Kesebelasan KOLECER: Benny Arnas (Lubuk Linggau), Cesillia Ces (Bali), Gunawan Maryanto (Jogjakarta), Hanna Fransisca (Singkawang), Iwan Soekri (Pariaman-Padang), Khrisna Pabichara (Makassar), Nenden Lilis A (Bandung), Noena (Jawa-Hongkong), Oka Rusmini (Bali), Sastri Bakry (Padang), Saut Poltak Tambunan (Toba-Batak)
Prolog: Free Hearty
Pengamat: Maman S Mahayana, Riris K Toha – Sarumpaet
***
PROLOG
KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA
Free Hearty
Sastra menghadirkan apa yang sejarah tidak bisa menghadirkannya. Sejarah bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalu, maka sastra bercerita tentang apa yang mungkin terjadi di masa lalu, kini dan masa depan. Itulah hebatnya sastra. Sastrawan ’harusnya’ mempunyai Licensy untuk mengungkap apa saja. Bukankah seorang pengarang menjadi tuhan bagi tokoh-tokoh ciptaannya? Ia membangun cerita menurut kehendaknya, menghidupkan tokoh, menyorot tokoh yang menurut pengarang menarik dan mematikan tokoh yang menurutnya harus dibunuh. Sastra merupakan hasil imajinasi yang tinggi, pemahaman yang dalam dan pengamatan yang cermat serta pengalaman pribadi yang diramu padu dalam bahasa yang memenuhi estetika dan etika dalam kebebasan yang jelas dan terbatas.
Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian dalam mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek.
Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh sebelas penulis dalam duapuluh cerita pendek. Nama-nama mereka sudah dikenal dengan pengalaman menulis yang cukup menggaram. Kumpulan cerpen ini menjadi menarik ketika dikemas dengan memasukkan warna-warna lokal dalam tradisi yang kadang memunculkan tragedi pada para pelaku budaya tradisi itu sendiri. Kisah-kisah biasa bisa menjadi sangat menarik ketika dikemas dalam dunia kata dengan cara yang apik.
Cinta, penghianatan, dendam, amarah, pembunuhan, kelicikan dan penipuan sering menjadi dasar tema cerita secara universal. Semua hal ini adalah masalah dasar manusia dari suku, agama dan bangsa apa pun. Mereka yang tertindas atau menjadi korban selalu si lemah, seperti perempuan, anak-anak atau mereka yang tidak memiliki posisi tawar dalam segala artian. Tragedi dalam tradisi yang berubah, atau tragedi karena tradisi yang dipertahankan dengan kukuh melawan gugatan-gugatan modernisasi menjadi pengamatan banyak penulis ini. Bagaimana setiap konflik dikemas, bagaimana benturan-benturan itu dipaparkan dan bagaimana pula hal-hal biasa tetapi luput dari pengamatan kita, dimunculkan dengan menarik dalam warna lokal yang menarik perhatian.
Amati cerita pendek Benny Arnas (Lubuk Linggau – Sumsel). Membaca cerpen ini kita menemukan perbedaan budaya. Ada daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan, karena dianggap akan lebih memperhatikan orang tua kelak bila sudah renta. Ada juga daerah yang lebih mengagungkan anak lelaki karena kekuatannya mencari nafkah bagi kehidupan, dianggap kelak akan menanggung kehidupan orang tua.
Kedua hal ini sering memunculkan tragedi ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Ketika anggapan (harapan?) agar anak perempuan kelak memberi perhatian, justru asyik dengan suami dan keluarganya sendiri, tragedi pun muncul seperti dalam cerpen Anak Ibu Yang Kembali.
Dalam cerpen keduanya Tujuh, Benny memberi ruang untuk pembaca berasosiasi lewat paparan cerita yang mendudukkan tukang tenung sama terhormatnya dengan Kades, Kadus atau Camat. Barangkali benar terhormat tetapi kita terpancing pula mempertanyakan tentang posisi mereka yang sama “Apa yang sedang terjadi di masyarakat dalam memahami makna kehormatan dan ketakutan. Apa beda pejabat dan tukang tenung??” Apalagi kemudian pembaca dipancing dengan akhir cerita yang justru memancing logika dan membuat kita ’terpurangah’ tentang maut yang datang, apakah sebagai sampainya ajal atau kematian akibat tenungankah?
Benny terinspirasi dengan profesi Tukang Cerita (lisan) sudah lama lenyap. Di daerah Batak misalnya, tak ditemukan lagi parturi-turian atau tukang cerita lisan. Parturi-turian ini bertualang dari kampung satu ke kampung lainnya, menemani para petani yang semalaman berjaga di sekitar timbunan padi yang baru dipanen dengan sabit, menunggu mardege besok – memisahkan padi dari bulirnya. Benny mengemas tradisi ini dalam cerpen ke-tiga dengan mengangkat cerita tentang perempuan tua berkerudung wol dari ceruk yang menyumpil di antara barisan Bukit Siguntang. Ternyata si Tukang Cerita ini memiliki misteri yang lebih dari semua cerita yang pernah dituturkannya. Hingga ia raib tanpa seorang pun tahu ke mana pergi.
Cesillia Ces (Bali) mengemas kisah antara Bali dengan Balige – Toba Samosir. Perbedaan nama yang begitu tipis dan sama memiliki pesona alam budaya yang mendunia, tetapi berbeda sungguh dalam banyak artian. Ketika dua anak manusia menjembataninya dengan cinta, mereka berhadapan dengan tradisi masing-masing yang demikian kukuh mempertahankan eksistensinya.
Gunawan Maryanto (Jogjakarta) dengan dua cerpennya Arya Mangkunegara dan Sarpakenaka menempatkan tokoh perempuan dalam koridor tradisi Jawa sebagai komoditi dan sebagai alat untuk sumber atau korban fitnah. Perempuan berada pada posisi lemah, tanpa suara dan dilemahkan, lalu menjadi korban yang pada akhir cerita dibunuh, bersalah atau tidak, karena mencintai atau dicintai. Kedua tokoh perempuan dalam kedua cerita pada akhirnya dilenyapkan. Imajinasi kita digerakkan oleh cerita Sarpakenaka yang berbau mistis dengan latar peristiwa PKI/Gestapu.
Hanna Fransisca (Singkawang – Kalbar) dalam dua cerpennya Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam dua kisah yang kental dengan budaya leluhur Hanna. Hanna memaparkan kisahnya dengan kritik yang jenaka dan canda yang membuat kita miris. Ini kekuatan Hanna dalam menulis. Pengamatan Hanna terhadap tradisi leluhurnya dipandang dengan pemahaman yang ganjil. Ada simpati, empati tetapi juga ejekan yang hampir menunjukkan apatis. Hanna menggunakan metafora yang kadang memancing senyum. Seperti dalam Sembahyang Makan Malam, Hanna menggambarkan ayam jantan dikebiri, lalu menggambarkan melihat mata ayam yang dikebiri seperti melihat nasib tokohnya sendiri. Kata-kata seperti ’lelaki karatan’, ’Mengalir doa, menguap ribuan dupa’, ’Dulu cantik kemudian semakin buruk lantaran mulai belajar memaki’ atau pula dengan sinis mengatakan ’menukar anak gadis dengan kaki babi’ memberi suasana tertentu.
Kritikan Hanna mengalir dengan tajam namun lembut dalam pilihan diksi yang memancing imajinasi. Simak dalam Hari Raya Hantu. Imajinasi pembaca diraihnya dengan indah : ’Dingin ranjang dan udara malam, remang cahaya lampu. Sesekali terdengar suara radio tetangga dan derik cengkerik di kejauhan. Dua ekor cicak kawin saling menggigit dan menghentakkan ekor mereka di dinding kamar. Beberapa ekor nyamuk berputar-putar di kepala’. Halus dan memancing imajinasi!
Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang dan Selasar Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua. Ketika kekasih bisa direbut, maka bukan mistis yang bekerja, tetapi hati yang patah lebih menunjukkan kekuatan akan kehancuran atau untuk menghancurkan. Orang yang merasa diri hebat dan terhormat sering merasa pantas untuk membalas dendam demi kehormatan yang berbau gengsi tetapi kadang mengorbankan harga diri. Maka orang sering salah membedakan yang harus dipertahankan, Gengsi atau harga diri? Itulah yang ditampilkan Khrisna dalam Pembunuh Parakang.
Laduka berkisah tentang kerinduan perantau yang akhirnya memilih pulang, meski dengan tangan hampa. Karena kepulangan perantau biasa membawa kesuksesan. Tetapi kepulangan lelaki Laduka hanya membawa kerinduan yang akhirnya berakhir tragis dalam sebuah tragedi. Hanya arwah dirinya yang pulang. Tradisi pulang dengan sukses atau ketidaksuksesan harus diputus dengan berpulang?
Dalam Selasar, Khrisna menyuguhkan cinta yang tak lekang dan kukuh disetiai. Si lelaki patah tetap datang menunggu setiap hari di selasar kenangan rumah orang tua si gadis, kendati ia tahu itu sia-sia. Ia mencoba tak percaya bahwa Si Gadis yang dia cintai terkena doti—mantra ampuh penakluk perempuan—dari Rangka, lelaki kaya teman sepermainan masa kecil yang beristri dua beranak delapan itu. Nyatanya, si gadis meninggalkannya dan nekad dibawa silariang—kawin lari.
Nenden Lilis (Bandung) menulis Hari Pasar dan Kolecer. Kolecer merupakan kritikan dan kerinduan akan masa lalu. Perempuan cantik di masa lalu adalah perempuan dengan gigi hitam. Kenangan, betapapun menyedihkannya akan menjadi indah saat dikenang. Kenangan terhadap kakek nenek, masa kecil dan makanan-makanan khas daerah seperti nasi timbel, ikan asin japun atau sambal oncom digambarkan sebagai bentuk kerinduan yang nostalgik. Kisah dikemas dengan menarik dalam hubungan anak perempuan dan bibinya yang teraniaya.
Dalam Hari Pasar, Nenden Lilis mengkritik Tukang obat yang penuh tipuan, seperti tipuan dalam rampasan hak orang-orang proyek kepada lahan orang-orang miskin. Membakar kertas dengan ludah merupakan sindiran tajam terhadap pembakaran pasar. Perubahan scene mengubah dan mengkonstruksi yang lain.
Sastri, Noena dan Oka Rusmini yang memunculkan masing-masing satu buah cerita pendek memberikan tema dengan perempuan sebagai tokoh sentral. Sastri Bakry (Padang) mempertanyakan penerapan Adat, Tradisi dan Agama dalam budaya Minangkabau dalam cerpennya Baminantu. Benturan-benturan tradisi yang sering memunculkan kisah tragis, di tangan Sastri berakhir manis. Pemahaman akan adanya perbedaan menunjukkan pula bahwa penerapan Adat, Tradisi, dan Agama menggambarkan adanya sikap yang sarat kepentingan. Ketika kepentingan bermain, semua makna bisa mengabur, menguat atau bahkan memunculkan makna baru. Karena kepentingan sering berkelindan dengan perebutan ’lahan kekuasaan’, antara anak, menantu dan mertua perempuan (atau bahkan calon menantu, calon mertua ataupun calon besan). Maka hal inilah yang dipertanyakan dan dikritik Sastri. Ada (kah) yang harus dipertahankan?
Oka Rusmini (Bali) dalam Pastu mengisahkan tentang persahabatan dan bertahan untuk kawin atau tetap melajang. Apakah menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan? Karena ketika lajang, perempuan dipandang dengan sebelah mata. Perempuan pun mengejar perkawinan demi status disebut ibu, istri sebagai perempuan sempurna. Lalu Kasta pun menjadi hal yang menyudutkan perempuan pada kondisi kepatuhan dengan resiko tersisihkan bila tidak patuh. Padahal perkawinan sering pula menyeret ke dalam lubang penghianatan demi penghianatan yang kadang berujung kepada kematian demi kematian. Korbannya ? Ya, seringkali perempuan. Benarkah lelaki tak pernah puas dengan satu cinta? Pertanyaan Oka yang sering menggelitik banyak perempuan, di mana pun. Benarkah? Ah, harusnya tidak! Karena bukankah Tuhan menciptakan makhluk-Nya berpasangan? Artinya satu laki-laki untuk satu perempuan.
Noena (BMI Hongkong) seakan mewakili kaumnya Buruh Migran di Hongkong. Ia memberikan kisah lain yang berakhir sukses dari perjuangan seorang perempuan yang berada di negeri orang dan didzalimi oleh oknum penguasa setempat. Cerita penderitaan perempuan yang tertindas dan terdzalimi sering terjadi. Kehendak perempuan untuk menemukan diri sendiri atau menjadi mandiri sering berakhir tragis. Tetapi di tangan Noena dalam cerita pendeknya memunculkan kekuatan perempuan yang bangkit dengan akhir yang bagus. Perempuan korban tidak selalu jadi bahan kesedihan tema sebuah cerita. Perlu membangun wacana baru untuk memunculkan potensi perempuan. Itulah yang dikemas oleh Noena dalam cerita Sri Sumini. Perempuan punya potensi dan perempuan harus menunjukkan potensi diri, tidak melulu tentang penderitaan yang dialami lalu terpuruk di dalamnya. Inilah kekuatan Noena dalam tema ceritanya.
Sutan Iwan Soekri Munaf (Pariaman – Sumatera Barat) yang lebih dikenal sebagai Iwan Soekri, menyuguhkan kepiawaian retoriknya dalam prosa liris Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini. Iwan mengawali kisahnya dengan kemegahan ‘kerajaan keluarga’ Minang masa lalu, melengkapinya dengan kisah kepahlawanan kaum albino menghadapi musuh, menggunakan otak yang lebih kuat dari otot. Di Lepau Kampung Sudut si ‘Albino’ Ajo Buyung Blando, busung dadanya tersorong mengakhiri ceritanya, “Sayang, Pak Gubernur belum mendengar cerita ini. Kalau sudah, dia musti cium tangan orang albino seperti saya.”
Saut Poltak (Tapanuli) mengangkat kisah dengan warna lokal yang kental lewat cerita Lali Panggora (Elang Pengabar, Menunggu Matahari dan Omak. Lali Panggora bukan kisah dalam tradisi, tetapi kisah ini dikemas di lingkaran tradisi yang sering terjadi. Peristiwa kematian yang bagi pihak si mati merupakan kesedihan. Tetapi dalam budaya daerah tertentu, ada tradisi yang harus mengadakan semacam perayaan dengan menyediakan berbagai macam makanan dalam kemewahan, menjadi penantian membahagiakan bagi masyarakat lain. Kemalangan bagi satu pihak menjadi kebahagiaan pada pihak lain. Inilah fenomena yang selalu ada. Saut memunculkannya dengan tajam dalam Elang Pengabar yang terbang berputar menebar keresahan pada diri si ’Aku’. Sebaliknya, kedatangan Elang Pengabar memunculkan kegembiraan menunggu kematian bagi pembuat peti mati. Elang Bondol yang hampir punah menjadi tokoh penting mengaduk pikiran dan perasaan orang sekampung. Pertanyaan dan kecurigaan bercampur kekhawatiran dan kecemasan akan kehilangan telah membuat si ’Aku’ panik menghadapi kemunculan Elang Pengabar. Rasa was-was dan menduga-duga ajal siapa yang mendekat memunculkan kenyataan yang berbeda. Bukan elangnya yang salah, karena sang Elang datang membawa kebenaran kabar tentang maut. Tetapi manusia hanya bisa menduga dan ironisnya, sering salah, ketika manusia tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam yang dikirim Tuhan.
Dalam Menunggu Matahari, Saut Poltak bercerita tentang cinta dan kasih yang diekspresikan dengan cara yang salah. Kekerasan sang ayah dan kemanjaan si Adik telah membuat kakak laki-laki lari dan hilang tak jelas rimbanya. Kesadaran yang terlambat bahwa sang anak lelaki adalah matahari yang sesungguhnya sanggup memberi kehangatan dalam keluarga. Maka kepedihan dan kesedihan dengan penyesalan yang dalam hanya mampu diekspresikan lewat doa dan harapan yang dikemas Saut dalam dialog bathin mengharukan si gadis yang penuh penyesalan. Gambaran lelaki yang angkuh akan kelelakiannya dalam diri ayah, atau gambaran perempuan yang lemah dalam diri ibu, diceritakan dengan apik, dalam budaya di mana para lelaki hanya duduk di lapo tuak, sementara si perempuan istri bekerja keras di sawah. Kekuasaan tetap di tangan lelaki yang pada akhirnya kehilangan kekuasaan dan kekuatan, bahkan kehilangan mimpi tentang anak lelakinya terkasih.
Omak.Tak pernah habis cerita tentang ibu yang dalam cerita ini Saut Poltak menyebutnya ’omak’. Perempuan beranak tujuh dengan ’sense of crisis’ yang tinggi, tampil menating nasib ketujuh anaknya di tengah kemelut perang pemberontakan PRRI. Jika suatu ketika Omak menangis, itu bukan karena takut ditembak pemberontak. Bukan pula karena takut mati. Omak menangis karena tadi pagi dari radio merk Ralin itu ia mendengar harga beras naik lagi, sementara tujuh anaknya pernah diberi makan beras bulgur, mencret semua.
Tidak semua penulis mampu memilah dan memilih diksi yang tepat padat dalam estetika yang menggambarkan peristiwa, dialog atau penokohan. Penggunaan kata dalam stilistika akan menghidupkan imajinasi pembaca. Cerita pendek tidak memerlukan penceritaan terlalu mendetil ataupun pengakhiran yang selesai. Namun ketika menyediakan ruang kosong bagi imajinasi pembaca, itu tentu dalam koridor cerita yang jelas. Beberapa penulis mempunyai kekuatan ini, seperti Saut, Hanna, Benny, Gunawan dan Khrisna.
Jakarta, 12 Juni 2010
***
Inilah kisah-kisah eksotisme Nusantara. Warna lokal yang khas dengan segala keunikannya, tidak sekadar mewartakan potret sosial dalam narasi yang memukau, lalu berkelindan dalam representasi kultur etnik, tetapi juga menjelma lanskap keindonesiaan. …Sebuah keberagaman budaya yang penuh warna-warni, heterogen, dan sekaligus juga unik: eksotik. Panorama itu laksana berada di antara garis tipis fakta—mitos yang bagi masyarakat Barat, kerap dituding sebagai irasional, tahayul, dan ditempatkan dalam wilayah supernatural. Inilah antologi cerpen yang benar-benar Indonesia. Itulah pintu masuk untuk memahami keindonesiaan yang multikultur. Di situlah bersemayam ruh antologi cerpen ini.
Maman S Mahayana
Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea
***
Membaca kumpulan cerita yang khas kedaerahan dan lokalitasnya berikut ini, mau tak mau meminta kita merenung: Tidakkah kehidupan manusia, di mana pun, dan kapan pun, akan selalu merujuk pada kerinduannya akan kebahagiaan apakah itu kekayaan, kesuksesan, cinta, persahabatan, hubungan kekeluargaan, perkawinan, adat, hingga pertanyaan atas berbagai ulah kehidupan yang seringkali menjadi retoris sekaligus kritis? Itulah pentingnya membaca dan mengenali diri dan sesama melalui cerita-cerita ini.
Riris K. Toha-Sarumpaet, Ilmuwan Sastra dan Guru Besar FIB UI, 17 Juni 2010
***


