Judul : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Tebal : 240 halaman
Penerbit : Selasar Pena Talenta, Pondok Kelapa Jakarta Timur
Ukuran Buku : 14 x 19 Cm
Cetakan : I, Maret 2011 Jakarta
ISBN : 978-602-97300-1-2
Sebuah cerita pendek terkadang menyisakan sebuah misteri yang kuat. Kadar keingintahuan terus akan menyeruak, bahkan ketika kisah itu selesai dibaca. Jalinan kisah semacam meninggalkan gurat di kepala, membentangkan pelbagai pengetahuan silam yang
pernah terekam di ingatan kita dan menebalkan pelbagai kemungkinan. Jika kehidupan memang banyak ragam, tersembunyi-menghadiahkan perenungan, sebuah intisari yang membuat kita arif memaknainya.
Ketika sebuah peristiwa turut hadir menelingkupinya, maka perahan-perahan cerita seakan kembali “hidup”. Cerita itu makin menegaskan jika lama kita abai untuk sekadar merekamnya. Jalinan peristiwa kerap menelusup, memberikan corak tersendiri-dan tentunya memberi kekayaan makna yang baru bagi kehidupan itu sendiri. Membaca cerita pendek seperti upaya untuk membongkar baris-baris kejenuhan yang bersisian dengan kita. Dia semacam jeda, yang mungkin terlalu pendek – tetapi dapat mengabarkan hal-hal yang luas bagi keseharian.
Justru di balik kesederhanannya tersimpan berbagai cakupan luas lainnya. Dia seperti ingin mengembangkan temali cerita, dengan ironi-ironi, membuka sisi kelam masyarakat, yang banyak dilupakn sebagian besar orang.
Pelbagai kisah itu turut hadir, menelusup, membalut, mencampuri peristiwa-bahkan ada pula yang sekadar men-copy paste peristiwa itu, hingga menjelma jadi kisah yang mencengangkan. Jalinan kisah seperti tertumbuk dalam temuan-temuan pahit yang menjerit. Sesekali ketika membacanya ada rasa sakit yang teriris, bahkan ketika berhadapan dengan sejumlah paragraf atau dialog yang dibangun pengarangnya.
Saut Poltak Tambunan, seseorang yang memilih jalan kepenulisan kreatif sejak dekade 1970-an, begitu rekat mengambil fragmen-fragmen dalam kehidupan ini. Dalam kumpulan cerita pendeknya ini, dia seperti menjelma jadi “tukang rekat” yang menempelkan banyak peristiwa (luka) dalam ceritanya. Dia menulis dengan asik, penuh dengan kalimat keseharian yang ringan. Suatu hal yang mengingatkan saya pada cerita yang ditulis oleh Sori Siregar, Hamsad Rangkuti, Arie P. Tamba, Putu Wijaya, atau Ratna Indraswara Ibrahim. Ceritanya memang mengalir dengan tenang, tetapi dapat segera menyentak hingga ke akhir.
Demkianlah, berhadapan dengan lima belas cerita pendek dalam kumpulan ini, saya terpukau jika masih banyak hal-hal sederhana yang layak dijadikan kisah. Tokoh-tokoh yang dibangunnya pun seperti sering kita temui di keseharian. Sejumlah kegetiran yang menyeruak di sana, semacam ingin menegaskan jika kita tak boleh cengeng menghadapi kehidupan ini.
Dalam cerita pembuka “Sebentar Lagi 2011!” Saut seperti ingin memerah berbagai fragmen, yang disulapnya jadi rangkaian utuh menarik. Pelbagai potongan kisah itu, tanpa disadari terangkai dengan sendirinya, sehingga menebalkan garis yang nyata. Bebarapa harapan yang muncul, meskipun saling-silang dengan sejumlah ketakutan untuk menghadapi tahun yang baru.
Di sini, cerita seperti memecah “kesunyian” kita, menghidupi dengan keyakinan yang baru untuk terus berjuang menghadapi kehidupan itu sendiri. Sebuah cerita yang baik memang tersusun untuk itu. Dari situ ia menyentil semua sisi kehidupan. Dia mengoyak semacam ketabuan dari lingkaran tradisi, juga (seperti) berupaya mengembalikan tradisi itu agar tak pincang.
Pun dalam “Primadona”-potret terkini masyarakat kita juga turut terekam, bagaimana dunia panggung hiburan dangdut, yang ternyata menyisakan kegetiran tersendiri. Sebuah pentas yang berisi dari persaingan dengan goyang yang lebih “aduhai” sesama artis panggung agar menjadi primadona. Meskipun sang tokoh sendiri meyakini, bahwa apa yang dilakukannya, katakanlah dengan berbagai cara untuk menjadi primadona bertentangan dengan nurani dirinya.
Kebanyakan cerita-cerita Saut, sebagaimana yang diakuinya dalam situs jejaring sosial dicuplik dari peristiwa nyata. Dia seperti tergoda untuk terus mengabadikannya dalam cerita. Simak juga catatan dalam buku ini yang kebanyakan diakuinya sebagai kisah pribadi. Semacam dalam “Si Nur” atau “Lelaki di atas Ferry”. Kisah-kisah tersebut terasa hidup, agaknya pengarang ini memang peka untuk mengumpulkan/merekam setiap kejadian/fragmen yang melingkupi dirinya. Agaknya tidak salah Subagio Sastrowardoyo menulis, jika makna kerja sastra adalah suatu jalan untuk tinggal setia pada dirinya sendiri, yang raut jiwanya dibentuk oleh situasi pribadinya di tengah lingkungan masyarakat zamannya. Dalam hal itu dia terus-menerus menjenguk dan menggali ke dalam ruang batinnya untuk menjumpai bayangan dirinya yang paling cerah dan murni. (“Dongeng Buat yang Dewasa”, Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan, hal. 128).
Di dalam pergulatannya dengan fragmen-fragmen kehidupan itu, Saut seperti hendak mengatakan kepada kisah itu sendiri. Kegetiran-kegetiran yang tertinggal dalam kisah-kisahnya semacam sebuah corak, yang mengandung amanat tersendiri. Jika di kehidupan yang keras ini, kita mesti berhati-hati. Segenap kekayaan yang tersimpan dalam kehidupan itu seperti sebuah tapak/penanda agar kita tak tersesat.
Bahkan untuk benda meja makan sendiri, Saut seakan menegaskan tentang kultur adat Batak yang makin tergerus oleh zamannya. Kehidupan yang serba instan membuat kita lupa, apa yang pernah diajarkan oleh leluhur. Pun untuk kebiasaan-kebiasaan yang “diwariskan” adat, seperti telah terkubur. Idiom-idiom lokalitas, terasa makin tipis, sehingga kita melulu abai. Di sinilah, cerita mendadak jadi hal yang penting, segala kemuraman zaman ditegaskan lagi oleh Saut. Dia seperti ingin menggugat kondisi terkini yang terjadi dalam sebagian besar masyarakat kita.
Saut mendedahkan berbagai ironi dalam kisah-kisahnya, dia ingin menyindir akan keberlangsungan fragmen, yang dilihatnya terasa pincang, makin menjauh dari sisi-sisi kemanusiaan. Meskipun kita mahfum sejak lama, jika hidup tak melulu berisi hal putih melulu. Tapi usaha untuk menggali sisi hitam kehidupan-dengan mengangkatnya menjadi cerita, merupakan upaya untuk mengembalikan rasa kemanusiaan kita. Dia hendak menjewer agar tidak pernah melupakan akar kita yang lampau: sebuah tradisi.
Yang tertinggal dalam kisah-kisahnya, bagaimana sebuah fragmen bisa begitu menakjubkan. Sejumlah kisah memberi semacam penanda yang tegas akan kehidupan, semacam tragedi atau semburat dunia luka – yang memang tak bisa dibenahi dengan sekadar membalik telapak tangan. Kisah itupulalah yang memberikan semacam rambu agar kita berupaya banyak mengambil hikmah dari cerita-cerita tersebut.
Saut dengan kejeliannya memberikan semacam “ruang tunggu” bagi pembacanya. Dia seperti ingin mengajak kiat merenung berulangkali, bahwa banyak hal yang tak beres dalam kehidupan ini. Sayangnya kita melulu abai, sehingga kembali lelap oleh realitas. Di “ruang tunggu” itu, tinggal kita yang mengolah pelbagai kisah, mengembalikan ingatan kita, ihwal apa yang terjadi di dalam kehidupan ini. Kisah-kisahnya, tak akan berhenti sampai di sini saja.
MEJA MAKAN; di atasnya kita makan, melangitkan doa, berbagi ajar, merajut kasih, mengasah aji. Di atasnya gelak kita gelar bahkan amarah kita umbar silang sengkarut. Di atasnya pula kita menenun cerita dan puisi, menggagas rencana dan resolusi, menghitung berkat, melantun syukur bahkan juga memintal sesal dan memirit sisa uang belanja. (SPT)
*
SPT adalah penulis dengan thema-thema yang kuat. Sensitifitasnya sebagai penulis begitu tajam dan halus seperti yang Bang SPT tampilkan dalam 15 cerpen yang mempunyai banyak tokoh unik dengan kehebatan alur cerita. 15 cerpen yang luar biasa. Ternyata menulis tak kenal batas usia. Lalu kenapa kita yang muda-muda tak memiliki semangat itu? Mari berkaca pada seorang SPT dan kita curi ilmunya. (Reni Erina, Managing Editor Story Teenlite Magazine)
*
Kemampuan SPT menikam di awal cerita, lekukan indah di tengah peristiwa, dan kejutan di akhir cerita selalu berpotensi menghadirkan sesuatu yang lain; sesuatu yang menghadirkan penderitaan dan kesenangan, ilusi dan ironi, atau pertengkaran sengit antara harapan dan kenyataan. (Khrisna Pabichara)
*
Cerpen-cerpen SPT dalam ‘Sengkarut MEJA MAKAN’ ini mampu membuat saya belajar bagaimana mengemas setiap tema membumi dalam ceritanya. (Benny Arnas)
*
Cerpen Saut Poltak Tambunan mengajari kita menghadapi kemarahan dengan cara yang cerdas, dan menjadikannya sebuah kearifan yang indah. Tema-temanya unik dan seringkali tidak terduga. Sepertinya sederhana tapi mengejutkan. Bagaimana dari objek kecil ‘Meja Makan’ misalnya, bisa melahirkan ironi dan kegeraman sebuah potret besar tentang Negara.
Ada tokoh-tokoh kecil yang selalu dianggap tak berharga (tokoh pembantu dalam cerpen Si Nur misalnya), yang ditulis dengan karakter kuat dan mengharu-biru, yang telah melahirkan satu pemaknaan tentang harga kemanusiaan yang kita miliki. Ada kerinduan tentang kampung halaman yang menghasilkan berlembar-lembar pertanyaan tentang arti ‘kemajuan’ yang selalu diagung-agungkan.
Kegeraman-kegeraman yang begitu kasar pada cerpen yang menggambarkan kehancuran sebuah peradaban yang melulu melahirkan kanibalisme antar manusia. Ataupun nilai-nilai cinta dan masa lalu yang begitu lembut dari hubungan dua manusia yang saling terasing dengan menawarkan beragam hal dengan cara yang begitu lugas, akan tetapi tidak kehilangan cara pandangnya yang khas. (Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais).
*
Nama Saut Poltak Tambunan tak pernah surut dari literasi Indonesia karena tidak ada jeda menulis baginya dalam empat dasa warsa. Eksistensi karyanya bukan semata persoalan jam terbang, namun juga kandungan lokalitas yang tak luntur bahkan ketika para tokohnya menjadi urbanis. Karakter mereka ditulis begitu kental dan ekspresif, membuat cerpen-cerpennya hidup dan segar. (Kurnia Effendi, cerpenis dan pencinta sastra, penggiat Komunitas Sastra Kedailalang)
*
“Ada dua kekuatan utama cerpen-cerpen Saut Poltak Tambunan, menurut saya. Pertama, tema-tema yang digarap sebetulnya sederhana, riil, namun jadi berdimensi beberapa karena akhirnya memasuki berbagai aspek kehidupan, yang sadar atau tidak pernah dialami pembaca atau orang lain. Kedua, cara penulisan yang lugas dengan menggunakan kalimat aktif dan frasa pendek mengalirkan cerita dengan lancar hingga enak dibaca. Kelimabelas cerpen ini pun saya lahap dengan nikmat, kadang tersenyum, kadang mendeguskan nafas panjang seusai baca—seraya membayangkan kisah, kejadian, dan para tokoh tiap cerita.” (Suhunan Situmorang, pengarang novel ‘Sordam’, praktisi hukum dan pemerhati budaya Batak)
*
Walau mengaku tak pintar menyanyi, tapi sebagaimana umumnya putra Batak, Saut Poltak Tambunan, memberikan potret sosial yang sendu, dalam pergeseran nilai di negeri yang tersaruk berbenah dihajar berbagai perubahan ini. (Putu Wijaya, Teater Mandiri, Budayawan)
Sumber: Harian Analysa, Minggu, 8 Mei 2011