Archive for the ‘Resensi Buku’ Category

Saut Poltak Tambunan (SPT), seorang penulis senior yang tetap eksis hampir empat dekade (sejak tahun 1970-an). Pengarang ini dikenal dengan karya-karya dramatik dan sangat kontekstual. Ia merekam situasi di sekitarnya dengan baik lalu mengemasnya menjadi cerita yang sangat dekat dengan pembacanya. Benny Arnas yang menulis prolog dalam buku ini sampai-sampai memberi judul prolog ‘Belajar Membumikan Cerita dari Saut Poltak Tambunan’.

Cerpen-cerpen SPT begitu dekatnya dengan kenyataan, sehingga Benny Arnas, pengarang muda yang namanya sedang mencuat bahkan ‘menuduh’ SPT sendiri adalah tokoh-tokoh utama dalam cerpennya ‘Kampung Tamim, Tas Untuk Pak Bakri, Meja Makan, Si Nur, Berdamai Sesore itu, Mutasi,  dan Aku Punya Papa.

Khrisna Pabichara, cerpenis yang juga sedang naik daun, dalam epilog-nya menyatakan bahwa SPT telah menunjukkan profesionalitas, cinta dan gairahnya untuk mengarang, lewat keseriusan dan ketekunannya.  Seolah tak hendak berhenti, cerita terus mengalir tanpa mengenal kata usai atau tetapi. Bahkan, hingga kini, usia tak bisa menahan ambisi dan laju kreatifnya.

Dalam acara launching di Taman Kuliner – Kalimalang Jakarta Timur, Sabtu 2 April 2011, SPT meluncurkan launching karya terbarunya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Sengkarut MEJA MAKAN.  Pembacaan ringkasan cerpen, puisi/musikalisasi, monolog dan petikan sasando Jitron Pah (finalis IGT) ikut meramaikan launching ini.

Mengapa memilih judul ini, SPT menjelaskan dalam pengantar : “MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar,  merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut. Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja.” (SPT)

Saut Poltak Tambunan – seorang novelis yang setia pada dunia penulisan, begitu komentar Ashadi Siregar (novelis, dosen pada UGM) pada novel SPT yang lain. Beberapa komentar tentang kepengarangan SPT menunjukkan pengalaman  menjadi pengarang  dengan thema yang kuat dan beragam.

SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa.

Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya.” (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

Buku kumpulan cerpen Sengkarut MEJA MAKAN berisi 15 cerita pendek dengan tema yang beragam.

”Tema-temanya unik dan seringkali tidak terduga. Sepertinya sederhana tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil ‘Meja Makan’ misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.  Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki. Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti ‘kemajuan’ yang selalu diagung-agungkan. Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas.” (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)

Momentum launching ini selain meluncurkan Kumpulan Cerpen Sengkarut MEJA MAKAN, juga sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisasi dan penyerahan Talking Book ”KIAT SUKSES MENULIS NOVEL” kepada Himpunan Wanita Penyandang Cacad Indonesia (HWPCI). Yayasan Mitra Netra merekam suara Nuning Purnamaningsih (Penyiar Radio DFM) untuk talking book dari buku ditulis oleh SPT berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengarang. Talking Book (buku  ’Kiat Sukses Menulis Novel’ versi audio digital) ini dipersembahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra) namun memiliki kemauan dan potensi yang besar untuk menjadi seorang penulis.

Dengan adanya talking book ini, Yayasan Mitra Netra dan SPT akan memberikan horison pengharapan baru bahwa keterbatasan penglihatan pun tidak akan dapat membelenggu potensi dan impian seseorang dalam menetaskan karya-karya yang kreatif, khususnya di bidang tulis-menulis.

Jakarta,  2 April 2011

Sebastiane Wardono

PR Selasar Pena Talenta

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan

Penulis : Saut Poltak Tambunan

Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur

Cetakan : I, Maret 2011

Harga : Rp. 45.000, 00

ISBN : 978-602-97300-1-2

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca mampu masuk ataupun dimasuki atas ruh sebuah karya. Diksi dan pelbaagai “hiasan” bahasa kemudian menjadi luruh manakala yang kita pahami hanya serentetan kata yang membentuk kalimat-kalimat menjadi paragraph-paragraf tanpa makna. Kalau bisa dipermisalkan, hal ini semacam banyak harta, tetapi banyak hutang. (He..he..he)

Lepas dari bagaimana teori menilai atau mengklasifikasikan suatu karya ke dalam satu golongan tertentu, tak perlu kiranya hal tersebut diperdebatkan. Bagaimana pembaca “menuduh” penulis masuk atau menganut/mendukung manisterm tertentu atau tidak, karya akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan, beberapa penulis kemudian_tanpa disadari_ “belajar” lebih arif memaknai hidupnya justru dari karya yang dibuatnya sendiri. Hal ini tentunya membawa pengaruh positif bagi kebaikan, termasuk pada pembacanya.

Jika Kahlil Gibran menyampaikan karyanya dalam bentuk sebuah narasi surat puisi, Imam Budi santosa yang mematahkan “penilaian” masyarakat dengan “gugatan”nya terhadap mitos Jawa, Pringadi Abdi Surya dengan “ketakwarasan”nya, dan Bamby Cahyadi dengan “kelembutan”nya, maka Saut Poltak Tambunan memiliki keunikan dengan “kesederhanaan”nya yang meng”kamera” ironisme kehidupan dengan renyah. Di mana di dalamnya terangkum manis, asam, asin, pahit, dan getirnya “nasib” manusia dalam kisah laku hidup yang beragam.  Kejadian-kejadian yang kerap kita abaikan dari “penglihatan” (entah sengaja atau tidak). Dan ini dipoles sedemikian hingga ada kenikmatan tersendiri di dalamnya. SPT berhasil mengunggah kesempurnaan dari kesederhanaan yang dimilikinya.

“ Setiap hari deru mesin traktor menggaruk-garuk keperkasaannya di tanah sekeliling. Puluhan traktor dan ratusa truk pengangkut tanah menyulap seketika dan meratakan tanah berbukit-bukit….” ( hal 38)

“ Menurut Kiman, dokumen-dokumen temuannya itu membuat anak-anaknya makan bagai berpesta. Bu Kiman mengolah kertas sertifikat jadi bubur. Naskah kontrak bisnis dibuat bakso. Nota-nota rahasia dirajang jadi pecel. Menurut Kirman, nota pinjaman luar negri lebih nikmat dari dokumen-dokumen lainnya” (hal 76).

SPT dengan detil dan cekatan membuka luka-luka dengan birahi yang manis. Sesekali dentuman dan ledakan dicetuskan di beberapa bagian kisah. Pembaca seperti diajak untuk “bertengkar” atau “menciptakan pertengkaran” dengan diri sendiri. Sebuah kontradiksi yang berdiri di atas impian, harapan, keinginan, kesadaran, kekecewaan, juga penderitaan. Yang kesemuanya adalah segmen-segmen yang ada dalam luka-luka yang entah bisa sembuh ataukah tidak.  Hal yang paling dekat dilakukan untuk memaknai hakekat hidup dan “eksistensi” diri dan ke”diri”an dalam kehidupan.

on Friday, April 15, 2011 at 3:25pm

Maret 2011

…disepenggal malam di SENGKARUT MEJA MAKAN…..

by Nuning Purnamaningsih on Saturday, April 9, 2011 at 3:50pm

SPT ? siapa yang tak kenal Saut Poltak tambunan ? Lelaki Tapanuli yang sangat pandai mempermainkan perasaan orang dengan tak tanggung tanggung. Kadang ia menampar kita dengan keras, Tak jarang ia mengiris dan menyayat hati kita melebihi sayatan sembilu. Kadang ia menggedor gedor pintu… kesadaran kita dan membanting nya dengan fakta fakta. Dengan lugas ia beberkan keserakahan dan ketamakan kita, kecurangan dan kemunafikan kita. Itulah SPT, seenaknya saja dia kacaukan perasaan orang melalui goresan penanya. Ia rangkai butiran kata menjadi kalimat kalimat yang kadang mengusap menyejukkan hati, namun tak jarang mendera dengan kesadaran yang menghentak

Tulisan SPT seolah bernyawa, dibalik tuturannya kita jumpai pribadi yang hidup. Ada kehangatan, ada kepedulian, ada kemesraan , dibalik tulisannya, orang menangkap kejujuran, meski ada juga kejahilan yang menyegarkan.

Sebenarnya menulis adalah proses mental, yang dilakukan pada level kesadaran. Saat SPT memilih kosa kata, mensortirnya dari kamus mental, ia tahu persis,apakah harus mengambil dari kamus mental emosional, spiritual atau kamus mental intelektual. Gaya bahasanya kaya kiasan dan ungkapan, penuh metafora, pilihan frasanya asyik, SPT suka bermain majas, ia gulirkan tulisan bernafaskan ironi, sarkasme atau sinisme yang menggigit. Seolah hypnosis, orang membaca dengan focus pada ceritanya dan terpukau pada pilihan kosa katanya. Tulisannya membuat kita merasa, mendengar, melihat dan berpikir melalui sudut pandangnya ! Ini sangat mempesona bukan ?

Entah, sudah berapa kali saya jatuh cinta secara imaji pada SPT. Tiap kali cerpen/novelnya bicara tentang kasih/cinta, tanpa permisi ia merebut seluruh elemen cinta yang saya miliki.

spt meramu rasa, mengaduk emosi kita lewat 15 cerpennya yang terhidang dimeja makan, anda boleh pilih yang mana yg akan dijadikan makanan pembuka, Seperti apakah gerangan proses kreatifnya, seperti hidangan,sebelum disuguhkan dimeja makan, perlu proses penyiangan,pencucian,pengirisa

n pengulekan, kemudian ditumis direbus dan dibumbui. Nah hidangan 15 varian di meja makan SPT ada yang manis, gurih, pedas, asin, asam, bahkan pahit, tapi kesemuanya melalui proses masak yang higienis tanpa mengurangi kadar vitamin dan mineralnya.

SPT, yang meretas angan jadi ingin, bukan sekedar menjadi angin semata,malam ini telah mengisi tabung jiwa kita lewat sengkarut meja makan, yg dlm kata pengantarnya merupakan perangkat yg diatasnya kita melangitkan doa, merajut kasih, berbagi ajar,mengasah aji, menggelar gelak canda bahkan mengumbar marah silang sengkarut. Diarea meja makan pula kita menenun cerita dan puisi menggagas hari esok, bermazmur syukur memintal sesal, bahkan menghitung uang belanja. Sebenarnya Ini sebuah perenungan dalam Pertanyaannya adalah, masih bisakah kita berkumpul dimeja makan kita ? Karena, dijaman yg serba gadget ini, meja makan menjadi hiasan, dia kesepian dan merana dalam kebisuan, fungsinya beralih hanya sebagai pelengkap pajangan. Tak pernah lagi sang meja atau kursi makan tersenyum simpul menyaksikan kemesraan , celoteh anak anak, laporan kejadian hangat seharian, Meja makan masa kini hanya menyaksikan wajah hambar bibik yang menarik kembali sajian makan malam untuk disimpan dilemari es, atau membuangnya ke bak sampah karena tuan dan nyonya tak bersedia menyantap makanan tunda. Ah , masing masing penghuni rumahnya hoby benar bergegas lekas, maunya seba cepat kilat, sekalinya bersama dimeja makan, masing-2 sibuk dg BB dan HP,

Disuatu kesempatan dikomunitas kedailalang…SPT menulis …ilalang duri memberitahumu jalan mana yang harus kau tempuh, lebah berbisa memberitahumu dimana bunga merekah kemekaran. SPT memberitahu kita untuk hidupkan kembali RUH MEJA MAKAN, jadikan Meja makan perekat cinta

Hmmm…yang dirajutkan menjadi jejak jejak indah kelak.

Suhunan Situmorang

SPT memang penulis andal, kaya ide, dan produktif. Saya kagum dng vitalitas san daya tahannya menulis, proses kreatifnya seperti tarikan nafas yg tak butuh jeda. Sjk SMA sdh saya nikmati karya-karyanya yg saat itu merajai majalah wanita ber…oplag terbesar, KARTINI, yg dilanggani kakak-kakak saya. Cerber dan novelnya pun banyak yg saya tonton setelah dipindahkan ke layar seluloid. Hrs diakui, SPT termasuk pengarang yg punya banyak penggemar, terutama kaum perempuan, yg sedikit saja di antara penulis cerita di negeri ini bisa dapatkan. Saya tak peduli apakah karya-2 SPT dikategorikan sastra atau tdk, sama pentingnya bagi saya membaca karyanya dng karya Budi Dharma, NH Dini, AA Navis, Mangunwijaya, Putu Wijaya, Umar Kayam, dll. Bagi saya, membaca karya SPT sama menariknya dng membaca karya Harris E. Tahar, cerpenis dari Padang yg tak ada karyanya saya lewatkan. Kesederhanaan tema yg diangkat SPT itu yg saya kira daya penariknya, diramu dng bahasa yg mudah dimengerti, tanpa mengabaikan pesan cerita. Tapi memang dari semua karya SPT yg pernah saya baca, cerpen-cerpen dng setting, tokoh, dan tema lokal Batak yg paling saya suka. Bisa jadi krn dia tdk sekadar menulis manusia Batak dng mendeskripsikan permukaan, tetapi masuk ke dalam sbg bagian dari dirinya dan pergumulannya.

April 9 at 9:24pm

SAUT Poltak Tambunan (SPT), seorang penulis senior yang tetap eksis hampir empat dekade (sejak tahun 1970-an). Pengarang ini dikenal dengan karya-karya dramatik dan sangat kontekstual.

Ia merekam situasi di sekitarnya dengan baik lalu mengemasnya menjadi cerita yang sangat dekat dengan pembacanya. Benny Arnas yang menulis prolog dalam buku ini sampai-sampai memberi judul prolog Belajar Membumikan Cerita dari Saut Poltak Tambunan.

Cerpen-cerpen SPT begitu dekatnya dengan kenyataan, sehingga Benny Arnas, pengarang muda yang namanya sedang mencuat bahkan menuduh SPT sendiri adalah tokoh-tokoh utama dalam cerpennya Kampung Tamim, Tas Untuk Pak Bakri, Meja Makan, Si Nur, Berdamai Sesore itu, Mutasi, dan Aku Punya Papa. Khrisna Pabichara, cerpenis yang juga sedang naik daun, dalam epilog-nya menyatakan bahwa SPT telah menunjukkan profesionalitas, cinta dan gairahnya untuk mengarang, lewat keseriusan dan ketekunannya.

Seolah tak hendak berhenti, cerita terus mengalir tanpa mengenal kata usai atau tetapi. Bahkan, hingga kini, usia tak bisa menahan ambisi dan laju kreatifnya.

Dalam acara launching di Taman Kuliner Kalimalang, Jakarta Timur, belum lama ini. SPT meluncurkan karya terbarunya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Sengkarut Meja Makan.

Pembacaan ringkasan cerpen, puisi/musikalisasi, monolog, dan petikan sasando Jitron Pah (finalis IGT) ikut meramaikan launching ini.

Mengapa memilih judul itu? SPT menjelaskan dalam kata pengantar : “MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar, merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut.

Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja.”

Saut Poltak Tambunan seorang novelis yang setia pada dunia penulisan, begitu komentar Ashadi Siregar (novelis, dosen pada UGM) pada novel SPT yang lain. Beberapa komentar tentang kepengarangan SPT menunjukkan pengalaman menjadi pengarang dengan thema yang kuat dan beragam.

“SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa.

Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya.” (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

Buku kumpulan cerpen Sengkarut Meja Makan berisi 15 cerita pendek dengan tema yang beragam.

“Tema-temanya unik dan sering kali tidak terduga. Sepertinya sederhana. Tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil Meja Makan misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.

Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki.

Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti “kemajuan” yang selalu diagung-agungkan.

Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas.” (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)

Momentum launching ini selain meluncurkan kumpulan cerpen Sengkarut Meja Makan, juga sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisasi dan penyerahan talking book “Kiat Sukses Menulis Novel” kepada Himpunan Wanita Penyandang Cacad Indonesia (HWPCI). Yayasan Mitra Netra merekam suara Nuning Purnamaningsih (Penyiar Radio DFM) untuk talking book dari buku ditulis oleh SPT berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengarang. Talking Book (buku Kiat Sukses Menulis Novel versi audio digital) ini dipersembahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra), namun memiliki kemauan dan potensi yang besar untuk menjadi seorang penulis.

Dengan adanya talking book ini, Yayasan Mitra Netra dan SPT akan memberikan horison pengharapan baru bahwa keterbatasan penglihatan pun tidak akan dapat membelenggu potensi dan impian seseorang dalam menetaskan karya-karya yang kreatif, khususnya di bidang tulis-menulis.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 4 Juni 2011

Posted by Udo Z Karzi at 12:09 AM

 


Judul : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Tebal : 240 halaman
Penerbit : Selasar Pena Talenta, Pondok Kelapa Jakarta Timur
Ukuran Buku : 14 x 19 Cm
Cetakan : I, Maret 2011 Jakarta
ISBN : 978-602-97300-1-2

Sebuah cerita pendek terkadang menyisakan sebuah misteri yang kuat. Kadar keingintahuan terus akan menyeruak, bahkan ketika kisah itu selesai dibaca. Jalinan kisah semacam meninggalkan gurat di kepala, membentangkan pelbagai pengetahuan silam yang pernah terekam di ingatan kita dan menebalkan pelbagai kemungkinan. Jika kehidupan memang banyak ragam, tersembunyi-menghadiahkan perenungan, sebuah intisari yang membuat kita arif memaknainya.

Ketika sebuah peristiwa turut hadir menelingkupinya, maka perahan-perahan cerita seakan kembali “hidup”. Cerita itu makin menegaskan jika lama kita abai untuk sekadar merekamnya. Jalinan peristiwa kerap menelusup, memberikan corak tersendiri-dan tentunya memberi kekayaan makna yang baru bagi kehidupan itu sendiri. Membaca cerita pendek seperti upaya untuk membongkar baris-baris kejenuhan yang bersisian dengan kita. Dia semacam jeda, yang mungkin terlalu pendek – tetapi dapat mengabarkan hal-hal yang luas bagi keseharian.

Justru di balik kesederhanannya tersimpan berbagai cakupan luas lainnya. Dia seperti ingin mengembangkan temali cerita, dengan ironi-ironi, membuka sisi kelam masyarakat, yang banyak dilupakn sebagian besar orang.

Pelbagai kisah itu turut hadir, menelusup, membalut, mencampuri peristiwa-bahkan ada pula yang sekadar men-copy paste peristiwa itu, hingga menjelma jadi kisah yang mencengangkan. Jalinan kisah seperti tertumbuk dalam temuan-temuan pahit yang menjerit. Sesekali ketika membacanya ada rasa sakit yang teriris, bahkan ketika berhadapan dengan sejumlah paragraf atau dialog yang dibangun pengarangnya.

Saut Poltak Tambunan, seseorang yang memilih jalan kepenulisan kreatif sejak dekade 1970-an, begitu rekat mengambil fragmen-fragmen dalam kehidupan ini. Dalam kumpulan cerita pendeknya ini, dia seperti menjelma jadi “tukang rekat” yang menempelkan banyak peristiwa (luka) dalam ceritanya. Dia menulis dengan asik, penuh dengan kalimat keseharian yang ringan. Suatu hal yang mengingatkan saya pada cerita yang ditulis oleh Sori Siregar, Hamsad Rangkuti, Arie P. Tamba, Putu Wijaya, atau Ratna Indraswara Ibrahim. Ceritanya memang mengalir dengan tenang, tetapi dapat segera menyentak hingga ke akhir.

Demkianlah, berhadapan dengan lima belas cerita pendek dalam kumpulan ini, saya terpukau jika masih banyak hal-hal sederhana yang layak dijadikan kisah. Tokoh-tokoh yang dibangunnya pun seperti sering kita temui di keseharian. Sejumlah kegetiran yang menyeruak di sana, semacam ingin menegaskan jika kita tak boleh cengeng menghadapi kehidupan ini.

Dalam cerita pembuka “Sebentar Lagi 2011!” Saut seperti ingin memerah berbagai fragmen, yang disulapnya jadi rangkaian utuh menarik. Pelbagai potongan kisah itu, tanpa disadari terangkai dengan sendirinya, sehingga menebalkan garis yang nyata. Bebarapa harapan yang muncul, meskipun saling-silang dengan sejumlah ketakutan untuk menghadapi tahun yang baru.

Di sini, cerita seperti memecah “kesunyian” kita, menghidupi dengan keyakinan yang baru untuk terus berjuang menghadapi kehidupan itu sendiri. Sebuah cerita yang baik memang tersusun untuk itu. Dari situ ia menyentil semua sisi kehidupan. Dia mengoyak semacam ketabuan dari lingkaran tradisi, juga (seperti) berupaya mengembalikan tradisi itu agar tak pincang.

Pun dalam “Primadona”-potret terkini masyarakat kita juga turut terekam, bagaimana dunia panggung hiburan dangdut, yang ternyata menyisakan kegetiran tersendiri. Sebuah pentas yang berisi dari persaingan dengan goyang yang lebih “aduhai” sesama artis panggung agar menjadi primadona. Meskipun sang tokoh sendiri meyakini, bahwa apa yang dilakukannya, katakanlah dengan berbagai cara untuk menjadi primadona bertentangan dengan nurani dirinya.

Kebanyakan cerita-cerita Saut, sebagaimana yang diakuinya dalam situs jejaring sosial dicuplik dari peristiwa nyata. Dia seperti tergoda untuk terus mengabadikannya dalam cerita. Simak juga catatan dalam buku ini yang kebanyakan diakuinya sebagai kisah pribadi. Semacam dalam “Si Nur” atau “Lelaki di atas Ferry”. Kisah-kisah tersebut terasa hidup, agaknya pengarang ini memang peka untuk mengumpulkan/merekam setiap kejadian/fragmen yang melingkupi dirinya. Agaknya tidak salah Subagio Sastrowardoyo menulis, jika makna kerja sastra adalah suatu jalan untuk tinggal setia pada dirinya sendiri, yang raut jiwanya dibentuk oleh situasi pribadinya di tengah lingkungan masyarakat zamannya. Dalam hal itu dia terus-menerus menjenguk dan menggali ke dalam ruang batinnya untuk menjumpai bayangan dirinya yang paling cerah dan murni. (“Dongeng Buat yang Dewasa”, Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan, hal. 128).

Di dalam pergulatannya dengan fragmen-fragmen kehidupan itu, Saut seperti hendak mengatakan kepada kisah itu sendiri. Kegetiran-kegetiran yang tertinggal dalam kisah-kisahnya semacam sebuah corak, yang mengandung amanat tersendiri. Jika di kehidupan yang keras ini, kita mesti berhati-hati. Segenap kekayaan yang tersimpan dalam kehidupan itu seperti sebuah tapak/penanda agar kita tak tersesat.

Bahkan untuk benda meja makan sendiri, Saut seakan menegaskan tentang kultur adat Batak yang makin tergerus oleh zamannya. Kehidupan yang serba instan membuat kita lupa, apa yang pernah diajarkan oleh leluhur. Pun untuk kebiasaan-kebiasaan yang “diwariskan” adat, seperti telah terkubur. Idiom-idiom lokalitas, terasa makin tipis, sehingga kita melulu abai. Di sinilah, cerita mendadak jadi hal yang penting, segala kemuraman zaman ditegaskan lagi oleh Saut. Dia seperti ingin menggugat kondisi terkini yang terjadi dalam sebagian besar masyarakat kita.

Saut mendedahkan berbagai ironi dalam kisah-kisahnya, dia ingin menyindir akan keberlangsungan fragmen, yang dilihatnya terasa pincang, makin menjauh dari sisi-sisi kemanusiaan. Meskipun kita mahfum sejak lama, jika hidup tak melulu berisi hal putih melulu. Tapi usaha untuk menggali sisi hitam kehidupan-dengan mengangkatnya menjadi cerita, merupakan upaya untuk mengembalikan rasa kemanusiaan kita. Dia hendak menjewer agar tidak pernah melupakan akar kita yang lampau: sebuah tradisi.

Yang tertinggal dalam kisah-kisahnya, bagaimana sebuah fragmen bisa begitu menakjubkan. Sejumlah kisah memberi semacam penanda yang tegas akan kehidupan, semacam tragedi atau semburat dunia luka – yang memang tak bisa dibenahi dengan sekadar membalik telapak tangan. Kisah itupulalah yang memberikan semacam rambu agar kita berupaya banyak mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut.

Saut dengan kejeliannya memberikan semacam “ruang tunggu” bagi pembacanya. Dia seperti ingin mengajak kiat merenung berulangkali, bahwa banyak hal yang tak beres dalam kehidupan ini. Sayangnya kita melulu abai, sehingga kembali lelap oleh realitas. Di “ruang tunggu” itu, tinggal kita yang mengolah pelbagai kisah, mengembalikan ingatan kita, ihwal apa yang terjadi di dalam kehidupan ini. Kisah-kisahnya, tak akan berhenti sampai di sini saja.

MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar,  merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut. Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja. (SPT)

*

SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa. Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya. (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)

*

Kemampuan SPT menikam di awal cerita, lekukan indah di tengah peristiwa, dan kejutan di akhir cerita selalu berpotensi menghadirkan sesuatu yang lain; sesuatu yang menghadirkan penderitaan dan kesenangan, ilusi dan ironi, atau pertengkaran sengit antara harapan dan kenyataan. (Khrisna Pabichara)

*

Cerpen-cerpen SPT dalam ‘Sengkarut MEJA MAKAN’ ini mampu membuat saya belajar bagaimana mengemas setiap tema membumi dalam ceritanya. (Benny Arnas)

*

Cerpen Saut Poltak Tambunan mengajari kita menghadapi kemarahan dengan cara yang cerdas, dan menjadikannya sebuah kearifan yang indah. Tema-temanya unik dan seringkali tidak terduga. Sepertinya sederhana tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil ‘Meja Makan’ misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.

Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki. Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti ‘kemajuan’ yang selalu diagung-agungkan.

Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta  dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas. (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais).

*

Nama Saut Poltak Tambunan tak pernah surut dari literasi Indonesia karena tidak ada jeda menulis baginya dalam empat dasa warsa. Eksistensi karyanya bukan semata persoalan jam terbang, namun juga kandungan lokalitas yang tak luntur bahkan ketika para tokohnya menjadi urbanis. Karakter mereka ditulis begitu kental dan ekspresif, membuat cerpen-cerpennya hidup dan segar. (Kurnia Effendi, cerpenis dan pencinta sastra, penggiat Komunitas Sastra Kedailalang)

*

“Ada dua kekuatan utama cerpen-cerpen Saut Poltak Tambunan, menurut saya. Pertama, tema-tema yang digarap sebetulnya sederhana, riil, namun jadi berdimensi beberapa karena akhirnya memasuki berbagai aspek kehidupan, yang sadar atau tidak pernah dialami pembaca atau orang lain. Kedua, cara penulisan yang lugas dengan menggunakan kalimat aktif dan frasa pendek mengalirkan cerita dengan lancar hingga enak dibaca. Kelimabelas cerpen ini pun saya lahap dengan nikmat, kadang tersenyum, kadang mendeguskan nafas panjang seusai baca—seraya membayangkan kisah, kejadian, dan para tokoh tiap cerita.” (Suhunan Situmorang, pengarang novel ‘Sordam’, praktisi hukum dan pemerhati budaya Batak)

*

Walau mengaku tak pintar menyanyi, tapi sebagaimana umumnya putra Batak, Saut Poltak Tambunan, memberikan potret sosial yang sendu, dalam pergeseran nilai di negeri yang tersaruk berbenah dihajar berbagai perubahan ini. (Putu Wijaya, Teater Mandiri, Budayawan)

Sumber:  Harian Analysa, Minggu, 8 Mei 2011

 


SAMPAI sekarang, saya masih belum mampu mendefinisikan “sastra”. Dari apa yang saya gumuli selama ini, saya baru (sampai) pada tingkat pemahaman bahwa “sastra” adalah karangan yang mampu meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknainya.

Artinya, saya percaya bahwa ada definisi lebih tepat yang (mungkin) sudah dicetuskan oleh orang-orang terdahulu. Bukan berarti saya tak ingin membuka-buka referensi. Tapi, saya percaya bahwa dalam dunia noneksak semacam sastra; pembacaan, penerjemahan, bahkan pendefinisian, sangat tak bisa lepas dari sudut pandang dan konteks.

Ya, ketika Socrates menyatakan bahwa sastra itu mimesis—tiruan kehidupan, sah-sah saja, bahkan cukup relevan dengan perkembangan sastra hingga hari ini. Pun, ketika Helvy Tiana Rosa (HTR) mengatakan bahwa sastra (menulis) itu adalah berjuang, tentu tak dapat dinafikan ketika pengertian tersebut disandingkan dengan beberapa karya sastra —apalagi karya HTR sendiri.

Dan, apakah seorang Saut Poltak Tambunan (SPT) sudah memiliki definisi sastra dalam versinya atau belum atau tidak mau peduli dengan hal-hal seperti itu, entahlah. Yang terang, lewat karya-karyanya, SPT sedang bilang kepada khalayak pembaca bahwa mengarang baginya bukan untuk mendapat label sastra/tidak, tapi ia ingin menciptakan keintiman psikologis dengan pembaca! Hmm, sebuah visi kepengarangan yang sudah mulai jarang ditemukan dalam ranah sastra.

Dewasa ini karya karangan lebih banyak menerjemahkan estetika ke dalam teknik bermain bahasa. Sebenarnya tak ada masalah bila keinginan untuk menjamah wilayah (teknik berbahasa) tersebut diikuti dengan kematangan bermain diksi dan ketepatan dalam meramunya. Namun yang kerap terjadi adalah (khususnya pada pengarang-pengarang pemula) keasyikan mengeksplorasi bahasa kerap kebablasan. Alih-alih menghasilkan cerita yang bernas dengan estetika yang mumpuni, justru menghasilkan cerita yang susah dimengerti; pembaca lelah menerjemahkan metafora yang asal ramu, diksi yang tidak tepat letak dan tepat guna, bahkan yang lebih parah adalah: cerita kehilangan arah.

Membincangkan SPT, tentu terlalu ingusan kiranya, bila membincangkan perkara teknis mengarang. Ia sudah malang melintang di dunia itu jauh sebelum saya lahir. Saya lebih tertarik membincangkan visi kepengarangannya. Bagi saya, SPT layak dijadikan (salah satu) cermin dalam menjelajahi dunia mengarang. Ia dapat “hidup” dari hasil karangannya. Tentu, tulisan ini akan sangat melenceng bila saya jelaskan panjang lebar perihal “fakta” tersebut. Namun begitu, tentu ada alasan mengapa saya perlu mengungkapkannya. Ya, raihan tersebut tak dapat dilepaskan dari visi kepengarangannya.

Dari pembacaan saya, karangan SPT selalu berusaha melibatkan pembaca dalam ceritanya. Tidak hanya mampu membuat pembaca memahami apa yang tengah ia ketengahkan, namun lebih essensial dari itu. Membaca karangan-karangan SPT membuat kita dapat ikut serta memahami gejolak emosi si tokoh, membayangkan tinggi-rendahnya nada yang dibidik dalam dialog-dialog, bahkan mampu memeragakan gerakan-gerakan tubuh atau elemen pembentuk cerita lainnya (seperti benda, setting, dan suasana) dengan baik. Ya, karangan-karangan SPT sangat filmis. Dan, malangnya, sastra(wan) dewasa ini, sering gagal menampilkan sisi filmisnya. Mungkin juga termasuk saya. Padahal, bagi saya, itu adalah parameter sejauhmana sebuah karya mampu ’mengunjungi’ pembacanya, bukan hanya “dikunjungi” pembacanya.

Beberapa cerpen dalam buku terbarunya, Sengkarut Meja Makan (Selasar Pena Talenta, 2011), membuat pikiran saya langsung connect untuk ’menuduh’ si Romli (Kampung Tamim), Dany (Tas untuk Pak Bakri), Si Anggota (Meja Makan), Ayah Yane (Si Nur), Amang (Berdamai Sesore Itu), Hambali (Mutasi), dan Papa Prita (Aku Punya Papa), adalah tak lain SPT sendiri. Dalam konteks kepengarangan (sastra), bagaimana saya harus membahasakan ini? Apakah SPT gagal menjadi orang lain dalam karya-karyanya? Atau ia justru sukses menerjemahkan karakternya dalam cerita yang beragam? Ah, saya pikir, itu bukan perkara penting, bila dihadapkan pada kenyataan betapa karya-karya SPT mampu membuat pembaca terperangkap dalam kesan yang diproduksi cerita-ceritanya. Ya, pembaca dapat saja tiba-tiba semringah dengan air mata yang hampir jatuh di kelopak mata ketika menyelesaikan Tas untuk Pak Bakri, Berdamai sesore Itu, dan Aku Punya Papa, atau geregetan sambil mengepalkan tangan dan menggerutupkan gigi ketika mengakhiri Meja Makan, Si Nur, dan Primadona.

Bagaimana cerita-cerita lainnya? Kesan apa yang ditangkap saya? Atau tak ada kesan sedikit pun?

Hmm, baiklah, saya akan terpancing oleh pertanyaan yang saya buat sendiri rupanya. Saya ingin mengatakan bahwa Sebentar Lagi 2011!, cerita pembuka dalam kumpulan cerpen ini, sebagai wujud bahwa SPT mampu menggarap cerita tidak seperti yang selama ini ia lakukan. Dalam Sebentar Lagi 2011! SPT membagi ceritanya dalam beberapa fragmen. Di akhir cerita, kita baru sadar bahwa masing-masing fragmen adalah puzzle yang masing-masing sisinya, bila disambungkan, akan menciptakan gambar yang utuh, cerita yang kuat! Cerpen ini pula yang membuat saya menunggu eksplorasi beliau selanjutnya.

Lalu, bagaimana bila direlevansikan dengan sastra dalam definisi saya; karangan yang mampu meng-upgrade kemampuan pembaca dalam memaknainya. SPT telah melakukannya. Up-grading yang dilakukan SPT adalah (mengajak pembaca) peka akan masalah-masalah rumah tangga, adat, dan sosial, yang sangat sering terjadi dan kita jumpai. Cerpen-cerpennya dalam buku ini mampu membuat kita belajar bagaimana membuat membuat setiap tema membumi dalam ceritanya.

Benny Arnas, cerpenis, tinggal di Lubuklinggau.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 24 Juli 2011

Menyigi Mimpi Sang Juara[1]

Posted: February 8, 2011 in Resensi Buku

Oleh Khrisna Pabichara[2]

JAGOAN MASA KECIL. Dari sana tulisan ringan ini bermula. Selepas membaca novel “Sang Juara”, otak saya merangkai setiap demi setiap ingatan tentang “jagoan masa kecil”. Waktu itu, 3 Mei 1985. Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas V. Masih bingung menentukan mau jadi apa kelak setelah dewasa. Jika ada yang menanyakan cita-cita, ada kalanya saya menjawab ingin seperti Habibie. Di lain waktu, saya berharap kelak bisa seperti Icuk Sugiarto atau Rendra. Tapi ada satu cita-cita yang nyaris “dipastikan” bakal tidak tercapai, menjadi Ellyas Pical. Hari itu, jagoan bersama kebanggaan bangsa—Ellyas Pical—sedang berjuang mengharumkan nama negara, bertarung merebut gelar Juara Dunia IBF kelas bantam yunior melawan juara bertahan, Ju Do Chun.

Demi menonton “jagoan masa kecil” itu bertinju, saya dan penduduk kampung lainnya harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilo. Kala itu, televisi masih barang mewah. Di desaku hanya ada satu, di balai desa. Bentuknya bujursangkar, berkaki empat, layarnya berpintu dan bisa dibuka atau ditutup, mereknya Sharp. Sesampai di balai desa, Syamsul Anwar Harahap sudah “mengoceh” banyak tentang pukulan andalan Elly, The Exocet. Saya tidak tahu dari mana nama itu bermula, hingga kakakku yang sudah SMA menerangkan kalau gelar itu merujuk pada nama sebuah rudal buatan Prancis.

Saya menahan napas sejak ronde pertama dimulai. Ju Do Chun langsung merangsek dengan kombinasi pukulan jab dan uppercut. Secara meyakinkan, petinju asal Korea itu mendominasi ronde pertama. Begitu seterusnya hingga ronde ke delapan. Muka Elly babak-belur. Darah mengucur dari alis mata kirinya yang sobek. Tapi petinju kelahiran Saparua itu tahan pukul. Pada ronde sembilan, Elly bangkit dari keterpurukan. Pukulan-pukulan kerasnya mendarat mulus di wajah dan kepala Chun. Hasilnya, pada ronde sepuluh Chun terkapar. Joe Cortez, sang wasit, segera memberikan hitungan, tapi hingga hitungan kesepuluh Chun tetap tidak bisa berdiri.

Begitulah, Ellyas Pical menjadi “jagoan masa kecil” saya, selain Muhammad Ali dan Maradona.

☼☼☼

JIKA mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya, yang menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Maka, tepatlah jika Sang Juara kita masukkan ke dalam golongan novel. Mengapa? Karena Sang Juara adalah cerita yang dibangun dari fondasi imajinasi berlatar fakta, “seolah-olah” diadopsi dari kisah kejuangan Ellyas Pical, kemudian diracik-padukan dengan romantika seorang pelacur yang dicomotnya dari “dunia lain” yang sama sekali berbeda dengan dunia “jagoan masa kecil” saya itu.

Tentu saja, Saut Poltak Tambunan tidak dengan serta-merta melahirkan Sang Juara. Pastilah ia memiliki catatan “hidup” sebagai bumbu penyedap rasa yang membuat tokoh rekaannya terasa begitu hidup. Pengarang menggubah tokoh Jumono sebagai manusia biasa yang bisa berubah, bukan tokoh rekaan yang memiliki karakter konstan dan menjemukan. Ia berkisah tentang seorang manusia yang sejak kecil didera penderitaan, menjalani hidup apa adanya, lalu merantau demi perbaikan masa depan. Ia menuturkan ihwal seorang jejaka tumpuan keluarga yang penakut, lalu menjadi “binal” karena pengaruh lingkungan. Dalam novel Spenser, Robert B. Parker menciptakan anak lelaki bermasalah, Spenser, yang tersesat ke sebuah kabin terpencil di

tengah belantara. Demi upaya bertahan hidup, anak itu menjelma menjadi orang baru dengan kehidupan yang sama sekali berbeda dari “garis hidup” yang seakan ditakdirkan untuknya.

Sementara itu, George Bernard Shaw, menciptakan tokoh Eliza Dolittle dalam Pygmalion sebagai seorang gadis muda miskin yang berjuang memenuhi hasrat hidupnya. Dikisahkan, Eliza memulai perjuangannya sebagai seorang gadis penjaja bunga di pinggiran Tottenham Court Road, lantas terpikir olehnya menjadi seorang “wanita terhormat”. Namun, tidaklah mudah baginya karena kemampuan berbahasanya yang rendah. Meskipun dia tidak punya uang, dia bersikeras kepada Henry Higgins bahwa dia mampu mengikuti pelajaran di “kelas bahasa”. Dia percaya pelajaran itu dapat mengubah hidupnya menjadi orang yang lebih berbahagia.

Jumono dan Juminten, sama seperti Spenser dan Eliza. Mereka adalah tokoh rekaan yang memiliki kesamaan mimpi: memburu hidup yang lebih baik. Jika Eliza direndahkan dalam pergaulan karena ketidakmampuannya menggunakan bahasa yang lemah lembut, maka Juminten dilecehkan orang-orang sekampungnya karena lahir dari keluarga miskin. Jika Spenser harus berjuang mati-matian di tengah hutan demi mempertahankan hidup, maka Jumono pun banting tulang mengumpulkan uang demi mengangkat derajat keluarga. Jika Eliza memulai mimpinya sebagai penjaja bunga, Juminten pun meretas mimpinya dengan berbagai cara. Dari menjadi babu hingga menjajakan tubuhnya. Begitulah, mereka adalah tokoh rekayasa yang terasa begitu nyata.

Banyak karakter di sekitar kita yang mirip dengan Jumono, Juminten, Spenser atau Eliza. Karenanya, Spenser, Pygmalion dan Sang Juara bukan sekadar cerita, melainkan fakta yang terpantul dalam kehidupan nyata di sekeliling kita. Tokoh-tokoh ini menyingkap tirai kenyataan bagaimana hidup memperlakukan mereka dengan “tidak wajar” hanya karena posisi yang “rendah” dalam stratifikasi sosial.

Tokoh lain dalam Sang Juara adalah Surti, kakak ipar Jumono. Dia adalah seorang ibu muda yang memiliki hasrat kuat untuk membahagiakan keluarganya. Namun, ini menjadi sulit diraih ketika segala sesuatu berada di luar kemampuannya. Dia menaruh harapan besar bahwa segalanya pasti berubah menjadi lebih baik. Bahkan di kala suaminya, Jumadi, menderita cacat mental permanen, dia tidak meninggalkan suami dan keluarganya. Malah mengikhlaskan diri bekerja apa saja. Beragam interpretasi bisa ditarik dari tokoh ini. Salah satunya adalah bahwa Saut ingin menunjukkan bagaimana kegigihan seorang wanita memasrahkan hidupnya demi keluarga. Lebih lanjut, bisa dikatakan bahwa hal ini menjadi sinyal kekuatan wanita di saat-saat krisis. Pada situasi yang paling genting sekalipun, perempuan mampu menawarkan solusi terbaik.

Tokoh berikutnya adalah Kirom. Ia adalah sosok lelaki “bengal” yang dikisahkan bandel sejak kecil. Ia menghadirkan rasa jerih dan takut pada tokoh lainnya. Seolah-olah dunia menjadi “horor” jika namanya disebut. Ia pula yang merebut cinta remaja Jumono, Mirah. Tidak berhenti sampai di sana, Kirom pun merampas tanah keluarga Jumono dan menggusur rumah mereka. Bahkan, ketika Jumono mulai berhasil meretas karier sebagai petinju, ia mengajak “begundal-begundal” akrabnya untuk mengeroyok Jumono sampai cacat dan tidak bisa bertinju lagi. Tapi, ia bukan segalanya. Bukan seseorang yang tak terkalahkan.

Dari sini, saya berani mengacungkan jempol pada kepiawaian Saut menganggit tokoh. Ia sukses mencipta sosok fiktif yang memikat dan bisa dipercaya oleh pembaca.

☼☼☼

JIKA alur, sesuai KBBI, adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin secara saksama untuk menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian, maka “setidaknya” alur yang “wah” adalah alur yang menawarkan jawaban atas apa, bagaimana , dan mengapa. Josip Novakovich, lewat bukunya Fiction Writer’s Workshop, mengingatkan kita bahwa alur merupakan jembatan penghubung antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Bagi Josip, alur yang “berhasil” biasanya mengandalkan hubungan antara sebab-akibat dengan tataan gagasan.

Apa yang diperjuangkan oleh Jumono, Juminten, dan Surti? Kebahagiaan keluarga, jawabannya. Apa yang hendak dipertahankan oleh Kirom? Martabat dan dominasi keluarga, jawabannya. Apa yang dibela mati-matian oleh Simbol, ibu Jumono? Jawaban pastinya adalah warisan leluhur dan nama baik keluarga. Mengapa Jumono yang “penakut” berubah menjadi “ganas” dan bernyali? Tentu saja, keadaan memaksanya. Mengapa Juminten rela dicengkeram musuh keluarganya dan dijadikan “bunga” primadona bagi usaha “jasa pelayanan” milik Kirom? Tentu saja, uang dan peluang jawaban tepatnya. Mengapa Kirom menyiksa Mirah sampai pingsan tak sadarkan diri? Rasa cemburu karena Mirah ikut menyambut kedatangan Jumono bak pahlawan, seperti warga kampung lainnya.

Jika apa dan mengapa menegaskan sebab, maka bagaimana adalah hasil dari akibat. Dengan kata lain, jika tidak ada masalah tidak akan lahir cerita. Masalah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sebab, merupakan bahan dasar untuk membangun konflik, menciptakan pencitraan, dan simpul perekat emosi pembaca dengan cerita. Lantas, bagaimana cara Saut merancang alur dalam Sang Juara? Pengarang yang menghabiskan masa kecil di Balige ini sangat memahami pendapat Aristoteles, bahwa sifat buruk seseorang adalah “penyedap rasa” yang sangat “maknyus” dalam meramu alur cerita. Ia dengan cerdas meracik masalah demi masalah sehingga tercipta alur cerita yang memikat dari awal hingga akhir. Seakan-akan tidak ada ruang lapang yang dapat dijadikan peluang oleh pembaca untuk merasa “kenyang” di tengah jalan. Selalu ada masalah ia ciptakan untuk merangsang selera baca.

Saut pun menciptakan alur yang tidak mudah ditebak. Jangan berharap Anda akan menemukan “kesuksesan” Jumono menjadi Juara Dunia, seperti jagoan masa kecil saya. Bahkan Jumono harus menjalani hukuman penjara di akhir cerita, meskipun akhirnya ia bisa menuntaskan dendamnya. Begitulah, banyak kelok dan ceruk mengejutkan dari novel ini.

☼☼☼

BAIKLAH. Dari awal tulisan ini, saya “seolah-olah” meletakkan diri sebagai pembaca yang sudah mengkhatamkan Sang Juara berkali-kali. Dari tadi saya asyik berpanjang-lebar mengurai kandungan intrinsik dari novel inspiratif ini. Padahal, saya malah belum mengabarkan cerita sebenarnya. Tapi, hal itu saya lakukan secara sengaja. Sebagai seorang yang suka menggugah semangat, saya berniat “memastikan” bahwa jika kita memiliki semangat dan keseriusan, lantas memadukannya dengan “kerja cerdas”, menganggit novel adalah sesuatu yang niscaya, bukan sesuatu yang musykil terjadi.

Sekarang, mari kita menyelam lebih dalam. Jumadi adalah anak yang tertua dalam keluarga ini. Jumono anak bungsu dan Juminten berada di tengah. Ayah mereka bernama Jumali, lengkapnya Jumali bin Murtadji. Orang tua ini memberi nama anak-anaknya dengan awal Jum: Jumadi, Juminten dan Jumono. Kisah pahit Jumono bermula dari paksaan Kepala Desa agar keluarganya ikut program transmigrasi. Alasannya, demi perbaikan hidup. Supaya keluarga Jumono bisa lebih sejahtera. Tapi mereka paham bahwa itu hanyalah siasat jahat Kepala Desa yang dikemas dengan rapi. Kura-kura dalam peti, pura-pura selalu peduli. Padahal, hajat Kepala Desa yang sebenarnya adalah menguasai tanah keluarga Jumono, lalu menjual atau menyewakannya kepada orang Jatiasih. Begitu yang dilakukan Kepala Desa selama ini terhadap warga kampung. Memaksa mereka transmigrasi, lalu merampas sawah-ladang mereka. Namun, tak ada yang bisa melawan. Tak ada yang bisa menentang kekuasaan Pak Supangat, Kepala Desa yang masih saudara tiri dari Simbok, ibu Jumono.

Alkisah, keluarga Jumono berkeras membangkang. Akibatnya, mereka diteror setiap hari. Jumono, bungsu dari tiga bersaudara, pun tidak bisa berbuat apa-apa. Umurnya masih muda. Selain itu, nyalinya cepat menciut. Itu pula sebabnya ia tidak pernah memenuhi seruan kakaknya, Jumadi, untuk berlatih tinju. Ia lebih memilih ke hutan mengumpulkan kayu bakar, atau menjadi buruh tani jika ada yang memerlukan tenaganya. Hingga suatu ketika, kakak iparnya, Surti, memintanya merantau ke kota. Padahal, saat itu, ia baru saja memadu janji untuk bertemu Mirah di tepi hutan.

Lagi pula, Jumono tahu ibunya akan bersedih hati jika ia pergi. Tapi, hasrat merantau yang dijejalkan oleh istri kakaknya itu terlanjur meracuni otaknya.

“Mbok, ini Bejo mohon restu..!” bisik Jumono. Jelas terbayang wajah Simbok yang tidak pernah mengizinkannya pergi merantau, apalagi untuk menjadi petinju. Teringat pula ayahnya yang dihina bukan saja ketika masih hidup, namun juga setelah mati. Ingat Mas Adi, Mbak Minten, Mbak Surti, dan si Ribut—keponakannya.

Juminten tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jumono telah merantau ke Solo. Begitu pula Simbok. Juminten menuding Surti sebagai penyebab kepergian Jumono. Maka, dia pun berkemas meninggalkan rumah, mengadu untung di kota. Ternyata hidup di Solo tidak mudah. Empat bulan berlalu, Jumono hanya bisa menjadi “pembantu rumah tangga”, jongos di rumah Pak Sutadi, mandor layar tancap yang membawanya ke kota.

Sadar nasibnya tidak bakal membaik, Jumono berubah haluan. Ia beralih ke Jogja, jadi pedagang asongan di stasiun kereta api. Tapi, di sana pun sama, tidak bertahan lama. Dua bulan kemudian ia sudah berada di Jakarta. Ketidakramahan Jakarta langsung dirasakannya ketika semua bekalnya raib digasak copet. Tidak ada pilihan lain kecuali menggelandang, menjadi kuli bangunan, jual asongan lagi, dikejar-kejar petugas ketertiban, lalu calo karcis, hingga akhirnya jadi preman. Keadaan telah menempa dirinya yang “penakut” jadi pemberani. Setiap hari ia berkelahi memperebutkan jatah wilayah. Empat tahun lamanya ia hidup seperti itu.

Hingga ia bertemu Pak Simon, petugas keamanan di Senayan. Pak Simon lah yang menenggelamkannya ke dunia tinju. Dunia lama, impian Jumadi, kakaknya. Dari sana nasib baik bermula. Berangsur-angsur badai reda. Ternyata pengalaman keras menempa tubuhnya menjadi alot dan kukuh. Tidak butuh waktu lama di dunia amatir, Jumono pindah ke jalur profesional. Satu demi satu lawan ditumbangkannya. Tak jarang dengan kemenangan telak, KO. Namanya pun berkibar. Sukses di tingkat Nasional, ia merambah persaingan di tingkat regional. Lalu, ia mendapat peluang menantang peringkat pertama dunia, Judo King.

Arkian, kali ini Jumono menghadapi lawan tangguh. Pertarungan berjalan berat sebelah. Ia jadi bulan-bulanan petinju Korea itu. Tapi, tekad membahagiakan keluarga telah menyelamatkan semangatnya. Ia pun menang, dan memastikan peluang menjadi penantang Juara Dunia.

Sejak itu hidupnya berubah. Segalanya tampak indah. Jumono pun kembali ke tanah kelahiran membawa ketenaran dan kekayaan. Namanya dielu-elukan sepanjang jalan. Warga yang dulu sinis, berubah menjadi sangat ramah. Sayang, tumpukan uang yang dibawanya tak serta-merta membahagiakan Simboknya. Bagi perempuan yang melahirkannya itu, warisan keluarga di atas segalanya. Tidak mudah bagi Jumono memenuhi keinginan ibunya. Tanah itu sudah dirampas oleh Kirom, lelaki yang juga mengawini kekasihnya, Mirah, secara paksa. Masalah baru pun mencuat. Perkelahian tak terelakkan ketika Kirom mendapati Mirah dan Jumono sedang berduaan di tepi hutan. Tapi, mudah ditebak, Jumono lah sang pemenang.

Seolah-olah kisah bersudah di situ. Ternyata, tidak. Kirom tidak mau terima dirinya dipermalukan. Ia perintahkan anak-buahnya mengeroyok Jumono. Kali ini, Jumono kalah. Tangannya patah. Wajah dan tubuhnya babak belur. Tamatlah riwayatnya sebagai petinju. Kemalangan bertambah ketika Simbok meninggal karena tak tahan melihat penderitaan anak kebanggaannya, Jumono. Setelah sembuh, ia tak patah arang. Ia tetap melatih kemampuan fisiknya. Satu per satu pengeroyoknya dihabisi. Terakhir, Kirom pun diselesaikannya dengan “mudah”. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara.

Begitulah. Kisah sederhana. Tidak rumit.

Tapi ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kesederhanaan itu.

☼☼☼

SETELAH menyasar beberapa keunggulan Sang Juara dari kandungan intrinsiknya, tiba masanya kita menyigi nilai estetika yang diusungnya. Tidak bisa disanggah, sebagai sebuah pencapaian estetika sastrawi, Saut mencoba merambah ranah tematik yang sedang ramai dibincangkan, “novel inspiratif”. Setelah era kegemilangan Laskar Pelangi, membuhul banyak novel yang mengusung tema inspirasi. Memang hal seperti itu sah-sah saja, karena setiap pembaca mengidamkan sodoran-sodoran baru yang mencerahkan, menggugah, dan mampu menyulut inspirasi. Tapi, jika pengarang abai pada kemasan, bisa terjebak pada “selera pasar” belaka, layaknya sinetron-sinetron yang lagi marak di televisi.

Belakangan, ada beberapa novel yang menggarap serba-serbi dunia olahraga, semisal novel King karya Iwok Abqory yang mengisahkan kedahsyatan lompatan Liem Swie King.  Novel ini tidak sekadar menceritakan sejarah kejayaan Indonesia di dunia bulutangkis, tapi juga menyuguhkan kalimat-kalimat motivasi yang inspiratif. Atau Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi, yang mengisahkan kemampuan Kiai Rais dalam mengolah si kulit bundar. Hal sama digubah Saut lewat novel anggitannya ini, Sang Juara.

Saya pribadi selalu percaya bahwa segala sesuatu yang berasal dari hati, niscaya bakal mengendap di hati. Artinya, segala sesuatu yang ditulis dengan “hati”, pasti bisa menggugah hati. Itulah makna inspirasi. Ruh dari tulisan inspiratif, di luar keterampilan artistik yang dimiliki sang pengarang, adalah internalisasi emosi, wawasan, visi, dan dedikasi. Tanpa semua itu, tulisan hanya menjadi sebatas tubuh tanpa ruh.

Tokoh Jumono dan Juminten dapat menjadi cermin tempat kita bisa berlama-lama mengacakan diri, bagaimana semestinya kita memelihara semangat dan mewujudkan cita-cita. Bahwa tak ada yang mustahil jika kita bersungguh-sungguh. Bahkan ketika kita tersuruk pada kenyataan yang paling pahit, paling terpuruk. Bahwa tak ada gunanya “pasrah” dan menyerah begitu saja dan berlekas-lekas menyalahkan takdir jika kemalangan menimpa kita, tapi harus selalu ada geliat, harus terus bergolak dan bergerak. Bahkan ketika kita tertumbuk pada kegagalan paling menyakitkan, paling mengenaskan.

Tokoh Kirom dapat menjadi air bening tempat kita bisa mengacakan wajah, apakah ulah-laku kita menyenangkan atau menyakitkan. Bahwa kemaruk bukanlah sifat yang layak dipertahankan, apalagi dipertaruhkan. Bahwa tamak bukanlah jalan lapang menuju bahagia. Bahwa hidup bukanlah semata pertarungan antara “yang berkuasa” atau “yang dikuasai”. Dan banyak lagi “bahwa” lainnya yang semestinya kita tanggalkan dari diri kita, jika itu akan menyusahkan atau menyulitkan orang lain.

Tokoh Keng Kiong menunjukkan kepada kita bagaimana caranya mencintai dengan tulus, tanpa harus memasalahkan pahit-getir masa lalu. Jika sudah cinta, belajar menerima apa yang ada. Bahwa setiap orang punya sisi gelap yang tidak mudah diterang-jelaskan. Jika kita dewasa, kita pasti bisa menerima sisi “baik” dan “buruk”. Bahwa setiap manusia akan atau pernah berbuat salah. Tapi, kita pun tahu bahwa gerbang yang lapang guna memperbaiki diri, selalu terbuka setiap saat untuk dimasuki.

Sungguh, banyak hal yang bisa kita selami. Banyak inspirasi yang bisa kita dalami.

☼☼☼

SEMOGA, setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, atau Chris John, negeri beribu pulau ini tetap bisa melahirkan penguasa-penguasa “ring” yang tangguh. Semoga pula terlahir bakat-bakat pesepakbola melebihi zaman keemasan Ramang, Ronny Pattinasarany, atau Robby Darwis. Semoga terus bertumbuh bintang-bintang baru, menggantikan Rudy Hartono, Susi Susanti, atau Icuk Sugiarto.

Semoga lahir pula karya-karya sastra bermutu yang inspiratif.

Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2009

Khrisna Pabichara,

motivator dan penyuka sastra.


[1] Disampaikan guna membincangkan novel Sang Juara karya Saut Poltak Tambunan, pada peluncuran Komunitas Sastra Ide Kalimalang (Kedailalang), pada Sabtu, 10 Oktober 2009, bertempat di Kalimalang, Jakarta Timur..

***

Kematangan bercerita, realitas kisah dan karakter tokoh  berada dalam genggaman Saut Poltak Tambunan. (Kurnia Effendi, penulis memoar Hee Ah Lee, “The Four Fingered Pianist”)

***

Menulis fiksi bukan sekadar merajut kata, tetapi berkisah disertai empati tentang kehidupan manusia. Pembaca akan menemukan itu dalam karya-karya Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang setia pada dunia penulisan. (Ashadi Siregar, UGM Jogjakarta)

***

“Sang Juara sebuah karya dari hati tempat hati kita bercermin. (Zara Zettira ZR, pengagum Bang  Saut sejak SD,  penulis, spiritualis, Canada)

***

Saut Poltak Tambunan,  saya kenal sebagai novelis yang piawai.  Karangannya selalu hidup, membumi dan membuat kita merasa menjadi bagian dari  ceritanya.  SANG JUARA –   novel dramatik di balik kehidupan petinju ini — sangat layak dibaca. (Kurniawan Junaedy, penulis, pekerja seni sastra