


Adaptasi novel ke film, atau sebaliknya dari film ditulis menjadi novel, itu biasa. Era tahun 70-an sampai 80-an, layar-lebar bioskop kita menyajikan film yang based on novel. Di antaranya tercatat Di Bawah Lindungan Ka’bah (STA), Badai Pasti Berlalu (Marga T), Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar), Roro Mendut (YB Mangunwijaya), Atheis (Achdiat K. Mihardja), (Ronggeng Dukuh Paruk(Ahmad Tohari), Ali Topan (Teguh Esha), Salah Asuhan (Abdoel Moeis), Ca Bau Kan (Remy Sylado), Eiffel I’m In Love (Rachmania Arunita). Hatiku Bukan Pualam (Saut Poltak Tambunan), Kabut Sutra Ungu (Ike Supomo), Jangan Ambil Nyawaku (Titie Said), belum lagi karya Motinggo Busye, Abdullah Harahap, Harry Tjahyono, Mira W, Eddy D Iskandar dan lain-lain.
Memasuki era sinetron tahun 90-an, novel masih meramaikan tontonan kita. Antara lain Si Doel Anak Betawi (Aman Dt. Madjoindo), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati), Lupus (Hilman Wijaya), Padamu Aku Bersimpuh (Gola Gong), Keluarga Cemara (Arswendo), Jangan Ada Dusta (Saut Poltak Tambunan), ada Zara Zettira dan …. masih banyak.
Suatu ketika Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA dalam salah satu acara ulang tahunnya menyelenggarakan diskusi tentang sastra dan film di Pusat Perbukuan Jl Gunung Sahari. Asrul Sani (alm) menegaskan bahwa dunia film membutuhkan sastrawan dan karena itu mengajak para sastrawan untuk masuk ke dunia film.
Lalu, bagaimana film dan sinetron kita sekarang?
Kedailalang menggagas diskusi tentang SASTRA DAN FILM dalam pentas Ke 6 tanggal 13 Maret 2007.
Keberadaan sastra dalam film/sinetron belakangan ini semakin diragukan. Karena itu topiknya sengaja bukan ‘sastra dalam film’, melainkan ‘sastra dan film’.
Tentu saja, saran dan support dari teman-teman ditunggu, terlebih dari teman-teman yang berkompeten dalam film/sinetron.
Salam dari Kedailalang.
Saut Poltak Tambunan



