Synopsis: TEMPIAS DI BERANDA

Posted: November 9, 2011 in Novel

Sayang Niken meninggal ketika melahirkan Bimo, anak pertama mereka.  Niken dan Weni – adiknya berbeda seperti air dan api. Niken santun religius, sebaliknya Weni bergaul sangat terbuka. Weni tahu benar menikmati kecantikan dan kemudaannya.

Mertua Indra ingin Weni ‘naik ranjang’ menggantikan Niken jadi isteri Indra. Bagi Weni itu kuno dan merampas haknya untuk memilih jalan hidup sendiri. Ia ingin mewarnai dunianya sendiri dan tidak mau mewarisi jalan pilihan Niken.

“Aku tak bisa menggantikan Mbak Niken. Dia itu malaikat. Aku bukan,” tegas Weni.

Weni mengajak Indra bergabung dengan teman-temannya ‘dugem’ di club. Weni pamerkan kebebasannya, menari-nari mengumbar sensasinya.  Sengaja, agar  Indra berpikir berkali-kali sebelum meneruskan perjodohan itu. Sebaliknya darah muda Indra justru bergolak: Salahkah aku jika cemburu?

Sejak itu Indra selalu mencuri-curi memperhatikan Weni. Konyolnya, Weni justru sengaja memamerkan kemesraannya dengan pacar-pacarnya. Indra merasa jadi ilalang kering yang dibiarkan terbakar sendiri.

Tiba-tiba Indra yang dosen, terpikat  Helen – mahasiswinya dan mengajaknya menikah. Mertua Indra terpaksa setuju, karena  Weni sudah tegas menolak ‘naik ranjang’.

Ternyata Bimo anak autis – hyperaktif. Keras kepala dan tidak terkendali. Anak 4 tahun itu selalu menjadi sumber pertengkaran antara Helen dan Indra. Puncak pertengkaran, Helen pulang ke orang tuanya.

Indra terpuruk ditinggal Helen. Weni muncul ke rumahnya dengan masalah lain: Ia hamil. Bahkan tidak tahu lelaki mana yang harus bertanggung jawab!

Indra yang sedang depresi, dihadapkan pada gadis yang selama ini hadir dalam fantasinya. Gadis yang  selama ini menyulutkan api lalu membiarkannya terbakar sendiri bagai ilalang gurun.

*

Leave a comment