
Quo Vadis Permainan Tradisional Anak-anak Batak?
Saut Poltak Tambunan
Masa kecil kurang bahagia? Olok-olok ini berlaku untuk seseorang yang masih gemar bermain seperti anak kecil. Terkesan sepele, tetapi sesungguhnya permainan semasa kecil adalah elemen dasar dari pendidikan berpikir dan bersikap, juga menjadi akar dari keterampilan yang kita miliki. Karena itu kerinduan akan permainan masa kecil bisa menghampiri siapa saja.
Awal tahun 90-an saya diminta membuat peragaan permainan tradisional Batak di Jakarta Convention Hall. Saya kumpulkan anak-anak ‘Batak’ di sekitar tempat tinggal saya, kawasan timur Jakarta. Ternyata mereka sangat bergairah menikmati beberapa permainan yang saya suguhkan, padahal mereka adalah anak-anak dari generasi baru yang kesehariannya diisi dengan games elektronik buatan pabrik.
Permainan anak-anak tradisonal Batak erat hubungannya dengan lingkungan alam sekitar. Batu, sungai, lumpur, kayu, biji-bijian, tempurung kelapa, bambu dan lain serupa itu adalah bagian dari alat permainan. Sejak dini semua permainan tradisional itu menjalankan perannya dengan baik sebagai alat pendidikan untuk meningkatkan sportifitas, kecerdasan, ketangkasan dan kesehatan.
Fairness
Tedak songon indahan di balanga (terbuka seperti nasi di atas belanga). Begitulah orang Batak suka keterbukaan. Kejujuran dan keterbukaan sudah dibiasakan sejak dini melalui permainan masa kanak-kanak.
Kejujuran dimulai dari persiapan permainan perseorangan. Hampir semua permainan diawali dengan undian ‘mar-pis’ dengan jari telunjuk (orang), jempol (gajah) dan kelingking (semut). Untuk permainan kolektif undian dilakukan undian ‘mar-wang’ (telapak tangan tertutup dan ditumpuk) sambil bernyanyi “ise na dohot ro ma tuson, ise na so dohot laho sian on, sibuat na godang/otik sude” (siapa yang mau ikut silakan kemari, yang tidak mau ikut, jangan di sini). Nanti seorang di antaranya memberi aba-aba untuk mengurai tumpukan tangan, lalu menghitung yang terbanyak atau tersedikit – apakah yang tetap telungkup atau terbuka.
Untuk permainan beregu, dua pemimpin mar-pis untuk menentukan ‘si kalah dan si menang’. Setiap dua peserta dipasangkan dengan kualifikasi seimbang. Setiap pasangan ‘mar-pis’, si menang ikut pemimpin yang menang mar-pis, si kalah ikut pemimpin yang kalah.
Cara lain, kedua pemimpin ‘mar-pis’ duluan. Pemimpin yang menang dan yang kalah akan bergantian memilih anggotanya satu persatu. Tentu saja pemimpin yang menang mar-pis mendapat hak untuk memilih duluan.
‘Mar-sanding’ dan ‘mar-tumbuk’
Bukan hanya dalam permainan, bermusuhan pun anak-anak Batak sangat fair. Ketika ‘mar-sanding’ atau bermusuhan, seseorang akan mendapat malu sebagai pecundang jika sengaja atau tidak – menyebut nama musuhnya, menyapa musuhnya, atau menyentuh barang milik musuhnya.
Selain itu disepakati pula batas-batas permusuhan, misalnya hanya sekedar tidak berteguran, atau boleh menjitak kepala, menjambak rambut, meninju punggung, bahkan menerjang dengan kaki. Semua serangan itu hanya boleh dilakukan diam-diam dari belakang jika lawannya lengah. Oleh karena itu setiap yang punya ‘sanding’ harus selalu waspada.
Untuk berbaikan kembali, harus ada mediasi pihak ketika. Sebelumnya harus jelas pihak mana yang punya inisiatif lebih dulu untuk berdamai. Perdamaian boleh dengan cara saling menyebut nama di tempat berbeda, atau bertemu di depan teman yang jadi mediator dan serempak menyebut nama musuh. Atau mengaitkan jari kelingking (‘sise’). Biasanya setelah berbaikan, keakraban mereka akan lebih dari sebelum bermusuhan.
‘Martumbuk’ adalah berkelahi. Dahulu anak Batak tidak ada perkelahian spontan. Semua melalui kesepakatan. Anak-anak yang berselisih dan ingin menyelesaikan dengan perkelahian, memberitahukan teman-teman. Lewat bisik-bisik ‘undangan nonton tinju’ ini beredar, jangan sampai guru tahu. Nanti sepulang sekolah di lapangan atau di tempat lain yang memang biasa digunakan untuk ‘berkelahi’, mereka berkumpul.
Perkelahian disepakati lebih dulu, mengenai : Satu lawan satu atau satu lawan dua, boleh atau tidak memukul dari belakang (biasanya tidak boleh), dengan tangan terkepal atau boleh terbuka, boleh pakai sikut, boleh pakai kaki, boleh merangkul/gulat, atau bebas (disebut ‘cucam’ dan ini jarang disepakati).
Saya pernah berkelahi satu lawan satu, pernah juga satu lawan dua. Kebetulan lawan saya kalah semua. Perkelahian berakhir dengan sportif, yang kalah menjulurkan tangan dan menyatakan : “Saya kalah.” Setelah itu kami bersahabat sangat akrab.
Polarisasi Musim Bermain
Semua permainan bersifat musiman (satu musim kira-kira 1-2 bulan). Tidak jelas siapa yang punya otoritas menentukan musim permainan, misalnya berurutan musim kelereng, sibahe, kemiri, dst. Musim layang-layang selalu bertepatan dengan panen, sehingga sawah kering bisa digunakan untuk main layangan.
Urutan musim permainan biasanya mulai dari kota besar, mengalir ke kota kecil hingga kampung. Hingga musim permainan itu sama di hampir semua kampung.
Hal lain, juga tidak jelas siapa yang menentukan aturan permainan. Contoh, dalam permainan ‘mar-sigaret’ (bekas bungkus rokok), berlaku hukum ekonomi ‘scarcity’. Semakin langka suatu jenis bungkus rokok, nilai tukarnya terhadap bungkus rokok lain semakin tinggi. Misalnya 1 Commodore = 2 Kresta atau 10 Union. Lain lagi nilai barternya dengan rokok Kansas, Escord dan lain-lain. Anehnya, bungkus rokok Minak Jinggo tidak berharga sama sekali, walaupun jarang. Rokok 555, Kartika (rokok khusus Angkatan Darat) dan rokok-rokok impor nilainya sangat tinggi. Dan, nilai tukar ini berlaku di semua kota dan kampung. Anak-anak biasa berkeliling trotoar dan mengorek tempat sampah di depan kedai kopi hanya untuk mencari bungkus rokok.
Dahulu pasca pemberontakan PRRI, di asrama milik ‘ompung’ saya tentara bermarkas dan mereka dapat jatah rokok ‘Kartika’. Saya bebas masuk asrama dan mengorek-ngorek tempat sampah mereka, sehingga tentu saja saya ‘kaya’ dengan bungkus rokok langka dan bernilai tinggi itu.
Cyber Games/Online vs Permainan Tradisional
Jangan heran ketika anak-anak berteriak menirukan suara jagoannya menghabisi lawannya hingga remuk, berdarah-darah. Itu yang dia temukan dalam games populer elektronik dan online lewat internet.
Membandingkan permainan tradisional dengan permainan elektronik dan cyber games online, tentu kita akan berdebat panjang dengan anak-anak yang tumbuh dalam generasi mozaik dan kaleidoskop (1982-2002, 2002 – …). Generasi ini sangat cerdas dan terampil memanfaatkan IT. Kecepatan berfikir dan keberanian mengambil keputusan seketika, disertai dengan ambisi menang mutlak, tentu berbeda dengan permainan tradisional yang ‘based on’ kejujuran, membangun akhlak mulia dan berbudi pekerti.
Beberapa Permainan Tradisional yang sempat masuk dalam catatan saya, meliputi permainan indoor dan outdoor, perorangan dan beregu, kelompok anak perempuan dan laki-laki. Antara lain Marangkat suhi, Marangkat Lombang, Margaja Dompak, Datu Husip, Marsitengka, mar-Cabur, mar-Gala, mar-Sampele-sampele, Datu Angka, Mar-Tulbe, Mar-Raja, Margasing, Marsibahe, Margambiri, Margoba (Kemiri atau kelereng), Marbiung-biung biji enau atau tutup botol yang dipipihkan, Marsungkil (nyaris sama dengan patok lele di Jawa) , Marsigaret (bekas bungkus rokok).
Bagaimana nasib permainan tradisonal ini? Setiap tahun hampir setiap komunitas marga Batak menyelenggarakan Pesta Bona Taon yang acaranya adalah lelang cari dana, tortor dengan gerak seada-adanya, diselingi dengan vocal grup.
Acara Pesta Bona Taon ini semakin tidak menarik bagi sebagian besar generasi muda. Barangkali perlu dipikirkan membuat eksibisi permainan tradisional untuk melengkapi suka cita Pesta Bona Taon. Tim kreatif bisa mengemasnya lebih ‘matching’ dengan situasi sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda, sekaligus menjadi upaya melestarikannya.
Semoga saja.
***
Buku dapat dibeli di :
https://www.tokopedia.com/selasarpenatalenta/permainan-anak-danau-toba?extParam=whid%3D1346454