Pendidikan yang Relevan saat ini?

Posted: February 7, 2011 in Cerita Pendek

Marturia Tambunan: Pendidikan yang Relevan saat ini?

Marturia’s Notes|Notes about Marturia|Marturia’s Profile

Pendidikan yang Relevan saat ini?

Share

Thursday, September 24, 2009 at 3:15pm

Tulisan ini sebuah pemikiran tentang pendidikan masyarakat batak dulu dan kini, setelah membaca cerpen penulis kondang Saut Poltak Tambunan, “Menunggu Matahari”.
Masyarakat batak mengenal sistim patriakhal, di mana ayah pengambik keputusan dan punya otoritas yang besar atas perjalanan hidup keluarga. Dalam sistim ini pun laki-laki, sangat dihargai sebagai penerus garis keturunan.
Tanah Batak, terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering, hanya dengan daya juang yang kuat orang mampu bertahan hidup di daerah itu, maka dibutuhkan kerja keras, disiplin dan keteguhan prinsip untuk menentukan arah hidup. Kekerasan alam boleh jadi mempengaruhi karakter seseorang. Hidup keras dibentuk oleh daerah yang keras, maka pilihan pendidikan pada zaman dulu (dan mungkin sampai sekarang) di Tanah Batak adalah sistim kekerasan dengan memukul, (meskipun untuk anak-anak sekarang itu sebuah kekejian). Namun menjadi pertanyaan: Apakah pendidikan seperti itu masih relevan di zaman ini, di saat manusia mengangungkan HAM?
Ada yang mengatakan masih relevankah sistim pandidikan seperti itu di zaman tekhnoligi yang no-violence ini? Saya berpikir satu hal, khususnya ketika dalam kebaktian keluarga minggu lalu di sektor 2 HKBP Dukuh Kupang Surabaya, dengan tema disiplin, ada yang mengatakan seperti ini: ‘Jika Tuhan mengizinkan waktu berputar kembali ke belakang, maka saya akan memilih pendidikan seperti yang saya terima dari ayah saya. Meski saya dihajar, tapi justu itu membuat saya untuk keluar dari kemiskinan, bebas dari penderitaan. Saya memang buka sarjana, tapi hajaran ayah saya membuat saya bisa bertahan, bisa membuat anak-anak saya menjadi sarjana, tapi sarjana penakut, sarjana yang tidak tahan banting, sarjana bermental tempe’. Pendidikan yang bebas ternyata tidak membebaskan sebagian orang. Pendidikan yang jauh dari kekerasan menghilankan daya juang, di mana dengan segala kebutuhan yang terpenuhi membuat anak-anak kurang berjuang, karena hanya dengan meminta, anak-anaknya bisa mendapat dengan cepat, apa yang dibutuhkan. Hidup yang serba instan memang enak, tapi instan tidak membuat orang tahan pada kerasnya hidup yang ditawarkan dunia. Kita pernah mendengar ada anak yang bunuh diri karena permintaannya tidak dipenuhi. Anak instan ingin semua cepat, bahkan untuk menunggu sesaat pun permintaannya, sudah membuat si anak cemberut.
Dahulu memang orang Batak tidak mempunyai plihan dalam mendidik dan mendisiplinkan anak kecuali memukul, tapi kekerasan itu justru membentuk putra/i Batak menjadi orang yang kuat, tangguh dan handal, seperti cerita tokoh batak, seperti: TB Silalahi; dalam buku si hadal dan Sintong Panjaitan, dll.
Saya juga ingat cerita seorang jemaat, ketika kami melayani di HKBP Magelang, beliau bercerita tentang suatu kejadian semasa dia SD di parsoburan. Dia bermain api di dekat lumbung padi, ayahnya melarang dia, tapi si anak memilih meneruskan permainannya. tanpa dia tahu bunga api terbang ke atas tumpukan padi, dan lumbung itu terbakar. Ayahnya panik, dia tidak menyiram api, tapi mengangkat anaknya dan melemparkan anak itu, serta memukulnya. Dia meraung kesakitan, dan sampai kini masih ada bekas luka di kaki dan tangannya. tapi kekerasan yang diterimanya, justru membuatnya semakin cerdas dalam memahami arti larangan.
Lalu apakah kekerasan itu sebuah kekejian?
Ketika putri sulung saya marah karena saya matikan tv dan menyuruh dia belajar, dia membanting pintu dengan kencang. Ayahnya dengan tegas menyuruh dia mengulang menutup pintu kamar dengan pelan, sementara saya menekan tangannya dengan keras, dia lebih ‘menghormati’ (atau mungkin takut) kepada aya dibanding ke ayahnya. Anak saya tidak akan membuat perlawanan kalau tv saya matikan meskipun itu tontonan kesayangannya, tapi terhadap ayah, dia masih berani tawar menawar.
Saya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan terbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)
Memang kekerasan dalam pendidikan sering kita lihat sebagai suatu kekejian, tapi justru pendidikan yang demikian banyak membuat orang Batak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup. Paiman yang ‘disiksa’ ayah, menjadi seorang yang bertanggung-jawab di usianya yang dini, dia mengusahakan burung pengganti kupu-kupu untuk Minar. Dia menjadi pemberani menjelajahi hidup tanpa ayah ibunya. Dia kuat dan tidak menangis, walau dia terkapar menahan rasa rindu pada ibu yang akan membawanya ke pesta. Kekerasan yang terjadi dalam Paiman-Paiman lain membuat dia dewasa memaknai hidup.
Kekerasan ayah, bukanlah sebuah kekejian, tidak mungkin ayah membenci Paiman, saya tahu persis itu, bagaimana orang batak menjadikan anak lelaki menjadi seseorang yang terpenting dalam hidupnya, tapi karena lelaki (‘ayah;) orang Batak cenderung kaku, maka mereka tidak ‘sanggup’ mengungkapkan kasih sayangnya dengan lembut dan berbahasa yang manis. Rotan, lidi atau sabuk menjadi alat pendidikan, bukan alat kebenciaan, lewat media itulah mereka ingin mendisiplinan anak-anaknya. Kalaupun ayah memukul Paiman, tapi jauh di lubuk hati dia mau membentuk seorang anak lelaki yang kuat, tidak cengeng. Ayah ingin membentuk Paiman tidak hanya kuat melewati gunung terjal dan berbatu, tapi kuat mengarungi hidup yang sulit. terbukti, ayah tidak tenang, ketika Paiman tak kunjung pulang, tidak melihat jasad ibunya 6 tahun lalu, ayah terus berharap ‘menunggu matahari’, bahwa Paiman yang sangat dia rindukan akan pulang.
Karakter anak ditentukan oleh pendidikan dalam rumah, maka seorang Pendeta yang khusus melayani Pemuda, remaja dan sekolah minggu, pernah berkata: Sia-sia pendidikan di sekolah dan di gereja, kalau tidak didasari pendididkan yang kuat di dalam rumah. Artinya pendidikan rumah menetukan karakter seorang anak.
Pendidikan yang keras yang diterima orang batak dulu, justru membuat orang batak lebih ‘dikenal’. Secara antropoligi orang batak dikenal sebagai suku yang keras dan kuat, berani, suka menolong, dan mudah membaur. mengapa demikian? Wilayah dan pendidikan yang keras membentuk mereka menjadi kuat dan berani, kemiskian membuat mereka ingin bebas dari kemiskinan, sehingga kesadaran itu membuat mereka ingin menolong, mengubah ‘nasib’, sehingga ke daerah mana mereka pergi, mereka cepat beradaptasi, supaya menjadi bagian dari masyarakat.
Jika kekerasan menjadi pilihan, itu karena tidak ada alternatif atau pilihan lain dalam membentuk dan mendisiplinkan anak. Maka sistim yang paling tepat ketika itu adalah dengan memukul.
Saya tidak setuju kekerasan, saya menolak setap tindakan yang tidak menghargai hidup orang lain, namun ketika pendidikan kita menjadi lebih ‘lunak’, justru daya juang anak-anak sekarang menjadi menurun. Untuk memasukkan makanan ke mulut sendiri ‘moh’ anak-anak kita. Menjadikan anak yang anti-tv/ps dan pro-baca (seperti keluarga Ito Suhunan Situmorang), sangat sulit. Lalu apa alternatif dalam mendisilinkan anak?
Saya belajar dari Tuhan Yesus, guru besar itu, Dia mendisiplinkan muridNya (Disciple (of Christ):murid, dari kata disiplin) dengan pengajaran yang benar dan penuh kasih. Dia pernah marah dan meporakporandakan jualan umat di rumah ibadah yang diubah menjadi pasar. Dia datang dari Allah yang penuh kasih dan pemurka atas kejahatan umatNya. Dia menghukum bangsa Israel ke Mesir menjadi hamba dan menjadi bangsa tawanan ke Babel, karena menyakiti hati Bapa. Tapi Dia adalah Bapa yang pengampun, tidak ada dendam atas kekeliruan umatNya, kasihNya merindukan kembaliNya anak yang hilang.
Jika dengan kasih sayang dan kesejahteraan justru membuat anak-anak kita menjadi melempem dan tidak kuat mengarungi kehidupan, adakalanya pendidikan kita di tingkatkan untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan handal dalam mengarungi kehidupan.
Meskipun kekerasan telah banyak ditolak dalam pendidikan, jika ternyata mental bangsa menjadi lemah, tidakkah kita akan memikirkan alternatif lain dalam memberdayakan anak-anak bangsa?
Marilah kita terus memaknai bahwa pendidikan di tanah batak yang bernuansa kekerasan, bukan karena jiwakanibalis, tapi ungkapan kasih sayang untuk membentuk anak menjadi anak yang kuat, disipli, mandiri dan bertanggung-jawab.

thanks untuk realita yang dicerpenkan oleh Ito Saut Poltak Tambunan. Sebuah pembelajaran untuk memaknai hidup.

………….pulanglah Paiman, ayah menunggumu dengan cinta dan kerinduan.

 

Marturia Tambunan

Thanks u/ jempol yang cantik.

September 24, 2009 at 3:42pm · Report

N Baho Parel

Ini topik menarik dan layak dibicarakan.

Pendidikan yg sebenar2nya tdk akrab dg kata ‘kekerasan’, dalam Hukum mungkin y. Tetapi kata ‘Motivasi’ memang terkait dg 2 hal + or – (penghargaan dan hukuman). Penghargaan yg ideal tidak mengarah pada ‘pendewaan’ (kesombong), ga pantas kalau karena anak SD rangking dihadiahi Mobil. Sebaliknya, Hukuman … See Moretidak boleh ‘mematikan’ (depresi) maka kalau anak SD merusak TV, tangannya tidak harus dilukai. Realitas yg kita hadapi barangkali lupa bahwa :

1. penghargaan yg kita berikan pada seseorang seharusnya berdasarkan simpati/ pengakuan atas keberhasilannya dan bukan mempertontonkan apa yang mampu kita berikan, sebaliknya
2. hukuman yang kita bebankan seharusnya memperbaiki dirinya bukan sebagai pelampiasan amarah kita.

September 24, 2009 at 3:43pm · Report

Marturia Tambunan

Benar x ito. Untuk keseimbangan ini yang sering sulit terjadi dalam hubungan orangtua-anak. Semoga ortu boleh memberi penghargaan melalui pengakuan dan hukuman sebagai pendisiplinan.

September 24, 2009 at 3:47pm · Report

Ganda Tambunan

Ketika saya menonton film2 amerika,saya sering heran knp anak2nya bs patuh ketika org tua menyuruh utk tidur tdk melawan,ktk ora tua melarang pergi tdk menjawab. Ksmpln yg bisa saya petik,bhw dalam mendidik khususnya dalam RT,logika atas apa yg kt sampaikan harus difahami oleh anak2 dan penuh kesabaran. Ksmpln atas pendidikan kita,msh dominan emosional (memberi hadiah yg WAH atas prestasi yg wajar dan hukuman yg berat atas kesalahan yg msh bs dimaafkan).

September 24, 2009 at 3:57pm · Report

Suhunan Situmorang

bagus ternyata pikiran-pikiran ito boru Tambunan ini menyangkut pendidikan, ketahuan keturunan orangtua yg dua-duanya guru.

terus menulis ya ito, menarik sekali tulisanmu. mauliate sdh di-tag.

September 24, 2009 at 6:44pm · Report

Nestor Rico Tambunan

Ito seorang penulis yang baik. Lepas dari ketertiban kalimat, (mungkin karena ditulis spontan – dan toh bisa diedit), tulisan ini sudah menyentuh dasar satu topik: cara dan tujuan pendidikan. Pendidikan sekarang dikaitkan dengan HAM, hak azasi dan macam-macam, tapi justru melahirkan anak-anak yang umumnya lembek, tidak ngerti moral, etika-etika … See Moredasar. Jadi, artikel seperti ini mestinya dimuat di media massa umum. Satu lagi, itu harus tetap menulis, dengan materi dan pendekatan lain soal pendidikan. Mudah-mudahan bisa jadi buku. Jalan terus ito

September 24, 2009 at 7:51pm · Report

Rodion Tampubolon

Yang sama pentingnya dengan cara mendidik (keras atau lunak) adalah tujuan pendidikan. Sering sekali kita menginginkan seorang anak menjadi ‘apa’ (misalnya jadi sarjana ini dan itu dll), tetapi kita kurang memahami mau jadi ‘siapa’ mereka kelak. Apapun cara pendidikan, seharusnya tujuannya adalah mendorong mereka menjadi diri sendiri, menjadi … See Moremanusia yang bebas menemukan dirinya, sampai akhirnya mereka dapat mengaktualisasi diri. janganlah kiranya seorang anak “dipaksa” menjadi orang lain oleh orang tua atau oleh keadaan. Sebab pendidikan tidaklah hanya membuat manusia berhasil di satu segi (misalnya menjadi pengusaha, atau penguasa), tetapi secara kejiwaan mereka juga harus menjadi diri sendiri yang bertanggung jawab. Maka tidak mengherankan (contoh negatip) bahwa banyak orang yang berhasil secara ilmu dan kedudukan, tetapi tidak bertanggung jawab sebagai manusia kepada sesamanya (sesungguhnya dia tidak membawa manfaat apapun bagi orang lain, sebaliknya mencelakakan banyak orang).

September 24, 2009 at 8:16pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Itoku yang baik, tidak sia-sia aku minta komenmu. Luar biasa. Tapi ada satu hal yangbenar-benar membalikkan logika saya:
<saya seperti berada ya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan … See Moreterbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)>.

September 24, 2009 at 8:37pm ·

Saut Poltak Tambunan

Pola pendididikan kita yang terlalu permisive kepada anak-anak membuat orang tua kurang berwibawa. Kita makan ceker dan kepala ayam, atau kepala ikan cuek, spy anak-anak kita dapat yang terbaik. kadang miris rasanya tulang ayam masih berdaging sudah disishkan di pinggir piring lalu ambil potongan daging lagi, lalu kita menjadi petugas kebersihan … See Moremenelisik sisa-sisa makanan anak kita. Tadinya saya berpikir orang tua kita dulu yang kepingin enak sendiri, sekarang saya sadar – pola itu sangat efektif utk menempatkan orang tua pada tempat yang seharusnya, shg tidak dipecundangi anak-anaknya seperti sekarang. Dulu Bapak berdeham saja kita sudah takut, sekarang kita melotot malah diketawain.

Terima kasih, Ito, paparan Ito membuat cerpen saya ‘Menunggu Matahari’ semakin lengkap memberi inspirasi bagi banyak orang. semoga bermanfaat.

Semoga ‘Paiman-Paiman, para ayah dan Minar-Minar’ membaca ini.

September 24, 2009 at 8:45pm ·

Melody Martinez

Thx utk tag-nya. Sy menganggap diri saya sbg seorang dosen yg sgt demokratis. Memberi pilihan bebas bagi mahasiswa utk memilih apa yg perlu bagi dia. Karena pendidikan tinggi adalah “andragogy” yaitu pendidikan orang dewasa. Kadang2 itu sangat efektif bagi mhs yg cukup cerdas. Sayangnya cuma kadang2. Saya mendapat pencerahan dr tulisan ini, bhw mendisplinkan mereka jg harus menjadi agenda dlm kelas. Again thx 🙂

September 24, 2009 at 10:01pm · Report

Marturia Tambunan

@Suhunan S; Nestor RT: Thank untuk ito-itoku yang baik, menyemangati aku menjadi lebih berani lagi. Hehehe, tadinya sungkan men-tag ‘orang-orang besar’, kepada para penulis Indonesia, tapi saya luar biasa bangga dengan dukungannya. Thanks ya.
@Ganda T; Rodion T: Ya, kadang-kadang, tujuan membuat orang tua memaksa kehendak, tapi pendidikan yang … See Moremembebaskan itu yang perlu diterapkan pada masa kni, sehingga anak-anak cinta pendidikan tanpa sebuah paksa.
@ SST: Kami juga mengalami, pengalaman ito, menjadi petugas kebersihan makanan anak-anak, tapi mereka haru dididik untuk menghargai makanan yang kita sediakan buat kesehatan mereka adalah berkat Tuhan, yang suatu saat boleh hilang dari diri mereka jika tidak dihargai dan disyukuri. Thanks juga untuk ito yang memintaku mengkomen, sehingga menjadi timbul pemikiran untuk menulis pola pendidikan ini.

September 24, 2009 at 10:07pm · Report

Marturia Tambunan

@Melody: Thanks juga, jika membaca tulisan ini memberi pencerahan bagi dosen briliant sepertimu.

September 24, 2009 at 10:10pm · Report

Ganda Tambunan

Aku tunggu tulisan/bukumu,seperti saran sdr kt nestor rico,mungkin mimpi bapak kt sbg guru bhs indonesia yg memberi nama saya sastrendra akan terwujud setelah dia tiada. Smg sukses.

September 24, 2009 at 10:24pm · Report

Marturia Tambunan

Oke. Kita mulai bersama.

September 24, 2009 at 11:15pm · Report

Erlina Ch D Pardede

Saya pernah menyiar di radio Diakonia HKBP Pematangsiantar, soal pendidikan anak-anak sekolah. Karena kekerasan juga terjadi di sekolah, dari guru terhadap murid-muridnya. Dalam dialog interaktif, seorang guru perempuan menentang habis pernyataan saya, bahwa “membangun komunikasi jauh lebih baik dari pukulan.” Guru tersebut mengatakan: “kalau saya… See More nasehati murid itu, dia tetap tidak mau membuat PR. Tapi kalau saya pukul, maka dia mau membuat PR. Jadi kan lebih baik dipukul ….”
Hhmm ….. saya tetap percaya bahwa pukulan itu akan membekas dalam sanubari anak dan ketika dia dewasa, dia akan mengulang itu entah kepada istri atau anak-anaknya. Bukan pemukulan yang bisa membuat anak menjadi berani, kuat dan tegar. Tetapi perhatian melalui komunikasi vis a vis dan disiplin ….

September 25, 2009 at 12:46am · Report

Basar Simanjuntak

Memang dalam kepelbagaian manusia, ada yang senang menerima “budaya” pukulan untuk semakin maju, walau itu tidak mutlak berlaku bagi setiap orang.

September 25, 2009 at 5:09am · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Sy setuju bahwa pemukulan bknlah yg terbaik untuk mendidik, tp sprti kt gr itu, kadang tindak kkrasan bs m’ubah

September 25, 2009 at 6:36am · Report

Erlina Ch D Pardede

Cukuplah pertemuan-pertemuan lokal, regional, internasional tentang “Anti kekerasan terhadap perempuan dan anak”. Cukuplah 1 dekade di gereja-gereja sedunia (WCC, LWF, CCA dll) yang dengan sengaja menjadikan tahun 2000-2010 menjadi tahun: “Decade to overcome violence against women and children”. Gereja sudah masuk dalam arak-arakan ini.
Cukuplah… See More semua usaha untuk menyadarkan dunia bahwa kekerasan itu harus dihentikan, apapun bentuknya, apapun tujuannya ….
Yakinlah kawan, kekerasan tidak akan mengubah apapun. Mungkin untuk tujuan sementara bisa, tetapi pendidikan dengan kekerasan itu hanya akan melahirkan “monsters” dalam keluarga, masyarakat dan gereja.
Cukuplah melihat dan mendengar berita tentang kekerasan di sekitar kita …
Mari kita masuk ke arak-arakan gereja sedunia itu …

September 25, 2009 at 2:05pm · Report

Jojor Silalahi

Dalam 2 Sam 7:14, tertulis bagaimana Allah sebagai Bapa akan mendidik Salomo dan anak-anak Daud lainnya dengan rotan dan pukulan. Yang menjadi pertanyaan : “Apakah polapndidikn ini masih relevan ? Seorang tokoh gereja pernah berkata ketika mendidik anak, orang tua membutuhkan rotan di tangan kanan dan apel di tangan kiri. Rotan untuk memukul dan … See Moreapel untuk menyatakan kasih dan perhatian. Saya setuju pemikiran ini dengan penekanan bahwa jika pukulan dibutuhkan maka hal yang patut diingat adalah orang tua harus menjelaskan mengapa ia harus memukul. Hal ini sangat penting supaya anak tidak dendam dan sakit hati pada orang tuanya. Ini menurut saya yang kurang dalam pendidikan orang tua masa lalu. Anak langsung dipukul tapi tidak ada komunikasi setelah pukulan. Akhirnya anak dendam dan sakit hati ama orang tuanya. Hal ini ada hubungannya nggak dengan kebanyakan syair dalam lagu Batak yanglebih mengenang kasih ibunya daripada Bapaknya ? Karena banyak orang Batak sakit hati dengan Bapaknya ?

September 27, 2009 at 2:56pm · Report

Marturia Tambunan

@Bunda: Kita punya pandangan & perjuangan yg utk memasuki arak2an Dewan Gereja Dunia utk menentang setiap kekeraan terhadap anak & perempuan. Saya hanya mjawab komen orang mgnai orang Batak yg dsebut sebagai orang tua yang keras memberlakukan anaknya. Jadi saya katakan ketika sistim itu terjadi, orang Batak banyak berhasil, apakah karena rasa sakit… See More ingin ‘penindasan’ itu, atau karena dia termotivasi dengan pukulan itu mjadi orang besar? Ternyata ketika orang batak mulai agak lunak kepada anak-anaknya, mental orang batak banyak yg ‘mundur’ dlm mjalani hidup, termasuk mghormati khidupan. artinya ahli-ahli pendidikan belum memberi alternatif untuk menjawab persoalan, karena sampai sekarang, sekolah-sekolah masih lebih diminati kalau guru2, tegas, disiplin dan memberi hukuman kepada orang yang membuat ‘perlawanan’; seperti tidk mgerjakan tugas, dibnd sekolah yg tdk peduli pd murid2ya. Saya hanya sedang memikirkan bgimana m’didik tanpa kkrasan,tp punya daya juang.

September 27, 2009 at 5:25pm · Report

Marturia Tambunan

@Jojor:Pandangan itulah yg masih dianut dalam sistim pendidikan, hanya orang lebih suka menghukum daripada menyediakan apel mengobati lukanya, klau boleh memang mendidik tanpa kekerasan, tp ternyata sampai sekarang belum ada solusi yang ditawaran khususnya dalam pendidikan keluarga yang saya pikir 75% mempengaruhi karakter si anak. semoga desertasimu nanti boleh meneliti pendidikan di tanah batak.

September 27, 2009 at 5:30pm · Report

Revianna Dairi

hi..inang sorry br baca notenya, saya rasa jaman sdh berobah, kekerasan tdk lg merupakan cara yg baik untuk mendidik anak, contoh inang, anak-2 yg di rumah, septi n lorenzo, klo saya suruh mereka dengan nada yg keras sedikit aja pasti melawan, tdk mau mengerjakan yg saya suruh, tp klu mereka saya perintah dengan lemah lembut pasti mereka akan mengerjakan apa yg saya suruh tersebut.

September 28, 2009 at 3:36pm · Report

Marturia Tambunan

Tq.

September 28, 2009 at 9:29pm · Report

Saut Poltak Tambunan

Terima kasih teman-teman. sosok Paiman dalam cerpen Menunggu Matahari adalah potret kemiskinan struktural dalam masyarakat marginal seluruh masyarakat kita. Ada yang mencintai anaknya dengan disiplin keras, ada juga yang ‘keras’ tanpa alasan karena karakternya yang memang terbentuk bersama kemiskinan itu. Sedang sebagian lagi – menyayangi anaknya… See More … Read Moredengan cara memberikannya kebebasan berlebihan, (karena kemiskinan, ia tidak bisa memberi sesuatu yang menyenangkan anaknya, kecuali kebebasan), yang akhirnya kebablasan.

Sai mulak, sai mulak, ho naung laho jalangi … .

October 1, 2009 at 12:03am ·

Leave a comment