Archive for the ‘Cerita Pendek’ Category

Kolecer & Hari Raya Hantu

Posted: February 8, 2011 in Cerita Pendek

Rp. 45.000

Kesebelasan KOLECER: Benny Arnas (Lubuk Linggau), Cesillia Ces (Bali), Gunawan Maryanto (Jogjakarta), Hanna Fransisca (Singkawang), Iwan Soekri (Pariaman-Padang), Khrisna Pabichara (Makassar), Nenden Lilis A (Bandung), Noena (Jawa-Hongkong), Oka Rusmini (Bali), Sastri Bakry (Padang), Saut Poltak Tambunan (Toba-Batak)
Prolog: Free Hearty
Pengamat: Maman S Mahayana, Riris K Toha – Sarumpaet

***

PROLOG

KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA

Free Hearty

Sastra menghadirkan apa yang sejarah tidak bisa menghadirkannya.  Sejarah bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalu, maka sastra bercerita tentang apa yang mungkin terjadi di masa lalu, kini dan masa depan. Itulah hebatnya sastra. Sastrawan ’harusnya’ mempunyai Licensy untuk mengungkap apa saja.  Bukankah seorang pengarang menjadi tuhan bagi tokoh-tokoh ciptaannya? Ia membangun cerita menurut kehendaknya, menghidupkan tokoh, menyorot tokoh yang menurut pengarang menarik dan mematikan tokoh yang menurutnya harus dibunuh. Sastra merupakan hasil imajinasi yang tinggi, pemahaman yang dalam dan pengamatan yang cermat serta pengalaman pribadi yang diramu padu dalam bahasa yang memenuhi estetika dan etika dalam kebebasan yang jelas dan terbatas.

Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian dalam mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek.

Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh sebelas penulis dalam duapuluh cerita pendek. Nama-nama mereka sudah dikenal dengan pengalaman menulis yang cukup menggaram. Kumpulan cerpen ini menjadi menarik ketika dikemas dengan memasukkan warna-warna lokal dalam tradisi yang kadang memunculkan tragedi pada para pelaku budaya tradisi itu sendiri. Kisah-kisah biasa bisa menjadi sangat menarik ketika dikemas dalam dunia kata dengan cara yang apik.

Cinta, penghianatan, dendam, amarah, pembunuhan, kelicikan dan penipuan sering menjadi dasar tema cerita secara universal. Semua hal ini adalah masalah dasar manusia dari suku, agama dan bangsa apa pun. Mereka yang tertindas atau menjadi korban selalu si lemah, seperti perempuan, anak-anak atau mereka yang tidak memiliki posisi tawar dalam segala artian. Tragedi dalam tradisi yang berubah, atau tragedi karena tradisi yang dipertahankan dengan kukuh melawan gugatan-gugatan modernisasi menjadi pengamatan banyak penulis ini. Bagaimana setiap konflik dikemas, bagaimana benturan-benturan itu dipaparkan dan bagaimana pula hal-hal biasa tetapi luput dari pengamatan kita, dimunculkan dengan menarik dalam warna lokal yang menarik perhatian.

Amati cerita pendek Benny Arnas (Lubuk Linggau – Sumsel).  Membaca cerpen ini kita menemukan perbedaan budaya. Ada daerah yang mengagungkan kehadiran anak perempuan, karena dianggap akan lebih memperhatikan orang tua kelak bila sudah renta. Ada juga daerah yang lebih mengagungkan anak lelaki karena kekuatannya mencari nafkah bagi kehidupan, dianggap kelak akan menanggung kehidupan orang tua.

Kedua hal ini sering memunculkan tragedi ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Ketika anggapan (harapan?) agar anak perempuan kelak memberi perhatian, justru asyik dengan suami dan keluarganya sendiri, tragedi pun muncul seperti dalam cerpen Anak Ibu Yang Kembali.

Dalam cerpen keduanya Tujuh, Benny memberi  ruang untuk pembaca berasosiasi lewat paparan cerita yang mendudukkan tukang tenung sama terhormatnya dengan Kades, Kadus atau Camat. Barangkali benar terhormat tetapi kita terpancing pula mempertanyakan tentang posisi mereka yang sama “Apa yang sedang terjadi di masyarakat dalam memahami makna kehormatan dan ketakutan. Apa beda pejabat dan tukang tenung??” Apalagi kemudian pembaca dipancing dengan akhir cerita yang justru memancing logika dan membuat kita ’terpurangah’ tentang maut yang datang, apakah sebagai sampainya ajal atau kematian akibat tenungankah?

Benny terinspirasi dengan profesi Tukang Cerita (lisan) sudah lama lenyap.  Di daerah Batak misalnya, tak ditemukan lagi parturi-turian atau tukang cerita lisan. Parturi-turian ini bertualang dari kampung satu ke kampung lainnya, menemani para petani yang semalaman berjaga di sekitar timbunan padi yang baru dipanen dengan sabit, menunggu mardege besok – memisahkan padi dari bulirnya. Benny mengemas  tradisi ini dalam cerpen ke-tiga dengan mengangkat cerita tentang perempuan tua berkerudung wol dari ceruk yang menyumpil di antara barisan Bukit Siguntang. Ternyata si Tukang Cerita ini memiliki misteri yang lebih dari semua cerita yang pernah dituturkannya. Hingga ia raib tanpa seorang pun tahu ke mana pergi.

Cesillia Ces (Bali) mengemas kisah antara Bali dengan Balige – Toba Samosir. Perbedaan nama yang begitu tipis dan sama memiliki pesona alam budaya yang mendunia, tetapi berbeda sungguh dalam banyak artian. Ketika dua anak manusia menjembataninya dengan cinta, mereka berhadapan dengan tradisi masing-masing yang demikian kukuh mempertahankan eksistensinya.

Gunawan Maryanto (Jogjakarta) dengan dua cerpennya Arya Mangkunegara dan Sarpakenaka menempatkan tokoh perempuan dalam koridor tradisi Jawa sebagai komoditi  dan sebagai alat untuk sumber atau korban fitnah. Perempuan berada pada posisi lemah, tanpa suara dan dilemahkan, lalu menjadi korban yang pada akhir cerita dibunuh, bersalah atau tidak, karena mencintai atau dicintai. Kedua tokoh perempuan dalam kedua cerita pada akhirnya dilenyapkan. Imajinasi kita digerakkan oleh cerita Sarpakenaka yang berbau mistis dengan latar peristiwa PKI/Gestapu.

Hanna Fransisca (Singkawang – Kalbar) dalam dua cerpennya Hari Raya Hantu dan Sembahyang Makan Malam dua kisah yang kental dengan budaya leluhur Hanna. Hanna memaparkan kisahnya dengan kritik yang jenaka dan canda yang membuat kita miris. Ini kekuatan Hanna dalam menulis. Pengamatan Hanna terhadap tradisi leluhurnya dipandang dengan pemahaman yang ganjil. Ada simpati, empati tetapi juga ejekan yang hampir menunjukkan apatis. Hanna menggunakan metafora yang kadang memancing senyum. Seperti dalam Sembahyang Makan Malam, Hanna menggambarkan ayam jantan dikebiri, lalu menggambarkan melihat mata ayam yang dikebiri seperti melihat nasib tokohnya sendiri. Kata-kata seperti ’lelaki karatan’, ’Mengalir doa, menguap ribuan dupa’, ’Dulu cantik kemudian semakin buruk lantaran mulai belajar memaki’ atau pula dengan sinis mengatakan ’menukar anak gadis dengan kaki babi’ memberi suasana tertentu.

Kritikan Hanna mengalir dengan tajam namun lembut dalam pilihan diksi yang memancing imajinasi. Simak dalam Hari Raya Hantu. Imajinasi pembaca diraihnya dengan indah : ’Dingin ranjang dan udara malam,  remang cahaya lampu.  Sesekali terdengar suara radio tetangga dan derik cengkerik di kejauhan. Dua ekor cicak kawin saling menggigit dan menghentakkan ekor mereka di dinding kamar. Beberapa ekor nyamuk berputar-putar di kepala’. Halus dan memancing imajinasi!

Khrisna Pabichara dari Sulawesi Selatan, memberikan warna lokal dalam tiga cerpennya Laduka, Pembunuh Parakang dan Selasar Ada dendam yang tak pernah padam dalam hasrat yang selalu disimpan. Kepercayaan terhadap mitos. Mitos sering menggiring ke arah yang salah. Ketika mitos tak lagi memberi pengaruh maka pragmatisme merampas semua. Ketika kekasih bisa direbut, maka bukan mistis yang bekerja, tetapi hati yang patah lebih menunjukkan kekuatan akan kehancuran atau untuk menghancurkan. Orang yang merasa diri hebat dan terhormat sering merasa pantas untuk membalas dendam demi kehormatan yang berbau gengsi tetapi kadang mengorbankan harga diri. Maka orang sering salah membedakan yang harus dipertahankan, Gengsi atau harga diri? Itulah yang ditampilkan Khrisna dalam Pembunuh Parakang.

Laduka berkisah tentang kerinduan perantau yang akhirnya memilih pulang, meski dengan tangan hampa. Karena kepulangan perantau biasa membawa kesuksesan. Tetapi kepulangan lelaki Laduka hanya membawa kerinduan yang akhirnya berakhir tragis dalam sebuah tragedi. Hanya arwah dirinya yang pulang. Tradisi pulang dengan sukses atau ketidaksuksesan harus diputus dengan berpulang?

Dalam Selasar, Khrisna menyuguhkan cinta yang tak lekang dan kukuh disetiai. Si lelaki patah tetap datang menunggu setiap hari di selasar kenangan rumah orang tua si gadis, kendati ia tahu itu sia-sia. Ia mencoba tak percaya bahwa Si Gadis yang dia cintai terkena doti—mantra ampuh penakluk perempuan—dari Rangka, lelaki kaya teman sepermainan masa kecil yang beristri dua beranak delapan itu.  Nyatanya, si gadis meninggalkannya dan nekad dibawa silariang—kawin lari.

Nenden Lilis (Bandung) menulis  Hari Pasar dan Kolecer. Kolecer merupakan kritikan  dan kerinduan akan masa lalu. Perempuan cantik di masa lalu adalah perempuan dengan gigi hitam. Kenangan, betapapun menyedihkannya akan menjadi indah saat dikenang. Kenangan terhadap kakek nenek, masa kecil dan makanan-makanan khas daerah seperti nasi timbel, ikan asin japun atau sambal oncom digambarkan sebagai bentuk kerinduan yang nostalgik. Kisah dikemas dengan menarik dalam hubungan anak perempuan dan bibinya yang teraniaya.

Dalam Hari Pasar, Nenden Lilis mengkritik Tukang obat yang penuh tipuan, seperti tipuan dalam rampasan hak orang-orang proyek kepada lahan orang-orang miskin.  Membakar kertas dengan ludah merupakan sindiran tajam terhadap pembakaran pasar. Perubahan scene mengubah dan mengkonstruksi yang lain.

Sastri, Noena dan Oka Rusmini yang memunculkan masing-masing satu buah cerita pendek memberikan tema dengan perempuan sebagai tokoh sentral.  Sastri Bakry (Padang) mempertanyakan penerapan Adat, Tradisi dan Agama dalam budaya Minangkabau dalam cerpennya Baminantu. Benturan-benturan tradisi yang sering memunculkan kisah tragis, di tangan Sastri berakhir manis. Pemahaman akan adanya perbedaan menunjukkan pula bahwa penerapan Adat, Tradisi, dan Agama menggambarkan adanya sikap yang sarat kepentingan. Ketika kepentingan bermain, semua makna bisa mengabur, menguat atau bahkan memunculkan makna baru. Karena kepentingan sering berkelindan dengan perebutan ’lahan kekuasaan’, antara anak, menantu dan mertua perempuan (atau bahkan calon menantu, calon mertua ataupun calon besan). Maka hal inilah yang dipertanyakan dan dikritik Sastri. Ada (kah) yang harus dipertahankan?

Oka Rusmini (Bali) dalam Pastu mengisahkan tentang persahabatan dan bertahan untuk kawin atau tetap melajang. Apakah menjadi perempuan merupakan sebuah kutukan? Karena ketika lajang, perempuan dipandang dengan sebelah mata.  Perempuan pun mengejar perkawinan demi  status disebut ibu, istri sebagai perempuan sempurna. Lalu Kasta pun menjadi hal yang menyudutkan perempuan pada kondisi kepatuhan dengan resiko tersisihkan bila tidak patuh. Padahal perkawinan sering pula menyeret ke dalam lubang penghianatan demi penghianatan yang kadang berujung kepada kematian demi kematian. Korbannya ? Ya, seringkali perempuan. Benarkah lelaki tak pernah puas dengan satu cinta? Pertanyaan Oka yang sering menggelitik banyak perempuan, di mana pun. Benarkah? Ah, harusnya tidak! Karena bukankah Tuhan menciptakan makhluk-Nya berpasangan? Artinya satu laki-laki untuk satu perempuan.

Noena (BMI Hongkong) seakan mewakili kaumnya Buruh Migran di Hongkong. Ia memberikan kisah lain yang berakhir sukses dari perjuangan seorang perempuan yang berada di negeri orang dan didzalimi oleh oknum penguasa setempat. Cerita penderitaan perempuan yang tertindas dan terdzalimi sering terjadi. Kehendak perempuan untuk menemukan diri sendiri atau menjadi mandiri sering berakhir tragis. Tetapi di tangan  Noena dalam cerita pendeknya memunculkan kekuatan perempuan yang bangkit dengan akhir yang bagus. Perempuan korban tidak selalu jadi bahan kesedihan tema sebuah cerita. Perlu membangun wacana baru untuk memunculkan potensi perempuan. Itulah yang dikemas oleh Noena dalam cerita Sri Sumini. Perempuan punya potensi dan perempuan harus menunjukkan potensi diri, tidak melulu tentang penderitaan yang dialami lalu terpuruk di dalamnya. Inilah kekuatan Noena dalam tema ceritanya.

Sutan Iwan Soekri Munaf (Pariaman – Sumatera Barat) yang lebih dikenal sebagai Iwan Soekri, menyuguhkan kepiawaian retoriknya dalam prosa liris Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini. Iwan mengawali kisahnya dengan kemegahan ‘kerajaan keluarga’ Minang masa lalu, melengkapinya dengan kisah kepahlawanan kaum albino menghadapi musuh, menggunakan otak yang lebih kuat dari otot.  Di Lepau Kampung Sudut si ‘Albino’ Ajo Buyung Blando, busung dadanya tersorong mengakhiri ceritanya, “Sayang, Pak Gubernur belum mendengar cerita ini. Kalau sudah, dia musti cium tangan orang albino seperti saya.”

Saut Poltak (Tapanuli) mengangkat kisah dengan warna lokal yang kental lewat cerita Lali Panggora (Elang Pengabar, Menunggu Matahari dan Omak. Lali Panggora bukan kisah dalam tradisi, tetapi kisah ini dikemas di lingkaran tradisi yang sering terjadi. Peristiwa kematian yang bagi pihak si mati merupakan kesedihan. Tetapi dalam budaya daerah tertentu, ada tradisi yang harus mengadakan semacam perayaan dengan menyediakan berbagai macam makanan dalam kemewahan, menjadi penantian membahagiakan bagi masyarakat lain. Kemalangan bagi satu pihak menjadi kebahagiaan pada pihak lain. Inilah fenomena yang selalu ada. Saut memunculkannya dengan tajam dalam Elang Pengabar yang terbang berputar menebar keresahan pada diri si ’Aku’. Sebaliknya, kedatangan Elang Pengabar memunculkan kegembiraan menunggu kematian bagi pembuat peti mati. Elang Bondol yang hampir punah menjadi tokoh penting mengaduk pikiran dan perasaan orang sekampung. Pertanyaan dan kecurigaan bercampur kekhawatiran dan kecemasan akan kehilangan telah membuat si ’Aku’ panik menghadapi kemunculan Elang Pengabar. Rasa was-was dan menduga-duga ajal siapa yang mendekat memunculkan kenyataan yang berbeda. Bukan elangnya yang salah, karena sang Elang datang membawa kebenaran kabar tentang maut. Tetapi manusia hanya bisa menduga dan ironisnya, sering salah, ketika manusia tak lagi mampu membaca tanda-tanda alam yang dikirim Tuhan.

Dalam Menunggu Matahari, Saut Poltak bercerita tentang cinta dan kasih yang diekspresikan dengan cara yang salah. Kekerasan sang ayah dan kemanjaan si Adik telah membuat kakak laki-laki lari dan hilang tak jelas rimbanya. Kesadaran yang terlambat bahwa sang anak lelaki adalah matahari yang sesungguhnya sanggup memberi kehangatan dalam keluarga. Maka kepedihan dan kesedihan dengan penyesalan yang dalam hanya mampu diekspresikan lewat doa dan harapan yang dikemas Saut dalam dialog bathin mengharukan si gadis yang penuh penyesalan. Gambaran lelaki yang angkuh akan kelelakiannya dalam diri ayah, atau gambaran perempuan yang lemah dalam diri ibu, diceritakan dengan apik, dalam budaya di mana para lelaki hanya duduk di lapo tuak, sementara si perempuan istri bekerja keras di sawah. Kekuasaan tetap di tangan lelaki yang pada akhirnya kehilangan kekuasaan dan kekuatan, bahkan kehilangan mimpi tentang anak lelakinya terkasih.

Omak.Tak pernah habis cerita tentang ibu yang dalam cerita ini Saut Poltak menyebutnya ’omak’. Perempuan beranak tujuh dengan ’sense of crisis’ yang tinggi, tampil menating nasib ketujuh anaknya di tengah kemelut perang pemberontakan PRRI.  Jika suatu ketika Omak menangis, itu bukan karena takut ditembak pemberontak. Bukan pula karena takut mati. Omak menangis karena tadi pagi dari radio merk Ralin itu ia mendengar harga beras naik lagi, sementara tujuh anaknya pernah diberi makan beras bulgur, mencret semua.

Tidak semua penulis mampu memilah dan memilih diksi yang tepat padat dalam estetika yang menggambarkan peristiwa, dialog atau penokohan. Penggunaan kata dalam stilistika akan menghidupkan imajinasi pembaca. Cerita pendek tidak memerlukan penceritaan terlalu mendetil ataupun pengakhiran yang selesai. Namun ketika menyediakan ruang kosong bagi imajinasi pembaca, itu tentu dalam koridor cerita yang jelas. Beberapa penulis mempunyai kekuatan ini, seperti Saut, Hanna, Benny, Gunawan dan Khrisna.

Jakarta, 12 Juni 2010

 

 

 

 

 

***

Inilah kisah-kisah eksotisme Nusantara. Warna lokal yang khas dengan segala keunikannya, tidak sekadar mewartakan potret sosial dalam narasi yang memukau, lalu berkelindan dalam representasi kultur etnik, tetapi juga menjelma lanskap keindonesiaan. …Sebuah keberagaman budaya yang penuh warna-warni, heterogen, dan sekaligus juga unik: eksotik. Panorama itu laksana berada di antara garis tipis fakta—mitos yang bagi masyarakat Barat, kerap dituding sebagai irasional, tahayul, dan ditempatkan dalam wilayah supernatural. Inilah antologi cerpen yang benar-benar Indonesia. Itulah pintu masuk untuk memahami keindonesiaan yang multikultur. Di situlah bersemayam ruh antologi cerpen ini.

Maman S Mahayana
Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea

***

Membaca kumpulan cerita yang khas kedaerahan dan lokalitasnya berikut ini, mau tak mau meminta kita merenung: Tidakkah kehidupan manusia, di mana pun, dan kapan pun, akan selalu merujuk pada kerinduannya akan  kebahagiaan apakah itu kekayaan, kesuksesan, cinta, persahabatan, hubungan kekeluargaan, perkawinan, adat,  hingga pertanyaan atas berbagai ulah kehidupan yang seringkali menjadi retoris sekaligus kritis? Itulah pentingnya membaca dan mengenali diri dan sesama melalui cerita-cerita ini.

Riris K. Toha-Sarumpaet, Ilmuwan Sastra dan Guru Besar FIB UI,  17 Juni 2010

***

Marturia Tambunan: Pendidikan yang Relevan saat ini?

Marturia’s Notes|Notes about Marturia|Marturia’s Profile

Pendidikan yang Relevan saat ini?

Share

Thursday, September 24, 2009 at 3:15pm

Tulisan ini sebuah pemikiran tentang pendidikan masyarakat batak dulu dan kini, setelah membaca cerpen penulis kondang Saut Poltak Tambunan, “Menunggu Matahari”.
Masyarakat batak mengenal sistim patriakhal, di mana ayah pengambik keputusan dan punya otoritas yang besar atas perjalanan hidup keluarga. Dalam sistim ini pun laki-laki, sangat dihargai sebagai penerus garis keturunan.
Tanah Batak, terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering, hanya dengan daya juang yang kuat orang mampu bertahan hidup di daerah itu, maka dibutuhkan kerja keras, disiplin dan keteguhan prinsip untuk menentukan arah hidup. Kekerasan alam boleh jadi mempengaruhi karakter seseorang. Hidup keras dibentuk oleh daerah yang keras, maka pilihan pendidikan pada zaman dulu (dan mungkin sampai sekarang) di Tanah Batak adalah sistim kekerasan dengan memukul, (meskipun untuk anak-anak sekarang itu sebuah kekejian). Namun menjadi pertanyaan: Apakah pendidikan seperti itu masih relevan di zaman ini, di saat manusia mengangungkan HAM?
Ada yang mengatakan masih relevankah sistim pandidikan seperti itu di zaman tekhnoligi yang no-violence ini? Saya berpikir satu hal, khususnya ketika dalam kebaktian keluarga minggu lalu di sektor 2 HKBP Dukuh Kupang Surabaya, dengan tema disiplin, ada yang mengatakan seperti ini: ‘Jika Tuhan mengizinkan waktu berputar kembali ke belakang, maka saya akan memilih pendidikan seperti yang saya terima dari ayah saya. Meski saya dihajar, tapi justu itu membuat saya untuk keluar dari kemiskinan, bebas dari penderitaan. Saya memang buka sarjana, tapi hajaran ayah saya membuat saya bisa bertahan, bisa membuat anak-anak saya menjadi sarjana, tapi sarjana penakut, sarjana yang tidak tahan banting, sarjana bermental tempe’. Pendidikan yang bebas ternyata tidak membebaskan sebagian orang. Pendidikan yang jauh dari kekerasan menghilankan daya juang, di mana dengan segala kebutuhan yang terpenuhi membuat anak-anak kurang berjuang, karena hanya dengan meminta, anak-anaknya bisa mendapat dengan cepat, apa yang dibutuhkan. Hidup yang serba instan memang enak, tapi instan tidak membuat orang tahan pada kerasnya hidup yang ditawarkan dunia. Kita pernah mendengar ada anak yang bunuh diri karena permintaannya tidak dipenuhi. Anak instan ingin semua cepat, bahkan untuk menunggu sesaat pun permintaannya, sudah membuat si anak cemberut.
Dahulu memang orang Batak tidak mempunyai plihan dalam mendidik dan mendisiplinkan anak kecuali memukul, tapi kekerasan itu justru membentuk putra/i Batak menjadi orang yang kuat, tangguh dan handal, seperti cerita tokoh batak, seperti: TB Silalahi; dalam buku si hadal dan Sintong Panjaitan, dll.
Saya juga ingat cerita seorang jemaat, ketika kami melayani di HKBP Magelang, beliau bercerita tentang suatu kejadian semasa dia SD di parsoburan. Dia bermain api di dekat lumbung padi, ayahnya melarang dia, tapi si anak memilih meneruskan permainannya. tanpa dia tahu bunga api terbang ke atas tumpukan padi, dan lumbung itu terbakar. Ayahnya panik, dia tidak menyiram api, tapi mengangkat anaknya dan melemparkan anak itu, serta memukulnya. Dia meraung kesakitan, dan sampai kini masih ada bekas luka di kaki dan tangannya. tapi kekerasan yang diterimanya, justru membuatnya semakin cerdas dalam memahami arti larangan.
Lalu apakah kekerasan itu sebuah kekejian?
Ketika putri sulung saya marah karena saya matikan tv dan menyuruh dia belajar, dia membanting pintu dengan kencang. Ayahnya dengan tegas menyuruh dia mengulang menutup pintu kamar dengan pelan, sementara saya menekan tangannya dengan keras, dia lebih ‘menghormati’ (atau mungkin takut) kepada aya dibanding ke ayahnya. Anak saya tidak akan membuat perlawanan kalau tv saya matikan meskipun itu tontonan kesayangannya, tapi terhadap ayah, dia masih berani tawar menawar.
Saya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan terbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)
Memang kekerasan dalam pendidikan sering kita lihat sebagai suatu kekejian, tapi justru pendidikan yang demikian banyak membuat orang Batak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup. Paiman yang ‘disiksa’ ayah, menjadi seorang yang bertanggung-jawab di usianya yang dini, dia mengusahakan burung pengganti kupu-kupu untuk Minar. Dia menjadi pemberani menjelajahi hidup tanpa ayah ibunya. Dia kuat dan tidak menangis, walau dia terkapar menahan rasa rindu pada ibu yang akan membawanya ke pesta. Kekerasan yang terjadi dalam Paiman-Paiman lain membuat dia dewasa memaknai hidup.
Kekerasan ayah, bukanlah sebuah kekejian, tidak mungkin ayah membenci Paiman, saya tahu persis itu, bagaimana orang batak menjadikan anak lelaki menjadi seseorang yang terpenting dalam hidupnya, tapi karena lelaki (‘ayah;) orang Batak cenderung kaku, maka mereka tidak ‘sanggup’ mengungkapkan kasih sayangnya dengan lembut dan berbahasa yang manis. Rotan, lidi atau sabuk menjadi alat pendidikan, bukan alat kebenciaan, lewat media itulah mereka ingin mendisiplinan anak-anaknya. Kalaupun ayah memukul Paiman, tapi jauh di lubuk hati dia mau membentuk seorang anak lelaki yang kuat, tidak cengeng. Ayah ingin membentuk Paiman tidak hanya kuat melewati gunung terjal dan berbatu, tapi kuat mengarungi hidup yang sulit. terbukti, ayah tidak tenang, ketika Paiman tak kunjung pulang, tidak melihat jasad ibunya 6 tahun lalu, ayah terus berharap ‘menunggu matahari’, bahwa Paiman yang sangat dia rindukan akan pulang.
Karakter anak ditentukan oleh pendidikan dalam rumah, maka seorang Pendeta yang khusus melayani Pemuda, remaja dan sekolah minggu, pernah berkata: Sia-sia pendidikan di sekolah dan di gereja, kalau tidak didasari pendididkan yang kuat di dalam rumah. Artinya pendidikan rumah menetukan karakter seorang anak.
Pendidikan yang keras yang diterima orang batak dulu, justru membuat orang batak lebih ‘dikenal’. Secara antropoligi orang batak dikenal sebagai suku yang keras dan kuat, berani, suka menolong, dan mudah membaur. mengapa demikian? Wilayah dan pendidikan yang keras membentuk mereka menjadi kuat dan berani, kemiskian membuat mereka ingin bebas dari kemiskinan, sehingga kesadaran itu membuat mereka ingin menolong, mengubah ‘nasib’, sehingga ke daerah mana mereka pergi, mereka cepat beradaptasi, supaya menjadi bagian dari masyarakat.
Jika kekerasan menjadi pilihan, itu karena tidak ada alternatif atau pilihan lain dalam membentuk dan mendisiplinkan anak. Maka sistim yang paling tepat ketika itu adalah dengan memukul.
Saya tidak setuju kekerasan, saya menolak setap tindakan yang tidak menghargai hidup orang lain, namun ketika pendidikan kita menjadi lebih ‘lunak’, justru daya juang anak-anak sekarang menjadi menurun. Untuk memasukkan makanan ke mulut sendiri ‘moh’ anak-anak kita. Menjadikan anak yang anti-tv/ps dan pro-baca (seperti keluarga Ito Suhunan Situmorang), sangat sulit. Lalu apa alternatif dalam mendisilinkan anak?
Saya belajar dari Tuhan Yesus, guru besar itu, Dia mendisiplinkan muridNya (Disciple (of Christ):murid, dari kata disiplin) dengan pengajaran yang benar dan penuh kasih. Dia pernah marah dan meporakporandakan jualan umat di rumah ibadah yang diubah menjadi pasar. Dia datang dari Allah yang penuh kasih dan pemurka atas kejahatan umatNya. Dia menghukum bangsa Israel ke Mesir menjadi hamba dan menjadi bangsa tawanan ke Babel, karena menyakiti hati Bapa. Tapi Dia adalah Bapa yang pengampun, tidak ada dendam atas kekeliruan umatNya, kasihNya merindukan kembaliNya anak yang hilang.
Jika dengan kasih sayang dan kesejahteraan justru membuat anak-anak kita menjadi melempem dan tidak kuat mengarungi kehidupan, adakalanya pendidikan kita di tingkatkan untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan handal dalam mengarungi kehidupan.
Meskipun kekerasan telah banyak ditolak dalam pendidikan, jika ternyata mental bangsa menjadi lemah, tidakkah kita akan memikirkan alternatif lain dalam memberdayakan anak-anak bangsa?
Marilah kita terus memaknai bahwa pendidikan di tanah batak yang bernuansa kekerasan, bukan karena jiwakanibalis, tapi ungkapan kasih sayang untuk membentuk anak menjadi anak yang kuat, disipli, mandiri dan bertanggung-jawab.

thanks untuk realita yang dicerpenkan oleh Ito Saut Poltak Tambunan. Sebuah pembelajaran untuk memaknai hidup.

………….pulanglah Paiman, ayah menunggumu dengan cinta dan kerinduan.

 

Marturia Tambunan

Thanks u/ jempol yang cantik.

September 24, 2009 at 3:42pm · Report

N Baho Parel

Ini topik menarik dan layak dibicarakan.

Pendidikan yg sebenar2nya tdk akrab dg kata ‘kekerasan’, dalam Hukum mungkin y. Tetapi kata ‘Motivasi’ memang terkait dg 2 hal + or – (penghargaan dan hukuman). Penghargaan yg ideal tidak mengarah pada ‘pendewaan’ (kesombong), ga pantas kalau karena anak SD rangking dihadiahi Mobil. Sebaliknya, Hukuman … See Moretidak boleh ‘mematikan’ (depresi) maka kalau anak SD merusak TV, tangannya tidak harus dilukai. Realitas yg kita hadapi barangkali lupa bahwa :

1. penghargaan yg kita berikan pada seseorang seharusnya berdasarkan simpati/ pengakuan atas keberhasilannya dan bukan mempertontonkan apa yang mampu kita berikan, sebaliknya
2. hukuman yang kita bebankan seharusnya memperbaiki dirinya bukan sebagai pelampiasan amarah kita.

September 24, 2009 at 3:43pm · Report

Marturia Tambunan

Benar x ito. Untuk keseimbangan ini yang sering sulit terjadi dalam hubungan orangtua-anak. Semoga ortu boleh memberi penghargaan melalui pengakuan dan hukuman sebagai pendisiplinan.

September 24, 2009 at 3:47pm · Report

Ganda Tambunan

Ketika saya menonton film2 amerika,saya sering heran knp anak2nya bs patuh ketika org tua menyuruh utk tidur tdk melawan,ktk ora tua melarang pergi tdk menjawab. Ksmpln yg bisa saya petik,bhw dalam mendidik khususnya dalam RT,logika atas apa yg kt sampaikan harus difahami oleh anak2 dan penuh kesabaran. Ksmpln atas pendidikan kita,msh dominan emosional (memberi hadiah yg WAH atas prestasi yg wajar dan hukuman yg berat atas kesalahan yg msh bs dimaafkan).

September 24, 2009 at 3:57pm · Report

Suhunan Situmorang

bagus ternyata pikiran-pikiran ito boru Tambunan ini menyangkut pendidikan, ketahuan keturunan orangtua yg dua-duanya guru.

terus menulis ya ito, menarik sekali tulisanmu. mauliate sdh di-tag.

September 24, 2009 at 6:44pm · Report

Nestor Rico Tambunan

Ito seorang penulis yang baik. Lepas dari ketertiban kalimat, (mungkin karena ditulis spontan – dan toh bisa diedit), tulisan ini sudah menyentuh dasar satu topik: cara dan tujuan pendidikan. Pendidikan sekarang dikaitkan dengan HAM, hak azasi dan macam-macam, tapi justru melahirkan anak-anak yang umumnya lembek, tidak ngerti moral, etika-etika … See Moredasar. Jadi, artikel seperti ini mestinya dimuat di media massa umum. Satu lagi, itu harus tetap menulis, dengan materi dan pendekatan lain soal pendidikan. Mudah-mudahan bisa jadi buku. Jalan terus ito

September 24, 2009 at 7:51pm · Report

Rodion Tampubolon

Yang sama pentingnya dengan cara mendidik (keras atau lunak) adalah tujuan pendidikan. Sering sekali kita menginginkan seorang anak menjadi ‘apa’ (misalnya jadi sarjana ini dan itu dll), tetapi kita kurang memahami mau jadi ‘siapa’ mereka kelak. Apapun cara pendidikan, seharusnya tujuannya adalah mendorong mereka menjadi diri sendiri, menjadi … See Moremanusia yang bebas menemukan dirinya, sampai akhirnya mereka dapat mengaktualisasi diri. janganlah kiranya seorang anak “dipaksa” menjadi orang lain oleh orang tua atau oleh keadaan. Sebab pendidikan tidaklah hanya membuat manusia berhasil di satu segi (misalnya menjadi pengusaha, atau penguasa), tetapi secara kejiwaan mereka juga harus menjadi diri sendiri yang bertanggung jawab. Maka tidak mengherankan (contoh negatip) bahwa banyak orang yang berhasil secara ilmu dan kedudukan, tetapi tidak bertanggung jawab sebagai manusia kepada sesamanya (sesungguhnya dia tidak membawa manfaat apapun bagi orang lain, sebaliknya mencelakakan banyak orang).

September 24, 2009 at 8:16pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Itoku yang baik, tidak sia-sia aku minta komenmu. Luar biasa. Tapi ada satu hal yangbenar-benar membalikkan logika saya:
<saya seperti berada ya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan … See Moreterbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)>.

September 24, 2009 at 8:37pm ·

Saut Poltak Tambunan

Pola pendididikan kita yang terlalu permisive kepada anak-anak membuat orang tua kurang berwibawa. Kita makan ceker dan kepala ayam, atau kepala ikan cuek, spy anak-anak kita dapat yang terbaik. kadang miris rasanya tulang ayam masih berdaging sudah disishkan di pinggir piring lalu ambil potongan daging lagi, lalu kita menjadi petugas kebersihan … See Moremenelisik sisa-sisa makanan anak kita. Tadinya saya berpikir orang tua kita dulu yang kepingin enak sendiri, sekarang saya sadar – pola itu sangat efektif utk menempatkan orang tua pada tempat yang seharusnya, shg tidak dipecundangi anak-anaknya seperti sekarang. Dulu Bapak berdeham saja kita sudah takut, sekarang kita melotot malah diketawain.

Terima kasih, Ito, paparan Ito membuat cerpen saya ‘Menunggu Matahari’ semakin lengkap memberi inspirasi bagi banyak orang. semoga bermanfaat.

Semoga ‘Paiman-Paiman, para ayah dan Minar-Minar’ membaca ini.

September 24, 2009 at 8:45pm ·

Melody Martinez

Thx utk tag-nya. Sy menganggap diri saya sbg seorang dosen yg sgt demokratis. Memberi pilihan bebas bagi mahasiswa utk memilih apa yg perlu bagi dia. Karena pendidikan tinggi adalah “andragogy” yaitu pendidikan orang dewasa. Kadang2 itu sangat efektif bagi mhs yg cukup cerdas. Sayangnya cuma kadang2. Saya mendapat pencerahan dr tulisan ini, bhw mendisplinkan mereka jg harus menjadi agenda dlm kelas. Again thx 🙂

September 24, 2009 at 10:01pm · Report

Marturia Tambunan

@Suhunan S; Nestor RT: Thank untuk ito-itoku yang baik, menyemangati aku menjadi lebih berani lagi. Hehehe, tadinya sungkan men-tag ‘orang-orang besar’, kepada para penulis Indonesia, tapi saya luar biasa bangga dengan dukungannya. Thanks ya.
@Ganda T; Rodion T: Ya, kadang-kadang, tujuan membuat orang tua memaksa kehendak, tapi pendidikan yang … See Moremembebaskan itu yang perlu diterapkan pada masa kni, sehingga anak-anak cinta pendidikan tanpa sebuah paksa.
@ SST: Kami juga mengalami, pengalaman ito, menjadi petugas kebersihan makanan anak-anak, tapi mereka haru dididik untuk menghargai makanan yang kita sediakan buat kesehatan mereka adalah berkat Tuhan, yang suatu saat boleh hilang dari diri mereka jika tidak dihargai dan disyukuri. Thanks juga untuk ito yang memintaku mengkomen, sehingga menjadi timbul pemikiran untuk menulis pola pendidikan ini.

September 24, 2009 at 10:07pm · Report

Marturia Tambunan

@Melody: Thanks juga, jika membaca tulisan ini memberi pencerahan bagi dosen briliant sepertimu.

September 24, 2009 at 10:10pm · Report

Ganda Tambunan

Aku tunggu tulisan/bukumu,seperti saran sdr kt nestor rico,mungkin mimpi bapak kt sbg guru bhs indonesia yg memberi nama saya sastrendra akan terwujud setelah dia tiada. Smg sukses.

September 24, 2009 at 10:24pm · Report

Marturia Tambunan

Oke. Kita mulai bersama.

September 24, 2009 at 11:15pm · Report

Erlina Ch D Pardede

Saya pernah menyiar di radio Diakonia HKBP Pematangsiantar, soal pendidikan anak-anak sekolah. Karena kekerasan juga terjadi di sekolah, dari guru terhadap murid-muridnya. Dalam dialog interaktif, seorang guru perempuan menentang habis pernyataan saya, bahwa “membangun komunikasi jauh lebih baik dari pukulan.” Guru tersebut mengatakan: “kalau saya… See More nasehati murid itu, dia tetap tidak mau membuat PR. Tapi kalau saya pukul, maka dia mau membuat PR. Jadi kan lebih baik dipukul ….”
Hhmm ….. saya tetap percaya bahwa pukulan itu akan membekas dalam sanubari anak dan ketika dia dewasa, dia akan mengulang itu entah kepada istri atau anak-anaknya. Bukan pemukulan yang bisa membuat anak menjadi berani, kuat dan tegar. Tetapi perhatian melalui komunikasi vis a vis dan disiplin ….

September 25, 2009 at 12:46am · Report

Basar Simanjuntak

Memang dalam kepelbagaian manusia, ada yang senang menerima “budaya” pukulan untuk semakin maju, walau itu tidak mutlak berlaku bagi setiap orang.

September 25, 2009 at 5:09am · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Sy setuju bahwa pemukulan bknlah yg terbaik untuk mendidik, tp sprti kt gr itu, kadang tindak kkrasan bs m’ubah

September 25, 2009 at 6:36am · Report

Erlina Ch D Pardede

Cukuplah pertemuan-pertemuan lokal, regional, internasional tentang “Anti kekerasan terhadap perempuan dan anak”. Cukuplah 1 dekade di gereja-gereja sedunia (WCC, LWF, CCA dll) yang dengan sengaja menjadikan tahun 2000-2010 menjadi tahun: “Decade to overcome violence against women and children”. Gereja sudah masuk dalam arak-arakan ini.
Cukuplah… See More semua usaha untuk menyadarkan dunia bahwa kekerasan itu harus dihentikan, apapun bentuknya, apapun tujuannya ….
Yakinlah kawan, kekerasan tidak akan mengubah apapun. Mungkin untuk tujuan sementara bisa, tetapi pendidikan dengan kekerasan itu hanya akan melahirkan “monsters” dalam keluarga, masyarakat dan gereja.
Cukuplah melihat dan mendengar berita tentang kekerasan di sekitar kita …
Mari kita masuk ke arak-arakan gereja sedunia itu …

September 25, 2009 at 2:05pm · Report

Jojor Silalahi

Dalam 2 Sam 7:14, tertulis bagaimana Allah sebagai Bapa akan mendidik Salomo dan anak-anak Daud lainnya dengan rotan dan pukulan. Yang menjadi pertanyaan : “Apakah polapndidikn ini masih relevan ? Seorang tokoh gereja pernah berkata ketika mendidik anak, orang tua membutuhkan rotan di tangan kanan dan apel di tangan kiri. Rotan untuk memukul dan … See Moreapel untuk menyatakan kasih dan perhatian. Saya setuju pemikiran ini dengan penekanan bahwa jika pukulan dibutuhkan maka hal yang patut diingat adalah orang tua harus menjelaskan mengapa ia harus memukul. Hal ini sangat penting supaya anak tidak dendam dan sakit hati pada orang tuanya. Ini menurut saya yang kurang dalam pendidikan orang tua masa lalu. Anak langsung dipukul tapi tidak ada komunikasi setelah pukulan. Akhirnya anak dendam dan sakit hati ama orang tuanya. Hal ini ada hubungannya nggak dengan kebanyakan syair dalam lagu Batak yanglebih mengenang kasih ibunya daripada Bapaknya ? Karena banyak orang Batak sakit hati dengan Bapaknya ?

September 27, 2009 at 2:56pm · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Kita punya pandangan & perjuangan yg utk memasuki arak2an Dewan Gereja Dunia utk menentang setiap kekeraan terhadap anak & perempuan. Saya hanya mjawab komen orang mgnai orang Batak yg dsebut sebagai orang tua yang keras memberlakukan anaknya. Jadi saya katakan ketika sistim itu terjadi, orang Batak banyak berhasil, apakah karena rasa sakit… See More ingin ‘penindasan’ itu, atau karena dia termotivasi dengan pukulan itu mjadi orang besar? Ternyata ketika orang batak mulai agak lunak kepada anak-anaknya, mental orang batak banyak yg ‘mundur’ dlm mjalani hidup, termasuk mghormati khidupan. artinya ahli-ahli pendidikan belum memberi alternatif untuk menjawab persoalan, karena sampai sekarang, sekolah-sekolah masih lebih diminati kalau guru2, tegas, disiplin dan memberi hukuman kepada orang yang membuat ‘perlawanan’; seperti tidk mgerjakan tugas, dibnd sekolah yg tdk peduli pd murid2ya. Saya hanya sedang memikirkan bgimana m’didik tanpa kkrasan,tp punya daya juang.

September 27, 2009 at 5:25pm · Report

Marturia Tambunan

@Jojor:Pandangan itulah yg masih dianut dalam sistim pendidikan, hanya orang lebih suka menghukum daripada menyediakan apel mengobati lukanya, klau boleh memang mendidik tanpa kekerasan, tp ternyata sampai sekarang belum ada solusi yang ditawaran khususnya dalam pendidikan keluarga yang saya pikir 75% mempengaruhi karakter si anak. semoga desertasimu nanti boleh meneliti pendidikan di tanah batak.

September 27, 2009 at 5:30pm · Report

Revianna Dairi

hi..inang sorry br baca notenya, saya rasa jaman sdh berobah, kekerasan tdk lg merupakan cara yg baik untuk mendidik anak, contoh inang, anak-2 yg di rumah, septi n lorenzo, klo saya suruh mereka dengan nada yg keras sedikit aja pasti melawan, tdk mau mengerjakan yg saya suruh, tp klu mereka saya perintah dengan lemah lembut pasti mereka akan mengerjakan apa yg saya suruh tersebut.

September 28, 2009 at 3:36pm · Report

Marturia Tambunan

Tq.

September 28, 2009 at 9:29pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Terima kasih teman-teman. sosok Paiman dalam cerpen Menunggu Matahari adalah potret kemiskinan struktural dalam masyarakat marginal seluruh masyarakat kita. Ada yang mencintai anaknya dengan disiplin keras, ada juga yang ‘keras’ tanpa alasan karena karakternya yang memang terbentuk bersama kemiskinan itu. Sedang sebagian lagi – menyayangi anaknya… See More … Read Moredengan cara memberikannya kebebasan berlebihan, (karena kemiskinan, ia tidak bisa memberi sesuatu yang menyenangkan anaknya, kecuali kebebasan), yang akhirnya kebablasan.

Sai mulak, sai mulak, ho naung laho jalangi … .

October 1, 2009 at 12:03am ·

SAE DODAK!!

Posted: February 4, 2011 in Cerita Pendek

Bah, sae dodak!

AKU baru saja menutup pintu kilang ketika si Pesong muncul bergegas dari seberang jalan. Bahunya bongkok miring ke kanan. Langkahnya menyeret kaki kiri yang cacat. Mulutnya terbuka sehingga giginya yang hitam menonjol itu selalu tampak kendati dia tidak tertawa.

Ah, orang tua ini lagi. Pasti dia akan mengajak aku mengobrol ngalor – ngidul seperti biasanya, padahal aku sudah lelah. Ingin lekas istirahat setelah sepanjang siang tadi terpasung melayani panduda atau pelanggan jasa kilang penggilingan padi ini.

Si Pesong, mungkin tujuhpuluh tahun umurnya. Tak ada yang tahu nama sebenarnya. Kampungnya entah di mana dan keluarga siapa. Ia tak punya pekerjaan, apalagi rumah. Malas mandi dan bajunya tidak pernah ganti, hingga baunya tercium ke sekitarnya. Dia suka tertawa dan menggerutu sendirian. Karena itu orang bilang dia pesong. Gila.

“Ah, sae dodak!” katanya putus asa sesampainya di depanku sambil menyodorkan sehelai koran lusuh bekas pembungkus. Wajahnya yang ‘semrawut’ tampak lucu.

“Apa lagi?” tanyaku tak bergairah, sambil mengibaskan dedak dari rambutku. Tapi seperti biasanya, aku tidak tega menunjukkan keenggananku. Sebab aku tahu hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara.

Orang tua ini segera nyerocos mengenai situasi politik. Jakarta ramai lagi. Mahasiswa dan polisi saling seruduk di Gedung DPR tapi masyarakat juga yang korban. Pendemo makin berani melawan polisi.

“Ini gara-gara hukum yang tak beres-beres. Endonesa gawat! Benar-benar gawat. Sae dodak!” katanya.  Bicaranya yang cepat dan air liurnya yang membuncah di sela giginya yang besar-besar membuatnya susah menyebut Indonesia.

“I n d o n e s i a,” kataku membetulkan.

Ia seakan tak mendengarnya. Ia teruskan mengoceh. Rampok merajalela lagi. Supir taksi dibunuh. Nasabah bank ditembak. Anak sekolah berkelahi tiap hari hingga ada yang mati. Pabrik narkoba digrebek. Penggusuran, kebakaran, pemerkosaan.

“Bah, bah, bah! Amang ooooi, Amang!” si Pesong  mengeluh  panjang. “Aduuuuuuhhh, Bapak.”

“Jakarta memang begitu. Mau apa?” sahutku dingin membuatnya terdiam. Kutunjukkan pula tanggal koran itu. “Lihat. Ini Koran lama. Beritanya sudah basi.”

“Ya, maksudku, ini ‘kan sudah mau pemilu …!”

“Bah, Pemilu bagaimana? Sudah lewat, hooii! Tapi sudahlah, mau diapakan Pemilu? Kau, keponakanmu – isteriku, para panduda, perduli apa mereka dengan kita? Kenapa pula kita harus mikirin mereka?

Orang tua ini mengerutkan dahinya yang kotor, tampak kecewa dengan sikapku yang dingin. Kecewa berat. Tiba-tiba aku menyesal sendiri. Aku sebenarnya tidak bermaksud melecehkannya. Aku hanya sedang malas bicara.

“Ada berita apa di sini?” tanyaku kemudian coba menghiburnya sambil membuka koran lusuh itu.

“Tidak ada apa-apa,” balasnya lesu sambil mengambil koran itu dari tanganku. Ia jengkel padaku.

“Begitulah hidup di kota besar,” kataku akhirnya, coba menetralisir emosinya. “Masyarakatnya individualis, materialis dan konsumtif. Tempo hari kau bilang politik itu kotor, makanya kau tak mau ikut-ikutan. Sekarang kau banyak protes. Sebaiknya kau terjun saja ke politik biar bisa membereskan itu semua.”

“Aku? Si Pesong gila terjun ke politik? Ha ha ha !” Si Pesong tertawa ngakak, mulai bergairah. Aku tahu ia paling suka dipuji.

“Ooo, si Pesong rupanya. Sudah makan kau, Tulang?” isteriku menyapa sambil melongokkan kepalanya dari jendela. Si Pesong menggeleng, ia masih ingin mengobrol.

“Tapi … ah, sae dodak,” kata orang tua itu lagi seakan putus asa. “Benar-benar sae dodak. Polisi sudah kewalahan. Orang-orang di Jakarta pun sudah masa bodoh. Egois. Tidak mau saling tolong.”

Kukeluarkan rokok dari sakuku. Masih ada tiga batang dalam bungkusnya. Kuberikan semua dan matanya kontan berbinar. Dia ambil satu dan dinyalakan. Sisanya dimasukkan ke buntalan kainnya.

“Ck, ck, ck!” aku mendecakkan lidahku, berlagak serius. “Semua mata anak bangsa ini menatap ke ibukota Jakarta. Lewat Koran dan tv tiap hari kita saksikan Jakarta babak belur dengan luka-lukanya yang borok bernanah. Akan ke mana masa depan negara kita ini?

“Jakarta sudah sakit berat,” jawab si Pesong sekenanya. Mulai asyik sendiri menikmati rokok di tangannya.

Beberapa anak kecil pulang dari memancing ikan di danau melintas di depan kilang. Mereka berteriak mengejek si Pesong.

“Hoi, Pesong, Amerika payah! PSMS keoook! PSMS banci!”

“Mana bisa!?” balas si Pesong berteriak. “Biar gunung runtuh, PSMS tetap ..!”

“Tetap gila! Si Pesong tetap gila! Gila! Gila!”

“Bapakmu yang gila! Suruh bapakmu ke sini! Aku nggak takut!” balas si Pesong. Ia membuat lingkaran di tanah dengan jempol kakinya. Lalu menginjak-injaknya dengan gemas. “Ini bapakmu! Ini ompungmu! Nih! Nih!”

“Pesong sinting! Pesong PKI!”

Si Pesong memungut batu lalu melempar anak-anak itu. Tetapi tangannya yang kurus itu terlalu lemah. Lemparannya tak sampai hingga  anak-anak itu semakin berani mengejeknya. Sebagian berjoget mengejek. Sebagian lagi menirukan gerak tubuh si Pesong yang cacat dengan langkah terseret-seret.

“Heh, sana! Pulang semua!” aku ikut marah sambil berlagaK akan memungut batu. Anak-anak itu lari tunggang langgang. Sampai jauh teriakan mereka mengejek si Pesong masih terdengar.

“Sudah, kau pergi dulu. Besok saja kita mengobrol. Aku capek. Hari ini aku banyak kerja.”

Si Pesong kecewa. Wajahnya kecut. Dari mulutnya yang tenganga air liur tampak menggantung lalu menetes ke bajunya. Ia masih ingin mengobrol, sangat ingin.

“Pergilah,” kataku lagi, menyodorkan dua keping uang logam limaratusan.

Ia menatap mataku sejenak. Sendu. Diambilnya uang itu dari tanganku lalu berbalik pergi. Jelas ia tak puas dengan sikapku, tapi aku mau apa? Aku capek. Aku mau mandi, makan, lalu tidur.

Isteriku muncul pula dengan sebungkus nasi dan sekerat ikan arsijk mujahir. Si Pesong menerima bungkusan itu sambil bergumam:

“Suamimu ini sakit. Ia perlu berobat!”

Isteriku tertawa. Si Pesong selalu berkata begitu kalau jengkel padaku.

Si Pesong pergi, terseok-seok menjauh. Aku masuk ke rumah. Memang, tak biasanya aku begitu dingin padanya. Tapi tak mengapa. Besok ia akan datang lagi.

Almarhum kakekku adalah orang pertama yang membuka usaha kilang padi di daerah sini. Pelanggan atau panduda datang sendiri membawa padinya untuk digiling menjadi beras. Juga datang dari kota-kota kecil lain. Juga dari pulau Samosir, naik kapal kayu menyeberangi  Danau Toba. Dulu, tentara Jepang pun membawa padinya kemari.

Kilang padi ini terletak tak jauh dari pinggir danau toba. Di bagian  muka bangunan tua ini masih tertera nama usaha: Toek-tak Mandoeda eme!

Masih dalam ejaan lama. Manduda eme artinya menggiling padi. Panduda berarti pemilik padi yang akan digiling. Sedang tuk-tak sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Hanya menirukan bunyi mesin huller tua itu. Tetapi karena usaha kakekku ini begitu terkenal, nama tuktak jadi monumental. Anak cucunya pun selalu dikenal dengan identitas keluarga tuktak.

Dalam proses kerja menggiling padi, padi dituang dari karungnya lewat corong besar yang ada di lantai atas putaran penggiling.  Sekarung demi sekarung. Beras akan keluar dari corong kecil di bagian muka dan dedaknya mengucur di bagian belakang. Dedaknya diambil untuk makanan ternak.

Ketika padi panduda pertama sudah habis tergiling, putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Padi putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Karena itu padi panduda harus segera dituang dan  petugas dari atas akan berteriak memberi aba-aba: Saaee dodaaaak!!

Secara harfiah sae dodak berarti ‘selesai dedak’. Teriakan pekerja itu adalah pemberitahuan bahwa beras dan dedak berikut adalah milik panduda lainnya. Karung penampung beras harus segera ditukar dengan milik panduda lain. Harus diteriakkan keras-keras, agar terdengar ke dalam ruang dedak di bagian belakang yang bising dengan suara mesin.

Dari kilang padi ini jargon sae dodak merebak ke mana-mana. Sae dodak menjadi ungkapan rasa tak puas, putus asa dan kecewa. Anak tak lulus sekolah atau tak naik kelas, orang tuanya bilang sae dodak. Padi di sawah dimakan hama, ah, sae dodak. Begitu pula dengan kekeliruan meletakkan buah catur di lapo tuak: Sae dodak!

Si Pesong tahu betul jargon itu. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar aku drop out dari kuliahku dan berkali-kali ditangkap polisi karena ikut unjuk rasa di Jakarta. Ketika kuputuskan meninggalkan Jakarta dan pulang kampung untuk mengurusi warisan kilang padi ini, ia mengejek aku dengan jargon sae dodak itu. Ketika Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani mulai disebut-sebut orang dalam kasus Bank Century,  jauh-jauh hari dia sudah bilang sae dodak.

Si Pesong tak jelas datang dari mana. Sejak belasan tahun lalu orang tua ini sudah berkeliaran di sekitar sini. Semasa nenekku masih hidup, si Pesong ini sering diberi makan. Ketika itu dia tampak sudah setua sekarang ini.  Setelah itu menghilang dan baru muncul lagi bebertapa tahun belakangan ini. Kabarnya ia ditangkap keluarganya untuk diobati. Sempat sembuh, lalu kumat lagi.

Kadang aku memberinya pekerjaan sekedar menjaga padi di pelataran jemur agar tak dimakan ayam atau biri-biri milik orang Bengggali yang tinggal  di belakang rumah. Tapi dia malas bekerja. Selalu cari alasan. Ia lebih suka nongkrong sepanjang hari di muka kedai si Rapolo. Menguping debat-kusir orang-orang  di sana. Mulai dari olah raga, politik dalam dan luar negeri, ekonomi, militer, teroris dan segala macam. Silang pendapat dalam debat itu direkamnya dalam benaknya lalu disoalkannya padaku.

Satu-dua kali seminggu ia pasti datang padaku dengan macam-macam issue. Kulayani saja dia bersoal-soal. Bagiku itu menghibur. Membuatku lupa akan penat seharian mengurusi kilang padi.

Aku tahu semua yang disoalkannya itu bukanlah pendapatnya. Cuma menguping pendapat orang lain. Tapi aku suka. Aku senang. Memang aku dan si Pesong terjebak dalam pertemanan yang aneh. Aku selalu sibuk mengurusi usaha kilang padi warisan ini, karena itu tak punya waktu untuk duduk berleha-leha dan berdebat di lapo. Sedang si Pesong juga senang padaku, karena hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara. Tambah lagi aku selalu memberinya rokok dan isteriku memberinya makanan.

Ia suka koran. Ia bisa membaca koran bekas sampai berjam-jam. Isi koran yang dianggapnya tak beres, selalu dikomentarinya dengan: Sae dodak! Kadang aku sengaja memancing emosinya dengan cara  menempatkan pendapatku berseberangan dengannya. Lalu kami berdebat sampai ia jengkel lalu berkata: Bah, sudah sae dodak, kau sudah ikut sakit!

Masih sering ia mengeluhkan peristiwa  mahasiwa Trisakti yang mati tertembak di kampusnya. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar jumlah korban mati dalam bencana gempa di Sumatera Barat.

“Kenapa bukan aku saja yang mati, ya?” katanya sekali waktu. “Orang gila mati tidak ada yang sedih. Semua orang senang. Tapi … sebenarnya mana lebih bahaya, aku yang orang bilang gila atau mereka yang gila-gilaan itu?”

Kadang ada saja omongannya yang menghisap aku pada pusaran  perenungan yang dalam. Banyak yang tak sengaja kupelajari dari dia.  Kalau saja tidak gila, ia pasti pintar. Sekarang ke-tidakberdayaan-nya membuat semua orang merasa berhak mengejeknya.

Berminggu minggu kemudian ia tak muncul. Aku tidak ambil opusing. Itu biasa. Lagi pula aku sibuk belakangan ini.  Si Hercules, anak abangku mau kaiwin. Aku kebagian tugas mengurusi macam-macam keperluan pestanya nanti.

Suatu hari, sudah hampir tengah malam aku tiba di rumah. Kepalaku pening. Rasa kesal, marah dan sejuta rasa tak enak lainnya menyatu menggerogoti perasaanku. Bapak si Hisar dari kampung sebelah, kemarin sudah setuju menjual kerbaunya untuk keperluan pesta itu. Hari ini mendadak ia batalkan dengan asalan yang tak masuk di akalku. Padahal hari pesta tinggal empat hari lagi. Cari babi yang besar pun sudah sekarang ini. Penyakit babi mengganas membuat ternak babi punah di mana-mana.

Pulang dari rumah bapak si Hisar, aku dapati si Pesong terbaring melingkar di muka pintu gerbang. Ini tidak biasa. Takut jadi kebiasaan nanti, maka aku usir dia.

“Aku ….. !” desah si Pesong coba menjelaskan.

“Pergi kau!” bentakku. “Diberi hati minta jantung kamu! Diberi makan minum eee malah tidur di sini …!”

Si Pesong terbatuk-batuk. Tubuhnya yang kurus itu terguncang-guncang. Sambil menatapku sendu, ia memenahi tikas lusuh dan buntalan kainnya yang kotor. Mulutnya terkunci. Tanpa bicara sepatah pun, ia tertatih-tatih menyeret langkahnya. Pergi. Menghilang di kegelapan malam.

“Tampaknya dia sakit,” kata isteriku.

“Sakit apa? Orang gila tidak pernah sakit. Dari puluhan lalu ia sudah begitu, tapi mana mau dia mati?” kataku ketus sambil menutupkan pintu. “Orang gila sudah matinya, tahu?”

Besok paginya, seperti biasa aku membuka pintu jendela kilang. Si sordang, anak kampung yang bekerja harian di kilang padi ini datang sudah hampir jam delapan. Dan, ia membuatku  terkejut setengah mati.

“Ramai sekali orang di pantai situ,” katanya. “Si Pesong mati. Ditemukan sudah kaku di dalam gorong-gorong besar itu.”

Ya, Tuhan! Sejuta petir pun tak akan membuatku sekaget ini. Di pantai danau situ memang berjajar gorong-gorong baru berdiameter satu meter yang akan dipasang menggantikan parit lama. Hanya dua ratus meter dari rumah ini.

“Kau sudah tengok? Benar-benar si Pesong?”

“Kata orang sih si Pesong.”

“Bah, mestinya kau tengok dulu!”

“Bah, untuk apa pula orang gila mati ditengok?’ balas si Sordang tertawa.

Aku bingung. Kulihat isteriku bergegas pulang dari tepi danau. Tangannya kosong, tak jadi beli ikan.

“Paaakk ….!” Suaranya tersedak. Air matanya mengambang.

Aku tak menunggunya selesai bicara. Aku berlari sekencangnya menuju pantai,. Tapi orang-orang sudah bubar. Tubuh pipih yang sudah membeku itu telah diangkut petugas ke rumah sakit. Aku termangu. Ingin menjerit sekeras-kerasnya memanggil namanya.

Si Pesong telah pergi. Ini pertama kali aku sadar bahwa dialah satu-satunya sahabatku. Padahal tadi malam ia ke rumahku. Padahal mungkin hanya untuk minta minum, makan, obat atau apalah. Padahal mungkin hanya mau pamit. Padahal …!

Aku bersandar lemah di sisi gorong-gorong. Kutelan ludahku. Pahit. Ah, benar-benar sae dodak!

***

Menunggu Matahari

Posted: February 4, 2011 in Cerita Pendek

: Saut Poltak Tambunan

SEMUA orang di kampung ini pasti masih ingat bahwa ayahku pemarah. Ayahku sadis. Ayahku sering berlebihan memukuli anak-anaknya. Orang-orang kampung sering memperingatkan ayah, tetapi tidak pernah diperdulikan. Bahkan sekali waktu ia pernah menantang Kepala Kampung yang datang mencoba menenangkannya.

“Aku punya hak mengatur rumah tanggaku ! Mengatur anak-anakku ! Kalian mau apa, hah!?” begitu ayah menantang semua orang. Tubuhnya kekar dan otot lengannya menggerimpal setiapkali ia mengepalkan tinjunya.

Kalau sudah begini Pak Kepala Kampung hanya bisa mengangkat bahu. Ayah memang keras kepala. Selalu tidak mau menerima pendapat orang lain. Dianggapnya mereka usil mencampuri urusan rumah tangganya.

Di balik kamar ayah, masih tergantung sebilah rotan panjang semeter. Sudah tua dan coklat menghitam warnanya.  Benda mati itu adalah monster amat menakutkan di tangan ayah, terutama bila tengah malam pulang dari lapo tuak ‘simpang tolu’ dengan buar bau tuak yang keras.

Ayah suka mabuk. Bila mabuk ia tidak pernah perduli apa-apa. Kadangkala ia mengamuk tak jelas sebabnya, persis orang kesetanan. Tak perduli tengah malam. Biasanya Pamian – abangku yang menjadi sasaran. Rotan itu akan meliuk-liuk di udara sebelum menghantami tubuh Pamian. Ibu hanya bisa menangis di sudut kamar. Tidak bisa mencegahnya.

Tetapi dalam keadaan tidak mabuk pun ayah tetap saja sadis. Sedikit saja tak berkenan di hatinya, ia bisa mengamuk sepanjang hari. Bahkan sesekali ibu juga ikut mendapat pukulannya.

Kepadaku, sikap ayah memang sedikit berbeda. Meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak pernah dapat marah. Sesekali aku dipukul juga. Tapi tidak setiap hari seperti Pamian. Pukulan yang kuterima pun tidak separah yang diterima Pamian.  Barangkali karena aku anak perempuan, apalagi  sejak kecil sering sakit-sakitan.

Dasar anak kecil, sikap ayah yang sedikit berbeda itu membuat aku amat manja. Bertelingkah cengeng tak alang kepalang. Sedikit saja merasa tak enak, aku langsung merajuk dan menangis. Jika ayah mendengar aku menangis. Ia akan marah besar.

Ah, inilah sumber malapetaka itu. Entah karena terlalu sayang dan gemas, abangku ini sering menggodaku. Ia suka mengacak kepang rambutku, atau mengejek kulitku yang hitam – yang kata dia seperti orang Keling. Kalau sudah begini aku sengaja menangis keras-keras dan ayah akan memukul Pamian.

Kasihan abangku. Melihat ia dipukuli begitu, aku sering berbalik menjadi ketakutan. Rasanya amat menyesal lalu menangis sesenggukan di pelukan ibu. Sehabis dipukuli, Pamian akan masuk ke kamarnya yang pengap dan menahan tangisnya di sana.

Dari celah dinding aku mengintip diam-diam dan menatapnya sendu. Menyesal. Tetapi sungguh aku tidak tahu bagaimana harus menunjukkan penyesalanku. Kadang esok paginya sepotong kue atau uang jajanku kubagi untuknya. Aku memang selalu mendapat uang jajan dari ayah setiap akan berangkat ke sekolah. Tidak seperti abangku.

Pagi itu, sebelas Mei sepuluh tahun yang lalu. Ah, hari itu tak pernah lepas dari ingatanku. Ibu ke sawah, sedang ayah seperti biasanya duduk berguncang kaki, mengobrol atau main catur di lapo tuak ‘simpang tolu’.  Sehari-hari memang ibu yang ke sawah. Ayah hanya ke sawah ketika mangombak balik – mencangkul untuk membalik tanah, sebelum diratakan untuk menanam padi), dan manabi – memanen padi.

Jam sembilan pagi sekolah sudah bubar. Ada encik guru yang menikah. Pamian. sudah kelas empat, aku kelas dua. Abangku ini mengajakku pulang lewat  jalan pintas saja. Lewat tebing dan pematang sawah. Tadi pagi sebelum berangkat aku memang sudah mendengar ibu menyuruh Pamian agar pulang lebih cepat. Kami mau diajak ke pesta orang kawin, ya, encik guru itu.

Lewat jalan setapak di celah pekuburan, sepasang kupu-kupu putih mungil terbang melintas di atas kepalaku. Aku tercingangah sejenak. Cantik sekali berloncatan di atas warna-warni bunga pekuburan.

“Mian! Aku mau itu!” kataku menunjuk kupu-kupu itu.

“Bah, sudah terbang, Minar,” sahut Pamian lirih. “Sudah, besok aku cari yang lebih bagus.”

“Tapi, aku maunya itu!” aku merengek.

“Kita harus cepat tiba di rumah. Nanti ditinggal kita.”

“Nggak! Tangkap dulu kupu-kupu itu,” aku merengek lagi. Seperti biasa, kuperas air mataku.

“Minar, besok kucarikan kupu-kupu yang lebih bagus.”

“Nggak! Nggaaaak! Aku mau itu!”

“Dengar, Minar,” tambah Pamian sabar seraya merangkul bahuku, namun cepat kutepiskan. “Kita mesti pulang cepat-cepat. Kalau kita cepat pulang, kita bisa ikut ke pesta. Di sana kita bisa makan enak.”

“Nggak mauuuuu!” jeritku melengking sambil duduk di atas rumput yang sesiang itu masih basah oleh embun pagi.

Nah, ini senjataku. Kalau sudah begini Pamian tak punya pilihan lain. Ia pasti menurut. Ia memang selalu menuruti apa saja kemauanku. Maka digendongnya tubuhku dengan lengannya yang kurus. Didudukkannya berteduh di tembok kuburan, di bawah pohon mangga yang banyak tumbuh di sekitar situ.

“Tunggu di sini, ya? Jangan ke mana-mana,” pesannya sambil meletakkan bukunya di sebelahku. Lalu ia gegas berlari. Dikejarnya kupu-kupu yang terbang sudah jauh, bagai dua titik putih saja melompat-lompat di atas bunga yang banyak tumbuh di atas tanah pekuburan itu.

Sebentar saja Pamian sudah jauh. Tak kudengar lagi suara kakinya berlari. Bahkan tubuhnya yang kurus dengan kemeja berkibaran sudah tak terlihat lagi dari sini. Sudah menyelinap di antara tembok kuburan yang tinggi-tinggi.

Aku masih duduk. Diam saja. Padahal aku juga kepingin ikut ke pesta, kemiskinan membuat kami jarang makan daging. Sejak di kelas tadi aku sudah membayangkan duduk ramai-ramai di  tikar besar lalu setangkup ‘daging sangsang’ akan datang ke piringku. Biasanya ibu langsung menyisihkannya separuh, dibawa pulang untuk makan malam nanti.

Tetapi aku pembosan, tidak betah lama-lama duduk menunggu. Tanganku mulai mengorek-ngorek lobang semut. Ah, aku punya permainan sendiri. Kucabut  sebatang ilalang rumput jarum. Panjang sejengkal. Bagian ujungnya yang lembut kumasukkan ke dalam lubang semut. Kukilik-kilik. Lalu kulepas. Kutunggu sampai ujung ilalang yang bagian atas bergerak-gerak. Itu berarti ada semut menggigitnya di dalam sana.  Lalu kusentakkan keluar. Nah! Seekor semut hitam — semut bakau besar ikut tersentak keluar dari lobangnya.  Kutangkap seekor lainnya, kuadu setelah sungutnya kuputuskan.

Beberapa lama berkelahi, kedua ekor semut itu sudah terkapar keletihan. Aku menguap,  rasa kantuk menyerang mataku. Tetapi Pamian. belum muncul juga. Bah, ke mana dia? Kepalaku celingukan mencari-cari, telinga kutelengkan. Sepi. Tak satu orang pun tampak di sekitar pekuburan ini. Hanya suara burung dan serangga yang berceriap-ceriap di pohon, ditingkah derik batang rerumpun bambu saling bergesek. Untungnya aku sudah terbiasa, sehingga tidak ada rasa takut.

Cericit suara burung kecil bercumbu menarik perhatianku. Aku menatap ke atas pohon. Aku berdiri. Sepasang burung tiba-tiba terbang entah dari mana. Tetapi perhatianku beralih pada serangkum buah mangga mengkal di ujung dahan sana.

Amboi, asyik juga ! Hal memanjat, bukanlah aneh bagi seluruh anak-anak kampungku. Tidak perduli anak laki atau perempuan seperti aku ini.  Aku segera naik.  Hup! Hup! Sekejap saja aku sudah berada di atas. Bebas semauku memilih mangga yang kusuka. Agak kecut, sebab masih mengkal. Tetapi bagiku cukuplah, sambil berayun-ayun di ujung dahan. Sambil menunggu Pamian..

Tapi tak kulihat Pamian. Padahal dari sini aku bisa melihat lebih jauh. Sejauh mataku melihat, hanya tampak kuburan putih berderet. Bangunannya bagus-bagus  bagaikan gereja. Ada yang bahkan lebih besar dari rumah kami. Di seberang sana – di bawah perbukitan kuburan, tampak sawah bersusun. Lalu rerumpun bulu-duri – bambu yang membentengi kampung kami, pucuknya mengangguk-angguk dicumbu angin,   Durinya panjang berbisa dan mampu menembus alas sepatu.

“Ke mana Pamian ?” pikirku.

Aku naik lagi agak ke atas. Kakiku kecil dan lincah. Naik hingga ke ujung dahan. Haa! Rupanya dari ketinggian sini aku bisa melihat rumah kami.  Nah, itu, beratap seng yang sudah karatan dan bertambal-tambal. Tetapi, Pamian belum tampak juga. Aku naik lebih tinggi.

Tiba-tiba …! Aduh ! Aku hanya sempat mendengar bunyi dahan berderak patah. Krraakk! Lalu tubuhku melayang!

*

AKU sadar – sudah terkapar di atas dipan kecil di rumah Ompu Ombis, Dukun Patah Tulang terkenal di daerah sini. Aku tidak bisa bergerak. Ternyata kaki kiriku patah di di atas lutut. Sekarang dianduh dengan kayu penopang dan diperban tebal sekali.  Ditambah dengan beberapa luka lain di sekujur tubuhku, sempurnalah ngilunya. Aku tak berani menangis, sebab mengeluarkan tenaga sedikit saja membuat rasa sakit itu makin menyentak.

Samar aku lihat ada ibu, menangis. Sebentar-sebentar menghapus air matanya dengan gobar – kain ulos lusuh yang mengampai di bahunya. Tampak juga beberapa orang tetangga  mengelilingi aku. Tetapi tak kulihat ayahku. Tak kulihat juga Pamian. Bah, ke mana abangku? Ayah pasti sudah menghajarnya habis-habisan ! Ohh !! Tiba-tiba  aku merasa takut, belum pernah setakut itu.

“Mak, Pamian di mana?” desahku bertanya.

“Sudahlah, jangan pikirkan lagi dia,” sahut ibu datar.

“Di mana Pamian, Mak?” aku ulangi.

Ibu tak terdiam. Diusapnya wajahku. Tatapannya amat sendu. Ah, tatap mata ini selalu membayangi pikiranku hingga bertahun-tahun kemudian. Perlahan dari bibirnya aku dengar tangisnya.

“Kemana, Mak ?“ aku mendesak.

“Entahlah, ” sahut ibu akhirnya. “Emak tak tahu ke mana dia.”

Sore harinya dari cucu dukun patah tulang  itu kuketahui bahwa siang itu Pamian terseok-seok mendukungku di atas pundaknya. Ia membawaku langsung  ke rumah   dukun patah ini. Minta dirawat.  Setelah itu diam-diam ia pulang sebentar ke rumah. Ia mengambil beberapa potong pakaiannya, lalu menemui ibu di tempat pesta kawin – di kampung tetangga. Ia hanya bilang bahwa aku ada di rumah Ompu Ombis. Sebelum ibu bertanya apa-apa, ia sudah berlari sekencangnya. Entah ke mana dia pergi, ibu tidak tahu. Tidak  sempat mencegahnya.

Menjelang tengah malam, ruang pengab tempatku terkapar itu, senyap. Tadi ayah datang. Aku seakan bisa melihat api berjilam-jilam di atas kepalanya. Ia sudah mencari Pamian ke seluruh pelosok kampung. Sia-sia. Ibu dimarahinya habis-habis seperti perempuan tak berguna. Sudah itu pergi dengan matanya yang semerah bara.

Makin malam, makin sakit seluruh tubuhku. Dalam temaram lampu redup di   dinding kulihat ibu terkantuk-kantuk di atas tikar. Pasti lelah sekali dia. Menunggui aku. Sudah seharian ia menangisi aku, menangisi abangku. Ah, pikiranku masih terhidap dalam pusaran baying-bayang tubuh abangku yang berlompatan di atas kuburan Cina. Mengejar kupu-kupu yang kuminta.

“Mak, abang di mana?” desahku menangis lemah, tak sungguh-sungguh ingin membangunkan ibu.

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu.

“Dek ..! Dek ..! Dek.. !”

Aku terkejut. Ada ketukan perlahan di dinding bambu kropos yang rapat ke balai-balai tempatku terbaring. Aku terkejut, takut sungguh. Tetapi aku dengar suara seseorang di luar sana.

“Nar ..! Minar… !” bisiknya, disusul dengan ketukan lagi. Dek ! Dek ! Dek !

Aku bergeser dengan susah payah. Aku rapatkan telingaku ke dinding itu. Oh, aku dengan suaranya. Abangku Pamian.

“Mian …!” sahutku, perlahan.

“Minar ….!” kudengar suaranya tersedak. “Masih sakit?”

“He eh, masih. Sakit sekali. Kau dari mana?”

“Tadi aku tidak berhasil menangkap kupu-kupu itu. Tahu-tahu aku melihat sarang burung. Ada anaknya. Maksudku – untuk kau, pengganti kupu-kupu itu. Ini aku bawa. Kau mau, ya ?”

Dinding bambu di samping balai-balai ini sudah keropos. Kudengar Pamian menguakkannya dari luar. Dibuatnya lubang di dinding itu. Ia mengintip. Samar-samar kulihat bola matanya berkilau, berkaca-kaca. Sebelah tangannya yang kurus dan dingin kemudian menjulur masuk. Mengelus pipiku. Mengusap air mataku. Lalu tangan itu kemudian menyodorkan seekor anak burung sipigo.

“Ini, Minar. Kau pelihara, ya?”

Aku mengambilnya dari tangan Pamian. Cit! Cit! Ia berbunyi keras dan cepat-cepat kudekapkan ke dadaku. Kudengar ibu terbangun dari kantuknya.

Rupa-rupanya Pamian dapat juga melihat ibu terbangun. Sebab tiba-tiba kudengar suara langkahnya berlari menjauh. Jauh; menembus kesenyapan gelap malam.

Hari-hari berlalu dengan pengab dan sepi, Pamian tak muncul juga. Cucu Ompung Dukun meminjamkan sangkar burung untuk burung sipigo-ku. Diletakkannya di atas meja – disamping balai-balai. Cucu dukun patah tulang itu baik. Setiap sebentar burung itu diberinya  makan minum.

Namun cericit anak burung itu aku dengar bagai tangis Pamian yang kini sendirian entah di mana. Kadang aku melamun, berkhayal – andai aku bisa mengajari burung itu untuk kusuruh mencari Pamian. Seperti yang pernah aku baca di buku cerita. Tetapi tak sampai tiga hari burung itu sudah tergeletak kaku di lantai sangkarnya. Mati.

Ito,  kau pulanglah …!” aku menangis.  Ini kali pertama aku menyebutnya ‘ito’ – seperti seharusnya aku menyebutnya.

*

SEPULUH tahun lebih berlalu. Ito-ku Pamian tak jelas rimbanya.  Enam tahun lalu ibu meninggal. Pamian tak melihatnya. Sekarang ayah pun terkapar dalam sakit-sakitan yang parah. Mabuk-mabukan di masa mudanya telah menjadikan tubuhnya sarang penyakit di hari tua. Sementara aku, terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMA. Jadi gadis pengangguran di kampung.  Sawah kami dikerjakan orang dengan bagi-hasil. Aku hanya bisa membuka warung kecil di beranda depan, sambil merawat ayah di rumah.

Kepadaku ayah bilang tidak mau mati sebelum bertemu dengan Pamian. Aku sangat sedih tapi tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah titip pesan ke banyak orang.  Beberapa kali aku sudah pasang iklan di surat kabar – di kota, minta Pamian pulang. Tapi sia-sia. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, mohon Tuhan beri jalan pulang untuk abangku, sekiranya masih hidup. Beri kesempatan terakhir pada ayahku melihat Ito-ku Pamian pulang.

Aku tahu ayah menyesal. Sekarang ia  rindu Pamian, serindu-rindunya. Ayah ingin memeluk dan menciuminya sebagai tanda penyesalan. Meski pun hanya sekejap, sebelum ajal menjemput tubuhnya yang kian ringkih. Nyatanya, ayah memang belum meninggal walau penyakitnya sudah semakin parah.

“Miaaannn ..! Pamiaaaan, pulanglah, Nak, Hasian-ku!” begitu ia sehari-harian mengerang.

Pilu !

***

*Ito: panggilan kepada saudara lain jenis kelamin

Hasian: kesayangan

1990-2005