Marturia Tambunan: Pendidikan yang Relevan saat ini?
Marturia’s Notes|Notes about Marturia|Marturia’s Profile
Pendidikan yang Relevan saat ini?
Thursday, September 24, 2009 at 3:15pm
Tulisan ini sebuah pemikiran tentang pendidikan masyarakat batak dulu dan kini, setelah membaca cerpen penulis kondang Saut Poltak Tambunan, “Menunggu Matahari”.
Masyarakat batak mengenal sistim patriakhal, di mana ayah pengambik keputusan dan punya otoritas yang besar atas perjalanan hidup keluarga. Dalam sistim ini pun laki-laki, sangat dihargai sebagai penerus garis keturunan.
Tanah Batak, terkenal sebagai daerah yang tandus dan kering, hanya dengan daya juang yang kuat orang mampu bertahan hidup di daerah itu, maka dibutuhkan kerja keras, disiplin dan keteguhan prinsip untuk menentukan arah hidup. Kekerasan alam boleh jadi mempengaruhi karakter seseorang. Hidup keras dibentuk oleh daerah yang keras, maka pilihan pendidikan pada zaman dulu (dan mungkin sampai sekarang) di Tanah Batak adalah sistim kekerasan dengan memukul, (meskipun untuk anak-anak sekarang itu sebuah kekejian). Namun menjadi pertanyaan: Apakah pendidikan seperti itu masih relevan di zaman ini, di saat manusia mengangungkan HAM?
Ada yang mengatakan masih relevankah sistim pandidikan seperti itu di zaman tekhnoligi yang no-violence ini? Saya berpikir satu hal, khususnya ketika dalam kebaktian keluarga minggu lalu di sektor 2 HKBP Dukuh Kupang Surabaya, dengan tema disiplin, ada yang mengatakan seperti ini: ‘Jika Tuhan mengizinkan waktu berputar kembali ke belakang, maka saya akan memilih pendidikan seperti yang saya terima dari ayah saya. Meski saya dihajar, tapi justu itu membuat saya untuk keluar dari kemiskinan, bebas dari penderitaan. Saya memang buka sarjana, tapi hajaran ayah saya membuat saya bisa bertahan, bisa membuat anak-anak saya menjadi sarjana, tapi sarjana penakut, sarjana yang tidak tahan banting, sarjana bermental tempe’. Pendidikan yang bebas ternyata tidak membebaskan sebagian orang. Pendidikan yang jauh dari kekerasan menghilankan daya juang, di mana dengan segala kebutuhan yang terpenuhi membuat anak-anak kurang berjuang, karena hanya dengan meminta, anak-anaknya bisa mendapat dengan cepat, apa yang dibutuhkan. Hidup yang serba instan memang enak, tapi instan tidak membuat orang tahan pada kerasnya hidup yang ditawarkan dunia. Kita pernah mendengar ada anak yang bunuh diri karena permintaannya tidak dipenuhi. Anak instan ingin semua cepat, bahkan untuk menunggu sesaat pun permintaannya, sudah membuat si anak cemberut.
Dahulu memang orang Batak tidak mempunyai plihan dalam mendidik dan mendisiplinkan anak kecuali memukul, tapi kekerasan itu justru membentuk putra/i Batak menjadi orang yang kuat, tangguh dan handal, seperti cerita tokoh batak, seperti: TB Silalahi; dalam buku si hadal dan Sintong Panjaitan, dll.
Saya juga ingat cerita seorang jemaat, ketika kami melayani di HKBP Magelang, beliau bercerita tentang suatu kejadian semasa dia SD di parsoburan. Dia bermain api di dekat lumbung padi, ayahnya melarang dia, tapi si anak memilih meneruskan permainannya. tanpa dia tahu bunga api terbang ke atas tumpukan padi, dan lumbung itu terbakar. Ayahnya panik, dia tidak menyiram api, tapi mengangkat anaknya dan melemparkan anak itu, serta memukulnya. Dia meraung kesakitan, dan sampai kini masih ada bekas luka di kaki dan tangannya. tapi kekerasan yang diterimanya, justru membuatnya semakin cerdas dalam memahami arti larangan.
Lalu apakah kekerasan itu sebuah kekejian?
Ketika putri sulung saya marah karena saya matikan tv dan menyuruh dia belajar, dia membanting pintu dengan kencang. Ayahnya dengan tegas menyuruh dia mengulang menutup pintu kamar dengan pelan, sementara saya menekan tangannya dengan keras, dia lebih ‘menghormati’ (atau mungkin takut) kepada aya dibanding ke ayahnya. Anak saya tidak akan membuat perlawanan kalau tv saya matikan meskipun itu tontonan kesayangannya, tapi terhadap ayah, dia masih berani tawar menawar.
Saya menjadi ingat pendidikan verbal dari ibu saya. Ketika ibu kami mengkhususkan piring dan gelas ayah, secara otomatis kami ikut menjaga wibawa ayah sebagai kelapa rumah tangga. Ketika ibu memberi makanan terbaik bagi ayah, itu mendidik kami untuk menghormati ayah sebagi yang tertua. Dengan membuat yang terbaik bagi ayah, seorang ibu mengajar anak-anaknya untuk menghormati ayah mereka, yang tidak boleh bersikap sembarang dan berlaku santun di hadapannya. Tetapi ketika pilihan orangtua sekarang kepala dan ceker ayam, dan memberi yang terbaik bagi anak, justru anak-anak sekarang ada yang kurang menjaga wibawa ayahnya, sehingga ada anak yang berani membicarakan kejelekan ayah dan ibu mereka ke orang lain atau ke teman-temannya. (Bokap gua, pelitnya minta ampun.., dll…)
Memang kekerasan dalam pendidikan sering kita lihat sebagai suatu kekejian, tapi justru pendidikan yang demikian banyak membuat orang Batak menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan hidup. Paiman yang ‘disiksa’ ayah, menjadi seorang yang bertanggung-jawab di usianya yang dini, dia mengusahakan burung pengganti kupu-kupu untuk Minar. Dia menjadi pemberani menjelajahi hidup tanpa ayah ibunya. Dia kuat dan tidak menangis, walau dia terkapar menahan rasa rindu pada ibu yang akan membawanya ke pesta. Kekerasan yang terjadi dalam Paiman-Paiman lain membuat dia dewasa memaknai hidup.
Kekerasan ayah, bukanlah sebuah kekejian, tidak mungkin ayah membenci Paiman, saya tahu persis itu, bagaimana orang batak menjadikan anak lelaki menjadi seseorang yang terpenting dalam hidupnya, tapi karena lelaki (‘ayah;) orang Batak cenderung kaku, maka mereka tidak ‘sanggup’ mengungkapkan kasih sayangnya dengan lembut dan berbahasa yang manis. Rotan, lidi atau sabuk menjadi alat pendidikan, bukan alat kebenciaan, lewat media itulah mereka ingin mendisiplinan anak-anaknya. Kalaupun ayah memukul Paiman, tapi jauh di lubuk hati dia mau membentuk seorang anak lelaki yang kuat, tidak cengeng. Ayah ingin membentuk Paiman tidak hanya kuat melewati gunung terjal dan berbatu, tapi kuat mengarungi hidup yang sulit. terbukti, ayah tidak tenang, ketika Paiman tak kunjung pulang, tidak melihat jasad ibunya 6 tahun lalu, ayah terus berharap ‘menunggu matahari’, bahwa Paiman yang sangat dia rindukan akan pulang.
Karakter anak ditentukan oleh pendidikan dalam rumah, maka seorang Pendeta yang khusus melayani Pemuda, remaja dan sekolah minggu, pernah berkata: Sia-sia pendidikan di sekolah dan di gereja, kalau tidak didasari pendididkan yang kuat di dalam rumah. Artinya pendidikan rumah menetukan karakter seorang anak.
Pendidikan yang keras yang diterima orang batak dulu, justru membuat orang batak lebih ‘dikenal’. Secara antropoligi orang batak dikenal sebagai suku yang keras dan kuat, berani, suka menolong, dan mudah membaur. mengapa demikian? Wilayah dan pendidikan yang keras membentuk mereka menjadi kuat dan berani, kemiskian membuat mereka ingin bebas dari kemiskinan, sehingga kesadaran itu membuat mereka ingin menolong, mengubah ‘nasib’, sehingga ke daerah mana mereka pergi, mereka cepat beradaptasi, supaya menjadi bagian dari masyarakat.
Jika kekerasan menjadi pilihan, itu karena tidak ada alternatif atau pilihan lain dalam membentuk dan mendisiplinkan anak. Maka sistim yang paling tepat ketika itu adalah dengan memukul.
Saya tidak setuju kekerasan, saya menolak setap tindakan yang tidak menghargai hidup orang lain, namun ketika pendidikan kita menjadi lebih ‘lunak’, justru daya juang anak-anak sekarang menjadi menurun. Untuk memasukkan makanan ke mulut sendiri ‘moh’ anak-anak kita. Menjadikan anak yang anti-tv/ps dan pro-baca (seperti keluarga Ito Suhunan Situmorang), sangat sulit. Lalu apa alternatif dalam mendisilinkan anak?
Saya belajar dari Tuhan Yesus, guru besar itu, Dia mendisiplinkan muridNya (Disciple (of Christ):murid, dari kata disiplin) dengan pengajaran yang benar dan penuh kasih. Dia pernah marah dan meporakporandakan jualan umat di rumah ibadah yang diubah menjadi pasar. Dia datang dari Allah yang penuh kasih dan pemurka atas kejahatan umatNya. Dia menghukum bangsa Israel ke Mesir menjadi hamba dan menjadi bangsa tawanan ke Babel, karena menyakiti hati Bapa. Tapi Dia adalah Bapa yang pengampun, tidak ada dendam atas kekeliruan umatNya, kasihNya merindukan kembaliNya anak yang hilang.
Jika dengan kasih sayang dan kesejahteraan justru membuat anak-anak kita menjadi melempem dan tidak kuat mengarungi kehidupan, adakalanya pendidikan kita di tingkatkan untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan handal dalam mengarungi kehidupan.
Meskipun kekerasan telah banyak ditolak dalam pendidikan, jika ternyata mental bangsa menjadi lemah, tidakkah kita akan memikirkan alternatif lain dalam memberdayakan anak-anak bangsa?
Marilah kita terus memaknai bahwa pendidikan di tanah batak yang bernuansa kekerasan, bukan karena jiwakanibalis, tapi ungkapan kasih sayang untuk membentuk anak menjadi anak yang kuat, disipli, mandiri dan bertanggung-jawab.
thanks untuk realita yang dicerpenkan oleh Ito Saut Poltak Tambunan. Sebuah pembelajaran untuk memaknai hidup.
………….pulanglah Paiman, ayah menunggumu dengan cinta dan kerinduan.