Archive for the ‘Puisi’ Category

Sarimin

Posted: February 7, 2011 in Puisi

Sarimin tidak habis pikir mengapa pecut masih saja mengoyak tengkuknya meski kesetiaan telah ia lakoni sepanjang peradaban, mengapa pula nasibnya harus tergantung pada iseng belaka orang di kota.

Maka ia pun pergi ke pasar – di mana rasa lapar telah lama digelar menjadi luka menganga dan kejujuran kesetiaan hanyalah keterpaksaan.

Sarimin berteriak tawarkan jantungnya.  Jajakan hatinya. Tetapi pasar pecah berubah      rusu h. Sarimin terhimpit terinjak oleh berbagai unjuk rasa. Entah rasa apa, sebab poster dan spanduk yang diarak sudah kabur oleh darah ludah serta serapah nista dari lidah yang bercabang-beranting. Aroma dendam dan dengki dikelangitkan menjadi satu. Merah darah, merah api!

Sarimin terser et makin jauh masuk kota. Ia saksikan orang-orang marah  memburu tikus-tikus buron ke belantara hukum. Tunas-tunas muda gagah berani berteriak sungsang melintang di pasal-pasal perempatan sambil ramai-ramai kangkangi rambu.

Semakin bingung, Sarimin kesasar ke plaza. Di sini orang masih saja ingin membeli kendati tak ada lagi yang mau menjual.

Cobalah bersabar, kata Sarimin berdamai dengan diri sendiri, masih ada sisa doa yang belum pecah terinjak di pasar. Tetapi siapa percaya doa bukan serapah? Siapa percaya kebajikan bukan akal bulus belaka?

Sarimin nelangsa. Sepotong mimpinya telah menjadi santapan lezat para pakar di televisi. Keadilan tinggal sebatas bahan seminar orang-orang gardu muka yang semalaman tidak tidur merancang surat kaleng. Cuaca pada kaca buram berembun hanya menyuguhkan wajah tak bermuka kendati masih berdasi.

Sarimin minggat ke kuburan. Ingin muntah di atas makam tuan lama yang kini diziarahi bagai pahlawan sejati meski semasa hidup belakangan tak lagi punya nyali bertemu Sarimin. Sebab hari-harinya sepanjang dusta. Nafas dan kentutnya merusak ozon. Jazadnya meracuni tanah hingga cacing dan belatung pun tak sudi menyentuhnya.

Sarimin menangis. Ia pergi ke pergi.

Saut Poltak Tambunan-2009

PUISI NEGERI RAYAP

Posted: February 4, 2011 in Puisi

saut poltak tambunan

PUISI NEGERI RAYAP

(1)

Rayap Musuh Bersama

Mereka ini memang rayap
Montok mengkilap
Sembunyi di ruang pengap
Segala dan semua dilahap

(2)

Musuh Di  Rumah

Berjuta riuh meruah
Kayu – semen dimamah
Paku – besi dikunyah
Pilar konstruksi diubah

(3)

Di  Bawah Atap

Ramai berkeriap-keriap
Sangkanya ini rumah rayap
Gembongnya bersayap
Ramai pesiar berkelayap

(4)

Di Tiang Kuda-kuda

Rayap berdansa
Mungkin pijat dan sauna
Mumpung berkuasa
Berulah sesuka-suka

(5)

Di kayu Reng

Kayu reng di bawah genteng
Luarnya utuh diremas gepeng
Rayap berpesta bareng
Penghuni rumah dipandang enteng

(6)

Di Tiang Blandar

Semangat dikobar-kobar
bendera dikibar-kibar
Kayu dikerat satu dua lembar
Oleh-oleh sebelum rapat bubar

(7)

Di Langit-langit Kamar Mandi

Anak gadisku panik berteriak
Pemuda rayap bersurak-surak
Ribuan mata bulat membelalak
Girang tertawa melonjak-lonjak

(8)

Di Daun Pintu

Rayap berebut palu
Saling lempar sepatu
Bersicekal dasi baru
Tak ada lagi rasa malu

(9)

Di Kap Lampu

(dhuar!)
Meletus balon lampu
Rayap tak perlu kacau
Pindah saja ke balon baru
Harga diri mengapa risau

(10)

Di Gudang

Berpesta di balik terang
Rayap bertalu genderang
Diusik langsung berang
Rayap  bersayap menyerang

(11)

Di Ruang Makan

Rayap terkantuk-kantuk
Lelap berdiam duduk
Lainnya kasak-kusuk
Cari peluang siap seruduk

(12)

Di Kusen Jendela

Rayap saling mencela
Tak mengaku makan jendela
Tapi di balik tangga
Kompak tertawa wa wa wa

(13)

Di lisplafon

Rayap berguyon-guyon
Suaranya gaduh serupa tawon
Bahas plesiran ke rumah pohon
Belajar cara memakan plafon

(14)

Di Rak Televisi

Bersitegang berdebat diskusi
Serupa ayam tajen di Pulau Bali*)
Rayap bela hajat berani mati
Sudahnya bareng berdansa-dansi
*membunuh atau terbunuh

(15)

Di Lemari

Rayap sungguh tak tahu diri
Doyan batik, jas dan dasi
Tak tahu lagi basa-basi
Di kasih rempelo merogoh hati

(16)

Di Tiang Bendera

Di tiang bendera rayap menggerek
Baris berbaris makin mengejek
Derap langkahnya ’kretek-kreketek’
Sangkanya pemilik rumah cuek

(17)

Di Bingkai Foto

Rayap golek bersantai
Sangkanya itu di pantai
Bubuk kayu diremah ke lantai
Ter! La! Lu! Lebay bin alay!

(18)

Di Meja Kerja

Dasar rayap tak tahu etika
Meja kerja dimakan juga
Pincang kakinya tinggal tiga
Ditanya, bilangnya itu Hak!

(19)

Basmi Total

Yap, kau janji kau  ingkar
Telingkahmu serupa barbar
Sumbu emosi pendek terbakar
Saatnya dibasmi ke akar-akar!

(20)

Anti Rayap lain merek

Rayap takut ’lentrek’
Kata toko: “Sudah entek.”
Merek lain dikira ecek-ecek
Bikin rayap geli terkekek-kekek

(21)

Di Rak Buku

Rayap melahap buku
Semprot anti rayap merek terbaru
Kelojotan mampus dan mati kaku
Perang total mulai kemarin Rabu

(22)

Bukan Tukang Biasa

Tukangku bukan tukang sulap
Bukan pilihan wakil rayap
Bukan pula hasil polling sms gelap
Tukangku tak mau makan suap

(23)

Pasukan Maju Serbu

Tukangku serempak maju
Tumpas sarangnya tak pakai ragu
Siram racun semua kayu
Meski aku harus cari utangan baru

(24)

Racun Anti Rayap

Ini racun buatan dalam negeri
Semprotkan harus berkali-kali
Tangkap saja yang tak mau mati
Minumkan racun  modar ‘lah pasti

(25)

Bongkar Atap

Bongkar semua sarang rayap
Semprot yang bersayap
Basmi turunannya hingga lenyap
Rumahku harus kembali gemerlap!!

MERDEKA!

SPT, November 2010