SEBERAPA BATAK-KAH KITA?
SEPERTI yang sering saya utarakan dalam buku-buku saya, tak bosan saya mengingatkan sinyalemen Kementerian Pendidikan RI di taon 2011, bahwa bahasa daerah terancam punah. Diperkirakan akan punah 90% dari bahasa daerah yang masih ada (746 bahasa). Bagaimana bahasa Batak? Bukankah kita lebih suka berbahasa Indonesia bahkan kepada anak-anak kita?
Melalui buku kumpulan cerpen berbahasa Batak ini, PARUMAEN di DAINANG, kembali kita digugah oleh pertanyaan: Seberapa Batak-kah kita? Akankah kita biarkan bahasa Batak hilang dari peradaban kita? Bahasa yang diwariskan para leluhjur kita?
Buku berisi cerita yang diangkat dari realitas kekinian pada masayarakat Batak. Hilangnya bahasa Batak dari pergaulan sehari-hari turut menjadi penyebab utama pudarnya kearifan lokal. Sebab bahasa daerah adalah pintu masuk ke ranah kearifan lokal. Tanpa bahasa daerah, kearifan lokal itu pun akan segera lenyap.
Banyak sesama kita yang gelisah dan cemas akan kehilangan bahasa daerah. Tetapi hanya sebatas kuatir. Kata orang bijak, jolo binarbar do sumban asa binarbar pandingdingan, jolo ginarar do utang asa tinunggu parsingiran. Seharusnya membayar hutang dulu sebelum menagih hutang. Kita akan sangat menyesal jika bahasa daerah hilang, anak-anak kita pun kita biarkan bertumbuh tanpa bahasa daerah. Lalu jika bukan kita sendiri, siapa lagi yang kita tunggu untuk melestarikan bahasa daerah?
Dalam kenyataan, pembacalah yang menciptakan penulis. Tanpa pembaca, tak akan ada penulis. Bahkan,penulis itupun lahir dari kalangan pembaca. Tutu situtu, hamu panjaha i do patindangkon jala patimbulhon panggurit. Jala sian panjaha do timbul panggurit. Antong, jaha hamu ma.

Tupa metmet do simanjojakta, jempek nang pangalangkanta. Alai tapasada ma i jala rampak ma hita mangalangkahonsa.
Horas ma di hita saluhutna.
Jakarta, Agustus 2024
Saut Poltak Tambunan
Pande Gurit
