu abai. Di sinilah, cerita mendadak jadi hal yang penting, segala kemuraman zaman ditegaskan lagi oleh Saut. Dia seperti ingin menggugat kondisi terkini yang terjadi dalam sebagian besar masyarakat kita.

Saut mendedahkan berbagai ironi dalam kisah-kisahnya, dia ingin menyindir akan keberlangsungan fragmen, yang dilihatnya terasa pincang, makin menjauh dari sisi-sisi kemanusiaan. Meskipun kita mahfum sejak lama, jika hidup tak melulu berisi hal putih melulu. Tapi usaha untuk menggali sisi hitam kehidupan-dengan mengangkatnya menjadi cerita, merupakan upaya untuk mengembalikan rasa kemanusiaan kita. Dia hendak menjewer agar tidak pernah melupakan akar kita yang lampau: sebuah tradisi.

Yang tertinggal dalam kisah-kisahnya, bagaimana sebuah fragmen bisa begitu menakjubkan. Sejumlah kisah memberi semacam penanda yang tegas akan kehidupan, semacam tragedi atau semburat dunia luka – yang memang tak bisa dibenahi dengan sekadar membalik telapak tangan. Kisah itupulalah yang memberikan semacam rambu agar kita berupaya banyak mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut.

Saut dengan kejeliannya memberikan semacam “ruang tunggu” bagi pembacanya. Dia seperti ingin mengajak kiat merenung berulangkali, bahwa banyak hal yang tak beres dalam kehidupan ini. Sayangnya kita melulu abai, sehingga kembali lelap oleh realitas. Di “ruang tunggu” itu, tinggal kita yang mengolah pelbagai kisah, mengembalikan ingatan kita, ihwal apa yang terjadi di dalam kehidupan ini. Kisah-kisahnya, tak akan berhenti sampai di sini saja.

MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar,  merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut. Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja. (SPT)

*

SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa. Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya. (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

*

Kemampuan SPT menikam di awal cerita, lekukan indah di tengah peristiwa, dan kejutan di akhir cerita selalu berpotensi menghadirkan sesuatu yang lain; sesuatu yang menghadirkan penderitaan dan kesenangan, ilusi dan ironi, atau pertengkaran sengit antara harapan dan kenyataan. (Khrisna Pabichara)

*

Cerpen-cerpen SPT dalam ‘Sengkarut MEJA MAKAN’ ini mampu membuat saya belajar bagaimana mengemas setiap tema membumi dalam ceritanya. (Benny Arnas)

*

Cerpen Saut Poltak Tambunan mengajari kita menghadapi kemarahan dengan cara yang cerdas, dan menjadikannya sebuah kearifan yang indah. Tema-temanya unik dan seringkali tidak terduga. Sepertinya sederhana tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil ‘Meja Makan’ misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.

Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki. Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti ‘kemajuan’ yang selalu diagung-agungkan.

Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta  dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas. (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais).

*

Nama Saut Poltak Tambunan tak pernah surut dari literasi Indonesia karena tidak ada jeda menulis baginya dalam empat dasa warsa. Eksistensi karyanya bukan semata persoalan jam terbang, namun juga kandungan lokalitas yang tak luntur bahkan ketika para tokohnya menjadi urbanis. Karakter mereka ditulis begitu kental dan ekspresif, membuat cerpen-cerpennya hidup dan segar. (Kurnia Effendi, cerpenis dan pencinta sastra, penggiat Komunitas Sastra Kedailalang)

*

“Ada dua kekuatan utama cerpen-cerpen Saut Poltak Tambunan, menurut saya. Pertama, tema-tema yang digarap sebetulnya sederhana, riil, namun jadi berdimensi beberapa karena akhirnya memasuki berbagai aspek kehidupan, yang sadar atau tidak pernah dialami pembaca atau orang lain. Kedua, cara penulisan yang lugas dengan menggunakan kalimat aktif dan frasa pendek mengalirkan cerita dengan lancar hingga enak dibaca. Kelimabelas cerpen ini pun saya lahap dengan nikmat, kadang tersenyum, kadang mendeguskan nafas panjang seusai baca—seraya membayangkan kisah, kejadian, dan para tokoh tiap cerita.” (Suhunan Situmorang, pengarang novel ‘Sordam’, praktisi hukum dan pemerhati budaya Batak)

*

Walau mengaku tak pintar menyanyi, tapi sebagaimana umumnya putra Batak, Saut Poltak Tambunan, memberikan potret sosial yang sendu, dalam pergeseran nilai di negeri yang tersaruk berbenah dihajar berbagai perubahan ini. (Putu Wijaya, Teater Mandiri, Budayawan)

Sumber:  Harian Analysa, Minggu, 8 Mei 2011

 


SAMPAI sekarang, saya masih belum mampu mendefinisikan “sastra”. Dari apa yang saya gumuli selama ini, saya baru (sampai) pada tingkat pemahaman bahwa “sastra” adalah karangan yang mampu meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknainya.

Artinya, saya percaya bahwa ada definisi lebih tepat yang (mungkin) sudah dicetuskan oleh orang-orang terdahulu. Bukan berarti saya tak ingin membuka-buka referensi. Tapi, saya percaya bahwa dalam dunia noneksak semacam sastra; pembacaan, penerjemahan, bahkan pendefinisian, sangat tak bisa lepas dari sudut pandang dan konteks.

Ya, ketika Socrates menyatakan bahwa sastra itu mimesis—tiruan kehidupan, sah-sah saja, bahkan cukup relevan dengan perkembangan sastra hingga hari ini. Pun, ketika Helvy Tiana Rosa (HTR) mengatakan bahwa sastra (menulis) itu adalah berjuang, tentu tak dapat dinafikan ketika pengertian tersebut disandingkan dengan beberapa karya sastra —apalagi karya HTR sendiri.

Dan, apakah seorang Saut Poltak Tambunan (SPT) sudah memiliki definisi sastra dalam versinya atau belum atau tidak mau peduli dengan hal-hal seperti itu, entahlah. Yang terang, lewat karya-karyanya, SPT sedang bilang kepada khalayak pembaca bahwa mengarang baginya bukan untuk mendapat label sastra/tidak, tapi ia ingin menciptakan keintiman psikologis dengan pembaca! Hmm, sebuah visi kepengarangan yang sudah mulai jarang ditemukan dalam ranah sastra.

Dewasa ini karya karangan lebih banyak menerjemahkan estetika ke dalam teknik bermain bahasa. Sebenarnya tak ada masalah bila keinginan untuk menjamah wilayah (teknik berbahasa) tersebut diikuti dengan kematangan bermain diksi dan ketepatan dalam meramunya. Namun yang kerap terjadi adalah (khususnya pada pengarang-pengarang pemula) keasyikan mengeksplorasi bahasa kerap kebablasan. Alih-alih menghasilkan cerita yang bernas dengan estetika yang mumpuni, justru menghasilkan cerita yang susah dimengerti; pembaca lelah menerjemahkan metafora yang asal ramu, diksi yang tidak tepat letak dan tepat guna, bahkan yang lebih parah adalah: cerita kehilangan arah.

Membincangkan SPT, tentu terlalu ingusan kiranya, bila membincangkan perkara teknis mengarang. Ia sudah malang melintang di dunia itu jauh sebelum saya lahir. Saya lebih tertarik membincangkan visi kepengarangannya. Bagi saya, SPT layak dijadikan (salah satu) cermin dalam menjelajahi dunia mengarang. Ia dapat “hidup” dari hasil karangannya. Tentu, tulisan ini akan sangat melenceng bila saya jelaskan panjang lebar perihal “fakta” tersebut. Namun begitu, tentu ada alasan mengapa saya perlu mengungkapkannya. Ya, raihan tersebut tak dapat dilepaskan dari visi kepengarangannya.

Dari pembacaan saya, karangan SPT selalu berusaha melibatkan pembaca dalam ceritanya. Tidak hanya mampu membuat pembaca memahami apa yang tengah ia ketengahkan, namun lebih essensial dari itu. Membaca karangan-karangan SPT membuat kita dapat ikut serta memahami gejolak emosi si tokoh, membayangkan tinggi-rendahnya nada yang dibidik dalam dialog-dialog, bahkan mampu memeragakan gerakan-gerakan tubuh atau elemen pembentuk cerita lainnya (seperti benda, setting, dan suasana) dengan baik. Ya, karangan-karangan SPT sangat filmis. Dan, malangnya, sastra(wan) dewasa ini, sering gagal menampilkan sisi filmisnya. Mungkin juga termasuk saya. Padahal, bagi saya, itu adalah parameter sejauhmana sebuah karya mampu ’mengunjungi’ pembacanya, bukan hanya “dikunjungi” pembacanya.

Beberapa cerpen dalam buku terbarunya, Sengkarut Meja Makan (Selasar Pena Talenta, 2011), membuat pikiran saya langsung connect untuk ’menuduh’ si Romli (Kampung Tamim), Dany (Tas untuk Pak Bakri), Si Anggota (Meja Makan), Ayah Yane (Si Nur), Amang (Berdamai Sesore Itu), Hambali (Mutasi), dan Papa Prita (Aku Punya Papa), adalah tak lain SPT sendiri. Dalam konteks kepengarangan (sastra), bagaimana saya harus membahasakan ini? Apakah SPT gagal menjadi orang lain dalam karya-karyanya? Atau ia justru sukses menerjemahkan karakternya dalam cerita yang beragam? Ah, saya pikir, itu bukan perkara penting, bila dihadapkan pada kenyataan betapa karya-karya SPT mampu membuat pembaca terperangkap dalam kesan yang diproduksi cerita-ceritanya. Ya, pembaca dapat saja tiba-tiba semringah dengan air mata yang hampir jatuh di kelopak mata ketika menyelesaikan Tas untuk Pak Bakri, Berdamai sesore Itu, dan Aku Punya Papa, atau geregetan sambil mengepalkan tangan dan menggerutupkan gigi ketika mengakhiri Meja Makan, Si Nur, dan Primadona.

Bagaimana cerita-cerita lainnya? Kesan apa yang ditangkap saya? Atau tak ada kesan sedikit pun?

Hmm, baiklah, saya akan terpancing oleh pertanyaan yang saya buat sendiri rupanya. Saya ingin mengatakan bahwa Sebentar Lagi 2011!, cerita pembuka dalam kumpulan cerpen ini, sebagai wujud bahwa SPT mampu menggarap cerita tidak seperti yang selama ini ia lakukan. Dalam Sebentar Lagi 2011! SPT membagi ceritanya dalam beberapa fragmen. Di akhir cerita, kita baru sadar bahwa masing-masing fragmen adalah puzzle yang masing-masing sisinya, bila disambungkan, akan menciptakan gambar yang utuh, cerita yang kuat! Cerpen ini pula yang membuat saya menunggu eksplorasi beliau selanjutnya.

Lalu, bagaimana bila direlevansikan dengan sastra dalam definisi saya; karangan yang mampu meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknainya. SPT telah melakukannya. Up-grading yang dilakukan SPT adalah (mengajak pembaca) peka akan masalah-masalah rumah tangga, adat, dan sosial, yang sangat sering terjadi dan kita jumpai. Cerpen-cerpennya dalam buku ini mampu membuat kita belajar bagaimana membuat membuat setiap tema membumi dalam ceritanya.

Benny Arnas, cerpenis, tinggal di Lubuklinggau.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 24 Juli 2011

Buku Panduan Ubud Writers & Readers Festival 2011

Di telapak jagad Ubud kita ditating setara. Bersila sama rendah menengadah sama tinggi. Tak penting kau berarah dari benua kelingking atau jempol, jari tengah telunjuk atau jari manis. Sungguh di sini dunia tak berdinding apalagi berpintu. Pun mawar bermekaran tak berduri, lebah menyarung sengat, singa menyusut taring.

 Di telapak jagad Ubud kita mengasah aji Nanduring Karang Awak – bertanam pada diri sendiri, menandur kebajikan meladang ketulusan. Di bawah langit yang sama kita semai asa bahwa kelak akan tiba masa menuai damai dengan bernas terbaik.  Tak perduli kau berlain ragam warna  bentuk raga dan tutur bahasa.

Di telapak jagad Ubud kita menari dalam kidung yang sama. Bersulang kita me’lissoi’ –   mengguncang hingga larut endapan kepelbagaian. Gilirganti kita lantun menjadi syair dan irama.  Tetapi tak ada pesta tak bersudah. Sayupkan saja salam perpisahan itu, mari berlupa kita segera akan berjarak. Lalu biarkan dian ini terus bernyala.

Ubud, Menandur Kebajikan Meladang Ketulusan

Saut Poltak Tambunan, Okt 2011

Terror bom pertama di Bali tahun 2002 meluluhlantak citra Pulau Dewata sebagai destination brand wisata dunia. Bali mendadak lengang dari wisatawan asing. Tingkat hunian hotel menurun hingga tingkat paling rendah meski room rate sudah didiskon besar-besaran. Hotel dan usaha wisata lainnya terpaksa melakukan PHK atau merumahkan karyawan secara bergilir.

Kapal-kapal pesiar yang biasanya sarat memulangpergikan wisatawan antara Benoa-Nusa Penida, terangguk-angguk di dermaga. Ada yang mencoba mengoptimalkannya dengan menjual paket wisata sunset menyusur pantai Bali. Sunset, dinner dan pertunjukan kesenian khas Bali. Begitu pun tak tampak wisatawan kulit putih, hanya serombongan turis Asia berwajah kontinental.

Berbagai upaya digegas untuk recovery. Di antaranya, nama Ubud tiba-tiba mencuat dalam khasanah sastra. Ubud, kota kecil di perbukitan sebelah utara Denpasar itu, sejak tahun 2004 menjadi ajang festival sastra bergengsi setiap tahun hingga mendapat predikat sebagai ‘Among the Top Six Literary Festival in the World’s’ dari Harper Bazaar, UK.

Untuk tahun 2011 perhelatan akbar sastra internasional bertajuk Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) digelar tanggal 5-10 Oktober 2011.  Dalam buku panduan acara UWRF ke-8 ini tercantum 132 pengarang dari hampir 30 negara, belum termasuk susulan yang tidak sempat tercantum dalam buku.  Mencerahkan, karena sekurang-kurangnya 36 di antaranya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, selain New Zealand, Argentina, India, Inggeris, Thailand, USA, Australia, Cambodja, Pakistan, Cuba, Japan, France, Egypt, Germany, Palestina, Hongkong, Denmark, Columbia, Ireland, Uganda, Singapura, Malta, Hongkong, Russia, Turkey, Nederlands, Malaysia, Sri Lanka dan Pakistan. Putu Wijaya, Andrea Hirata, Djenar Maesa Ayu, bahkan praktisi hukum Todung Mulia Lubis tampak hadir dalam beberapa sessi.

Para penulis berbaur dengan ribuan partisipan yang datang atas inisiatif sendiri, semarak dalam berbagai sessi yang diselenggarakan selama 6 hari pada 40 lokasi di kawasan Ubud. Hotel, cafe, museum, restoran, puri, villa, bale banjar, sekolah dan Universitas Udayana berubah menjadi ruang sastra bagi para penulis, budayawan, penikmat sastra dunia serta jurnalis. Hangat dalam debat-diskusi, performance and exhibition, film screening, literary feast, workshop, book launches, poetry slam, story telling dan lain-lain.

Panitia mengusung thema “Nanduring Karang Awak: Cultivate the Land Within”, diangkat dari puisi Geguritan Salampahan Laku karya sastrawan Bali abad ke-20, Ida Pedanda Made Sideman. Thema ini sangat relevan dengan krisis global kesetaraan dan kerukunan yang berkeadilan. Bertanam pada diri sendiri, tetap optimis menandur kebajikan dan menyemai ketulusan dalam menggali potensi diri sendiri. Dalam konteks yang lebih luas menggagas gegas pada kearifan lokal ketika hukum dan moralitas kekinian tak lagi menjamin rasa adil dan damai.

Sejak 2008 UWRF telah menerbitkan empat antologi bilingual karya para penulis terpilih Indonesia,  Reasons for Harmony (2008), Compassion and Solidarity (2009), Harmony in Diversity (2010). Untuk  tahun 2011 UWRF menerbitkan antologi dengan judul sesuai thema: Nanduring Awak Karang, Cultivate The Land Within. Buku ini memuat petikan novel, essay, puisi, drama dan cerpen karya 17 pengarang Indonesia: Alan Malingi, Arafat Nur, Avianti Armand, Ida Ahdiah, Jaladara, Komang Ariani, Pinto Anugerah, Ragdi F Daye, Rida Fitria, Sandi Firly, Sanie B Kuncoro, Satmoko Budi Santoso, Saut Poltak Tambunan, Wahyu Arya, Budy Utamy, Fitri Yani dan Irianto Ibrahim.

Antologi ini dibiayai bersama oleh UWRF dan HiVOS, sebuah NGO nirlaba asal Belanda yang memperjuangkan nilai kemanusiaan terutama di negara-negara berkembang. HiVOS memandang seni dan budaya punya peran kunci dalam pembangunan demokrasi dan masyarakat pluralistis, mendukung UWRF sejak 2007 dan membuka kesempatan kepada para pengarang Indonesia untuk masuk tataran sastra internasional.

Janet De Neefe (Festival Founder And Direction) serta Kadek Purnami (Community Development Manager UWRF 2011) adalah dua nama yang sudah akrab dengan peserta sejak awal seleksi. Bersama Drs. Ketut Suardana, M. Phil (Chairman Mudra Swari Saraswati Foundation) serta ratusan peninjau dari berbagai negara, media nasional dan internasional, para volunteer lokal dan asing serta dukungan masyarakat adat Ubud, festival dikemas dalam kesetaraan yang hangat.

Tidak seluruh penulis yang diundang menyandang predikat ’kelas dunia’, sebagian justru berasal dari kelas ‘emerging’, apalagi kebanyakan  pengarang dari Indonesia belum memiliki karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Tetapi justru itulah differensiasi festival ini. Terciptanya kesetaraan proporsional membuat semua peserta festival segera akrab bersapa serta berdebat-diskusi di cafe dan sudut-sudut ruang diskusi.

“Beruntung bisa menghadiri festival ini,” ungkap Horst Geerken, 79 tahun, Germany, tertua dari seluruh pengarang yang hadir. Pernah tinggal 4 tahun di Indonesia pada masa Bung Karno dan ikut membangun lapangan terbang. Horst meluncurkan salah satu bukunya dalam festival ini.

Aroma sastra terbuar di seluruh kawasan Ubud. Meski – kecuali Sapta Nirwanda, Dirjen Promosi Wisata Budaya Pariwisata RI yang hadir membuka festival secara resmi, tidak terlihat kehadiran peran pemerintah.

SPT, Okt 2011

 

 

Kolecer & Hari Raya Hantu

Posted: February 8, 2011 in Cerita Pendek

Rp. 45.000

Kesebelasan KOLECER: Benny Arnas (Lubuk Linggau), Cesillia Ces (Bali), Gunawan Maryanto (Jogjakarta), Hanna Fransisca (Singkawang), Iwan Soekri (Pariaman-Padang), Khrisna Pabichara (Makassar), Nenden Lilis A (Bandung), Noena (Jawa-Hongkong), Oka Rusmini (Bali), Sastri Bakry (Padang), Saut Poltak Tambunan (Toba-Batak)
Prolog: Free Hearty
Pengamat: Maman S Mahayana, Riris K Toha – Sarumpaet

***

PROLOG

KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA

Free Hearty

Sastra menghadirkan apa yang sejarah tidak bisa menghadirkannya.  Sejarah bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalu, maka sastra bercerita tentang apa yang mungkin terjadi di masa lalu, kini dan masa depan. Itulah hebatnya sastra. Sastrawan ’harusnya’ mempunyai Licensy untuk mengungkap apa saja.  Bukankah seorang pengarang menjadi tuhan bagi tokoh-tokoh ciptaannya? Ia membangun cerita menurut kehendaknya, menghidupkan tokoh, menyorot tokoh yang menurut pengarang menarik dan mematikan tokoh yang menurutnya harus dibunuh. Sastra merupakan hasil imajinasi yang tinggi, pemahaman yang dalam dan pengamatan yang cermat serta pengalaman pribadi yang diramu padu dalam bahasa yang memenuhi estetika dan etika dalam kebebasan yang jelas dan terbatas.

Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian dalam mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek.

Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh sebelas penulis dalam duapuluh cerita pendek. Nama-nama mereka sudah dikenal dengan pengalaman menulis yang cukup menggaram. Kumpulan cerpen ini menjadi menarik ketika dikemas dengan memasukkan warna-warna lokal dalam tradisi yang kadang memunculkan tragedi pada para pelaku budaya tradisi itu sendiri. Kisah-kisah biasa bisa menjadi sangat menarik ketika dikemas dalam dunia kata dengan cara yang apik.

Cinta, penghianatan, dendam, amarah, pembunuhan, kelicikan dan penipuan sering menjadi dasar tema cerita secara universal. Semua hal ini adalah masalah dasar manusia dari suku, agama dan bangsa apa pun. Mereka yang tertindas atau menjadi korban selalu si lemah, seperti perempuan, anak-anak atau mereka yang tidak memiliki posisi tawar dalam segala artian. Tragedi dalam tradisi yang berubah, atau tragedi karena tradisi yang dipertahankan dengan kukuh melawan gugatan-gugatan modernisasi menjadi pengamatan banyak penulis ini. Bagaimana setiap konflik dikemas, bagaimana benturan-benturan itu dipaparkan dan bagaimana pula hal-hal biasa tetapi luput dari pengamatan kita, dimunculkan dengan menarik dalam warna lokal yang menarik perhatian.

Amati cerita pendek Benny Arnas (Lubuk Linggau – Sumsel).  Membaca cerpen ini kita menemukan perbedaan budaya. Ada daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan, karena dianggap akan lebih memperhatikan orang tua kelak bila sudah renta. Ada juga daerah yang lebih mengagungkan anak lelaki karena kekuatannya mencari nafkah bagi kehidupan, dianggap kelak akan menanggung kehidupan orang tua.

Kedua hal ini sering memunculkan tragedi ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Ketika anggapan (harapan?) agar anak perempuan kelak memberi perhatian, justru asyik dengan suami dan keluarganya sendiri, tragedi pun muncul seperti dalam cerpen Anak Ibu Yang Kembali.

Dalam cerpen keduanya Tujuh, Benny memberi  ruang untuk pembaca berasosiasi lewat paparan cerita yang mendudukkan tukang tenung sama terhormatnya dengan Kades, Kadus atau Camat. Barangkali benar terhormat tetapi kita terpancing pula mempertanyakan tentang posisi mereka yang sama “Apa yang sedang terjadi di masyarakat dalam memahami makna kehormatan dan ketakutan. Apa beda pejabat dan tukang tenung??” Apalagi kemudian pembaca dipancing dengan akhir cerita yang justru memancing logika dan membuat kita ’terpurangah’ tentang maut yang datang, apakah sebagai sampainya ajal atau kematian akibat tenungankah?

Benny terinspirasi dengan profesi Tukang Cerita (lisan) sudah lama lenyap.  Di daerah Batak misalnya, tak ditemukan lagi parturi-turian atau tukang cerita lisan. Parturi-turian ini bertualang dari kampung satu ke kampung lainnya, menemani para petani yang semalaman berjaga di sekitar timbunan padi yang baru dipanen dengan sabit, menunggu mardege besok – memisahkan padi dari bulirnya. Benny mengemas  tradisi ini dalam cerpen ke-tiga dengan mengangkat cerita tentang perempuan tua berkerudung wol dari ceruk yang menyumpil di antara barisan Bukit Siguntang. Ternyata si Tukang Cerita ini memiliki misteri yang lebih dari semua cerita yang pernah dituturkannya. Hingga ia raib tanpa seorang pun tahu ke mana pergi.

Cesillia Ces (Bali) mengemas kisah antara Bali dengan Balige – Toba Samosir. Perbedaan nama yang begitu tipis dan sama memiliki pesona alam budaya yang mendunia, tetapi berbeda sungguh dalam banyak artian. Ketika dua anak manusia menjembataninya dengan cinta, mereka berhadapan dengan tradisi masing-masing yang demikian kukuh mempertahankan eksistensinya.

Gunawan Maryanto (Jogjakarta) dengan dua cerpennya Arya Mangkunegara dan Sarpakenaka menempatkan tokoh perempuan dalam koridor tradisi Jawa sebagai komoditi  dan sebagai alat untuk sumber atau korban fitnah. Perempuan berada pada posisi lemah, tanpa suara dan dilemahkan, lalu menjadi korban yang pada akhir cerita dibunuh, bersalah atau tidak, karena mencintai atau dicintai. Kedua tokoh perempuan dalam kedua cerita pada akhirnya dilenyapkan. Imajinasi kita digerakkan oleh cerita Sarpakenaka yang berbau mistis dengan latar peristiwa PKI/Gestapu.

Hanna Fransisca (Singkawang – Kalbar) dalam dua cerpennya Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam dua kisah yang kental dengan budaya leluhur Hanna. Hanna memaparkan kisahnya dengan kritik yang jenaka dan canda yang membuat kita miris. Ini kekuatan Hanna dalam menulis. Pengamatan Hanna terhadap tradisi leluhurnya dipandang dengan pemahaman yang ganjil. Ada simpati, empati tetapi juga ejekan yang hampir menunjukkan apatis. Hanna menggunakan metafora yang kadang memancing senyum. Seperti dalam Sembahyang Makan Malam, Hanna menggambarkan ayam jantan dikebiri, lalu menggambarkan melihat mata ayam yang dikebiri seperti melihat nasib tokohnya sendiri. Kata-kata seperti ’lelaki karatan’, ’Mengalir doa, menguap ribuan dupa’, ’Dulu cantik kemudian semakin buruk lantaran mulai belajar memaki’ atau pula dengan sinis mengatakan ’menukar anak gadis dengan kaki babi’ memberi suasana tertentu.

Kritikan Hanna mengalir dengan tajam namun lembut dalam pilihan diksi yang memancing imajinasi. Simak dalam Hari Raya Hantu. Imajinasi pembaca diraihnya dengan indah : ’Dingin ranjang dan udara malam,  remang cahaya lampu.  Sesekali terdengar suara radio tetangga dan derik cengkerik di kejauhan. Dua ekor cicak kawin saling menggigit dan menghentakkan ekor mereka di dinding kamar. Beberapa ekor nyamuk berputar-putar di kepala’. Halus dan memancing imajinasi!

Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang dan Selasar Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua. Ketika kekasih bisa direbut, maka bukan mistis yang bekerja, tetapi hati yang patah lebih menunjukkan kekuatan akan kehancuran atau untuk menghancurkan. Orang yang merasa diri hebat dan terhormat sering merasa pantas untuk membalas dendam demi kehormatan yang berbau gengsi tetapi kadang mengorbankan harga diri. Maka orang sering salah membedakan yang harus dipertahankan, Gengsi atau harga diri? Itulah yang ditampilkan Khrisna dalam Pembunuh Parakang.

Laduka berkisah tentang kerinduan perantau yang akhirnya memilih pulang, meski dengan tangan hampa. Karena kepulangan perantau biasa membawa kesuksesan. Tetapi kepulangan lelaki Laduka hanya membawa kerinduan yang akhirnya berakhir tragis dalam sebuah tragedi. Hanya arwah dirinya yang pulang. Tradisi pulang dengan sukses atau ketidaksuksesan harus diputus dengan berpulang?

Dalam Selasar, Khrisna menyuguhkan cinta yang tak lekang dan kukuh disetiai. Si lelaki patah tetap datang menunggu setiap hari di selasar kenangan rumah orang tua si gadis, kendati ia tahu itu sia-sia. Ia mencoba tak percaya bahwa Si Gadis yang dia cintai terkena doti—mantra ampuh penakluk perempuan—dari Rangka, lelaki kaya teman sepermainan masa kecil yang beristri dua beranak delapan itu.  Nyatanya, si gadis meninggalkannya dan nekad dibawa silariang—kawin lari.

Nenden Lilis (Bandung) menulis  Hari Pasar dan Kolecer. Kolecer merupakan kritikan  dan kerinduan akan masa lalu. Perempuan cantik di masa lalu adalah perempuan dengan gigi hitam. Kenangan, betapapun menyedihkannya akan menjadi indah saat dikenang. Kenangan terhadap kakek nenek, masa kecil dan makanan-makanan khas daerah seperti nasi timbel, ikan asin japun atau sambal oncom digambarkan sebagai bentuk kerinduan yang nostalgik. Kisah dikemas dengan menarik dalam hubungan anak perempuan dan bibinya yang teraniaya.

Dalam Hari Pasar, Nenden Lilis mengkritik Tukang obat yang penuh tipuan, seperti tipuan dalam rampasan hak orang-orang proyek kepada lahan orang-orang miskin.  Membakar kertas dengan ludah merupakan sindiran tajam terhadap pembakaran pasar. Perubahan scene mengubah dan mengkonstruksi yang lain.

Sastri, Noena dan Oka Rusmini yang memunculkan masing-masing satu buah cerita pendek memberikan tema dengan perempuan sebagai tokoh sentral.  Sastri Bakry (Padang) mempertanyakan penerapan Adat, Tradisi dan Agama dalam budaya Minangkabau dalam cerpennya Baminantu. Benturan-benturan tradisi yang sering memunculkan kisah tragis, di tangan Sastri berakhir manis. Pemahaman akan adanya perbedaan menunjukkan pula bahwa penerapan Adat, Tradisi, dan Agama menggambarkan adanya sikap yang sarat kepentingan. Ketika kepentingan bermain, semua makna bisa mengabur, menguat atau bahkan memunculkan makna baru. Karena kepentingan sering berkelindan dengan perebutan ’lahan kekuasaan’, antara anak, menantu dan mertua perempuan (atau bahkan calon menantu, calon mertua ataupun calon besan). Maka hal inilah yang dipertanyakan dan dikritik Sastri. Ada (kah) yang harus dipertahankan?

Oka Rusmini (Bali) dalam Pastu mengisahkan tentang persahabatan dan bertahan untuk kawin atau tetap melajang. Apakah menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan? Karena ketika lajang, perempuan dipandang dengan sebelah mata.  Perempuan pun mengejar perkawinan demi  status disebut ibu, istri sebagai perempuan sempurna. Lalu Kasta pun menjadi hal yang menyudutkan perempuan pada kondisi kepatuhan dengan resiko tersisihkan bila tidak patuh. Padahal perkawinan sering pula menyeret ke dalam lubang penghianatan demi penghianatan yang kadang berujung kepada kematian demi kematian. Korbannya ? Ya, seringkali perempuan. Benarkah lelaki tak pernah puas dengan satu cinta? Pertanyaan Oka yang sering menggelitik banyak perempuan, di mana pun. Benarkah? Ah, harusnya tidak! Karena bukankah Tuhan menciptakan makhluk-Nya berpasangan? Artinya satu laki-laki untuk satu perempuan.

Noena (BMI Hongkong) seakan mewakili kaumnya Buruh Migran di Hongkong. Ia memberikan kisah lain yang berakhir sukses dari perjuangan seorang perempuan yang berada di negeri orang dan didzalimi oleh oknum penguasa setempat. Cerita penderitaan perempuan yang tertindas dan terdzalimi sering terjadi. Kehendak perempuan untuk menemukan diri sendiri atau menjadi mandiri sering berakhir tragis. Tetapi di tangan  Noena dalam cerita pendeknya memunculkan kekuatan perempuan yang bangkit dengan akhir yang bagus. Perempuan korban tidak selalu jadi bahan kesedihan tema sebuah cerita. Perlu membangun wacana baru untuk memunculkan potensi perempuan. Itulah yang dikemas oleh Noena dalam cerita Sri Sumini. Perempuan punya potensi dan perempuan harus menunjukkan potensi diri, tidak melulu tentang penderitaan yang dialami lalu terpuruk di dalamnya. Inilah kekuatan Noena dalam tema ceritanya.

Sutan Iwan Soekri Munaf (Pariaman – Sumatera Barat) yang lebih dikenal sebagai Iwan Soekri, menyuguhkan kepiawaian retoriknya dalam prosa liris Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini. Iwan mengawali kisahnya dengan kemegahan ‘kerajaan keluarga’ Minang masa lalu, melengkapinya dengan kisah kepahlawanan kaum albino menghadapi musuh, menggunakan otak yang lebih kuat dari otot.  Di Lepau Kampung Sudut si ‘Albino’ Ajo Buyung Blando, busung dadanya tersorong mengakhiri ceritanya, “Sayang, Pak Gubernur belum mendengar cerita ini. Kalau sudah, dia musti cium tangan orang albino seperti saya.”

Saut Poltak (Tapanuli) mengangkat kisah dengan warna lokal yang kental lewat cerita Lali Panggora (Elang Pengabar, Menunggu Matahari dan Omak. Lali Panggora bukan kisah dalam tradisi, tetapi kisah ini dikemas di lingkaran tradisi yang sering terjadi. Peristiwa kematian yang bagi pihak si mati merupakan kesedihan. Tetapi dalam budaya daerah tertentu, ada tradisi yang harus mengadakan semacam perayaan dengan menyediakan berbagai macam makanan dalam kemewahan, menjadi penantian membahagiakan bagi masyarakat lain. Kemalangan bagi satu pihak menjadi kebahagiaan pada pihak lain. Inilah fenomena yang selalu ada. Saut memunculkannya dengan tajam dalam Elang Pengabar yang terbang berputar menebar keresahan pada diri si ’Aku’. Sebaliknya, kedatangan Elang Pengabar memunculkan kegembiraan menunggu kematian bagi pembuat peti mati. Elang Bondol yang hampir punah menjadi tokoh penting mengaduk pikiran dan perasaan orang sekampung. Pertanyaan dan kecurigaan bercampur kekhawatiran dan kecemasan akan kehilangan telah membuat si ’Aku’ panik menghadapi kemunculan Elang Pengabar. Rasa was-was dan menduga-duga ajal siapa yang mendekat memunculkan kenyataan yang berbeda. Bukan elangnya yang salah, karena sang Elang datang membawa kebenaran kabar tentang maut. Tetapi manusia hanya bisa menduga dan ironisnya, sering salah, ketika manusia tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam yang dikirim Tuhan.

Dalam Menunggu Matahari, Saut Poltak bercerita tentang cinta dan kasih yang diekspresikan dengan cara yang salah. Kekerasan sang ayah dan kemanjaan si Adik telah membuat kakak laki-laki lari dan hilang tak jelas rimbanya. Kesadaran yang terlambat bahwa sang anak lelaki adalah matahari yang sesungguhnya sanggup memberi kehangatan dalam keluarga. Maka kepedihan dan kesedihan dengan penyesalan yang dalam hanya mampu diekspresikan lewat doa dan harapan yang dikemas Saut dalam dialog bathin mengharukan si gadis yang penuh penyesalan. Gambaran lelaki yang angkuh akan kelelakiannya dalam diri ayah, atau gambaran perempuan yang lemah dalam diri ibu, diceritakan dengan apik, dalam budaya di mana para lelaki hanya duduk di lapo tuak, sementara si perempuan istri bekerja keras di sawah. Kekuasaan tetap di tangan lelaki yang pada akhirnya kehilangan kekuasaan dan kekuatan, bahkan kehilangan mimpi tentang anak lelakinya terkasih.

Omak.Tak pernah habis cerita tentang ibu yang dalam cerita ini Saut Poltak menyebutnya ’omak’. Perempuan beranak tujuh dengan ’sense of crisis’ yang tinggi, tampil menating nasib ketujuh anaknya di tengah kemelut perang pemberontakan PRRI.  Jika suatu ketika Omak menangis, itu bukan karena takut ditembak pemberontak. Bukan pula karena takut mati. Omak menangis karena tadi pagi dari radio merk Ralin itu ia mendengar harga beras naik lagi, sementara tujuh anaknya pernah diberi makan beras bulgur, mencret semua.

Tidak semua penulis mampu memilah dan memilih diksi yang tepat padat dalam estetika yang menggambarkan peristiwa, dialog atau penokohan. Penggunaan kata dalam stilistika akan menghidupkan imajinasi pembaca. Cerita pendek tidak memerlukan penceritaan terlalu mendetil ataupun pengakhiran yang selesai. Namun ketika menyediakan ruang kosong bagi imajinasi pembaca, itu tentu dalam koridor cerita yang jelas. Beberapa penulis mempunyai kekuatan ini, seperti Saut, Hanna, Benny, Gunawan dan Khrisna.

Jakarta, 12 Juni 2010

 

 

 

 

 

***

Inilah kisah-kisah eksotisme Nusantara. Warna lokal yang khas dengan segala keunikannya, tidak sekadar mewartakan potret sosial dalam narasi yang memukau, lalu berkelindan dalam representasi kultur etnik, tetapi juga menjelma lanskap keindonesiaan. …Sebuah keberagaman budaya yang penuh warna-warni, heterogen, dan sekaligus juga unik: eksotik. Panorama itu laksana berada di antara garis tipis fakta—mitos yang bagi masyarakat Barat, kerap dituding sebagai irasional, tahayul, dan ditempatkan dalam wilayah supernatural. Inilah antologi cerpen yang benar-benar Indonesia. Itulah pintu masuk untuk memahami keindonesiaan yang multikultur. Di situlah bersemayam ruh antologi cerpen ini.

Maman S Mahayana
Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea

***

Membaca kumpulan cerita yang khas kedaerahan dan lokalitasnya berikut ini, mau tak mau meminta kita merenung: Tidakkah kehidupan manusia, di mana pun, dan kapan pun, akan selalu merujuk pada kerinduannya akan  kebahagiaan apakah itu kekayaan, kesuksesan, cinta, persahabatan, hubungan kekeluargaan, perkawinan, adat,  hingga pertanyaan atas berbagai ulah kehidupan yang seringkali menjadi retoris sekaligus kritis? Itulah pentingnya membaca dan mengenali diri dan sesama melalui cerita-cerita ini.

Riris K. Toha-Sarumpaet, Ilmuwan Sastra dan Guru Besar FIB UI,  17 Juni 2010

***

Adaptasi novel ke film, atau sebaliknya dari film ditulis menjadi novel, itu biasa. Era tahun 70-an sampai 80-an, layar-lebar bioskop kita menyajikan film yang based on novel. Di antaranya tercatat Di Bawah Lindungan Ka’bah (STA), Badai Pasti Berlalu (Marga T), Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar), Roro Mendut (YB Mangunwijaya), Atheis (Achdiat K. Mihardja), (Ronggeng Dukuh Paruk(Ahmad Tohari), Ali Topan (Teguh Esha), Salah Asuhan (Abdoel Moeis), Ca Bau Kan (Remy Sylado), Eiffel I’m In Love (Rachmania Arunita). Hatiku Bukan Pualam (Saut Poltak Tambunan), Kabut Sutra Ungu (Ike Supomo), Jangan Ambil Nyawaku (Titie Said), belum lagi karya Motinggo Busye, Abdullah Harahap, Harry Tjahyono, Mira W, Eddy D Iskandar dan lain-lain.

Memasuki era sinetron tahun 90-an, novel masih meramaikan tontonan kita. Antara lain Si Doel Anak Betawi (Aman Dt. Madjoindo), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati), Lupus (Hilman Wijaya), Padamu Aku Bersimpuh (Gola Gong), Keluarga Cemara (Arswendo), Jangan Ada Dusta (Saut Poltak Tambunan), ada Zara Zettira dan …. masih banyak.

Suatu ketika Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA dalam salah satu acara ulang tahunnya menyelenggarakan diskusi tentang sastra dan film di Pusat Perbukuan Jl Gunung Sahari. Asrul Sani (alm) menegaskan bahwa dunia film membutuhkan sastrawan dan karena itu mengajak para sastrawan untuk masuk ke dunia film.

Lalu, bagaimana film dan sinetron kita sekarang?

Kedailalang menggagas diskusi tentang SASTRA DAN FILM dalam pentas Ke 6 tanggal 13 Maret 2007.
Keberadaan sastra dalam film/sinetron belakangan ini semakin diragukan. Karena itu topiknya sengaja bukan ‘sastra dalam film’, melainkan ‘sastra dan film’.

Tentu saja, saran dan support dari teman-teman ditunggu, terlebih dari teman-teman yang berkompeten dalam film/sinetron.

Salam dari Kedailalang.
Saut Poltak Tambunan

Diangkat dari novelette ‘SPT’ dengan judul yang sama.
Pertama kali Anna Tairas ke film, brsama Deddy Sutomo
Barry Prima, Joice Erna