KESEDERHANAAN SPT YANG MENYIMPAN LUKA SEKALIGUS BAHAGIA by Lina Kelana

Posted: November 8, 2011 in Resensi Buku

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan

Penulis : Saut Poltak Tambunan

Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur

Cetakan : I, Maret 2011

Harga : Rp. 45.000, 00

ISBN : 978-602-97300-1-2

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca mampu masuk ataupun dimasuki atas ruh sebuah karya. Diksi dan pelbaagai “hiasan” bahasa kemudian menjadi luruh manakala yang kita pahami hanya serentetan kata yang membentuk kalimat-kalimat menjadi paragraph-paragraf tanpa makna. Kalau bisa dipermisalkan, hal ini semacam banyak harta, tetapi banyak hutang. (He..he..he)

Lepas dari bagaimana teori menilai atau mengklasifikasikan suatu karya ke dalam satu golongan tertentu, tak perlu kiranya hal tersebut diperdebatkan. Bagaimana pembaca “menuduh” penulis masuk atau menganut/mendukung manisterm tertentu atau tidak, karya akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan, beberapa penulis kemudian_tanpa disadari_ “belajar” lebih arif memaknai hidupnya justru dari karya yang dibuatnya sendiri. Hal ini tentunya membawa pengaruh positif bagi kebaikan, termasuk pada pembacanya.

Jika Kahlil Gibran menyampaikan karyanya dalam bentuk sebuah narasi surat puisi, Imam Budi santosa yang mematahkan “penilaian” masyarakat dengan “gugatan”nya terhadap mitos Jawa, Pringadi Abdi Surya dengan “ketakwarasan”nya, dan Bamby Cahyadi dengan “kelembutan”nya, maka Saut Poltak Tambunan memiliki keunikan dengan “kesederhanaan”nya yang meng”kamera” ironisme kehidupan dengan renyah. Di mana di dalamnya terangkum manis, asam, asin, pahit, dan getirnya “nasib” manusia dalam kisah laku hidup yang beragam.  Kejadian-kejadian yang kerap kita abaikan dari “penglihatan” (entah sengaja atau tidak). Dan ini dipoles sedemikian hingga ada kenikmatan tersendiri di dalamnya. SPT berhasil mengunggah kesempurnaan dari kesederhanaan yang dimilikinya.

“ Setiap hari deru mesin traktor menggaruk-garuk keperkasaannya di tanah sekeliling. Puluhan traktor dan ratusa truk pengangkut tanah menyulap seketika dan meratakan tanah berbukit-bukit….” ( hal 38)

“ Menurut Kiman, dokumen-dokumen temuannya itu membuat anak-anaknya makan bagai berpesta. Bu Kiman mengolah kertas sertifikat jadi bubur. Naskah kontrak bisnis dibuat bakso. Nota-nota rahasia dirajang jadi pecel. Menurut Kirman, nota pinjaman luar negri lebih nikmat dari dokumen-dokumen lainnya” (hal 76).

SPT dengan detil dan cekatan membuka luka-luka dengan birahi yang manis. Sesekali dentuman dan ledakan dicetuskan di beberapa bagian kisah. Pembaca seperti diajak untuk “bertengkar” atau “menciptakan pertengkaran” dengan diri sendiri. Sebuah kontradiksi yang berdiri di atas impian, harapan, keinginan, kesadaran, kekecewaan, juga penderitaan. Yang kesemuanya adalah segmen-segmen yang ada dalam luka-luka yang entah bisa sembuh ataukah tidak.  Hal yang paling dekat dilakukan untuk memaknai hakekat hidup dan “eksistensi” diri dan ke”diri”an dalam kehidupan.

on Friday, April 15, 2011 at 3:25pm

Maret 2011

…disepenggal malam di SENGKARUT MEJA MAKAN…..

by Nuning Purnamaningsih on Saturday, April 9, 2011 at 3:50pm

SPT ? siapa yang tak kenal Saut Poltak tambunan ? Lelaki Tapanuli yang sangat pandai mempermainkan perasaan orang dengan tak tanggung tanggung. Kadang ia menampar kita dengan keras, Tak jarang ia mengiris dan menyayat hati kita melebihi sayatan sembilu. Kadang ia menggedor gedor pintu… kesadaran kita dan membanting nya dengan fakta fakta. Dengan lugas ia beberkan keserakahan dan ketamakan kita, kecurangan dan kemunafikan kita. Itulah SPT, seenaknya saja dia kacaukan perasaan orang melalui goresan penanya. Ia rangkai butiran kata menjadi kalimat kalimat yang kadang mengusap menyejukkan hati, namun tak jarang mendera dengan kesadaran yang menghentak

Tulisan SPT seolah bernyawa, dibalik tuturannya kita jumpai pribadi yang hidup. Ada kehangatan, ada kepedulian, ada kemesraan , dibalik tulisannya, orang menangkap kejujuran, meski ada juga kejahilan yang menyegarkan.

Sebenarnya menulis adalah proses mental, yang dilakukan pada level kesadaran. Saat SPT memilih kosa kata, mensortirnya dari kamus mental, ia tahu persis,apakah harus mengambil dari kamus mental emosional, spiritual atau kamus mental intelektual. Gaya bahasanya kaya kiasan dan ungkapan, penuh metafora, pilihan frasanya asyik, SPT suka bermain majas, ia gulirkan tulisan bernafaskan ironi, sarkasme atau sinisme yang menggigit. Seolah hypnosis, orang membaca dengan focus pada ceritanya dan terpukau pada pilihan kosa katanya. Tulisannya membuat kita merasa, mendengar, melihat dan berpikir melalui sudut pandangnya ! Ini sangat mempesona bukan ?

Entah, sudah berapa kali saya jatuh cinta secara imaji pada SPT. Tiap kali cerpen/novelnya bicara tentang kasih/cinta, tanpa permisi ia merebut seluruh elemen cinta yang saya miliki.

spt meramu rasa, mengaduk emosi kita lewat 15 cerpennya yang terhidang dimeja makan, anda boleh pilih yang mana yg akan dijadikan makanan pembuka, Seperti apakah gerangan proses kreatifnya, seperti hidangan,sebelum disuguhkan dimeja makan, perlu proses penyiangan,pencucian,pengirisa

n pengulekan, kemudian ditumis direbus dan dibumbui. Nah hidangan 15 varian di meja makan SPT ada yang manis, gurih, pedas, asin, asam, bahkan pahit, tapi kesemuanya melalui proses masak yang higienis tanpa mengurangi kadar vitamin dan mineralnya.

SPT, yang meretas angan jadi ingin, bukan sekedar menjadi angin semata,malam ini telah mengisi tabung jiwa kita lewat sengkarut meja makan, yg dlm kata pengantarnya merupakan perangkat yg diatasnya kita melangitkan doa, merajut kasih, berbagi ajar,mengasah aji, menggelar gelak canda bahkan mengumbar marah silang sengkarut. Diarea meja makan pula kita menenun cerita dan puisi menggagas hari esok, bermazmur syukur memintal sesal, bahkan menghitung uang belanja. Sebenarnya Ini sebuah perenungan dalam Pertanyaannya adalah, masih bisakah kita berkumpul dimeja makan kita ? Karena, dijaman yg serba gadget ini, meja makan menjadi hiasan, dia kesepian dan merana dalam kebisuan, fungsinya beralih hanya sebagai pelengkap pajangan. Tak pernah lagi sang meja atau kursi makan tersenyum simpul menyaksikan kemesraan , celoteh anak anak, laporan kejadian hangat seharian, Meja makan masa kini hanya menyaksikan wajah hambar bibik yang menarik kembali sajian makan malam untuk disimpan dilemari es, atau membuangnya ke bak sampah karena tuan dan nyonya tak bersedia menyantap makanan tunda. Ah , masing masing penghuni rumahnya hoby benar bergegas lekas, maunya seba cepat kilat, sekalinya bersama dimeja makan, masing-2 sibuk dg BB dan HP,

Disuatu kesempatan dikomunitas kedailalang…SPT menulis …ilalang duri memberitahumu jalan mana yang harus kau tempuh, lebah berbisa memberitahumu dimana bunga merekah kemekaran. SPT memberitahu kita untuk hidupkan kembali RUH MEJA MAKAN, jadikan Meja makan perekat cinta

Hmmm…yang dirajutkan menjadi jejak jejak indah kelak.

Suhunan Situmorang

SPT memang penulis andal, kaya ide, dan produktif. Saya kagum dng vitalitas san daya tahannya menulis, proses kreatifnya seperti tarikan nafas yg tak butuh jeda. Sjk SMA sdh saya nikmati karya-karyanya yg saat itu merajai majalah wanita ber…oplag terbesar, KARTINI, yg dilanggani kakak-kakak saya. Cerber dan novelnya pun banyak yg saya tonton setelah dipindahkan ke layar seluloid. Hrs diakui, SPT termasuk pengarang yg punya banyak penggemar, terutama kaum perempuan, yg sedikit saja di antara penulis cerita di negeri ini bisa dapatkan. Saya tak peduli apakah karya-2 SPT dikategorikan sastra atau tdk, sama pentingnya bagi saya membaca karyanya dng karya Budi Dharma, NH Dini, AA Navis, Mangunwijaya, Putu Wijaya, Umar Kayam, dll. Bagi saya, membaca karya SPT sama menariknya dng membaca karya Harris E. Tahar, cerpenis dari Padang yg tak ada karyanya saya lewatkan. Kesederhanaan tema yg diangkat SPT itu yg saya kira daya penariknya, diramu dng bahasa yg mudah dimengerti, tanpa mengabaikan pesan cerita. Tapi memang dari semua karya SPT yg pernah saya baca, cerpen-cerpen dng setting, tokoh, dan tema lokal Batak yg paling saya suka. Bisa jadi krn dia tdk sekadar menulis manusia Batak dng mendeskripsikan permukaan, tetapi masuk ke dalam sbg bagian dari dirinya dan pergumulannya.

April 9 at 9:24pm

Leave a comment