Dari singgasananya, tiba-tiba Singa mengumumkan Gerakan Insyaf Total:
Semua penghuni hutan harus sayang menyayangi, tidak boleh saling memangsa!
Esok pagi, tersenyumlah Sang Singa melihat harimau makan rumput, serigala bercanda gelitik-gelitikan dengan anak-anak rusa di pinggir sungai. Kucing hutan cari kutu di kepala kelinci. Bahkan serombongan elang membawa anak-anak ayam terbang tinggi, pesiar menikmati pemandangan dari udara.
Tiba-tiba seekor serigala yang baru saja diangkat jadi pamong hutan menerobos masuk istana dan melapor:
”Mohon ampun, Baginda, ada anak domba terluka ketika main ayunan dengan anak saya.”
”Astaga! Bawa kemari!”
Di hadapan semua penghuni hutan, Sang Singa menunjukkan kasih sayangnya kepada anak domba yang terluka di punggungnya. Dijilatnya luka itu dengan lidahnya sendiri. Dibersihkan darahnya. Anak domba tertawa-tawa sambil menggeliat kegelian.
”Sana, pergi main lagi!” kata Singa lalu menepuk pantat si Domba. Sang Singa kembali ke singgasananya sambil menjilat sisa darah di kumisnya. Matanya merem-melek.
Tak lama kemudian ia bangkit memanggil Kepala Pamong Hutan dan diminta untuk membuat pengumuman baru kepada seluruh penghuni hutan:
”MASIH DALAM RANGKA GERAKAN INSYAF TOTAL, TERHITUNG MULAI BESOK PAGI SEMUA YANG TERLUKA HARUS DIBAWA KE HADAPAN BAGINDA SINGA UNTUK DIOBATI LANGSUNG OLEH BAGINDA SINGA!
Plok! Plok! Plok! Hidup Baginda Singaaaa!!
Segera setelah pengumuman itu, banyaklah binatang terluka dibawa ke hadapan Singa. Berderet-deret setiap hari. Ternyata masih kurang, sehingga seluruh prajurit diperintahkan untuk keluar masuk hutan mencari binatang yang terluka.
