Author Archive

‘Menulis Surat’ yang Terlupakan

Posted: February 8, 2011 in Essai

Halaman pertama tentulah ‘salam’, doa klise yang panjang (:Ananda sehat dan baik-baik, Ananda selalu berdoa semoga ayahanda dan bunda sehat walafiat juga adanya), lalu basa basi tanya adik-adik, kakek nenek, sapi kerbau sawah bla – bla – bla!

Halaman kedua, laporan kemajuan kuliah di kampus, laporan ‘pertanggungjawaban’ uang wessel bulan lalu, ditambah macam-macam ‘bumbu penyedap’ untuk melegakan hati orang tua.

Halaman ketiga, “Begitulah, untuk bulan ini Ananda perlu sekali tambahan uang …!”

Teken, masuk amplop pos kilat biru bergaris merah, dan tulis alamat tujuan:

Ayah-Ibu Tercinta, atau Ayahanda & Bunda.

Pengirim: Ananda
………….

Hari-hari penantian panjang, detik dan menit bersetia menunggu tukang pos mengantar wessel . . . ! Eee, kring sepeda tukang pos cuma lewat ke tetangga. Sebulan lewat sudah. Kok .. belum, ya …? (Utang di warung sudah satu halaman catatan kumal).

Itu ‘jadul’!

Sekarang berbeda, tinggal SMS: “Pa! Ma! Kok belum kirim sih? Aku sudah nungguin nih di ATM.”

Belum sempat balas, muncul SMS kedua: “Cepatan, dong! Kok telat melulu sih?”

&^^%$#&!?

(Menulis surat kepada orang tua minimal sebulan sekali adalah bagian dari rasa hormat pada mereka. Sekarang tak ada lagi … !)

(SPT -2010)

Kiat Sukses Menulis Novel

Posted: February 8, 2011 in Novel

Menyigi Mimpi Sang Juara[1]

Posted: February 8, 2011 in Resensi Buku

Oleh Khrisna Pabichara[2]

JAGOAN MASA KECIL. Dari sana tulisan ringan ini bermula. Selepas membaca novel “Sang Juara”, otak saya merangkai setiap demi setiap ingatan tentang “jagoan masa kecil”. Waktu itu, 3 Mei 1985. Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas V. Masih bingung menentukan mau jadi apa kelak setelah dewasa. Jika ada yang menanyakan cita-cita, ada kalanya saya menjawab ingin seperti Habibie. Di lain waktu, saya berharap kelak bisa seperti Icuk Sugiarto atau Rendra. Tapi ada satu cita-cita yang nyaris “dipastikan” bakal tidak tercapai, menjadi Ellyas Pical. Hari itu, jagoan bersama kebanggaan bangsa—Ellyas Pical—sedang berjuang mengharumkan nama negara, bertarung merebut gelar Juara Dunia IBF kelas bantam yunior melawan juara bertahan, Ju Do Chun.

Demi menonton “jagoan masa kecil” itu bertinju, saya dan penduduk kampung lainnya harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilo. Kala itu, televisi masih barang mewah. Di desaku hanya ada satu, di balai desa. Bentuknya bujursangkar, berkaki empat, layarnya berpintu dan bisa dibuka atau ditutup, mereknya Sharp. Sesampai di balai desa, Syamsul Anwar Harahap sudah “mengoceh” banyak tentang pukulan andalan Elly, The Exocet. Saya tidak tahu dari mana nama itu bermula, hingga kakakku yang sudah SMA menerangkan kalau gelar itu merujuk pada nama sebuah rudal buatan Prancis.

Saya menahan napas sejak ronde pertama dimulai. Ju Do Chun langsung merangsek dengan kombinasi pukulan jab dan uppercut. Secara meyakinkan, petinju asal Korea itu mendominasi ronde pertama. Begitu seterusnya hingga ronde ke delapan. Muka Elly babak-belur. Darah mengucur dari alis mata kirinya yang sobek. Tapi petinju kelahiran Saparua itu tahan pukul. Pada ronde sembilan, Elly bangkit dari keterpurukan. Pukulan-pukulan kerasnya mendarat mulus di wajah dan kepala Chun. Hasilnya, pada ronde sepuluh Chun terkapar. Joe Cortez, sang wasit, segera memberikan hitungan, tapi hingga hitungan kesepuluh Chun tetap tidak bisa berdiri.

Begitulah, Ellyas Pical menjadi “jagoan masa kecil” saya, selain Muhammad Ali dan Maradona.

☼☼☼

JIKA mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya, yang menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Maka, tepatlah jika Sang Juara kita masukkan ke dalam golongan novel. Mengapa? Karena Sang Juara adalah cerita yang dibangun dari fondasi imajinasi berlatar fakta, “seolah-olah” diadopsi dari kisah kejuangan Ellyas Pical, kemudian diracik-padukan dengan romantika seorang pelacur yang dicomotnya dari “dunia lain” yang sama sekali berbeda dengan dunia “jagoan masa kecil” saya itu.

Tentu saja, Saut Poltak Tambunan tidak dengan serta-merta melahirkan Sang Juara. Pastilah ia memiliki catatan “hidup” sebagai bumbu penyedap rasa yang membuat tokoh rekaannya terasa begitu hidup. Pengarang menggubah tokoh Jumono sebagai manusia biasa yang bisa berubah, bukan tokoh rekaan yang memiliki karakter konstan dan menjemukan. Ia berkisah tentang seorang manusia yang sejak kecil didera penderitaan, menjalani hidup apa adanya, lalu merantau demi perbaikan masa depan. Ia menuturkan ihwal seorang jejaka tumpuan keluarga yang penakut, lalu menjadi “binal” karena pengaruh lingkungan. Dalam novel Spenser, Robert B. Parker menciptakan anak lelaki bermasalah, Spenser, yang tersesat ke sebuah kabin terpencil di

tengah belantara. Demi upaya bertahan hidup, anak itu menjelma menjadi orang baru dengan kehidupan yang sama sekali berbeda dari “garis hidup” yang seakan ditakdirkan untuknya.

Sementara itu, George Bernard Shaw, menciptakan tokoh Eliza Dolittle dalam Pygmalion sebagai seorang gadis muda miskin yang berjuang memenuhi hasrat hidupnya. Dikisahkan, Eliza memulai perjuangannya sebagai seorang gadis penjaja bunga di pinggiran Tottenham Court Road, lantas terpikir olehnya menjadi seorang “wanita terhormat”. Namun, tidaklah mudah baginya karena kemampuan berbahasanya yang rendah. Meskipun dia tidak punya uang, dia bersikeras kepada Henry Higgins bahwa dia mampu mengikuti pelajaran di “kelas bahasa”. Dia percaya pelajaran itu dapat mengubah hidupnya menjadi orang yang lebih berbahagia.

Jumono dan Juminten, sama seperti Spenser dan Eliza. Mereka adalah tokoh rekaan yang memiliki kesamaan mimpi: memburu hidup yang lebih baik. Jika Eliza direndahkan dalam pergaulan karena ketidakmampuannya menggunakan bahasa yang lemah lembut, maka Juminten dilecehkan orang-orang sekampungnya karena lahir dari keluarga miskin. Jika Spenser harus berjuang mati-matian di tengah hutan demi mempertahankan hidup, maka Jumono pun banting tulang mengumpulkan uang demi mengangkat derajat keluarga. Jika Eliza memulai mimpinya sebagai penjaja bunga, Juminten pun meretas mimpinya dengan berbagai cara. Dari menjadi babu hingga menjajakan tubuhnya. Begitulah, mereka adalah tokoh rekayasa yang terasa begitu nyata.

Banyak karakter di sekitar kita yang mirip dengan Jumono, Juminten, Spenser atau Eliza. Karenanya, Spenser, Pygmalion dan Sang Juara bukan sekadar cerita, melainkan fakta yang terpantul dalam kehidupan nyata di sekeliling kita. Tokoh-tokoh ini menyingkap tirai kenyataan bagaimana hidup memperlakukan mereka dengan “tidak wajar” hanya karena posisi yang “rendah” dalam stratifikasi sosial.

Tokoh lain dalam Sang Juara adalah Surti, kakak ipar Jumono. Dia adalah seorang ibu muda yang memiliki hasrat kuat untuk membahagiakan keluarganya. Namun, ini menjadi sulit diraih ketika segala sesuatu berada di luar kemampuannya. Dia menaruh harapan besar bahwa segalanya pasti berubah menjadi lebih baik. Bahkan di kala suaminya, Jumadi, menderita cacat mental permanen, dia tidak meninggalkan suami dan keluarganya. Malah mengikhlaskan diri bekerja apa saja. Beragam interpretasi bisa ditarik dari tokoh ini. Salah satunya adalah bahwa Saut ingin menunjukkan bagaimana kegigihan seorang wanita memasrahkan hidupnya demi keluarga. Lebih lanjut, bisa dikatakan bahwa hal ini menjadi sinyal kekuatan wanita di saat-saat krisis. Pada situasi yang paling genting sekalipun, perempuan mampu menawarkan solusi terbaik.

Tokoh berikutnya adalah Kirom. Ia adalah sosok lelaki “bengal” yang dikisahkan bandel sejak kecil. Ia menghadirkan rasa jerih dan takut pada tokoh lainnya. Seolah-olah dunia menjadi “horor” jika namanya disebut. Ia pula yang merebut cinta remaja Jumono, Mirah. Tidak berhenti sampai di sana, Kirom pun merampas tanah keluarga Jumono dan menggusur rumah mereka. Bahkan, ketika Jumono mulai berhasil meretas karier sebagai petinju, ia mengajak “begundal-begundal” akrabnya untuk mengeroyok Jumono sampai cacat dan tidak bisa bertinju lagi. Tapi, ia bukan segalanya. Bukan seseorang yang tak terkalahkan.

Dari sini, saya berani mengacungkan jempol pada kepiawaian Saut menganggit tokoh. Ia sukses mencipta sosok fiktif yang memikat dan bisa dipercaya oleh pembaca.

☼☼☼

JIKA alur, sesuai KBBI, adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin secara saksama untuk menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian, maka “setidaknya” alur yang “wah” adalah alur yang menawarkan jawaban atas apa, bagaimana , dan mengapa. Josip Novakovich, lewat bukunya Fiction Writer’s Workshop, mengingatkan kita bahwa alur merupakan jembatan penghubung antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Bagi Josip, alur yang “berhasil” biasanya mengandalkan hubungan antara sebab-akibat dengan tataan gagasan.

Apa yang diperjuangkan oleh Jumono, Juminten, dan Surti? Kebahagiaan keluarga, jawabannya. Apa yang hendak dipertahankan oleh Kirom? Martabat dan dominasi keluarga, jawabannya. Apa yang dibela mati-matian oleh Simbol, ibu Jumono? Jawaban pastinya adalah warisan leluhur dan nama baik keluarga. Mengapa Jumono yang “penakut” berubah menjadi “ganas” dan bernyali? Tentu saja, keadaan memaksanya. Mengapa Juminten rela dicengkeram musuh keluarganya dan dijadikan “bunga” primadona bagi usaha “jasa pelayanan” milik Kirom? Tentu saja, uang dan peluang jawaban tepatnya. Mengapa Kirom menyiksa Mirah sampai pingsan tak sadarkan diri? Rasa cemburu karena Mirah ikut menyambut kedatangan Jumono bak pahlawan, seperti warga kampung lainnya.

Jika apa dan mengapa menegaskan sebab, maka bagaimana adalah hasil dari akibat. Dengan kata lain, jika tidak ada masalah tidak akan lahir cerita. Masalah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sebab, merupakan bahan dasar untuk membangun konflik, menciptakan pencitraan, dan simpul perekat emosi pembaca dengan cerita. Lantas, bagaimana cara Saut merancang alur dalam Sang Juara? Pengarang yang menghabiskan masa kecil di Balige ini sangat memahami pendapat Aristoteles, bahwa sifat buruk seseorang adalah “penyedap rasa” yang sangat “maknyus” dalam meramu alur cerita. Ia dengan cerdas meracik masalah demi masalah sehingga tercipta alur cerita yang memikat dari awal hingga akhir. Seakan-akan tidak ada ruang lapang yang dapat dijadikan peluang oleh pembaca untuk merasa “kenyang” di tengah jalan. Selalu ada masalah ia ciptakan untuk merangsang selera baca.

Saut pun menciptakan alur yang tidak mudah ditebak. Jangan berharap Anda akan menemukan “kesuksesan” Jumono menjadi Juara Dunia, seperti jagoan masa kecil saya. Bahkan Jumono harus menjalani hukuman penjara di akhir cerita, meskipun akhirnya ia bisa menuntaskan dendamnya. Begitulah, banyak kelok dan ceruk mengejutkan dari novel ini.

☼☼☼

BAIKLAH. Dari awal tulisan ini, saya “seolah-olah” meletakkan diri sebagai pembaca yang sudah mengkhatamkan Sang Juara berkali-kali. Dari tadi saya asyik berpanjang-lebar mengurai kandungan intrinsik dari novel inspiratif ini. Padahal, saya malah belum mengabarkan cerita sebenarnya. Tapi, hal itu saya lakukan secara sengaja. Sebagai seorang yang suka menggugah semangat, saya berniat “memastikan” bahwa jika kita memiliki semangat dan keseriusan, lantas memadukannya dengan “kerja cerdas”, menganggit novel adalah sesuatu yang niscaya, bukan sesuatu yang musykil terjadi.

Sekarang, mari kita menyelam lebih dalam. Jumadi adalah anak yang tertua dalam keluarga ini. Jumono anak bungsu dan Juminten berada di tengah. Ayah mereka bernama Jumali, lengkapnya Jumali bin Murtadji. Orang tua ini memberi nama anak-anaknya dengan awal Jum: Jumadi, Juminten dan Jumono. Kisah pahit Jumono bermula dari paksaan Kepala Desa agar keluarganya ikut program transmigrasi. Alasannya, demi perbaikan hidup. Supaya keluarga Jumono bisa lebih sejahtera. Tapi mereka paham bahwa itu hanyalah siasat jahat Kepala Desa yang dikemas dengan rapi. Kura-kura dalam peti, pura-pura selalu peduli. Padahal, hajat Kepala Desa yang sebenarnya adalah menguasai tanah keluarga Jumono, lalu menjual atau menyewakannya kepada orang Jatiasih. Begitu yang dilakukan Kepala Desa selama ini terhadap warga kampung. Memaksa mereka transmigrasi, lalu merampas sawah-ladang mereka. Namun, tak ada yang bisa melawan. Tak ada yang bisa menentang kekuasaan Pak Supangat, Kepala Desa yang masih saudara tiri dari Simbok, ibu Jumono.

Alkisah, keluarga Jumono berkeras membangkang. Akibatnya, mereka diteror setiap hari. Jumono, bungsu dari tiga bersaudara, pun tidak bisa berbuat apa-apa. Umurnya masih muda. Selain itu, nyalinya cepat menciut. Itu pula sebabnya ia tidak pernah memenuhi seruan kakaknya, Jumadi, untuk berlatih tinju. Ia lebih memilih ke hutan mengumpulkan kayu bakar, atau menjadi buruh tani jika ada yang memerlukan tenaganya. Hingga suatu ketika, kakak iparnya, Surti, memintanya merantau ke kota. Padahal, saat itu, ia baru saja memadu janji untuk bertemu Mirah di tepi hutan.

Lagi pula, Jumono tahu ibunya akan bersedih hati jika ia pergi. Tapi, hasrat merantau yang dijejalkan oleh istri kakaknya itu terlanjur meracuni otaknya.

“Mbok, ini Bejo mohon restu..!” bisik Jumono. Jelas terbayang wajah Simbok yang tidak pernah mengizinkannya pergi merantau, apalagi untuk menjadi petinju. Teringat pula ayahnya yang dihina bukan saja ketika masih hidup, namun juga setelah mati. Ingat Mas Adi, Mbak Minten, Mbak Surti, dan si Ribut—keponakannya.

Juminten tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jumono telah merantau ke Solo. Begitu pula Simbok. Juminten menuding Surti sebagai penyebab kepergian Jumono. Maka, dia pun berkemas meninggalkan rumah, mengadu untung di kota. Ternyata hidup di Solo tidak mudah. Empat bulan berlalu, Jumono hanya bisa menjadi “pembantu rumah tangga”, jongos di rumah Pak Sutadi, mandor layar tancap yang membawanya ke kota.

Sadar nasibnya tidak bakal membaik, Jumono berubah haluan. Ia beralih ke Jogja, jadi pedagang asongan di stasiun kereta api. Tapi, di sana pun sama, tidak bertahan lama. Dua bulan kemudian ia sudah berada di Jakarta. Ketidakramahan Jakarta langsung dirasakannya ketika semua bekalnya raib digasak copet. Tidak ada pilihan lain kecuali menggelandang, menjadi kuli bangunan, jual asongan lagi, dikejar-kejar petugas ketertiban, lalu calo karcis, hingga akhirnya jadi preman. Keadaan telah menempa dirinya yang “penakut” jadi pemberani. Setiap hari ia berkelahi memperebutkan jatah wilayah. Empat tahun lamanya ia hidup seperti itu.

Hingga ia bertemu Pak Simon, petugas keamanan di Senayan. Pak Simon lah yang menenggelamkannya ke dunia tinju. Dunia lama, impian Jumadi, kakaknya. Dari sana nasib baik bermula. Berangsur-angsur badai reda. Ternyata pengalaman keras menempa tubuhnya menjadi alot dan kukuh. Tidak butuh waktu lama di dunia amatir, Jumono pindah ke jalur profesional. Satu demi satu lawan ditumbangkannya. Tak jarang dengan kemenangan telak, KO. Namanya pun berkibar. Sukses di tingkat Nasional, ia merambah persaingan di tingkat regional. Lalu, ia mendapat peluang menantang peringkat pertama dunia, Judo King.

Arkian, kali ini Jumono menghadapi lawan tangguh. Pertarungan berjalan berat sebelah. Ia jadi bulan-bulanan petinju Korea itu. Tapi, tekad membahagiakan keluarga telah menyelamatkan semangatnya. Ia pun menang, dan memastikan peluang menjadi penantang Juara Dunia.

Sejak itu hidupnya berubah. Segalanya tampak indah. Jumono pun kembali ke tanah kelahiran membawa ketenaran dan kekayaan. Namanya dielu-elukan sepanjang jalan. Warga yang dulu sinis, berubah menjadi sangat ramah. Sayang, tumpukan uang yang dibawanya tak serta-merta membahagiakan Simboknya. Bagi perempuan yang melahirkannya itu, warisan keluarga di atas segalanya. Tidak mudah bagi Jumono memenuhi keinginan ibunya. Tanah itu sudah dirampas oleh Kirom, lelaki yang juga mengawini kekasihnya, Mirah, secara paksa. Masalah baru pun mencuat. Perkelahian tak terelakkan ketika Kirom mendapati Mirah dan Jumono sedang berduaan di tepi hutan. Tapi, mudah ditebak, Jumono lah sang pemenang.

Seolah-olah kisah bersudah di situ. Ternyata, tidak. Kirom tidak mau terima dirinya dipermalukan. Ia perintahkan anak-buahnya mengeroyok Jumono. Kali ini, Jumono kalah. Tangannya patah. Wajah dan tubuhnya babak belur. Tamatlah riwayatnya sebagai petinju. Kemalangan bertambah ketika Simbok meninggal karena tak tahan melihat penderitaan anak kebanggaannya, Jumono. Setelah sembuh, ia tak patah arang. Ia tetap melatih kemampuan fisiknya. Satu per satu pengeroyoknya dihabisi. Terakhir, Kirom pun diselesaikannya dengan “mudah”. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara.

Begitulah. Kisah sederhana. Tidak rumit.

Tapi ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kesederhanaan itu.

☼☼☼

SETELAH menyasar beberapa keunggulan Sang Juara dari kandungan intrinsiknya, tiba masanya kita menyigi nilai estetika yang diusungnya. Tidak bisa disanggah, sebagai sebuah pencapaian estetika sastrawi, Saut mencoba merambah ranah tematik yang sedang ramai dibincangkan, “novel inspiratif”. Setelah era kegemilangan Laskar Pelangi, membuhul banyak novel yang mengusung tema inspirasi. Memang hal seperti itu sah-sah saja, karena setiap pembaca mengidamkan sodoran-sodoran baru yang mencerahkan, menggugah, dan mampu menyulut inspirasi. Tapi, jika pengarang abai pada kemasan, bisa terjebak pada “selera pasar” belaka, layaknya sinetron-sinetron yang lagi marak di televisi.

Belakangan, ada beberapa novel yang menggarap serba-serbi dunia olahraga, semisal novel King karya Iwok Abqory yang mengisahkan kedahsyatan lompatan Liem Swie King.  Novel ini tidak sekadar menceritakan sejarah kejayaan Indonesia di dunia bulutangkis, tapi juga menyuguhkan kalimat-kalimat motivasi yang inspiratif. Atau Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi, yang mengisahkan kemampuan Kiai Rais dalam mengolah si kulit bundar. Hal sama digubah Saut lewat novel anggitannya ini, Sang Juara.

Saya pribadi selalu percaya bahwa segala sesuatu yang berasal dari hati, niscaya bakal mengendap di hati. Artinya, segala sesuatu yang ditulis dengan “hati”, pasti bisa menggugah hati. Itulah makna inspirasi. Ruh dari tulisan inspiratif, di luar keterampilan artistik yang dimiliki sang pengarang, adalah internalisasi emosi, wawasan, visi, dan dedikasi. Tanpa semua itu, tulisan hanya menjadi sebatas tubuh tanpa ruh.

Tokoh Jumono dan Juminten dapat menjadi cermin tempat kita bisa berlama-lama mengacakan diri, bagaimana semestinya kita memelihara semangat dan mewujudkan cita-cita. Bahwa tak ada yang mustahil jika kita bersungguh-sungguh. Bahkan ketika kita tersuruk pada kenyataan yang paling pahit, paling terpuruk. Bahwa tak ada gunanya “pasrah” dan menyerah begitu saja dan berlekas-lekas menyalahkan takdir jika kemalangan menimpa kita, tapi harus selalu ada geliat, harus terus bergolak dan bergerak. Bahkan ketika kita tertumbuk pada kegagalan paling menyakitkan, paling mengenaskan.

Tokoh Kirom dapat menjadi air bening tempat kita bisa mengacakan wajah, apakah ulah-laku kita menyenangkan atau menyakitkan. Bahwa kemaruk bukanlah sifat yang layak dipertahankan, apalagi dipertaruhkan. Bahwa tamak bukanlah jalan lapang menuju bahagia. Bahwa hidup bukanlah semata pertarungan antara “yang berkuasa” atau “yang dikuasai”. Dan banyak lagi “bahwa” lainnya yang semestinya kita tanggalkan dari diri kita, jika itu akan menyusahkan atau menyulitkan orang lain.

Tokoh Keng Kiong menunjukkan kepada kita bagaimana caranya mencintai dengan tulus, tanpa harus memasalahkan pahit-getir masa lalu. Jika sudah cinta, belajar menerima apa yang ada. Bahwa setiap orang punya sisi gelap yang tidak mudah diterang-jelaskan. Jika kita dewasa, kita pasti bisa menerima sisi “baik” dan “buruk”. Bahwa setiap manusia akan atau pernah berbuat salah. Tapi, kita pun tahu bahwa gerbang yang lapang guna memperbaiki diri, selalu terbuka setiap saat untuk dimasuki.

Sungguh, banyak hal yang bisa kita selami. Banyak inspirasi yang bisa kita dalami.

☼☼☼

SEMOGA, setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, atau Chris John, negeri beribu pulau ini tetap bisa melahirkan penguasa-penguasa “ring” yang tangguh. Semoga pula terlahir bakat-bakat pesepakbola melebihi zaman keemasan Ramang, Ronny Pattinasarany, atau Robby Darwis. Semoga terus bertumbuh bintang-bintang baru, menggantikan Rudy Hartono, Susi Susanti, atau Icuk Sugiarto.

Semoga lahir pula karya-karya sastra bermutu yang inspiratif.

Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2009

Khrisna Pabichara,

motivator dan penyuka sastra.


[1] Disampaikan guna membincangkan novel Sang Juara karya Saut Poltak Tambunan, pada peluncuran Komunitas Sastra Ide Kalimalang (Kedailalang), pada Sabtu, 10 Oktober 2009, bertempat di Kalimalang, Jakarta Timur..

***

Kematangan bercerita, realitas kisah dan karakter tokoh  berada dalam genggaman Saut Poltak Tambunan. (Kurnia Effendi, penulis memoar Hee Ah Lee, “The Four Fingered Pianist”)

***

Menulis fiksi bukan sekadar merajut kata, tetapi berkisah disertai empati tentang kehidupan manusia. Pembaca akan menemukan itu dalam karya-karya Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang setia pada dunia penulisan. (Ashadi Siregar, UGM Jogjakarta)

***

“Sang Juara sebuah karya dari hati tempat hati kita bercermin. (Zara Zettira ZR, pengagum Bang  Saut sejak SD,  penulis, spiritualis, Canada)

***

Saut Poltak Tambunan,  saya kenal sebagai novelis yang piawai.  Karangannya selalu hidup, membumi dan membuat kita merasa menjadi bagian dari  ceritanya.  SANG JUARA –   novel dramatik di balik kehidupan petinju ini — sangat layak dibaca. (Kurniawan Junaedy, penulis, pekerja seni sastra

Sarimin

Posted: February 7, 2011 in Puisi

Sarimin tidak habis pikir mengapa pecut masih saja mengoyak tengkuknya meski kesetiaan telah ia lakoni sepanjang peradaban, mengapa pula nasibnya harus tergantung pada iseng belaka orang di kota.

Maka ia pun pergi ke pasar – di mana rasa lapar telah lama digelar menjadi luka menganga dan kejujuran kesetiaan hanyalah keterpaksaan.

Sarimin berteriak tawarkan jantungnya.  Jajakan hatinya. Tetapi pasar pecah berubah      rusu h. Sarimin terhimpit terinjak oleh berbagai unjuk rasa. Entah rasa apa, sebab poster dan spanduk yang diarak sudah kabur oleh darah ludah serta serapah nista dari lidah yang bercabang-beranting. Aroma dendam dan dengki dikelangitkan menjadi satu. Merah darah, merah api!

Sarimin terser et makin jauh masuk kota. Ia saksikan orang-orang marah  memburu tikus-tikus buron ke belantara hukum. Tunas-tunas muda gagah berani berteriak sungsang melintang di pasal-pasal perempatan sambil ramai-ramai kangkangi rambu.

Semakin bingung, Sarimin kesasar ke plaza. Di sini orang masih saja ingin membeli kendati tak ada lagi yang mau menjual.

Cobalah bersabar, kata Sarimin berdamai dengan diri sendiri, masih ada sisa doa yang belum pecah terinjak di pasar. Tetapi siapa percaya doa bukan serapah? Siapa percaya kebajikan bukan akal bulus belaka?

Sarimin nelangsa. Sepotong mimpinya telah menjadi santapan lezat para pakar di televisi. Keadilan tinggal sebatas bahan seminar orang-orang gardu muka yang semalaman tidak tidur merancang surat kaleng. Cuaca pada kaca buram berembun hanya menyuguhkan wajah tak bermuka kendati masih berdasi.

Sarimin minggat ke kuburan. Ingin muntah di atas makam tuan lama yang kini diziarahi bagai pahlawan sejati meski semasa hidup belakangan tak lagi punya nyali bertemu Sarimin. Sebab hari-harinya sepanjang dusta. Nafas dan kentutnya merusak ozon. Jazadnya meracuni tanah hingga cacing dan belatung pun tak sudi menyentuhnya.

Sarimin menangis. Ia pergi ke pergi.

Saut Poltak Tambunan-2009

Marturia Tambunan: Pendidikan yang Relevan saat ini?

Marturia’s Notes|Notes about Marturia|Marturia’s Profile

Pendidikan yang Relevan saat ini?

Share

Thursday, September 24, 2009 at 3:15pm

Tulisan ini sebuah pemikiran tentang pendidikan masyarakat batak dulu dan kini, setelah membaca cerpen penulis kondang Saut Poltak Tambunan, “Menunggu Matahari”.
Masyarakat batak mengenal sistim patriakhal, di mana ayah pengambik keputusan dan punya otoritas yang besar atas perjalanan hidup keluarga. Dalam sistim ini pun laki-laki, sangat dihargai sebagai penerus garis keturunan.
Tanah Batak, terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering, hanya dengan daya juang yang kuat orang mampu bertahan hidup di daerah itu, maka dibutuhkan kerja keras, disiplin dan keteguhan prinsip untuk menentukan arah hidup. Kekerasan alam boleh jadi mempengaruhi karakter seseorang. Hidup keras dibentuk oleh daerah yang keras, maka pilihan pendidikan pada zaman dulu (dan mungkin sampai sekarang) di Tanah Batak adalah sistim kekerasan dengan memukul, (meskipun untuk anak-anak sekarang itu sebuah kekejian). Namun menjadi pertanyaan: Apakah pendidikan seperti itu masih relevan di zaman ini, di saat manusia mengangungkan HAM?
Ada yang mengatakan masih relevankah sistim pandidikan seperti itu di zaman tekhnoligi yang no-violence ini? Saya berpikir satu hal, khususnya ketika dalam kebaktian keluarga minggu lalu di sektor 2 HKBP Dukuh Kupang Surabaya, dengan tema disiplin, ada yang mengatakan seperti ini: ‘Jika Tuhan mengizinkan waktu berputar kembali ke belakang, maka saya akan memilih pendidikan seperti yang saya terima dari ayah saya. Meski saya dihajar, tapi justu itu membuat saya untuk keluar dari kemiskinan, bebas dari penderitaan. Saya memang buka sarjana, tapi hajaran ayah saya membuat saya bisa bertahan, bisa membuat anak-anak saya menjadi sarjana, tapi sarjana penakut, sarjana yang tidak tahan banting, sarjana bermental tempe’. Pendidikan yang bebas ternyata tidak membebaskan sebagian orang. Pendidikan yang jauh dari kekerasan menghilankan daya juang, di mana dengan segala kebutuhan yang terpenuhi membuat anak-anak kurang berjuang, karena hanya dengan meminta, anak-anaknya bisa mendapat dengan cepat, apa yang dibutuhkan. Hidup yang serba instan memang enak, tapi instan tidak membuat orang tahan pada kerasnya hidup yang ditawarkan dunia. Kita pernah mendengar ada anak yang bunuh diri karena permintaannya tidak dipenuhi. Anak instan ingin semua cepat, bahkan untuk menunggu sesaat pun permintaannya, sudah membuat si anak cemberut.
Dahulu memang orang Batak tidak mempunyai plihan dalam mendidik dan mendisiplinkan anak kecuali memukul, tapi kekerasan itu justru membentuk putra/i Batak menjadi orang yang kuat, tangguh dan handal, seperti cerita tokoh batak, seperti: TB Silalahi; dalam buku si hadal dan Sintong Panjaitan, dll.
Saya juga ingat cerita seorang jemaat, ketika kami melayani di HKBP Magelang, beliau bercerita tentang suatu kejadian semasa dia SD di parsoburan. Dia bermain api di dekat lumbung padi, ayahnya melarang dia, tapi si anak memilih meneruskan permainannya. tanpa dia tahu bunga api terbang ke atas tumpukan padi, dan lumbung itu terbakar. Ayahnya panik, dia tidak menyiram api, tapi mengangkat anaknya dan melemparkan anak itu, serta memukulnya. Dia meraung kesakitan, dan sampai kini masih ada bekas luka di kaki dan tangannya. tapi kekerasan yang diterimanya, justru membuatnya semakin cerdas dalam memahami arti larangan.
Lalu apakah kekerasan itu sebuah kekejian?
Ketika putri sulung saya marah karena saya matikan tv dan menyuruh dia belajar, dia membanting pintu dengan kencang. Ayahnya dengan tegas menyuruh dia mengulang menutup pintu kamar dengan pelan, sementara saya menekan tangannya dengan keras, dia lebih ‘menghormati’ (atau mungkin takut) kepada aya dibanding ke ayahnya. Anak saya tidak akan membuat perlawanan kalau tv saya matikan meskipun itu tontonan kesayangannya, tapi terhadap ayah, dia masih berani tawar menawar.
Saya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan terbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)
Memang kekerasan dalam pendidikan sering kita lihat sebagai suatu kekejian, tapi justru pendidikan yang demikian banyak membuat orang Batak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup. Paiman yang ‘disiksa’ ayah, menjadi seorang yang bertanggung-jawab di usianya yang dini, dia mengusahakan burung pengganti kupu-kupu untuk Minar. Dia menjadi pemberani menjelajahi hidup tanpa ayah ibunya. Dia kuat dan tidak menangis, walau dia terkapar menahan rasa rindu pada ibu yang akan membawanya ke pesta. Kekerasan yang terjadi dalam Paiman-Paiman lain membuat dia dewasa memaknai hidup.
Kekerasan ayah, bukanlah sebuah kekejian, tidak mungkin ayah membenci Paiman, saya tahu persis itu, bagaimana orang batak menjadikan anak lelaki menjadi seseorang yang terpenting dalam hidupnya, tapi karena lelaki (‘ayah;) orang Batak cenderung kaku, maka mereka tidak ‘sanggup’ mengungkapkan kasih sayangnya dengan lembut dan berbahasa yang manis. Rotan, lidi atau sabuk menjadi alat pendidikan, bukan alat kebenciaan, lewat media itulah mereka ingin mendisiplinan anak-anaknya. Kalaupun ayah memukul Paiman, tapi jauh di lubuk hati dia mau membentuk seorang anak lelaki yang kuat, tidak cengeng. Ayah ingin membentuk Paiman tidak hanya kuat melewati gunung terjal dan berbatu, tapi kuat mengarungi hidup yang sulit. terbukti, ayah tidak tenang, ketika Paiman tak kunjung pulang, tidak melihat jasad ibunya 6 tahun lalu, ayah terus berharap ‘menunggu matahari’, bahwa Paiman yang sangat dia rindukan akan pulang.
Karakter anak ditentukan oleh pendidikan dalam rumah, maka seorang Pendeta yang khusus melayani Pemuda, remaja dan sekolah minggu, pernah berkata: Sia-sia pendidikan di sekolah dan di gereja, kalau tidak didasari pendididkan yang kuat di dalam rumah. Artinya pendidikan rumah menetukan karakter seorang anak.
Pendidikan yang keras yang diterima orang batak dulu, justru membuat orang batak lebih ‘dikenal’. Secara antropoligi orang batak dikenal sebagai suku yang keras dan kuat, berani, suka menolong, dan mudah membaur. mengapa demikian? Wilayah dan pendidikan yang keras membentuk mereka menjadi kuat dan berani, kemiskian membuat mereka ingin bebas dari kemiskinan, sehingga kesadaran itu membuat mereka ingin menolong, mengubah ‘nasib’, sehingga ke daerah mana mereka pergi, mereka cepat beradaptasi, supaya menjadi bagian dari masyarakat.
Jika kekerasan menjadi pilihan, itu karena tidak ada alternatif atau pilihan lain dalam membentuk dan mendisiplinkan anak. Maka sistim yang paling tepat ketika itu adalah dengan memukul.
Saya tidak setuju kekerasan, saya menolak setap tindakan yang tidak menghargai hidup orang lain, namun ketika pendidikan kita menjadi lebih ‘lunak’, justru daya juang anak-anak sekarang menjadi menurun. Untuk memasukkan makanan ke mulut sendiri ‘moh’ anak-anak kita. Menjadikan anak yang anti-tv/ps dan pro-baca (seperti keluarga Ito Suhunan Situmorang), sangat sulit. Lalu apa alternatif dalam mendisilinkan anak?
Saya belajar dari Tuhan Yesus, guru besar itu, Dia mendisiplinkan muridNya (Disciple (of Christ):murid, dari kata disiplin) dengan pengajaran yang benar dan penuh kasih. Dia pernah marah dan meporakporandakan jualan umat di rumah ibadah yang diubah menjadi pasar. Dia datang dari Allah yang penuh kasih dan pemurka atas kejahatan umatNya. Dia menghukum bangsa Israel ke Mesir menjadi hamba dan menjadi bangsa tawanan ke Babel, karena menyakiti hati Bapa. Tapi Dia adalah Bapa yang pengampun, tidak ada dendam atas kekeliruan umatNya, kasihNya merindukan kembaliNya anak yang hilang.
Jika dengan kasih sayang dan kesejahteraan justru membuat anak-anak kita menjadi melempem dan tidak kuat mengarungi kehidupan, adakalanya pendidikan kita di tingkatkan untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan handal dalam mengarungi kehidupan.
Meskipun kekerasan telah banyak ditolak dalam pendidikan, jika ternyata mental bangsa menjadi lemah, tidakkah kita akan memikirkan alternatif lain dalam memberdayakan anak-anak bangsa?
Marilah kita terus memaknai bahwa pendidikan di tanah batak yang bernuansa kekerasan, bukan karena jiwakanibalis, tapi ungkapan kasih sayang untuk membentuk anak menjadi anak yang kuat, disipli, mandiri dan bertanggung-jawab.

thanks untuk realita yang dicerpenkan oleh Ito Saut Poltak Tambunan. Sebuah pembelajaran untuk memaknai hidup.

………….pulanglah Paiman, ayah menunggumu dengan cinta dan kerinduan.

 

Marturia Tambunan

Thanks u/ jempol yang cantik.

September 24, 2009 at 3:42pm · Report

N Baho Parel

Ini topik menarik dan layak dibicarakan.

Pendidikan yg sebenar2nya tdk akrab dg kata ‘kekerasan’, dalam Hukum mungkin y. Tetapi kata ‘Motivasi’ memang terkait dg 2 hal + or – (penghargaan dan hukuman). Penghargaan yg ideal tidak mengarah pada ‘pendewaan’ (kesombong), ga pantas kalau karena anak SD rangking dihadiahi Mobil. Sebaliknya, Hukuman … See Moretidak boleh ‘mematikan’ (depresi) maka kalau anak SD merusak TV, tangannya tidak harus dilukai. Realitas yg kita hadapi barangkali lupa bahwa :

1. penghargaan yg kita berikan pada seseorang seharusnya berdasarkan simpati/ pengakuan atas keberhasilannya dan bukan mempertontonkan apa yang mampu kita berikan, sebaliknya
2. hukuman yang kita bebankan seharusnya memperbaiki dirinya bukan sebagai pelampiasan amarah kita.

September 24, 2009 at 3:43pm · Report

Marturia Tambunan

Benar x ito. Untuk keseimbangan ini yang sering sulit terjadi dalam hubungan orangtua-anak. Semoga ortu boleh memberi penghargaan melalui pengakuan dan hukuman sebagai pendisiplinan.

September 24, 2009 at 3:47pm · Report

Ganda Tambunan

Ketika saya menonton film2 amerika,saya sering heran knp anak2nya bs patuh ketika org tua menyuruh utk tidur tdk melawan,ktk ora tua melarang pergi tdk menjawab. Ksmpln yg bisa saya petik,bhw dalam mendidik khususnya dalam RT,logika atas apa yg kt sampaikan harus difahami oleh anak2 dan penuh kesabaran. Ksmpln atas pendidikan kita,msh dominan emosional (memberi hadiah yg WAH atas prestasi yg wajar dan hukuman yg berat atas kesalahan yg msh bs dimaafkan).

September 24, 2009 at 3:57pm · Report

Suhunan Situmorang

bagus ternyata pikiran-pikiran ito boru Tambunan ini menyangkut pendidikan, ketahuan keturunan orangtua yg dua-duanya guru.

terus menulis ya ito, menarik sekali tulisanmu. mauliate sdh di-tag.

September 24, 2009 at 6:44pm · Report

Nestor Rico Tambunan

Ito seorang penulis yang baik. Lepas dari ketertiban kalimat, (mungkin karena ditulis spontan – dan toh bisa diedit), tulisan ini sudah menyentuh dasar satu topik: cara dan tujuan pendidikan. Pendidikan sekarang dikaitkan dengan HAM, hak azasi dan macam-macam, tapi justru melahirkan anak-anak yang umumnya lembek, tidak ngerti moral, etika-etika … See Moredasar. Jadi, artikel seperti ini mestinya dimuat di media massa umum. Satu lagi, itu harus tetap menulis, dengan materi dan pendekatan lain soal pendidikan. Mudah-mudahan bisa jadi buku. Jalan terus ito

September 24, 2009 at 7:51pm · Report

Rodion Tampubolon

Yang sama pentingnya dengan cara mendidik (keras atau lunak) adalah tujuan pendidikan. Sering sekali kita menginginkan seorang anak menjadi ‘apa’ (misalnya jadi sarjana ini dan itu dll), tetapi kita kurang memahami mau jadi ‘siapa’ mereka kelak. Apapun cara pendidikan, seharusnya tujuannya adalah mendorong mereka menjadi diri sendiri, menjadi … See Moremanusia yang bebas menemukan dirinya, sampai akhirnya mereka dapat mengaktualisasi diri. janganlah kiranya seorang anak “dipaksa” menjadi orang lain oleh orang tua atau oleh keadaan. Sebab pendidikan tidaklah hanya membuat manusia berhasil di satu segi (misalnya menjadi pengusaha, atau penguasa), tetapi secara kejiwaan mereka juga harus menjadi diri sendiri yang bertanggung jawab. Maka tidak mengherankan (contoh negatip) bahwa banyak orang yang berhasil secara ilmu dan kedudukan, tetapi tidak bertanggung jawab sebagai manusia kepada sesamanya (sesungguhnya dia tidak membawa manfaat apapun bagi orang lain, sebaliknya mencelakakan banyak orang).

September 24, 2009 at 8:16pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Itoku yang baik, tidak sia-sia aku minta komenmu. Luar biasa. Tapi ada satu hal yangbenar-benar membalikkan logika saya:
<saya seperti berada ya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan … See Moreterbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)>.

September 24, 2009 at 8:37pm ·

Saut Poltak Tambunan

Pola pendididikan kita yang terlalu permisive kepada anak-anak membuat orang tua kurang berwibawa. Kita makan ceker dan kepala ayam, atau kepala ikan cuek, spy anak-anak kita dapat yang terbaik. kadang miris rasanya tulang ayam masih berdaging sudah disishkan di pinggir piring lalu ambil potongan daging lagi, lalu kita menjadi petugas kebersihan … See Moremenelisik sisa-sisa makanan anak kita. Tadinya saya berpikir orang tua kita dulu yang kepingin enak sendiri, sekarang saya sadar – pola itu sangat efektif utk menempatkan orang tua pada tempat yang seharusnya, shg tidak dipecundangi anak-anaknya seperti sekarang. Dulu Bapak berdeham saja kita sudah takut, sekarang kita melotot malah diketawain.

Terima kasih, Ito, paparan Ito membuat cerpen saya ‘Menunggu Matahari’ semakin lengkap memberi inspirasi bagi banyak orang. semoga bermanfaat.

Semoga ‘Paiman-Paiman, para ayah dan Minar-Minar’ membaca ini.

September 24, 2009 at 8:45pm ·

Melody Martinez

Thx utk tag-nya. Sy menganggap diri saya sbg seorang dosen yg sgt demokratis. Memberi pilihan bebas bagi mahasiswa utk memilih apa yg perlu bagi dia. Karena pendidikan tinggi adalah “andragogy” yaitu pendidikan orang dewasa. Kadang2 itu sangat efektif bagi mhs yg cukup cerdas. Sayangnya cuma kadang2. Saya mendapat pencerahan dr tulisan ini, bhw mendisplinkan mereka jg harus menjadi agenda dlm kelas. Again thx 🙂

September 24, 2009 at 10:01pm · Report

Marturia Tambunan

@Suhunan S; Nestor RT: Thank untuk ito-itoku yang baik, menyemangati aku menjadi lebih berani lagi. Hehehe, tadinya sungkan men-tag ‘orang-orang besar’, kepada para penulis Indonesia, tapi saya luar biasa bangga dengan dukungannya. Thanks ya.
@Ganda T; Rodion T: Ya, kadang-kadang, tujuan membuat orang tua memaksa kehendak, tapi pendidikan yang … See Moremembebaskan itu yang perlu diterapkan pada masa kni, sehingga anak-anak cinta pendidikan tanpa sebuah paksa.
@ SST: Kami juga mengalami, pengalaman ito, menjadi petugas kebersihan makanan anak-anak, tapi mereka haru dididik untuk menghargai makanan yang kita sediakan buat kesehatan mereka adalah berkat Tuhan, yang suatu saat boleh hilang dari diri mereka jika tidak dihargai dan disyukuri. Thanks juga untuk ito yang memintaku mengkomen, sehingga menjadi timbul pemikiran untuk menulis pola pendidikan ini.

September 24, 2009 at 10:07pm · Report

Marturia Tambunan

@Melody: Thanks juga, jika membaca tulisan ini memberi pencerahan bagi dosen briliant sepertimu.

September 24, 2009 at 10:10pm · Report

Ganda Tambunan

Aku tunggu tulisan/bukumu,seperti saran sdr kt nestor rico,mungkin mimpi bapak kt sbg guru bhs indonesia yg memberi nama saya sastrendra akan terwujud setelah dia tiada. Smg sukses.

September 24, 2009 at 10:24pm · Report

Marturia Tambunan

Oke. Kita mulai bersama.

September 24, 2009 at 11:15pm · Report

Erlina Ch D Pardede

Saya pernah menyiar di radio Diakonia HKBP Pematangsiantar, soal pendidikan anak-anak sekolah. Karena kekerasan juga terjadi di sekolah, dari guru terhadap murid-muridnya. Dalam dialog interaktif, seorang guru perempuan menentang habis pernyataan saya, bahwa “membangun komunikasi jauh lebih baik dari pukulan.” Guru tersebut mengatakan: “kalau saya… See More nasehati murid itu, dia tetap tidak mau membuat PR. Tapi kalau saya pukul, maka dia mau membuat PR. Jadi kan lebih baik dipukul ….”
Hhmm ….. saya tetap percaya bahwa pukulan itu akan membekas dalam sanubari anak dan ketika dia dewasa, dia akan mengulang itu entah kepada istri atau anak-anaknya. Bukan pemukulan yang bisa membuat anak menjadi berani, kuat dan tegar. Tetapi perhatian melalui komunikasi vis a vis dan disiplin ….

September 25, 2009 at 12:46am · Report

Basar Simanjuntak

Memang dalam kepelbagaian manusia, ada yang senang menerima “budaya” pukulan untuk semakin maju, walau itu tidak mutlak berlaku bagi setiap orang.

September 25, 2009 at 5:09am · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Sy setuju bahwa pemukulan bknlah yg terbaik untuk mendidik, tp sprti kt gr itu, kadang tindak kkrasan bs m’ubah

September 25, 2009 at 6:36am · Report

Erlina Ch D Pardede

Cukuplah pertemuan-pertemuan lokal, regional, internasional tentang “Anti kekerasan terhadap perempuan dan anak”. Cukuplah 1 dekade di gereja-gereja sedunia (WCC, LWF, CCA dll) yang dengan sengaja menjadikan tahun 2000-2010 menjadi tahun: “Decade to overcome violence against women and children”. Gereja sudah masuk dalam arak-arakan ini.
Cukuplah… See More semua usaha untuk menyadarkan dunia bahwa kekerasan itu harus dihentikan, apapun bentuknya, apapun tujuannya ….
Yakinlah kawan, kekerasan tidak akan mengubah apapun. Mungkin untuk tujuan sementara bisa, tetapi pendidikan dengan kekerasan itu hanya akan melahirkan “monsters” dalam keluarga, masyarakat dan gereja.
Cukuplah melihat dan mendengar berita tentang kekerasan di sekitar kita …
Mari kita masuk ke arak-arakan gereja sedunia itu …

September 25, 2009 at 2:05pm · Report

Jojor Silalahi

Dalam 2 Sam 7:14, tertulis bagaimana Allah sebagai Bapa akan mendidik Salomo dan anak-anak Daud lainnya dengan rotan dan pukulan. Yang menjadi pertanyaan : “Apakah polapndidikn ini masih relevan ? Seorang tokoh gereja pernah berkata ketika mendidik anak, orang tua membutuhkan rotan di tangan kanan dan apel di tangan kiri. Rotan untuk memukul dan … See Moreapel untuk menyatakan kasih dan perhatian. Saya setuju pemikiran ini dengan penekanan bahwa jika pukulan dibutuhkan maka hal yang patut diingat adalah orang tua harus menjelaskan mengapa ia harus memukul. Hal ini sangat penting supaya anak tidak dendam dan sakit hati pada orang tuanya. Ini menurut saya yang kurang dalam pendidikan orang tua masa lalu. Anak langsung dipukul tapi tidak ada komunikasi setelah pukulan. Akhirnya anak dendam dan sakit hati ama orang tuanya. Hal ini ada hubungannya nggak dengan kebanyakan syair dalam lagu Batak yanglebih mengenang kasih ibunya daripada Bapaknya ? Karena banyak orang Batak sakit hati dengan Bapaknya ?

September 27, 2009 at 2:56pm · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Kita punya pandangan & perjuangan yg utk memasuki arak2an Dewan Gereja Dunia utk menentang setiap kekeraan terhadap anak & perempuan. Saya hanya mjawab komen orang mgnai orang Batak yg dsebut sebagai orang tua yang keras memberlakukan anaknya. Jadi saya katakan ketika sistim itu terjadi, orang Batak banyak berhasil, apakah karena rasa sakit… See More ingin ‘penindasan’ itu, atau karena dia termotivasi dengan pukulan itu mjadi orang besar? Ternyata ketika orang batak mulai agak lunak kepada anak-anaknya, mental orang batak banyak yg ‘mundur’ dlm mjalani hidup, termasuk mghormati khidupan. artinya ahli-ahli pendidikan belum memberi alternatif untuk menjawab persoalan, karena sampai sekarang, sekolah-sekolah masih lebih diminati kalau guru2, tegas, disiplin dan memberi hukuman kepada orang yang membuat ‘perlawanan’; seperti tidk mgerjakan tugas, dibnd sekolah yg tdk peduli pd murid2ya. Saya hanya sedang memikirkan bgimana m’didik tanpa kkrasan,tp punya daya juang.

September 27, 2009 at 5:25pm · Report

Marturia Tambunan

@Jojor:Pandangan itulah yg masih dianut dalam sistim pendidikan, hanya orang lebih suka menghukum daripada menyediakan apel mengobati lukanya, klau boleh memang mendidik tanpa kekerasan, tp ternyata sampai sekarang belum ada solusi yang ditawaran khususnya dalam pendidikan keluarga yang saya pikir 75% mempengaruhi karakter si anak. semoga desertasimu nanti boleh meneliti pendidikan di tanah batak.

September 27, 2009 at 5:30pm · Report

Revianna Dairi

hi..inang sorry br baca notenya, saya rasa jaman sdh berobah, kekerasan tdk lg merupakan cara yg baik untuk mendidik anak, contoh inang, anak-2 yg di rumah, septi n lorenzo, klo saya suruh mereka dengan nada yg keras sedikit aja pasti melawan, tdk mau mengerjakan yg saya suruh, tp klu mereka saya perintah dengan lemah lembut pasti mereka akan mengerjakan apa yg saya suruh tersebut.

September 28, 2009 at 3:36pm · Report

Marturia Tambunan

Tq.

September 28, 2009 at 9:29pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Terima kasih teman-teman. sosok Paiman dalam cerpen Menunggu Matahari adalah potret kemiskinan struktural dalam masyarakat marginal seluruh masyarakat kita. Ada yang mencintai anaknya dengan disiplin keras, ada juga yang ‘keras’ tanpa alasan karena karakternya yang memang terbentuk bersama kemiskinan itu. Sedang sebagian lagi – menyayangi anaknya… See More … Read Moredengan cara memberikannya kebebasan berlebihan, (karena kemiskinan, ia tidak bisa memberi sesuatu yang menyenangkan anaknya, kecuali kebebasan), yang akhirnya kebablasan.

Sai mulak, sai mulak, ho naung laho jalangi … .

October 1, 2009 at 12:03am ·

Selamat Hari Minggu

Posted: February 6, 2011 in Uncategorized

Mulai hari ini kita ‘launch’ blog untuk sharing kreatifitas sastra.

Baginda Singa Insyaf (lagi)

Posted: February 5, 2011 in Lapo Kombur

gambar minjem dari internet

Saat hujan badai dan banjir, Baginda Singa golek-golek di mulut gua.  Seekor anak kelinci menggigil kedinginan menumpang berteduh.

Singa menelan liurnya, tetapi teringat komitmennya untuk insyaf.

”Baiknya aku ajak dia bermain-main untuk menghangatkan tubuhnya,” pikir Baginda Singa.

Lalu dengan kaki dan cakarnya yang kuat ia melempar-lemparkan tubuh si anak kelinci, mengajaknya bercanda dan tertawa.

Sementara bagi si anak kelinci, itu penyiksaan luar biasa!

Singa Insyaf Total

Posted: February 5, 2011 in Lapo Kombur

*damai itu indah*

Dari singgasananya, tiba-tiba Singa mengumumkan Gerakan Insyaf Total:

Semua penghuni hutan harus sayang menyayangi, tidak boleh saling memangsa!

Esok pagi, tersenyumlah Sang Singa melihat harimau makan rumput, serigala bercanda gelitik-gelitikan dengan anak-anak rusa di pinggir sungai. Kucing hutan cari kutu di kepala kelinci. Bahkan serombongan elang membawa anak-anak ayam terbang tinggi, pesiar menikmati pemandangan dari udara.

Tiba-tiba seekor serigala yang baru saja diangkat jadi pamong hutan menerobos masuk istana dan melapor:

”Mohon ampun, Baginda,  ada anak domba terluka ketika main ayunan dengan anak saya.”

”Astaga! Bawa kemari!”

Di hadapan semua penghuni hutan, Sang Singa menunjukkan kasih sayangnya kepada anak domba yang terluka di punggungnya. Dijilatnya luka itu dengan lidahnya sendiri. Dibersihkan darahnya. Anak domba tertawa-tawa sambil menggeliat kegelian.

”Sana, pergi main lagi!” kata Singa lalu menepuk pantat si Domba. Sang Singa kembali ke singgasananya sambil menjilat sisa darah di kumisnya. Matanya merem-melek.

Tak lama kemudian ia bangkit memanggil Kepala Pamong Hutan dan diminta untuk membuat pengumuman baru kepada seluruh penghuni hutan:

”MASIH DALAM RANGKA GERAKAN INSYAF TOTAL,  TERHITUNG MULAI BESOK PAGI SEMUA YANG TERLUKA HARUS DIBAWA KE HADAPAN BAGINDA SINGA UNTUK DIOBATI LANGSUNG OLEH BAGINDA SINGA!

Plok! Plok! Plok! Hidup Baginda Singaaaa!!

Segera setelah pengumuman itu, banyaklah binatang terluka dibawa ke hadapan Singa. Berderet-deret setiap hari. Ternyata masih kurang, sehingga seluruh prajurit diperintahkan untuk keluar masuk hutan  mencari binatang yang terluka.

SAE DODAK!!

Posted: February 4, 2011 in Cerita Pendek

Bah, sae dodak!

AKU baru saja menutup pintu kilang ketika si Pesong muncul bergegas dari seberang jalan. Bahunya bongkok miring ke kanan. Langkahnya menyeret kaki kiri yang cacat. Mulutnya terbuka sehingga giginya yang hitam menonjol itu selalu tampak kendati dia tidak tertawa.

Ah, orang tua ini lagi. Pasti dia akan mengajak aku mengobrol ngalor – ngidul seperti biasanya, padahal aku sudah lelah. Ingin lekas istirahat setelah sepanjang siang tadi terpasung melayani panduda atau pelanggan jasa kilang penggilingan padi ini.

Si Pesong, mungkin tujuhpuluh tahun umurnya. Tak ada yang tahu nama sebenarnya. Kampungnya entah di mana dan keluarga siapa. Ia tak punya pekerjaan, apalagi rumah. Malas mandi dan bajunya tidak pernah ganti, hingga baunya tercium ke sekitarnya. Dia suka tertawa dan menggerutu sendirian. Karena itu orang bilang dia pesong. Gila.

“Ah, sae dodak!” katanya putus asa sesampainya di depanku sambil menyodorkan sehelai koran lusuh bekas pembungkus. Wajahnya yang ‘semrawut’ tampak lucu.

“Apa lagi?” tanyaku tak bergairah, sambil mengibaskan dedak dari rambutku. Tapi seperti biasanya, aku tidak tega menunjukkan keenggananku. Sebab aku tahu hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara.

Orang tua ini segera nyerocos mengenai situasi politik. Jakarta ramai lagi. Mahasiswa dan polisi saling seruduk di Gedung DPR tapi masyarakat juga yang korban. Pendemo makin berani melawan polisi.

“Ini gara-gara hukum yang tak beres-beres. Endonesa gawat! Benar-benar gawat. Sae dodak!” katanya.  Bicaranya yang cepat dan air liurnya yang membuncah di sela giginya yang besar-besar membuatnya susah menyebut Indonesia.

“I n d o n e s i a,” kataku membetulkan.

Ia seakan tak mendengarnya. Ia teruskan mengoceh. Rampok merajalela lagi. Supir taksi dibunuh. Nasabah bank ditembak. Anak sekolah berkelahi tiap hari hingga ada yang mati. Pabrik narkoba digrebek. Penggusuran, kebakaran, pemerkosaan.

“Bah, bah, bah! Amang ooooi, Amang!” si Pesong  mengeluh  panjang. “Aduuuuuuhhh, Bapak.”

“Jakarta memang begitu. Mau apa?” sahutku dingin membuatnya terdiam. Kutunjukkan pula tanggal koran itu. “Lihat. Ini Koran lama. Beritanya sudah basi.”

“Ya, maksudku, ini ‘kan sudah mau pemilu …!”

“Bah, Pemilu bagaimana? Sudah lewat, hooii! Tapi sudahlah, mau diapakan Pemilu? Kau, keponakanmu – isteriku, para panduda, perduli apa mereka dengan kita? Kenapa pula kita harus mikirin mereka?

Orang tua ini mengerutkan dahinya yang kotor, tampak kecewa dengan sikapku yang dingin. Kecewa berat. Tiba-tiba aku menyesal sendiri. Aku sebenarnya tidak bermaksud melecehkannya. Aku hanya sedang malas bicara.

“Ada berita apa di sini?” tanyaku kemudian coba menghiburnya sambil membuka koran lusuh itu.

“Tidak ada apa-apa,” balasnya lesu sambil mengambil koran itu dari tanganku. Ia jengkel padaku.

“Begitulah hidup di kota besar,” kataku akhirnya, coba menetralisir emosinya. “Masyarakatnya individualis, materialis dan konsumtif. Tempo hari kau bilang politik itu kotor, makanya kau tak mau ikut-ikutan. Sekarang kau banyak protes. Sebaiknya kau terjun saja ke politik biar bisa membereskan itu semua.”

“Aku? Si Pesong gila terjun ke politik? Ha ha ha !” Si Pesong tertawa ngakak, mulai bergairah. Aku tahu ia paling suka dipuji.

“Ooo, si Pesong rupanya. Sudah makan kau, Tulang?” isteriku menyapa sambil melongokkan kepalanya dari jendela. Si Pesong menggeleng, ia masih ingin mengobrol.

“Tapi … ah, sae dodak,” kata orang tua itu lagi seakan putus asa. “Benar-benar sae dodak. Polisi sudah kewalahan. Orang-orang di Jakarta pun sudah masa bodoh. Egois. Tidak mau saling tolong.”

Kukeluarkan rokok dari sakuku. Masih ada tiga batang dalam bungkusnya. Kuberikan semua dan matanya kontan berbinar. Dia ambil satu dan dinyalakan. Sisanya dimasukkan ke buntalan kainnya.

“Ck, ck, ck!” aku mendecakkan lidahku, berlagak serius. “Semua mata anak bangsa ini menatap ke ibukota Jakarta. Lewat Koran dan tv tiap hari kita saksikan Jakarta babak belur dengan luka-lukanya yang borok bernanah. Akan ke mana masa depan negara kita ini?

“Jakarta sudah sakit berat,” jawab si Pesong sekenanya. Mulai asyik sendiri menikmati rokok di tangannya.

Beberapa anak kecil pulang dari memancing ikan di danau melintas di depan kilang. Mereka berteriak mengejek si Pesong.

“Hoi, Pesong, Amerika payah! PSMS keoook! PSMS banci!”

“Mana bisa!?” balas si Pesong berteriak. “Biar gunung runtuh, PSMS tetap ..!”

“Tetap gila! Si Pesong tetap gila! Gila! Gila!”

“Bapakmu yang gila! Suruh bapakmu ke sini! Aku nggak takut!” balas si Pesong. Ia membuat lingkaran di tanah dengan jempol kakinya. Lalu menginjak-injaknya dengan gemas. “Ini bapakmu! Ini ompungmu! Nih! Nih!”

“Pesong sinting! Pesong PKI!”

Si Pesong memungut batu lalu melempar anak-anak itu. Tetapi tangannya yang kurus itu terlalu lemah. Lemparannya tak sampai hingga  anak-anak itu semakin berani mengejeknya. Sebagian berjoget mengejek. Sebagian lagi menirukan gerak tubuh si Pesong yang cacat dengan langkah terseret-seret.

“Heh, sana! Pulang semua!” aku ikut marah sambil berlagaK akan memungut batu. Anak-anak itu lari tunggang langgang. Sampai jauh teriakan mereka mengejek si Pesong masih terdengar.

“Sudah, kau pergi dulu. Besok saja kita mengobrol. Aku capek. Hari ini aku banyak kerja.”

Si Pesong kecewa. Wajahnya kecut. Dari mulutnya yang tenganga air liur tampak menggantung lalu menetes ke bajunya. Ia masih ingin mengobrol, sangat ingin.

“Pergilah,” kataku lagi, menyodorkan dua keping uang logam limaratusan.

Ia menatap mataku sejenak. Sendu. Diambilnya uang itu dari tanganku lalu berbalik pergi. Jelas ia tak puas dengan sikapku, tapi aku mau apa? Aku capek. Aku mau mandi, makan, lalu tidur.

Isteriku muncul pula dengan sebungkus nasi dan sekerat ikan arsijk mujahir. Si Pesong menerima bungkusan itu sambil bergumam:

“Suamimu ini sakit. Ia perlu berobat!”

Isteriku tertawa. Si Pesong selalu berkata begitu kalau jengkel padaku.

Si Pesong pergi, terseok-seok menjauh. Aku masuk ke rumah. Memang, tak biasanya aku begitu dingin padanya. Tapi tak mengapa. Besok ia akan datang lagi.

Almarhum kakekku adalah orang pertama yang membuka usaha kilang padi di daerah sini. Pelanggan atau panduda datang sendiri membawa padinya untuk digiling menjadi beras. Juga datang dari kota-kota kecil lain. Juga dari pulau Samosir, naik kapal kayu menyeberangi  Danau Toba. Dulu, tentara Jepang pun membawa padinya kemari.

Kilang padi ini terletak tak jauh dari pinggir danau toba. Di bagian  muka bangunan tua ini masih tertera nama usaha: Toek-tak Mandoeda eme!

Masih dalam ejaan lama. Manduda eme artinya menggiling padi. Panduda berarti pemilik padi yang akan digiling. Sedang tuk-tak sesungguhnya tidak berarti apa-apa. Hanya menirukan bunyi mesin huller tua itu. Tetapi karena usaha kakekku ini begitu terkenal, nama tuktak jadi monumental. Anak cucunya pun selalu dikenal dengan identitas keluarga tuktak.

Dalam proses kerja menggiling padi, padi dituang dari karungnya lewat corong besar yang ada di lantai atas putaran penggiling.  Sekarung demi sekarung. Beras akan keluar dari corong kecil di bagian muka dan dedaknya mengucur di bagian belakang. Dedaknya diambil untuk makanan ternak.

Ketika padi panduda pertama sudah habis tergiling, putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Padi putaran penggiling tidak boleh sampai kosong. Karena itu padi panduda harus segera dituang dan  petugas dari atas akan berteriak memberi aba-aba: Saaee dodaaaak!!

Secara harfiah sae dodak berarti ‘selesai dedak’. Teriakan pekerja itu adalah pemberitahuan bahwa beras dan dedak berikut adalah milik panduda lainnya. Karung penampung beras harus segera ditukar dengan milik panduda lain. Harus diteriakkan keras-keras, agar terdengar ke dalam ruang dedak di bagian belakang yang bising dengan suara mesin.

Dari kilang padi ini jargon sae dodak merebak ke mana-mana. Sae dodak menjadi ungkapan rasa tak puas, putus asa dan kecewa. Anak tak lulus sekolah atau tak naik kelas, orang tuanya bilang sae dodak. Padi di sawah dimakan hama, ah, sae dodak. Begitu pula dengan kekeliruan meletakkan buah catur di lapo tuak: Sae dodak!

Si Pesong tahu betul jargon itu. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar aku drop out dari kuliahku dan berkali-kali ditangkap polisi karena ikut unjuk rasa di Jakarta. Ketika kuputuskan meninggalkan Jakarta dan pulang kampung untuk mengurusi warisan kilang padi ini, ia mengejek aku dengan jargon sae dodak itu. Ketika Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani mulai disebut-sebut orang dalam kasus Bank Century,  jauh-jauh hari dia sudah bilang sae dodak.

Si Pesong tak jelas datang dari mana. Sejak belasan tahun lalu orang tua ini sudah berkeliaran di sekitar sini. Semasa nenekku masih hidup, si Pesong ini sering diberi makan. Ketika itu dia tampak sudah setua sekarang ini.  Setelah itu menghilang dan baru muncul lagi bebertapa tahun belakangan ini. Kabarnya ia ditangkap keluarganya untuk diobati. Sempat sembuh, lalu kumat lagi.

Kadang aku memberinya pekerjaan sekedar menjaga padi di pelataran jemur agar tak dimakan ayam atau biri-biri milik orang Bengggali yang tinggal  di belakang rumah. Tapi dia malas bekerja. Selalu cari alasan. Ia lebih suka nongkrong sepanjang hari di muka kedai si Rapolo. Menguping debat-kusir orang-orang  di sana. Mulai dari olah raga, politik dalam dan luar negeri, ekonomi, militer, teroris dan segala macam. Silang pendapat dalam debat itu direkamnya dalam benaknya lalu disoalkannya padaku.

Satu-dua kali seminggu ia pasti datang padaku dengan macam-macam issue. Kulayani saja dia bersoal-soal. Bagiku itu menghibur. Membuatku lupa akan penat seharian mengurusi kilang padi.

Aku tahu semua yang disoalkannya itu bukanlah pendapatnya. Cuma menguping pendapat orang lain. Tapi aku suka. Aku senang. Memang aku dan si Pesong terjebak dalam pertemanan yang aneh. Aku selalu sibuk mengurusi usaha kilang padi warisan ini, karena itu tak punya waktu untuk duduk berleha-leha dan berdebat di lapo. Sedang si Pesong juga senang padaku, karena hanya aku yang mau mendengarkan dia bicara. Tambah lagi aku selalu memberinya rokok dan isteriku memberinya makanan.

Ia suka koran. Ia bisa membaca koran bekas sampai berjam-jam. Isi koran yang dianggapnya tak beres, selalu dikomentarinya dengan: Sae dodak! Kadang aku sengaja memancing emosinya dengan cara  menempatkan pendapatku berseberangan dengannya. Lalu kami berdebat sampai ia jengkel lalu berkata: Bah, sudah sae dodak, kau sudah ikut sakit!

Masih sering ia mengeluhkan peristiwa  mahasiwa Trisakti yang mati tertembak di kampusnya. Ia juga bilang sae dodak ketika mendengar jumlah korban mati dalam bencana gempa di Sumatera Barat.

“Kenapa bukan aku saja yang mati, ya?” katanya sekali waktu. “Orang gila mati tidak ada yang sedih. Semua orang senang. Tapi … sebenarnya mana lebih bahaya, aku yang orang bilang gila atau mereka yang gila-gilaan itu?”

Kadang ada saja omongannya yang menghisap aku pada pusaran  perenungan yang dalam. Banyak yang tak sengaja kupelajari dari dia.  Kalau saja tidak gila, ia pasti pintar. Sekarang ke-tidakberdayaan-nya membuat semua orang merasa berhak mengejeknya.

Berminggu minggu kemudian ia tak muncul. Aku tidak ambil opusing. Itu biasa. Lagi pula aku sibuk belakangan ini.  Si Hercules, anak abangku mau kaiwin. Aku kebagian tugas mengurusi macam-macam keperluan pestanya nanti.

Suatu hari, sudah hampir tengah malam aku tiba di rumah. Kepalaku pening. Rasa kesal, marah dan sejuta rasa tak enak lainnya menyatu menggerogoti perasaanku. Bapak si Hisar dari kampung sebelah, kemarin sudah setuju menjual kerbaunya untuk keperluan pesta itu. Hari ini mendadak ia batalkan dengan asalan yang tak masuk di akalku. Padahal hari pesta tinggal empat hari lagi. Cari babi yang besar pun sudah sekarang ini. Penyakit babi mengganas membuat ternak babi punah di mana-mana.

Pulang dari rumah bapak si Hisar, aku dapati si Pesong terbaring melingkar di muka pintu gerbang. Ini tidak biasa. Takut jadi kebiasaan nanti, maka aku usir dia.

“Aku ….. !” desah si Pesong coba menjelaskan.

“Pergi kau!” bentakku. “Diberi hati minta jantung kamu! Diberi makan minum eee malah tidur di sini …!”

Si Pesong terbatuk-batuk. Tubuhnya yang kurus itu terguncang-guncang. Sambil menatapku sendu, ia memenahi tikas lusuh dan buntalan kainnya yang kotor. Mulutnya terkunci. Tanpa bicara sepatah pun, ia tertatih-tatih menyeret langkahnya. Pergi. Menghilang di kegelapan malam.

“Tampaknya dia sakit,” kata isteriku.

“Sakit apa? Orang gila tidak pernah sakit. Dari puluhan lalu ia sudah begitu, tapi mana mau dia mati?” kataku ketus sambil menutupkan pintu. “Orang gila sudah matinya, tahu?”

Besok paginya, seperti biasa aku membuka pintu jendela kilang. Si sordang, anak kampung yang bekerja harian di kilang padi ini datang sudah hampir jam delapan. Dan, ia membuatku  terkejut setengah mati.

“Ramai sekali orang di pantai situ,” katanya. “Si Pesong mati. Ditemukan sudah kaku di dalam gorong-gorong besar itu.”

Ya, Tuhan! Sejuta petir pun tak akan membuatku sekaget ini. Di pantai danau situ memang berjajar gorong-gorong baru berdiameter satu meter yang akan dipasang menggantikan parit lama. Hanya dua ratus meter dari rumah ini.

“Kau sudah tengok? Benar-benar si Pesong?”

“Kata orang sih si Pesong.”

“Bah, mestinya kau tengok dulu!”

“Bah, untuk apa pula orang gila mati ditengok?’ balas si Sordang tertawa.

Aku bingung. Kulihat isteriku bergegas pulang dari tepi danau. Tangannya kosong, tak jadi beli ikan.

“Paaakk ….!” Suaranya tersedak. Air matanya mengambang.

Aku tak menunggunya selesai bicara. Aku berlari sekencangnya menuju pantai,. Tapi orang-orang sudah bubar. Tubuh pipih yang sudah membeku itu telah diangkut petugas ke rumah sakit. Aku termangu. Ingin menjerit sekeras-kerasnya memanggil namanya.

Si Pesong telah pergi. Ini pertama kali aku sadar bahwa dialah satu-satunya sahabatku. Padahal tadi malam ia ke rumahku. Padahal mungkin hanya untuk minta minum, makan, obat atau apalah. Padahal mungkin hanya mau pamit. Padahal …!

Aku bersandar lemah di sisi gorong-gorong. Kutelan ludahku. Pahit. Ah, benar-benar sae dodak!

***

Menunggu Matahari

Posted: February 4, 2011 in Cerita Pendek

: Saut Poltak Tambunan

SEMUA orang di kampung ini pasti masih ingat bahwa ayahku pemarah. Ayahku sadis. Ayahku sering berlebihan memukuli anak-anaknya. Orang-orang kampung sering memperingatkan ayah, tetapi tidak pernah diperdulikan. Bahkan sekali waktu ia pernah menantang Kepala Kampung yang datang mencoba menenangkannya.

“Aku punya hak mengatur rumah tanggaku ! Mengatur anak-anakku ! Kalian mau apa, hah!?” begitu ayah menantang semua orang. Tubuhnya kekar dan otot lengannya menggerimpal setiapkali ia mengepalkan tinjunya.

Kalau sudah begini Pak Kepala Kampung hanya bisa mengangkat bahu. Ayah memang keras kepala. Selalu tidak mau menerima pendapat orang lain. Dianggapnya mereka usil mencampuri urusan rumah tangganya.

Di balik kamar ayah, masih tergantung sebilah rotan panjang semeter. Sudah tua dan coklat menghitam warnanya.  Benda mati itu adalah monster amat menakutkan di tangan ayah, terutama bila tengah malam pulang dari lapo tuak ‘simpang tolu’ dengan buar bau tuak yang keras.

Ayah suka mabuk. Bila mabuk ia tidak pernah perduli apa-apa. Kadangkala ia mengamuk tak jelas sebabnya, persis orang kesetanan. Tak perduli tengah malam. Biasanya Pamian – abangku yang menjadi sasaran. Rotan itu akan meliuk-liuk di udara sebelum menghantami tubuh Pamian. Ibu hanya bisa menangis di sudut kamar. Tidak bisa mencegahnya.

Tetapi dalam keadaan tidak mabuk pun ayah tetap saja sadis. Sedikit saja tak berkenan di hatinya, ia bisa mengamuk sepanjang hari. Bahkan sesekali ibu juga ikut mendapat pukulannya.

Kepadaku, sikap ayah memang sedikit berbeda. Meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak pernah dapat marah. Sesekali aku dipukul juga. Tapi tidak setiap hari seperti Pamian. Pukulan yang kuterima pun tidak separah yang diterima Pamian.  Barangkali karena aku anak perempuan, apalagi  sejak kecil sering sakit-sakitan.

Dasar anak kecil, sikap ayah yang sedikit berbeda itu membuat aku amat manja. Bertelingkah cengeng tak alang kepalang. Sedikit saja merasa tak enak, aku langsung merajuk dan menangis. Jika ayah mendengar aku menangis. Ia akan marah besar.

Ah, inilah sumber malapetaka itu. Entah karena terlalu sayang dan gemas, abangku ini sering menggodaku. Ia suka mengacak kepang rambutku, atau mengejek kulitku yang hitam – yang kata dia seperti orang Keling. Kalau sudah begini aku sengaja menangis keras-keras dan ayah akan memukul Pamian.

Kasihan abangku. Melihat ia dipukuli begitu, aku sering berbalik menjadi ketakutan. Rasanya amat menyesal lalu menangis sesenggukan di pelukan ibu. Sehabis dipukuli, Pamian akan masuk ke kamarnya yang pengap dan menahan tangisnya di sana.

Dari celah dinding aku mengintip diam-diam dan menatapnya sendu. Menyesal. Tetapi sungguh aku tidak tahu bagaimana harus menunjukkan penyesalanku. Kadang esok paginya sepotong kue atau uang jajanku kubagi untuknya. Aku memang selalu mendapat uang jajan dari ayah setiap akan berangkat ke sekolah. Tidak seperti abangku.

Pagi itu, sebelas Mei sepuluh tahun yang lalu. Ah, hari itu tak pernah lepas dari ingatanku. Ibu ke sawah, sedang ayah seperti biasanya duduk berguncang kaki, mengobrol atau main catur di lapo tuak ‘simpang tolu’.  Sehari-hari memang ibu yang ke sawah. Ayah hanya ke sawah ketika mangombak balik – mencangkul untuk membalik tanah, sebelum diratakan untuk menanam padi), dan manabi – memanen padi.

Jam sembilan pagi sekolah sudah bubar. Ada encik guru yang menikah. Pamian. sudah kelas empat, aku kelas dua. Abangku ini mengajakku pulang lewat  jalan pintas saja. Lewat tebing dan pematang sawah. Tadi pagi sebelum berangkat aku memang sudah mendengar ibu menyuruh Pamian agar pulang lebih cepat. Kami mau diajak ke pesta orang kawin, ya, encik guru itu.

Lewat jalan setapak di celah pekuburan, sepasang kupu-kupu putih mungil terbang melintas di atas kepalaku. Aku tercingangah sejenak. Cantik sekali berloncatan di atas warna-warni bunga pekuburan.

“Mian! Aku mau itu!” kataku menunjuk kupu-kupu itu.

“Bah, sudah terbang, Minar,” sahut Pamian lirih. “Sudah, besok aku cari yang lebih bagus.”

“Tapi, aku maunya itu!” aku merengek.

“Kita harus cepat tiba di rumah. Nanti ditinggal kita.”

“Nggak! Tangkap dulu kupu-kupu itu,” aku merengek lagi. Seperti biasa, kuperas air mataku.

“Minar, besok kucarikan kupu-kupu yang lebih bagus.”

“Nggak! Nggaaaak! Aku mau itu!”

“Dengar, Minar,” tambah Pamian sabar seraya merangkul bahuku, namun cepat kutepiskan. “Kita mesti pulang cepat-cepat. Kalau kita cepat pulang, kita bisa ikut ke pesta. Di sana kita bisa makan enak.”

“Nggak mauuuuu!” jeritku melengking sambil duduk di atas rumput yang sesiang itu masih basah oleh embun pagi.

Nah, ini senjataku. Kalau sudah begini Pamian tak punya pilihan lain. Ia pasti menurut. Ia memang selalu menuruti apa saja kemauanku. Maka digendongnya tubuhku dengan lengannya yang kurus. Didudukkannya berteduh di tembok kuburan, di bawah pohon mangga yang banyak tumbuh di sekitar situ.

“Tunggu di sini, ya? Jangan ke mana-mana,” pesannya sambil meletakkan bukunya di sebelahku. Lalu ia gegas berlari. Dikejarnya kupu-kupu yang terbang sudah jauh, bagai dua titik putih saja melompat-lompat di atas bunga yang banyak tumbuh di atas tanah pekuburan itu.

Sebentar saja Pamian sudah jauh. Tak kudengar lagi suara kakinya berlari. Bahkan tubuhnya yang kurus dengan kemeja berkibaran sudah tak terlihat lagi dari sini. Sudah menyelinap di antara tembok kuburan yang tinggi-tinggi.

Aku masih duduk. Diam saja. Padahal aku juga kepingin ikut ke pesta, kemiskinan membuat kami jarang makan daging. Sejak di kelas tadi aku sudah membayangkan duduk ramai-ramai di  tikar besar lalu setangkup ‘daging sangsang’ akan datang ke piringku. Biasanya ibu langsung menyisihkannya separuh, dibawa pulang untuk makan malam nanti.

Tetapi aku pembosan, tidak betah lama-lama duduk menunggu. Tanganku mulai mengorek-ngorek lobang semut. Ah, aku punya permainan sendiri. Kucabut  sebatang ilalang rumput jarum. Panjang sejengkal. Bagian ujungnya yang lembut kumasukkan ke dalam lubang semut. Kukilik-kilik. Lalu kulepas. Kutunggu sampai ujung ilalang yang bagian atas bergerak-gerak. Itu berarti ada semut menggigitnya di dalam sana.  Lalu kusentakkan keluar. Nah! Seekor semut hitam — semut bakau besar ikut tersentak keluar dari lobangnya.  Kutangkap seekor lainnya, kuadu setelah sungutnya kuputuskan.

Beberapa lama berkelahi, kedua ekor semut itu sudah terkapar keletihan. Aku menguap,  rasa kantuk menyerang mataku. Tetapi Pamian. belum muncul juga. Bah, ke mana dia? Kepalaku celingukan mencari-cari, telinga kutelengkan. Sepi. Tak satu orang pun tampak di sekitar pekuburan ini. Hanya suara burung dan serangga yang berceriap-ceriap di pohon, ditingkah derik batang rerumpun bambu saling bergesek. Untungnya aku sudah terbiasa, sehingga tidak ada rasa takut.

Cericit suara burung kecil bercumbu menarik perhatianku. Aku menatap ke atas pohon. Aku berdiri. Sepasang burung tiba-tiba terbang entah dari mana. Tetapi perhatianku beralih pada serangkum buah mangga mengkal di ujung dahan sana.

Amboi, asyik juga ! Hal memanjat, bukanlah aneh bagi seluruh anak-anak kampungku. Tidak perduli anak laki atau perempuan seperti aku ini.  Aku segera naik.  Hup! Hup! Sekejap saja aku sudah berada di atas. Bebas semauku memilih mangga yang kusuka. Agak kecut, sebab masih mengkal. Tetapi bagiku cukuplah, sambil berayun-ayun di ujung dahan. Sambil menunggu Pamian..

Tapi tak kulihat Pamian. Padahal dari sini aku bisa melihat lebih jauh. Sejauh mataku melihat, hanya tampak kuburan putih berderet. Bangunannya bagus-bagus  bagaikan gereja. Ada yang bahkan lebih besar dari rumah kami. Di seberang sana – di bawah perbukitan kuburan, tampak sawah bersusun. Lalu rerumpun bulu-duri – bambu yang membentengi kampung kami, pucuknya mengangguk-angguk dicumbu angin,   Durinya panjang berbisa dan mampu menembus alas sepatu.

“Ke mana Pamian ?” pikirku.

Aku naik lagi agak ke atas. Kakiku kecil dan lincah. Naik hingga ke ujung dahan. Haa! Rupanya dari ketinggian sini aku bisa melihat rumah kami.  Nah, itu, beratap seng yang sudah karatan dan bertambal-tambal. Tetapi, Pamian belum tampak juga. Aku naik lebih tinggi.

Tiba-tiba …! Aduh ! Aku hanya sempat mendengar bunyi dahan berderak patah. Krraakk! Lalu tubuhku melayang!

*

AKU sadar – sudah terkapar di atas dipan kecil di rumah Ompu Ombis, Dukun Patah Tulang terkenal di daerah sini. Aku tidak bisa bergerak. Ternyata kaki kiriku patah di di atas lutut. Sekarang dianduh dengan kayu penopang dan diperban tebal sekali.  Ditambah dengan beberapa luka lain di sekujur tubuhku, sempurnalah ngilunya. Aku tak berani menangis, sebab mengeluarkan tenaga sedikit saja membuat rasa sakit itu makin menyentak.

Samar aku lihat ada ibu, menangis. Sebentar-sebentar menghapus air matanya dengan gobar – kain ulos lusuh yang mengampai di bahunya. Tampak juga beberapa orang tetangga  mengelilingi aku. Tetapi tak kulihat ayahku. Tak kulihat juga Pamian. Bah, ke mana abangku? Ayah pasti sudah menghajarnya habis-habisan ! Ohh !! Tiba-tiba  aku merasa takut, belum pernah setakut itu.

“Mak, Pamian di mana?” desahku bertanya.

“Sudahlah, jangan pikirkan lagi dia,” sahut ibu datar.

“Di mana Pamian, Mak?” aku ulangi.

Ibu tak terdiam. Diusapnya wajahku. Tatapannya amat sendu. Ah, tatap mata ini selalu membayangi pikiranku hingga bertahun-tahun kemudian. Perlahan dari bibirnya aku dengar tangisnya.

“Kemana, Mak ?“ aku mendesak.

“Entahlah, ” sahut ibu akhirnya. “Emak tak tahu ke mana dia.”

Sore harinya dari cucu dukun patah tulang  itu kuketahui bahwa siang itu Pamian terseok-seok mendukungku di atas pundaknya. Ia membawaku langsung  ke rumah   dukun patah ini. Minta dirawat.  Setelah itu diam-diam ia pulang sebentar ke rumah. Ia mengambil beberapa potong pakaiannya, lalu menemui ibu di tempat pesta kawin – di kampung tetangga. Ia hanya bilang bahwa aku ada di rumah Ompu Ombis. Sebelum ibu bertanya apa-apa, ia sudah berlari sekencangnya. Entah ke mana dia pergi, ibu tidak tahu. Tidak  sempat mencegahnya.

Menjelang tengah malam, ruang pengab tempatku terkapar itu, senyap. Tadi ayah datang. Aku seakan bisa melihat api berjilam-jilam di atas kepalanya. Ia sudah mencari Pamian ke seluruh pelosok kampung. Sia-sia. Ibu dimarahinya habis-habis seperti perempuan tak berguna. Sudah itu pergi dengan matanya yang semerah bara.

Makin malam, makin sakit seluruh tubuhku. Dalam temaram lampu redup di   dinding kulihat ibu terkantuk-kantuk di atas tikar. Pasti lelah sekali dia. Menunggui aku. Sudah seharian ia menangisi aku, menangisi abangku. Ah, pikiranku masih terhidap dalam pusaran baying-bayang tubuh abangku yang berlompatan di atas kuburan Cina. Mengejar kupu-kupu yang kuminta.

“Mak, abang di mana?” desahku menangis lemah, tak sungguh-sungguh ingin membangunkan ibu.

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu.

“Dek ..! Dek ..! Dek.. !”

Aku terkejut. Ada ketukan perlahan di dinding bambu kropos yang rapat ke balai-balai tempatku terbaring. Aku terkejut, takut sungguh. Tetapi aku dengar suara seseorang di luar sana.

“Nar ..! Minar… !” bisiknya, disusul dengan ketukan lagi. Dek ! Dek ! Dek !

Aku bergeser dengan susah payah. Aku rapatkan telingaku ke dinding itu. Oh, aku dengan suaranya. Abangku Pamian.

“Mian …!” sahutku, perlahan.

“Minar ….!” kudengar suaranya tersedak. “Masih sakit?”

“He eh, masih. Sakit sekali. Kau dari mana?”

“Tadi aku tidak berhasil menangkap kupu-kupu itu. Tahu-tahu aku melihat sarang burung. Ada anaknya. Maksudku – untuk kau, pengganti kupu-kupu itu. Ini aku bawa. Kau mau, ya ?”

Dinding bambu di samping balai-balai ini sudah keropos. Kudengar Pamian menguakkannya dari luar. Dibuatnya lubang di dinding itu. Ia mengintip. Samar-samar kulihat bola matanya berkilau, berkaca-kaca. Sebelah tangannya yang kurus dan dingin kemudian menjulur masuk. Mengelus pipiku. Mengusap air mataku. Lalu tangan itu kemudian menyodorkan seekor anak burung sipigo.

“Ini, Minar. Kau pelihara, ya?”

Aku mengambilnya dari tangan Pamian. Cit! Cit! Ia berbunyi keras dan cepat-cepat kudekapkan ke dadaku. Kudengar ibu terbangun dari kantuknya.

Rupa-rupanya Pamian dapat juga melihat ibu terbangun. Sebab tiba-tiba kudengar suara langkahnya berlari menjauh. Jauh; menembus kesenyapan gelap malam.

Hari-hari berlalu dengan pengab dan sepi, Pamian tak muncul juga. Cucu Ompung Dukun meminjamkan sangkar burung untuk burung sipigo-ku. Diletakkannya di atas meja – disamping balai-balai. Cucu dukun patah tulang itu baik. Setiap sebentar burung itu diberinya  makan minum.

Namun cericit anak burung itu aku dengar bagai tangis Pamian yang kini sendirian entah di mana. Kadang aku melamun, berkhayal – andai aku bisa mengajari burung itu untuk kusuruh mencari Pamian. Seperti yang pernah aku baca di buku cerita. Tetapi tak sampai tiga hari burung itu sudah tergeletak kaku di lantai sangkarnya. Mati.

Ito,  kau pulanglah …!” aku menangis.  Ini kali pertama aku menyebutnya ‘ito’ – seperti seharusnya aku menyebutnya.

*

SEPULUH tahun lebih berlalu. Ito-ku Pamian tak jelas rimbanya.  Enam tahun lalu ibu meninggal. Pamian tak melihatnya. Sekarang ayah pun terkapar dalam sakit-sakitan yang parah. Mabuk-mabukan di masa mudanya telah menjadikan tubuhnya sarang penyakit di hari tua. Sementara aku, terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMA. Jadi gadis pengangguran di kampung.  Sawah kami dikerjakan orang dengan bagi-hasil. Aku hanya bisa membuka warung kecil di beranda depan, sambil merawat ayah di rumah.

Kepadaku ayah bilang tidak mau mati sebelum bertemu dengan Pamian. Aku sangat sedih tapi tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah titip pesan ke banyak orang.  Beberapa kali aku sudah pasang iklan di surat kabar – di kota, minta Pamian pulang. Tapi sia-sia. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, mohon Tuhan beri jalan pulang untuk abangku, sekiranya masih hidup. Beri kesempatan terakhir pada ayahku melihat Ito-ku Pamian pulang.

Aku tahu ayah menyesal. Sekarang ia  rindu Pamian, serindu-rindunya. Ayah ingin memeluk dan menciuminya sebagai tanda penyesalan. Meski pun hanya sekejap, sebelum ajal menjemput tubuhnya yang kian ringkih. Nyatanya, ayah memang belum meninggal walau penyakitnya sudah semakin parah.

“Miaaannn ..! Pamiaaaan, pulanglah, Nak, Hasian-ku!” begitu ia sehari-harian mengerang.

Pilu !

***

*Ito: panggilan kepada saudara lain jenis kelamin

Hasian: kesayangan

1990-2005