Menunggu Matahari

Posted: February 4, 2011 in Cerita Pendek

: Saut Poltak Tambunan

SEMUA orang di kampung ini pasti masih ingat bahwa ayahku pemarah. Ayahku sadis. Ayahku sering berlebihan memukuli anak-anaknya. Orang-orang kampung sering memperingatkan ayah, tetapi tidak pernah diperdulikan. Bahkan sekali waktu ia pernah menantang Kepala Kampung yang datang mencoba menenangkannya.

“Aku punya hak mengatur rumah tanggaku ! Mengatur anak-anakku ! Kalian mau apa, hah!?” begitu ayah menantang semua orang. Tubuhnya kekar dan otot lengannya menggerimpal setiapkali ia mengepalkan tinjunya.

Kalau sudah begini Pak Kepala Kampung hanya bisa mengangkat bahu. Ayah memang keras kepala. Selalu tidak mau menerima pendapat orang lain. Dianggapnya mereka usil mencampuri urusan rumah tangganya.

Di balik kamar ayah, masih tergantung sebilah rotan panjang semeter. Sudah tua dan coklat menghitam warnanya.  Benda mati itu adalah monster amat menakutkan di tangan ayah, terutama bila tengah malam pulang dari lapo tuak ‘simpang tolu’ dengan buar bau tuak yang keras.

Ayah suka mabuk. Bila mabuk ia tidak pernah perduli apa-apa. Kadangkala ia mengamuk tak jelas sebabnya, persis orang kesetanan. Tak perduli tengah malam. Biasanya Pamian – abangku yang menjadi sasaran. Rotan itu akan meliuk-liuk di udara sebelum menghantami tubuh Pamian. Ibu hanya bisa menangis di sudut kamar. Tidak bisa mencegahnya.

Tetapi dalam keadaan tidak mabuk pun ayah tetap saja sadis. Sedikit saja tak berkenan di hatinya, ia bisa mengamuk sepanjang hari. Bahkan sesekali ibu juga ikut mendapat pukulannya.

Kepadaku, sikap ayah memang sedikit berbeda. Meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak pernah dapat marah. Sesekali aku dipukul juga. Tapi tidak setiap hari seperti Pamian. Pukulan yang kuterima pun tidak separah yang diterima Pamian.  Barangkali karena aku anak perempuan, apalagi  sejak kecil sering sakit-sakitan.

Dasar anak kecil, sikap ayah yang sedikit berbeda itu membuat aku amat manja. Bertelingkah cengeng tak alang kepalang. Sedikit saja merasa tak enak, aku langsung merajuk dan menangis. Jika ayah mendengar aku menangis. Ia akan marah besar.

Ah, inilah sumber malapetaka itu. Entah karena terlalu sayang dan gemas, abangku ini sering menggodaku. Ia suka mengacak kepang rambutku, atau mengejek kulitku yang hitam – yang kata dia seperti orang Keling. Kalau sudah begini aku sengaja menangis keras-keras dan ayah akan memukul Pamian.

Kasihan abangku. Melihat ia dipukuli begitu, aku sering berbalik menjadi ketakutan. Rasanya amat menyesal lalu menangis sesenggukan di pelukan ibu. Sehabis dipukuli, Pamian akan masuk ke kamarnya yang pengap dan menahan tangisnya di sana.

Dari celah dinding aku mengintip diam-diam dan menatapnya sendu. Menyesal. Tetapi sungguh aku tidak tahu bagaimana harus menunjukkan penyesalanku. Kadang esok paginya sepotong kue atau uang jajanku kubagi untuknya. Aku memang selalu mendapat uang jajan dari ayah setiap akan berangkat ke sekolah. Tidak seperti abangku.

Pagi itu, sebelas Mei sepuluh tahun yang lalu. Ah, hari itu tak pernah lepas dari ingatanku. Ibu ke sawah, sedang ayah seperti biasanya duduk berguncang kaki, mengobrol atau main catur di lapo tuak ‘simpang tolu’.  Sehari-hari memang ibu yang ke sawah. Ayah hanya ke sawah ketika mangombak balik – mencangkul untuk membalik tanah, sebelum diratakan untuk menanam padi), dan manabi – memanen padi.

Jam sembilan pagi sekolah sudah bubar. Ada encik guru yang menikah. Pamian. sudah kelas empat, aku kelas dua. Abangku ini mengajakku pulang lewat  jalan pintas saja. Lewat tebing dan pematang sawah. Tadi pagi sebelum berangkat aku memang sudah mendengar ibu menyuruh Pamian agar pulang lebih cepat. Kami mau diajak ke pesta orang kawin, ya, encik guru itu.

Lewat jalan setapak di celah pekuburan, sepasang kupu-kupu putih mungil terbang melintas di atas kepalaku. Aku tercingangah sejenak. Cantik sekali berloncatan di atas warna-warni bunga pekuburan.

“Mian! Aku mau itu!” kataku menunjuk kupu-kupu itu.

“Bah, sudah terbang, Minar,” sahut Pamian lirih. “Sudah, besok aku cari yang lebih bagus.”

“Tapi, aku maunya itu!” aku merengek.

“Kita harus cepat tiba di rumah. Nanti ditinggal kita.”

“Nggak! Tangkap dulu kupu-kupu itu,” aku merengek lagi. Seperti biasa, kuperas air mataku.

“Minar, besok kucarikan kupu-kupu yang lebih bagus.”

“Nggak! Nggaaaak! Aku mau itu!”

“Dengar, Minar,” tambah Pamian sabar seraya merangkul bahuku, namun cepat kutepiskan. “Kita mesti pulang cepat-cepat. Kalau kita cepat pulang, kita bisa ikut ke pesta. Di sana kita bisa makan enak.”

“Nggak mauuuuu!” jeritku melengking sambil duduk di atas rumput yang sesiang itu masih basah oleh embun pagi.

Nah, ini senjataku. Kalau sudah begini Pamian tak punya pilihan lain. Ia pasti menurut. Ia memang selalu menuruti apa saja kemauanku. Maka digendongnya tubuhku dengan lengannya yang kurus. Didudukkannya berteduh di tembok kuburan, di bawah pohon mangga yang banyak tumbuh di sekitar situ.

“Tunggu di sini, ya? Jangan ke mana-mana,” pesannya sambil meletakkan bukunya di sebelahku. Lalu ia gegas berlari. Dikejarnya kupu-kupu yang terbang sudah jauh, bagai dua titik putih saja melompat-lompat di atas bunga yang banyak tumbuh di atas tanah pekuburan itu.

Sebentar saja Pamian sudah jauh. Tak kudengar lagi suara kakinya berlari. Bahkan tubuhnya yang kurus dengan kemeja berkibaran sudah tak terlihat lagi dari sini. Sudah menyelinap di antara tembok kuburan yang tinggi-tinggi.

Aku masih duduk. Diam saja. Padahal aku juga kepingin ikut ke pesta, kemiskinan membuat kami jarang makan daging. Sejak di kelas tadi aku sudah membayangkan duduk ramai-ramai di  tikar besar lalu setangkup ‘daging sangsang’ akan datang ke piringku. Biasanya ibu langsung menyisihkannya separuh, dibawa pulang untuk makan malam nanti.

Tetapi aku pembosan, tidak betah lama-lama duduk menunggu. Tanganku mulai mengorek-ngorek lobang semut. Ah, aku punya permainan sendiri. Kucabut  sebatang ilalang rumput jarum. Panjang sejengkal. Bagian ujungnya yang lembut kumasukkan ke dalam lubang semut. Kukilik-kilik. Lalu kulepas. Kutunggu sampai ujung ilalang yang bagian atas bergerak-gerak. Itu berarti ada semut menggigitnya di dalam sana.  Lalu kusentakkan keluar. Nah! Seekor semut hitam — semut bakau besar ikut tersentak keluar dari lobangnya.  Kutangkap seekor lainnya, kuadu setelah sungutnya kuputuskan.

Beberapa lama berkelahi, kedua ekor semut itu sudah terkapar keletihan. Aku menguap,  rasa kantuk menyerang mataku. Tetapi Pamian. belum muncul juga. Bah, ke mana dia? Kepalaku celingukan mencari-cari, telinga kutelengkan. Sepi. Tak satu orang pun tampak di sekitar pekuburan ini. Hanya suara burung dan serangga yang berceriap-ceriap di pohon, ditingkah derik batang rerumpun bambu saling bergesek. Untungnya aku sudah terbiasa, sehingga tidak ada rasa takut.

Cericit suara burung kecil bercumbu menarik perhatianku. Aku menatap ke atas pohon. Aku berdiri. Sepasang burung tiba-tiba terbang entah dari mana. Tetapi perhatianku beralih pada serangkum buah mangga mengkal di ujung dahan sana.

Amboi, asyik juga ! Hal memanjat, bukanlah aneh bagi seluruh anak-anak kampungku. Tidak perduli anak laki atau perempuan seperti aku ini.  Aku segera naik.  Hup! Hup! Sekejap saja aku sudah berada di atas. Bebas semauku memilih mangga yang kusuka. Agak kecut, sebab masih mengkal. Tetapi bagiku cukuplah, sambil berayun-ayun di ujung dahan. Sambil menunggu Pamian..

Tapi tak kulihat Pamian. Padahal dari sini aku bisa melihat lebih jauh. Sejauh mataku melihat, hanya tampak kuburan putih berderet. Bangunannya bagus-bagus  bagaikan gereja. Ada yang bahkan lebih besar dari rumah kami. Di seberang sana – di bawah perbukitan kuburan, tampak sawah bersusun. Lalu rerumpun bulu-duri – bambu yang membentengi kampung kami, pucuknya mengangguk-angguk dicumbu angin,   Durinya panjang berbisa dan mampu menembus alas sepatu.

“Ke mana Pamian ?” pikirku.

Aku naik lagi agak ke atas. Kakiku kecil dan lincah. Naik hingga ke ujung dahan. Haa! Rupanya dari ketinggian sini aku bisa melihat rumah kami.  Nah, itu, beratap seng yang sudah karatan dan bertambal-tambal. Tetapi, Pamian belum tampak juga. Aku naik lebih tinggi.

Tiba-tiba …! Aduh ! Aku hanya sempat mendengar bunyi dahan berderak patah. Krraakk! Lalu tubuhku melayang!

*

AKU sadar – sudah terkapar di atas dipan kecil di rumah Ompu Ombis, Dukun Patah Tulang terkenal di daerah sini. Aku tidak bisa bergerak. Ternyata kaki kiriku patah di di atas lutut. Sekarang dianduh dengan kayu penopang dan diperban tebal sekali.  Ditambah dengan beberapa luka lain di sekujur tubuhku, sempurnalah ngilunya. Aku tak berani menangis, sebab mengeluarkan tenaga sedikit saja membuat rasa sakit itu makin menyentak.

Samar aku lihat ada ibu, menangis. Sebentar-sebentar menghapus air matanya dengan gobar – kain ulos lusuh yang mengampai di bahunya. Tampak juga beberapa orang tetangga  mengelilingi aku. Tetapi tak kulihat ayahku. Tak kulihat juga Pamian. Bah, ke mana abangku? Ayah pasti sudah menghajarnya habis-habisan ! Ohh !! Tiba-tiba  aku merasa takut, belum pernah setakut itu.

“Mak, Pamian di mana?” desahku bertanya.

“Sudahlah, jangan pikirkan lagi dia,” sahut ibu datar.

“Di mana Pamian, Mak?” aku ulangi.

Ibu tak terdiam. Diusapnya wajahku. Tatapannya amat sendu. Ah, tatap mata ini selalu membayangi pikiranku hingga bertahun-tahun kemudian. Perlahan dari bibirnya aku dengar tangisnya.

“Kemana, Mak ?“ aku mendesak.

“Entahlah, ” sahut ibu akhirnya. “Emak tak tahu ke mana dia.”

Sore harinya dari cucu dukun patah tulang  itu kuketahui bahwa siang itu Pamian terseok-seok mendukungku di atas pundaknya. Ia membawaku langsung  ke rumah   dukun patah ini. Minta dirawat.  Setelah itu diam-diam ia pulang sebentar ke rumah. Ia mengambil beberapa potong pakaiannya, lalu menemui ibu di tempat pesta kawin – di kampung tetangga. Ia hanya bilang bahwa aku ada di rumah Ompu Ombis. Sebelum ibu bertanya apa-apa, ia sudah berlari sekencangnya. Entah ke mana dia pergi, ibu tidak tahu. Tidak  sempat mencegahnya.

Menjelang tengah malam, ruang pengab tempatku terkapar itu, senyap. Tadi ayah datang. Aku seakan bisa melihat api berjilam-jilam di atas kepalanya. Ia sudah mencari Pamian ke seluruh pelosok kampung. Sia-sia. Ibu dimarahinya habis-habis seperti perempuan tak berguna. Sudah itu pergi dengan matanya yang semerah bara.

Makin malam, makin sakit seluruh tubuhku. Dalam temaram lampu redup di   dinding kulihat ibu terkantuk-kantuk di atas tikar. Pasti lelah sekali dia. Menunggui aku. Sudah seharian ia menangisi aku, menangisi abangku. Ah, pikiranku masih terhidap dalam pusaran baying-bayang tubuh abangku yang berlompatan di atas kuburan Cina. Mengejar kupu-kupu yang kuminta.

“Mak, abang di mana?” desahku menangis lemah, tak sungguh-sungguh ingin membangunkan ibu.

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu.

“Dek ..! Dek ..! Dek.. !”

Aku terkejut. Ada ketukan perlahan di dinding bambu kropos yang rapat ke balai-balai tempatku terbaring. Aku terkejut, takut sungguh. Tetapi aku dengar suara seseorang di luar sana.

“Nar ..! Minar… !” bisiknya, disusul dengan ketukan lagi. Dek ! Dek ! Dek !

Aku bergeser dengan susah payah. Aku rapatkan telingaku ke dinding itu. Oh, aku dengan suaranya. Abangku Pamian.

“Mian …!” sahutku, perlahan.

“Minar ….!” kudengar suaranya tersedak. “Masih sakit?”

“He eh, masih. Sakit sekali. Kau dari mana?”

“Tadi aku tidak berhasil menangkap kupu-kupu itu. Tahu-tahu aku melihat sarang burung. Ada anaknya. Maksudku – untuk kau, pengganti kupu-kupu itu. Ini aku bawa. Kau mau, ya ?”

Dinding bambu di samping balai-balai ini sudah keropos. Kudengar Pamian menguakkannya dari luar. Dibuatnya lubang di dinding itu. Ia mengintip. Samar-samar kulihat bola matanya berkilau, berkaca-kaca. Sebelah tangannya yang kurus dan dingin kemudian menjulur masuk. Mengelus pipiku. Mengusap air mataku. Lalu tangan itu kemudian menyodorkan seekor anak burung sipigo.

“Ini, Minar. Kau pelihara, ya?”

Aku mengambilnya dari tangan Pamian. Cit! Cit! Ia berbunyi keras dan cepat-cepat kudekapkan ke dadaku. Kudengar ibu terbangun dari kantuknya.

Rupa-rupanya Pamian dapat juga melihat ibu terbangun. Sebab tiba-tiba kudengar suara langkahnya berlari menjauh. Jauh; menembus kesenyapan gelap malam.

Hari-hari berlalu dengan pengab dan sepi, Pamian tak muncul juga. Cucu Ompung Dukun meminjamkan sangkar burung untuk burung sipigo-ku. Diletakkannya di atas meja – disamping balai-balai. Cucu dukun patah tulang itu baik. Setiap sebentar burung itu diberinya  makan minum.

Namun cericit anak burung itu aku dengar bagai tangis Pamian yang kini sendirian entah di mana. Kadang aku melamun, berkhayal – andai aku bisa mengajari burung itu untuk kusuruh mencari Pamian. Seperti yang pernah aku baca di buku cerita. Tetapi tak sampai tiga hari burung itu sudah tergeletak kaku di lantai sangkarnya. Mati.

Ito,  kau pulanglah …!” aku menangis.  Ini kali pertama aku menyebutnya ‘ito’ – seperti seharusnya aku menyebutnya.

*

SEPULUH tahun lebih berlalu. Ito-ku Pamian tak jelas rimbanya.  Enam tahun lalu ibu meninggal. Pamian tak melihatnya. Sekarang ayah pun terkapar dalam sakit-sakitan yang parah. Mabuk-mabukan di masa mudanya telah menjadikan tubuhnya sarang penyakit di hari tua. Sementara aku, terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMA. Jadi gadis pengangguran di kampung.  Sawah kami dikerjakan orang dengan bagi-hasil. Aku hanya bisa membuka warung kecil di beranda depan, sambil merawat ayah di rumah.

Kepadaku ayah bilang tidak mau mati sebelum bertemu dengan Pamian. Aku sangat sedih tapi tidak tahu harus berbuat apa. Aku sudah titip pesan ke banyak orang.  Beberapa kali aku sudah pasang iklan di surat kabar – di kota, minta Pamian pulang. Tapi sia-sia. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, mohon Tuhan beri jalan pulang untuk abangku, sekiranya masih hidup. Beri kesempatan terakhir pada ayahku melihat Ito-ku Pamian pulang.

Aku tahu ayah menyesal. Sekarang ia  rindu Pamian, serindu-rindunya. Ayah ingin memeluk dan menciuminya sebagai tanda penyesalan. Meski pun hanya sekejap, sebelum ajal menjemput tubuhnya yang kian ringkih. Nyatanya, ayah memang belum meninggal walau penyakitnya sudah semakin parah.

“Miaaannn ..! Pamiaaaan, pulanglah, Nak, Hasian-ku!” begitu ia sehari-harian mengerang.

Pilu !

***

*Ito: panggilan kepada saudara lain jenis kelamin

Hasian: kesayangan

1990-2005

Leave a comment