
SOEKIRMAN
Bocah Kampung Jawa Deli Menapak Ragam Budaya
Soekirman masih berumur tiga tahun bersama dua adiknya, ketika ayah mereka meninggal. Selanjutnya mereka bertiga terpisah, diasuh oleh sanak keluarga yang lain. Soekirman keturunan orang Jawa Deli, bertumbuh menjadi bocah kampung Pagar Jati. Beragam suku ada di kampung itu dengan budaya dan kearifan lokal masing-masing. Soekirman belajar budaya dari teman bermain yang beragam suku. Melayu, Jawa, Batak, Minang, Banjar dan lainnya.
Pahit-getir sudah dilewatinya. Kerja keras dan tetap bersekolah, membuat mimpinya menjadi kenyataan. Limabelas tahun memimpin Kabupaten Serdang Bedagai sebagai Wakil Bupati dan Bupati.
Soekirman menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian USU dengan tetap bekerja ‘memburuh’ serabutan. Ia mengaku sebagai Mabete alias Mahasiswa Banting Tulang, serta tempat tinggal yang tak tetap membuatnya menjadi Gelanter – Gelandangan Terhormat.
Ketika ia sudah menjadi Bupati Serdang Bedagai, masih sempat menuliskan pengalamannya ‘bersahabat’ dengan lembunya si Kliwon, berpedati keliling desa. Pengalamannya ditulis dalam bentuk cerita pendek Bahasa Batak dengan judul ‘Parlombu-lombu’. Cerpen ini berhasil mendapat hadiah penghargaan khusus sastra daerah Rancage 2017, sebagai seseorang yang menulis cerita pendek dalam Bahasa daerah yang bukan Bahasa ibunya.
Sebagai pribadi yang lahir dan dibesarkan di tanah Deli Sumatera Utara, sangat risau karena Indeks Desa Membangun-nya berada di peringkat 29 Nasional. Angka itu dirilis resmi oleh Kementerian Desa di tahun 2022. Untuk propinsi di pulau Sumatera hanya Sumatera Barat yang lumayan baik, berada di peringkat ke-lima nasional. Jika dipikir lebih mendalam, Sumatera Barat adalah propinsi yang sangat erat memegang adat istiadat. Sampai ada istilah ‘tak lekang dipanas, dan tak lapuk dihujan’. Musyawarah dan mufakat, tigo tungku sajarangan merupakan pilar yang menjadi acuan kehidupan urang minang. Niniek mamak, Cadiak pandai, dan Alim ulama menjadi simpul musyawarah. Partisipasi pembangunan selalu mengedepankan pola adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah.
Soekirman terdorong untuk menghimpun catatan dan kenangan selama hidup. Budaya adalah kebiasaan sehari-hari masyarakat. Dari budaya pula dapat diketahui bagaimana manusia hidup di suatu tempat. Petilasan budaya itu ada yang berupa adat istiadat, artefak, situs, bahasa, seni, pengetahuan tradisional, olah raga tradisional, tradisi lisan dan sebagainya. Melalui buku ini diharapkan obyek kebudayaan tersebut dapat diketahui dan mungkin perlu di-review oleh generasi mendatang.
Hidup penulis di masa kecil banyak dihabiskan di wilayah Deli (Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, oleh karena itu membuat dalam judul buku ini tercantum Jawa Deli. Tanah Deli merupakan wilayah yang dikuasai kesultanan Deli. Tanah yang kemudian menjadi terkenal setelah menghasilkan Tembakau Deli di awal abad duapuluh. Banyak tempat yang ada kata ‘Deli’ seperti Labuhan Deli, Delitua, Delimuda, Timbang Deli, Deli Serdang, Deli Spoor Maschapai, dan lain sebagainya.
Orang Jawa Deli pernah disingkat Jadel, adalah keturunan suku Jawa yang datang ke tanah Deli. Mereka bekerja ada sebagai tenaga kerja perkebunan, dan ada juga yang datang sendiri sejak berakhirnya perang Diponegoro di Jawa pada tahun 1830. Sebagian dari kejayaan Tanah Deli dan kearifan lokal inilah yang disaksikan penulis dan disajikan pada buku ini, yang diperankan oleh masyarakat baik penduduk asli maupun pendatang
Selasar Pena Talenta
Februari 2025