Menyigi Mimpi Sang Juara[1]

Posted: February 8, 2011 in Resensi Buku

Oleh Khrisna Pabichara[2]

JAGOAN MASA KECIL. Dari sana tulisan ringan ini bermula. Selepas membaca novel “Sang Juara”, otak saya merangkai setiap demi setiap ingatan tentang “jagoan masa kecil”. Waktu itu, 3 Mei 1985. Saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas V. Masih bingung menentukan mau jadi apa kelak setelah dewasa. Jika ada yang menanyakan cita-cita, ada kalanya saya menjawab ingin seperti Habibie. Di lain waktu, saya berharap kelak bisa seperti Icuk Sugiarto atau Rendra. Tapi ada satu cita-cita yang nyaris “dipastikan” bakal tidak tercapai, menjadi Ellyas Pical. Hari itu, jagoan bersama kebanggaan bangsa—Ellyas Pical—sedang berjuang mengharumkan nama negara, bertarung merebut gelar Juara Dunia IBF kelas bantam yunior melawan juara bertahan, Ju Do Chun.

Demi menonton “jagoan masa kecil” itu bertinju, saya dan penduduk kampung lainnya harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilo. Kala itu, televisi masih barang mewah. Di desaku hanya ada satu, di balai desa. Bentuknya bujursangkar, berkaki empat, layarnya berpintu dan bisa dibuka atau ditutup, mereknya Sharp. Sesampai di balai desa, Syamsul Anwar Harahap sudah “mengoceh” banyak tentang pukulan andalan Elly, The Exocet. Saya tidak tahu dari mana nama itu bermula, hingga kakakku yang sudah SMA menerangkan kalau gelar itu merujuk pada nama sebuah rudal buatan Prancis.

Saya menahan napas sejak ronde pertama dimulai. Ju Do Chun langsung merangsek dengan kombinasi pukulan jab dan uppercut. Secara meyakinkan, petinju asal Korea itu mendominasi ronde pertama. Begitu seterusnya hingga ronde ke delapan. Muka Elly babak-belur. Darah mengucur dari alis mata kirinya yang sobek. Tapi petinju kelahiran Saparua itu tahan pukul. Pada ronde sembilan, Elly bangkit dari keterpurukan. Pukulan-pukulan kerasnya mendarat mulus di wajah dan kepala Chun. Hasilnya, pada ronde sepuluh Chun terkapar. Joe Cortez, sang wasit, segera memberikan hitungan, tapi hingga hitungan kesepuluh Chun tetap tidak bisa berdiri.

Begitulah, Ellyas Pical menjadi “jagoan masa kecil” saya, selain Muhammad Ali dan Maradona.

☼☼☼

JIKA mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya, yang menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Maka, tepatlah jika Sang Juara kita masukkan ke dalam golongan novel. Mengapa? Karena Sang Juara adalah cerita yang dibangun dari fondasi imajinasi berlatar fakta, “seolah-olah” diadopsi dari kisah kejuangan Ellyas Pical, kemudian diracik-padukan dengan romantika seorang pelacur yang dicomotnya dari “dunia lain” yang sama sekali berbeda dengan dunia “jagoan masa kecil” saya itu.

Tentu saja, Saut Poltak Tambunan tidak dengan serta-merta melahirkan Sang Juara. Pastilah ia memiliki catatan “hidup” sebagai bumbu penyedap rasa yang membuat tokoh rekaannya terasa begitu hidup. Pengarang menggubah tokoh Jumono sebagai manusia biasa yang bisa berubah, bukan tokoh rekaan yang memiliki karakter konstan dan menjemukan. Ia berkisah tentang seorang manusia yang sejak kecil didera penderitaan, menjalani hidup apa adanya, lalu merantau demi perbaikan masa depan. Ia menuturkan ihwal seorang jejaka tumpuan keluarga yang penakut, lalu menjadi “binal” karena pengaruh lingkungan. Dalam novel Spenser, Robert B. Parker menciptakan anak lelaki bermasalah, Spenser, yang tersesat ke sebuah kabin terpencil di

tengah belantara. Demi upaya bertahan hidup, anak itu menjelma menjadi orang baru dengan kehidupan yang sama sekali berbeda dari “garis hidup” yang seakan ditakdirkan untuknya.

Sementara itu, George Bernard Shaw, menciptakan tokoh Eliza Dolittle dalam Pygmalion sebagai seorang gadis muda miskin yang berjuang memenuhi hasrat hidupnya. Dikisahkan, Eliza memulai perjuangannya sebagai seorang gadis penjaja bunga di pinggiran Tottenham Court Road, lantas terpikir olehnya menjadi seorang “wanita terhormat”. Namun, tidaklah mudah baginya karena kemampuan berbahasanya yang rendah. Meskipun dia tidak punya uang, dia bersikeras kepada Henry Higgins bahwa dia mampu mengikuti pelajaran di “kelas bahasa”. Dia percaya pelajaran itu dapat mengubah hidupnya menjadi orang yang lebih berbahagia.

Jumono dan Juminten, sama seperti Spenser dan Eliza. Mereka adalah tokoh rekaan yang memiliki kesamaan mimpi: memburu hidup yang lebih baik. Jika Eliza direndahkan dalam pergaulan karena ketidakmampuannya menggunakan bahasa yang lemah lembut, maka Juminten dilecehkan orang-orang sekampungnya karena lahir dari keluarga miskin. Jika Spenser harus berjuang mati-matian di tengah hutan demi mempertahankan hidup, maka Jumono pun banting tulang mengumpulkan uang demi mengangkat derajat keluarga. Jika Eliza memulai mimpinya sebagai penjaja bunga, Juminten pun meretas mimpinya dengan berbagai cara. Dari menjadi babu hingga menjajakan tubuhnya. Begitulah, mereka adalah tokoh rekayasa yang terasa begitu nyata.

Banyak karakter di sekitar kita yang mirip dengan Jumono, Juminten, Spenser atau Eliza. Karenanya, Spenser, Pygmalion dan Sang Juara bukan sekadar cerita, melainkan fakta yang terpantul dalam kehidupan nyata di sekeliling kita. Tokoh-tokoh ini menyingkap tirai kenyataan bagaimana hidup memperlakukan mereka dengan “tidak wajar” hanya karena posisi yang “rendah” dalam stratifikasi sosial.

Tokoh lain dalam Sang Juara adalah Surti, kakak ipar Jumono. Dia adalah seorang ibu muda yang memiliki hasrat kuat untuk membahagiakan keluarganya. Namun, ini menjadi sulit diraih ketika segala sesuatu berada di luar kemampuannya. Dia menaruh harapan besar bahwa segalanya pasti berubah menjadi lebih baik. Bahkan di kala suaminya, Jumadi, menderita cacat mental permanen, dia tidak meninggalkan suami dan keluarganya. Malah mengikhlaskan diri bekerja apa saja. Beragam interpretasi bisa ditarik dari tokoh ini. Salah satunya adalah bahwa Saut ingin menunjukkan bagaimana kegigihan seorang wanita memasrahkan hidupnya demi keluarga. Lebih lanjut, bisa dikatakan bahwa hal ini menjadi sinyal kekuatan wanita di saat-saat krisis. Pada situasi yang paling genting sekalipun, perempuan mampu menawarkan solusi terbaik.

Tokoh berikutnya adalah Kirom. Ia adalah sosok lelaki “bengal” yang dikisahkan bandel sejak kecil. Ia menghadirkan rasa jerih dan takut pada tokoh lainnya. Seolah-olah dunia menjadi “horor” jika namanya disebut. Ia pula yang merebut cinta remaja Jumono, Mirah. Tidak berhenti sampai di sana, Kirom pun merampas tanah keluarga Jumono dan menggusur rumah mereka. Bahkan, ketika Jumono mulai berhasil meretas karier sebagai petinju, ia mengajak “begundal-begundal” akrabnya untuk mengeroyok Jumono sampai cacat dan tidak bisa bertinju lagi. Tapi, ia bukan segalanya. Bukan seseorang yang tak terkalahkan.

Dari sini, saya berani mengacungkan jempol pada kepiawaian Saut menganggit tokoh. Ia sukses mencipta sosok fiktif yang memikat dan bisa dipercaya oleh pembaca.

☼☼☼

JIKA alur, sesuai KBBI, adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin secara saksama untuk menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian, maka “setidaknya” alur yang “wah” adalah alur yang menawarkan jawaban atas apa, bagaimana , dan mengapa. Josip Novakovich, lewat bukunya Fiction Writer’s Workshop, mengingatkan kita bahwa alur merupakan jembatan penghubung antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Bagi Josip, alur yang “berhasil” biasanya mengandalkan hubungan antara sebab-akibat dengan tataan gagasan.

Apa yang diperjuangkan oleh Jumono, Juminten, dan Surti? Kebahagiaan keluarga, jawabannya. Apa yang hendak dipertahankan oleh Kirom? Martabat dan dominasi keluarga, jawabannya. Apa yang dibela mati-matian oleh Simbol, ibu Jumono? Jawaban pastinya adalah warisan leluhur dan nama baik keluarga. Mengapa Jumono yang “penakut” berubah menjadi “ganas” dan bernyali? Tentu saja, keadaan memaksanya. Mengapa Juminten rela dicengkeram musuh keluarganya dan dijadikan “bunga” primadona bagi usaha “jasa pelayanan” milik Kirom? Tentu saja, uang dan peluang jawaban tepatnya. Mengapa Kirom menyiksa Mirah sampai pingsan tak sadarkan diri? Rasa cemburu karena Mirah ikut menyambut kedatangan Jumono bak pahlawan, seperti warga kampung lainnya.

Jika apa dan mengapa menegaskan sebab, maka bagaimana adalah hasil dari akibat. Dengan kata lain, jika tidak ada masalah tidak akan lahir cerita. Masalah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sebab, merupakan bahan dasar untuk membangun konflik, menciptakan pencitraan, dan simpul perekat emosi pembaca dengan cerita. Lantas, bagaimana cara Saut merancang alur dalam Sang Juara? Pengarang yang menghabiskan masa kecil di Balige ini sangat memahami pendapat Aristoteles, bahwa sifat buruk seseorang adalah “penyedap rasa” yang sangat “maknyus” dalam meramu alur cerita. Ia dengan cerdas meracik masalah demi masalah sehingga tercipta alur cerita yang memikat dari awal hingga akhir. Seakan-akan tidak ada ruang lapang yang dapat dijadikan peluang oleh pembaca untuk merasa “kenyang” di tengah jalan. Selalu ada masalah ia ciptakan untuk merangsang selera baca.

Saut pun menciptakan alur yang tidak mudah ditebak. Jangan berharap Anda akan menemukan “kesuksesan” Jumono menjadi Juara Dunia, seperti jagoan masa kecil saya. Bahkan Jumono harus menjalani hukuman penjara di akhir cerita, meskipun akhirnya ia bisa menuntaskan dendamnya. Begitulah, banyak kelok dan ceruk mengejutkan dari novel ini.

☼☼☼

BAIKLAH. Dari awal tulisan ini, saya “seolah-olah” meletakkan diri sebagai pembaca yang sudah mengkhatamkan Sang Juara berkali-kali. Dari tadi saya asyik berpanjang-lebar mengurai kandungan intrinsik dari novel inspiratif ini. Padahal, saya malah belum mengabarkan cerita sebenarnya. Tapi, hal itu saya lakukan secara sengaja. Sebagai seorang yang suka menggugah semangat, saya berniat “memastikan” bahwa jika kita memiliki semangat dan keseriusan, lantas memadukannya dengan “kerja cerdas”, menganggit novel adalah sesuatu yang niscaya, bukan sesuatu yang musykil terjadi.

Sekarang, mari kita menyelam lebih dalam. Jumadi adalah anak yang tertua dalam keluarga ini. Jumono anak bungsu dan Juminten berada di tengah. Ayah mereka bernama Jumali, lengkapnya Jumali bin Murtadji. Orang tua ini memberi nama anak-anaknya dengan awal Jum: Jumadi, Juminten dan Jumono. Kisah pahit Jumono bermula dari paksaan Kepala Desa agar keluarganya ikut program transmigrasi. Alasannya, demi perbaikan hidup. Supaya keluarga Jumono bisa lebih sejahtera. Tapi mereka paham bahwa itu hanyalah siasat jahat Kepala Desa yang dikemas dengan rapi. Kura-kura dalam peti, pura-pura selalu peduli. Padahal, hajat Kepala Desa yang sebenarnya adalah menguasai tanah keluarga Jumono, lalu menjual atau menyewakannya kepada orang Jatiasih. Begitu yang dilakukan Kepala Desa selama ini terhadap warga kampung. Memaksa mereka transmigrasi, lalu merampas sawah-ladang mereka. Namun, tak ada yang bisa melawan. Tak ada yang bisa menentang kekuasaan Pak Supangat, Kepala Desa yang masih saudara tiri dari Simbok, ibu Jumono.

Alkisah, keluarga Jumono berkeras membangkang. Akibatnya, mereka diteror setiap hari. Jumono, bungsu dari tiga bersaudara, pun tidak bisa berbuat apa-apa. Umurnya masih muda. Selain itu, nyalinya cepat menciut. Itu pula sebabnya ia tidak pernah memenuhi seruan kakaknya, Jumadi, untuk berlatih tinju. Ia lebih memilih ke hutan mengumpulkan kayu bakar, atau menjadi buruh tani jika ada yang memerlukan tenaganya. Hingga suatu ketika, kakak iparnya, Surti, memintanya merantau ke kota. Padahal, saat itu, ia baru saja memadu janji untuk bertemu Mirah di tepi hutan.

Lagi pula, Jumono tahu ibunya akan bersedih hati jika ia pergi. Tapi, hasrat merantau yang dijejalkan oleh istri kakaknya itu terlanjur meracuni otaknya.

“Mbok, ini Bejo mohon restu..!” bisik Jumono. Jelas terbayang wajah Simbok yang tidak pernah mengizinkannya pergi merantau, apalagi untuk menjadi petinju. Teringat pula ayahnya yang dihina bukan saja ketika masih hidup, namun juga setelah mati. Ingat Mas Adi, Mbak Minten, Mbak Surti, dan si Ribut—keponakannya.

Juminten tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jumono telah merantau ke Solo. Begitu pula Simbok. Juminten menuding Surti sebagai penyebab kepergian Jumono. Maka, dia pun berkemas meninggalkan rumah, mengadu untung di kota. Ternyata hidup di Solo tidak mudah. Empat bulan berlalu, Jumono hanya bisa menjadi “pembantu rumah tangga”, jongos di rumah Pak Sutadi, mandor layar tancap yang membawanya ke kota.

Sadar nasibnya tidak bakal membaik, Jumono berubah haluan. Ia beralih ke Jogja, jadi pedagang asongan di stasiun kereta api. Tapi, di sana pun sama, tidak bertahan lama. Dua bulan kemudian ia sudah berada di Jakarta. Ketidakramahan Jakarta langsung dirasakannya ketika semua bekalnya raib digasak copet. Tidak ada pilihan lain kecuali menggelandang, menjadi kuli bangunan, jual asongan lagi, dikejar-kejar petugas ketertiban, lalu calo karcis, hingga akhirnya jadi preman. Keadaan telah menempa dirinya yang “penakut” jadi pemberani. Setiap hari ia berkelahi memperebutkan jatah wilayah. Empat tahun lamanya ia hidup seperti itu.

Hingga ia bertemu Pak Simon, petugas keamanan di Senayan. Pak Simon lah yang menenggelamkannya ke dunia tinju. Dunia lama, impian Jumadi, kakaknya. Dari sana nasib baik bermula. Berangsur-angsur badai reda. Ternyata pengalaman keras menempa tubuhnya menjadi alot dan kukuh. Tidak butuh waktu lama di dunia amatir, Jumono pindah ke jalur profesional. Satu demi satu lawan ditumbangkannya. Tak jarang dengan kemenangan telak, KO. Namanya pun berkibar. Sukses di tingkat Nasional, ia merambah persaingan di tingkat regional. Lalu, ia mendapat peluang menantang peringkat pertama dunia, Judo King.

Arkian, kali ini Jumono menghadapi lawan tangguh. Pertarungan berjalan berat sebelah. Ia jadi bulan-bulanan petinju Korea itu. Tapi, tekad membahagiakan keluarga telah menyelamatkan semangatnya. Ia pun menang, dan memastikan peluang menjadi penantang Juara Dunia.

Sejak itu hidupnya berubah. Segalanya tampak indah. Jumono pun kembali ke tanah kelahiran membawa ketenaran dan kekayaan. Namanya dielu-elukan sepanjang jalan. Warga yang dulu sinis, berubah menjadi sangat ramah. Sayang, tumpukan uang yang dibawanya tak serta-merta membahagiakan Simboknya. Bagi perempuan yang melahirkannya itu, warisan keluarga di atas segalanya. Tidak mudah bagi Jumono memenuhi keinginan ibunya. Tanah itu sudah dirampas oleh Kirom, lelaki yang juga mengawini kekasihnya, Mirah, secara paksa. Masalah baru pun mencuat. Perkelahian tak terelakkan ketika Kirom mendapati Mirah dan Jumono sedang berduaan di tepi hutan. Tapi, mudah ditebak, Jumono lah sang pemenang.

Seolah-olah kisah bersudah di situ. Ternyata, tidak. Kirom tidak mau terima dirinya dipermalukan. Ia perintahkan anak-buahnya mengeroyok Jumono. Kali ini, Jumono kalah. Tangannya patah. Wajah dan tubuhnya babak belur. Tamatlah riwayatnya sebagai petinju. Kemalangan bertambah ketika Simbok meninggal karena tak tahan melihat penderitaan anak kebanggaannya, Jumono. Setelah sembuh, ia tak patah arang. Ia tetap melatih kemampuan fisiknya. Satu per satu pengeroyoknya dihabisi. Terakhir, Kirom pun diselesaikannya dengan “mudah”. Akibatnya, ia harus mendekam di penjara.

Begitulah. Kisah sederhana. Tidak rumit.

Tapi ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kesederhanaan itu.

☼☼☼

SETELAH menyasar beberapa keunggulan Sang Juara dari kandungan intrinsiknya, tiba masanya kita menyigi nilai estetika yang diusungnya. Tidak bisa disanggah, sebagai sebuah pencapaian estetika sastrawi, Saut mencoba merambah ranah tematik yang sedang ramai dibincangkan, “novel inspiratif”. Setelah era kegemilangan Laskar Pelangi, membuhul banyak novel yang mengusung tema inspirasi. Memang hal seperti itu sah-sah saja, karena setiap pembaca mengidamkan sodoran-sodoran baru yang mencerahkan, menggugah, dan mampu menyulut inspirasi. Tapi, jika pengarang abai pada kemasan, bisa terjebak pada “selera pasar” belaka, layaknya sinetron-sinetron yang lagi marak di televisi.

Belakangan, ada beberapa novel yang menggarap serba-serbi dunia olahraga, semisal novel King karya Iwok Abqory yang mengisahkan kedahsyatan lompatan Liem Swie King.  Novel ini tidak sekadar menceritakan sejarah kejayaan Indonesia di dunia bulutangkis, tapi juga menyuguhkan kalimat-kalimat motivasi yang inspiratif. Atau Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi, yang mengisahkan kemampuan Kiai Rais dalam mengolah si kulit bundar. Hal sama digubah Saut lewat novel anggitannya ini, Sang Juara.

Saya pribadi selalu percaya bahwa segala sesuatu yang berasal dari hati, niscaya bakal mengendap di hati. Artinya, segala sesuatu yang ditulis dengan “hati”, pasti bisa menggugah hati. Itulah makna inspirasi. Ruh dari tulisan inspiratif, di luar keterampilan artistik yang dimiliki sang pengarang, adalah internalisasi emosi, wawasan, visi, dan dedikasi. Tanpa semua itu, tulisan hanya menjadi sebatas tubuh tanpa ruh.

Tokoh Jumono dan Juminten dapat menjadi cermin tempat kita bisa berlama-lama mengacakan diri, bagaimana semestinya kita memelihara semangat dan mewujudkan cita-cita. Bahwa tak ada yang mustahil jika kita bersungguh-sungguh. Bahkan ketika kita tersuruk pada kenyataan yang paling pahit, paling terpuruk. Bahwa tak ada gunanya “pasrah” dan menyerah begitu saja dan berlekas-lekas menyalahkan takdir jika kemalangan menimpa kita, tapi harus selalu ada geliat, harus terus bergolak dan bergerak. Bahkan ketika kita tertumbuk pada kegagalan paling menyakitkan, paling mengenaskan.

Tokoh Kirom dapat menjadi air bening tempat kita bisa mengacakan wajah, apakah ulah-laku kita menyenangkan atau menyakitkan. Bahwa kemaruk bukanlah sifat yang layak dipertahankan, apalagi dipertaruhkan. Bahwa tamak bukanlah jalan lapang menuju bahagia. Bahwa hidup bukanlah semata pertarungan antara “yang berkuasa” atau “yang dikuasai”. Dan banyak lagi “bahwa” lainnya yang semestinya kita tanggalkan dari diri kita, jika itu akan menyusahkan atau menyulitkan orang lain.

Tokoh Keng Kiong menunjukkan kepada kita bagaimana caranya mencintai dengan tulus, tanpa harus memasalahkan pahit-getir masa lalu. Jika sudah cinta, belajar menerima apa yang ada. Bahwa setiap orang punya sisi gelap yang tidak mudah diterang-jelaskan. Jika kita dewasa, kita pasti bisa menerima sisi “baik” dan “buruk”. Bahwa setiap manusia akan atau pernah berbuat salah. Tapi, kita pun tahu bahwa gerbang yang lapang guna memperbaiki diri, selalu terbuka setiap saat untuk dimasuki.

Sungguh, banyak hal yang bisa kita selami. Banyak inspirasi yang bisa kita dalami.

☼☼☼

SEMOGA, setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, atau Chris John, negeri beribu pulau ini tetap bisa melahirkan penguasa-penguasa “ring” yang tangguh. Semoga pula terlahir bakat-bakat pesepakbola melebihi zaman keemasan Ramang, Ronny Pattinasarany, atau Robby Darwis. Semoga terus bertumbuh bintang-bintang baru, menggantikan Rudy Hartono, Susi Susanti, atau Icuk Sugiarto.

Semoga lahir pula karya-karya sastra bermutu yang inspiratif.

Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2009

Khrisna Pabichara,

motivator dan penyuka sastra.


[1] Disampaikan guna membincangkan novel Sang Juara karya Saut Poltak Tambunan, pada peluncuran Komunitas Sastra Ide Kalimalang (Kedailalang), pada Sabtu, 10 Oktober 2009, bertempat di Kalimalang, Jakarta Timur..

***

Kematangan bercerita, realitas kisah dan karakter tokoh  berada dalam genggaman Saut Poltak Tambunan. (Kurnia Effendi, penulis memoar Hee Ah Lee, “The Four Fingered Pianist”)

***

Menulis fiksi bukan sekadar merajut kata, tetapi berkisah disertai empati tentang kehidupan manusia. Pembaca akan menemukan itu dalam karya-karya Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang setia pada dunia penulisan. (Ashadi Siregar, UGM Jogjakarta)

***

“Sang Juara sebuah karya dari hati tempat hati kita bercermin. (Zara Zettira ZR, pengagum Bang  Saut sejak SD,  penulis, spiritualis, Canada)

***

Saut Poltak Tambunan,  saya kenal sebagai novelis yang piawai.  Karangannya selalu hidup, membumi dan membuat kita merasa menjadi bagian dari  ceritanya.  SANG JUARA –   novel dramatik di balik kehidupan petinju ini — sangat layak dibaca. (Kurniawan Junaedy, penulis, pekerja seni sastra

Leave a comment