Memasuki dunia penulisan sastra di usia 71 tahun, Lince Nainggolan seperti tak kehabisan ide. Dalam tempo 3 tahun sudah menulis 6 novel. Termasuk buku terbaru ini, MONIK, terbit Mei 2023.
Kisah Monik diawali dari sepasang suami isteri, Fernando dan Frida yang sudah sepuluh tahun tak memperoleh momongan. Berbagai usaha sudah dilakukan. Harus bersabar. Tetapi, kerinduan orang tua untuk menggendong cucu ada kalanya lebih menggebu-gebu, melebihi kerinduan Fernando dan Frida. Kata ‘cerai’ dan ‘kawin lagi’ yang berulang-ulang terdengar dari orang tua Fernando menjadi teror dan ancaman.
Ancaman itu menghantui pikiran Fernando, hingga nekad memaksakan solusinya kepada Monik, gadis, adik isterinya yang tinggal serumah. Kaki dusta itu pendek, tetapi mudah beranak-pinak. Sambil minta maaf, Fernando meminta kesediaan Monik berkorban untuk kakaknya, Frida. Fernando berharap Monik hamil, nanti anaknya akan diadopsi dan diaku sebagai anak Fernando dan Frida.
Monik setuju. Dia memang hamil. Kebohongan baru muncul, Monik mengaku kehamilannya adalah akibat kebablasan dengan pacarnya yang kabur tak mau bertanggung jawab. Rencana Fernando berhasil. Frida isterinya berlagak hamil, sementara Monik bersembunyi hingga anaknya lahir kembar laki-laki. Kedua anak itulah kemudian diaku sebagai anak kandung Fernando dan Frida. ‘Berita gembira’ ini dikabarkan kepada orangtua mereka di kampung.
Lince membangun konflik dari situasi ini, bahwa Frida punya anak kembar yang sah, meski belum pernah melahirkan. Sementara adiknya Monik harus menjadi ‘anak gadis’ meski sudah melahirkan anak kembar. Lalu bagaimana nasib Monik? Mampukah Monik menahan rindu untuk tidak mengaku bahwa ia adalah ibu dari si kembar itu? (spt)
DEDE, begitulah Donda Dumora dipanggil teman-temannya. Gadis ini sudah menari Jaipongan dan tari Topeng di Cirebon. Tari Jawa di Semarang. Di Medan belajar tari Melayu dan Tortor. Ia suka tari. Sangat. Jangankan fisiknya, darahnya pun menari.
Tari Bali mengenalkannya pada Kompyang, guru tari. Ia bertumbuh dewasa di sanggar yang menjadi rumah keduanya. Ada cinta bersemai diam-diam. Mereka menyadari cinta yang bertumbuh diam-diam itu, justru ketika berada di Cape Point Afrika Selatan – Tanjung Harapan. Ketika berhadapan dengan laut pertemuan arus panas Agulhas Samudra Hindia dengan arus dingin Bungela Samudra Atlantik.
Cinta, yang mereka sadari akan terbentur pada kenyataan pahit. Pada perbedaan di belakang Donda dan Kompyang dan berpotensi menciptakan badai besar seperti yang dihadapi kapal Bartolomeuz Diaz dan Vasco da Gama di abad ke-15. Lalu sepakat untuk ‘hanya untuk di sini, hanya sampai di sini’. Berat nian, tapi harus.
Ada Maru di kampus. Si Maruahal ‘doli-doli Batak’ yang malu dan berusaha ingkar pada kebatakannya. Ia suka Donda, tapi Donda sebaliknya. Muak. Maru bukan hanya ‘kampungan’, tapi juga licik. Inangnya sudah tua di kampung dan berharap bisa melihat Maru menikah, anak lelaki satu-satunya. Setidaknya, melihat dan mengenal pacarnya, ‘binsan mangolu ahu’ dan ‘andorang so mate ahu’. Selagi saya masih hidup.
Maru bohongi inangnya dengan enteng, menyebut nama Donda sebagai pacarnya. Dia pikir inang akan puas, lalu diam dalam tenang. Ternyata tidak sesederhana itu. Inang justru berkeras datang ke Bali untuk melihat dan mengenalnya sendiri. Lagi-lagi dengan dalih ‘binsan mangolu ahu’ dan ‘andorang so mate ahu’. Bahkan untuk itu, inang membongkar perkakas tenun dari gudang dan menenun sendiri ulos dengan bertuliskan nama Donda.
Dede, Donda Dumora, gadis Batak yang menari Bali. Dengan tari ia dibawa Kompyang melanglang buana. Tetapi seayun langkah keliru mengubah semuanya. Ia hamil sebelum menikah, justru oleh Doli, ‘anak tulang’-nya yang adalah kebanggaan seluruh keluarga besar. Anak dan cucu ‘panggoaran’, sijungjung baringin yang punya pekerjaan bagus dan magister lulusan negeri.
Itu musibah. Pantang besar dalam kekerabatan Batak. Mereka diusir. Terpaksa menikah diam-diam hanya agar anak itu kelak lahir dari ayah-ibu yang punya surat nikah.
Hidup dan mati adalah misteri. Masalah pun tak pernah datang sendirian. Selalu membawa saudara, teman, paman, ompungnya dan lain-lain. Donda seakan hidup di bawah bayang-bayang kutuk dan sumpah serapah. Pernah mau digugurkan, tetapi janin dalam kandungan itu ‘melawan’. Justru Doli – sang ayah yang meninggal dalam tugas pekerjaannya.
Terlalu pahit. Sumpah serapah masih membekas dalam di hati. Donda putuskan untuk menghilang, bersembunyi di belantara Jakarta. Anaknya Marlyn lahir cacat ganda. Tak bisa bicara. Tetapi itulah rahasia Tuhan yang tak terjangkau oleh ilmu pengetahuan. Secara bathin anak itu sesekali berkomunikasi dengan Donda ibunya. Selalu ada suara misterius yang muncul dalam benak Donda.
Perempuan hidup sendirian di tengah belantara Jakarta. Kesulitan, godaan dan ancaman pada kehormatannya datang silih ganti. Kelemahan dan ketidak-berdayaan seringkali justru mengundang niat orang lain untuk memaksakan hasrat brutalnya.
Tetapi Tuhan ada di mana-mana. Segala sesuatu Tuhan jadikan indah pada waktu-NYA. Pertolongan-NYA tak pernah terlambat meski terasa berlambat-lambat. Maru yang sungguh mencintai dan sudah lama mencari-cari, muncul menjemputnya. Bahkan datang bersama dengan Benny – adik Bang Doli yang anak tulangnya itu. Benny setuju dan mendukung niat Maru menikahi Donda. Maru akan membawa Donda pulang bersama anaknya, Linda.
“Boan ahu mulak,” suara itu berulang terngiang di benak Donda. Itu suara Marlyn, putrinya.
Pra Kongres I Kebudayaan Batak Toba di Jakarta selenggarakan BATAK CENTER, pada Senin, 26 September 2022. Bertempat di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Pada kesempatan tersebut SPT diundang sebagai Narasumber dan membahas mengenai perkembangan budaya, dimana budaya seharusnya bisa dinamis agar bisa aktual dan relevan. Satu produk budaya adalah bahasa. Bahasa pun mesti berkembang; dinamis untuk berkembang. Pun hal itu berlaku dalam bahasa daerah, khususnya bahasa Batak Toba. “Agar bahasa Batak Toba tetap aktual tak harus merujuk aksara Batak kuno!”
Sesuai dengan tujuan didirikannya Komunitas Sastra Etnik TORTOR SANGOMBAS, kali ini akan mendapuk Robinhot Silaen, penulis baru berbahasa Batak. Diawali dengan penulisan cerita bersambung di grup facebook Tortor Sangombas, menuai banyak komentar dan dukungan agar dibukukan, diterbitkan dalam bentuk buku. Novel TOLU SADALANAN akan segera terbit bulan Oktober 2022 ini.
Menurut Robinson, tekadnya semakin bulat untuk menulis dan menulis, setelah bertemu dengan SPT (Saut Poltak Tambunan) di Jakarta:
“Lumobi dung pajumpang iba dohot pande gurit Amang Saut Poltak Tambunan na pajongjong punguan Tortor Sangombas, panggurit naung tang pola sahat tu na berkelas nasional. Parjumpangan di tonga borngin jala dijangkon tu bagasna di pukul 23.40 di Januari 2022 na salpu, tongon mangebati huta Jakarta i iba hatiha i. Ndang apala leleng nian na manghatai i alai tung dionjar parjumpangan i do semangat dohot ringgas ni roha manggurit. Marganda motivasi di iba siala carita nasida taringot tu angka pasu-pasu na dipasahat Tuhan di nasida marhite pangguriton.”
Dari beberapa naskah yang sudah ada, Robinson memilih TOLU SADALANAN untuk diterbitkan sebagai buku perdananya. Sebuah cerita perjalanan hidup tiga sekawan – Tolu Sadalanan. Orang Batak, sekampung di Aceh, bersama-sama berangkat untuk masuk SMA ke Medan. Hingga mencoba masuk perguruan tinggi. Nasib berbeda membuat mereka juga menempuh jalan berbeda. Pertemanan yang begitu indah harus berakhir sementara karena tak selamanya bisa bersama-sama. Harus berpisah.
DONGAN, mansai godang do. Adong dongan tubu, dongan magodang, dongan sahuta, dongan saparsingkolaan, dongan sakarejo, dongan sapardalanan dohot lan na asing. Alai ndang piga na gabe ale-ale, dongan sapartinaonan. Di bagas buku on, didok panggurit ma i dongan sadalanan. Ala tolu halak nasida, gabe dibahen ma judul ni buku on Tolu Sadalanan. Laos boi do botoonta sian buku on, boha ngolu ni parsaoran di bagas habatakon di luat na humolang sian bona pasogit. Isarana di Lawe Perbunga, Aceh Tenggara, songon na adong di buku on. Tarmasuk Lawe Mantik Uluan, Huta Baru, Huta Manurung, Huta Sitompul, Huta Ganjang dohot na asing dope.
Tardok horong ni fiksi do nian buku on, hira karangan sambing. Alai ianggo impolana, suman angka na situtu do masa, naung didalani panggurit on. Mansai tangkas dipatorang detail ni na masa, songon i nang inganan – lokasina. Molo di kamus hata Batak, didok ma on manjaljal hata, mempersiapkan secara konkrit sampai ke detailnya.
Taon 2022 bulan Agustus lalu, genap 10 tahun usia Komunitas Sastra Etnik TORTOR SANGOMBAS (Torsa-torsa Sijahaon Sangombas). Ada beberapa pengarang baru yang berangkat dari Tortor Sangombas, Sebagian mendapat penghargaan Rancage. Lebih penting lagi, sastra berbahasa Batak Toba menggeliat bangkit setelah dirintis oleh Saut Poltak Tambunan melalui Tortor Sangombas dan didukung oleh penerbit Slasar Pena Talenta.
Torop so piga timbul panggurit na imbaru na marhata Batak (Toba) suang songon i nang angka buku naung dirongkom – dipaadarhon, dungkon dipungka taon 2012.
Horas ma di amanta panggurit Robinhot Silaen. Dohot ma hami ruas ni TORTOR SANGOMBAS manghalashon jala manomu-nomu buku na imbaru on. Laos pinasahat hata mauliate, siala naung dohot hamu manambai uduran ni angka ruas na mangharingkothon ulaon tohonan padimun-dimun hata Batak.
Ra – nunga godang naung taula, alai gumodang do na so taula dope. Horas, hiras, hipas jala hibas!
Pada Tahun 2019, SPT menerbitkan antologi cerita pendek Dongan Sademban, karya 7 penulis dalam 6 bahasa daerah puak Batak, ditambah terjemahan dalam bahasa Indonesia.
SPT menerima penghargaan Rancage 2015 atas novelnya Si Tumoing. Novel ini menjadi fenomenal dan memotivasi banyak orang untuk menulis sastra modern dalam berbagai bahasa daerah.
Saat ini sudah menjadi pentalogi novel bahasa Batak: 1. Si Tumoing Manggorga Ari Sogot 2. Si Tumoing Pasiding Holang Padimpos Holong 3. Si Tumoing Maniti Nambur 4. Si Tumoing Manapu Nipi 5. Si Tumoing Mamurpur Samon (diterbitkan bertepatan dengan Bulan Bahasa pada Oktober 2020)
MetamorHORAS (novel bhs Indonesia dgn setting Batak – dissabilitas), Si TUMOING Manggorga Ari Sogot (novel berbhs Batak), Don’t Go- Jonggi (kumcer bhs Inggeris), MASIH – Mesjki Bukan Yang Dulu (Kumpulan puisi pertama SPT)