Berangkat dari kemiskinan dan penghinaan turun temurun, Jumono merebut kesempatan untuk merealisasikan mimpinya: Meraih bintang untuk dipersembahkan pada Ibunya, Mas Jumadi –abangnya yang cacat, Mbak Surti, Mbak Juminten dan Asmirah yang dicintainya.
Ia tundukkan Jakarta dan siap menantang juara dunia tinju profesional! Ia kanvaskan belasan petinju untuk bisa pulang seperti ini: Dielu-elukan! Tetapi apa yang ditemukannya? Tanah sepetak milik keluarganya dirampas Kirom – preman kota yang masih sepupunya. Rumah tua dan seisinya digotong paksa ke pinggir jurang. Asmirah diteror habis hingga ‘kupu-kupu tercantik’ di kaki bukit itu terpaksa menerima lamaran Kirom. Kakaknya Juminten pun kadung menjadi pelacur.
Iri dan dengki membakar si preman kampung Kirom. Ia minta teman-temannya mengeroyok Jumono hingga cacat. Jumono bangki membalas. Jangan salahkan kesabaran, ia tak bertepi.
“Jum, aku menunggumu …!” bisik Asmirah, di pintu penjara.
(Rp. 60.000)