
Halaman pertama tentulah ‘salam’, doa klise yang panjang (:Ananda sehat dan baik-baik, Ananda selalu berdoa semoga ayahanda dan bunda sehat walafiat juga adanya), lalu basa basi tanya adik-adik, kakek nenek, sapi kerbau sawah bla – bla – bla!
Halaman kedua, laporan kemajuan kuliah di kampus, laporan ‘pertanggungjawaban’ uang wessel bulan lalu, ditambah macam-macam ‘bumbu penyedap’ untuk melegakan hati orang tua.
Halaman ketiga, “Begitulah, untuk bulan ini Ananda perlu sekali tambahan uang …!”
Teken, masuk amplop pos kilat biru bergaris merah, dan tulis alamat tujuan:
Ayah-Ibu Tercinta, atau Ayahanda & Bunda.
Pengirim: Ananda
………….
Hari-hari penantian panjang, detik dan menit bersetia menunggu tukang pos mengantar wessel . . . ! Eee, kring sepeda tukang pos cuma lewat ke tetangga. Sebulan lewat sudah. Kok .. belum, ya …? (Utang di warung sudah satu halaman catatan kumal).
Itu ‘jadul’!
Sekarang berbeda, tinggal SMS: “Pa! Ma! Kok belum kirim sih? Aku sudah nungguin nih di ATM.”
Belum sempat balas, muncul SMS kedua: “Cepatan, dong! Kok telat melulu sih?”
&^^%$#&!?
(Menulis surat kepada orang tua minimal sebulan sekali adalah bagian dari rasa hormat pada mereka. Sekarang tak ada lagi … !)
(SPT -2010)